BAB 15 - Fly

2010 Kata
Aku sampai di Apartemenku. Baru saja ingin menyalakan saklar lampu, dekapan hangat dari belakang tubuhku membuat ku membeku. Aku mengenal aroma tubuh ini dan kecupan hangat di leherku membuat mataku terpejam. "Aku merindukanmu."Jensen berucap. Aku menyentuh tangan dinginnya yang melingkar di pinggangku. Wajahnya berada di curuk leherku. Mendengus, menghirup dalam dan membatku merasa nyaman. "Aku juga."balasku. Dia membalikan tubuhku menjadi menghadapnya. Lalu bibirnya tersenyum. Membuatku merasa damai. Jantungku berpacu, berdebar menatap senyum itu. Senyuman yang hanya Jensen tunjukan untukku. Aku menyukai senyumannya, jika Jensen tersenyum ketampannya meningkat berkali-kali lipat. "Aku butuh mandi jika kau ingin terus berada di sisiku."ucapku. "Aku tak peduli."ucapnya. Lalu mendaratkan ciuman lembut di bibirku. Mataku terpejam. Merasakan bibirnya enekan lembut dan menghisap rakus bibirku. "Tapi aku peduli dengan kebersihan tubuhku. Beri aku waktu beberapa menit."ucapku ketika ciuman kami terhenti. Ia memutar kedua bola matanya malas. Menatapku. Seolah berkata. Aku benar-benar tidak peduli. "Baiklah. Cepatlah. Aku akan menunggu."Aku langsung bergegas membersihkan tubuhku. Benar-benar begitu cepat. Hanya butuh waktu 15 menit. Aku sudah siap dengan piyama berlengan panjang berwarna pink dan celana bahan sepanjang mata kaki. Aku kembali ke ruang tamu. Baru saja aku membuka pintu kamar, Jensen ada di sana dengan coat panjang berwarna coklat yang ia bawa di hadapanku. "Kita akan pergi?."tanyaku ketika ia memakaikan coat itu di tubuhku. Jensen berpakaian kaus hitam panjang dan celana jins berwarna biru navy. Cepat sekali ia berganti pakaian. "Malam ini aku bertugas untuk menyenangkan moodmu itu nona Harden."Aku terhenyak, sebelah alisku mengeryit. Bibirku mengulum senyum. Merasa terkejut dan aneh secara bersamaan mendengar panggilan itu.Itu tidak cocok untuknya untuk saat ini, namun tidak tahu kapan ia pantas mendapatkannya. "Nona Harden. Apa telingaku tidak salah dengar!."ucapku. Jensen melangkah maju. Mendekatkan dirinya di hadapanku dan hal itu sukses membuat jantungku berdegup kencang. "Akhhhhhh..... "Tiba-tiba Jensen menarikku. Menaruhku di punggungnya dan kami keluar dari dalam jendelaku. Aku memeluk lehernya erat-erat. Takut terjatuh. Tak kuasa menahan keterkejutanku karena Jensen. Loncat keluar gedung dan berakhir di pinggir gedung lainnya. Melihat bagaimana kami loncat keluar gedung. Itu membuat tubuhku bergetar karena ketakutan. Jensen seperti spiderman, namun ternyata tak semenyangkan yang ia bayangkan seperti di film-film, ini terlalu menyeramkan untuknya. "Buka matamu."serunya. Aku mengintip sedikit dan melihat betapa jauhnya trotoar di bawah kakiku. "Ya ampun. Jensen. Turunan aku. Ini gila. Apa kau berusaha membunuhku saat ini. Aku tidak mau mati konyol."gerutuku merasa begitu ketakutan. Ini tidak seru. Aku benar-benar ketakutan setengah mati. Kekasihku mungkin makhluk melenium yang tidak akan mati bahkan jika dia terjatuh dari Puncak 10.000 kaki, tapi aku. Jatuh dari atas sofa saja sudah membuat tubuhku kesakitan, bagaimana jika sejauh ini. Aku rasa aku akan mati. "Aku tidak akan membiarkanmu mati. Karena aku sudah bersumpah akan menyisipkan nama panjangku pada namamu."Aku menenggelamkan wajahku di curuk leher Jensen. Diam-diam merasa tersentuh dengan sumpahnya. Ini membuat jantungku berdegup kencang. Membuatku semakin mencintainya. "Aku mencintaimu."gumamku. Dia menoleh padaku lalu bibirnya tersenyum.  "Aku lebih mencintaimu."jawabnya menggetarkan hatiku.  "Ckckck... Kau seperti spiderman."tawaku meledak. Jensen terkekeh mendengar tawaku. Seolah aku menyalurkan kebahagiaanku untuknya. "Lihat dan amati. Aku lebih baik dibandingkan super hero itu. Tetap buka matamu. Ini akan terasa menyenangkan."ucapnya lalu memanjat gedung berlantai 25 itu dengan tangan kosong. Jadi seperti ini dia masuk ke dalam kamarku lewat jendela. Jensen loncat dari satu gedung ke gedung lain. Tapi ku pikir dia terbang dan aku akan berteriak karenanya. Dia tersenyum mendengar betapa takutnya aku. Jensen berdiri di atas tiang listrik dan aku menjerit ketakutan. Menyuruhnya untuk pindah. Tapi dia malah tertawa. Ya ampun. Jensen benar-benar puas mengerjaiku dan membuatku ketakutan setengah mati. Jensen membawaku ke Ke atas Puncak Namsan. Kami duduk di atas sana. Dia melingkarkan kedua tangannya di sekeliling tubuhku. Menatap pusat kota dari atas sini. Rasanya tak masuk akal. Aku rasa aku sedang bermimpi. Tapi seberapa keras aku mencoba untuk mencubit tanganku. Aku akan merasa begitu sakit. Pertanda jika aku tidak bermimpi. "Berhenti melukai dirimu."tegur Jensen. Aku menoleh padanya. Dia merasa begitu nyaman. Seolah kami sedang duduk di atas sofa. "Ini menyenangkan. Tapi sungguh. Jika ada kedua kalinya. Maka aku tidak berniat untuk mencoba kembali."ucapku bersungguh-sungguh tidak menginginkannya. Dia tergelak. Tertawa. Aku suka melihat tawanya dan merasa bangga karena aku yang bisa membuatnya seperti ini. "Katakan lagi. Kalau kau mencintaiku."ucapnya. Kepalaku miring ke arah kiri, menatapnya dengan senyum di wajahku. "Tidak ada reka ulang. Buat aku mengatakannya lagi kalau begitu." "Jangan membuat kompetisi denganku nona. Kau tahu jika aku pasti akan menang."Aku tahu itu. Jensen pasti akan menjadi juaranya. Dia terlalu mudah untuk di cintai. Seseorang yang memiliki daya tarik yang luar biasa. Aku mengalihkan arah pandangku. Kerlap-kerlip lampu kota terasa begitu cantik. Air mataku menetes. Merasa betapa beberuntungnya karena memiliki seorang kekasih sepertinya. Aku selalu merasa jika ini sangat aneh. Jensen bisa memiliki seorang wanita yang lebih daripada aku. Tapi dia memilihku. Aku tidak tahu kenapa. Tapi ini malah terasa aneh. Kenapa dan kenapa. Tanda tanya besar berada di benakku. Aku merasakan tangan dinginnya. Menyeka air mata di pipiku. Saat aku menatapnya. Dia mengeryit. "Jangan menangis. Aku menyakitimu?."Kepalaku menggeleng lemah. Air mataku malah semakin menetes membasahi wajahku dan Jensen menangkup wajahku dengan kedua tangannya.Menatapku dengan eskpresi teduh yang membuat jantungku semakin berdebar. "Ini terlalu banyak. Kau terlalu memberikan banyak hal padaku. Padahal kau bisa mendapatkan wanita yang lebih dari pada aku." Jensen tersenyum. Kedua ibu jarinya kembali menyeka air mata di pipiku. "Jangan merendahkan dirimu sendiri. Kau wanita yang istimewa. Tidak peduli siapa dirimu. Kau tahu siapa aku dan kau tetap ingin berada di sampingku. Itu sangat luar biasa." "Aku mencintaimu dan aku tidak ingin lari."Aku rasa aku mulai tergila-gila padanya. Bukankah seharusnya aku lari dan menjauh sejauh mungkin darinya. "Aku juga tidak ingin kau menjauhiku. Jangan lari dariku. Aku tidak bisa. Tidak menginginkannya. Bahkan membayangkannya saja tidak bisa. Jangan mencemaskan masalah apapun. Aku akan melindungimu. Tidak akan ada yang bisa melukaimu. Tutup matamu dan genggam kalung itu jika kau merindukanku. Aku akan langsung muncul di hadapanmu." Aku menatapnya. Matanya yang teduh menghangatkan hatiku. Kata janjinya meleburkan ketakutan di dalam diriku. Kehadirannya membuatku merasa aman dan aku bahagia bersamanya. Aku mencintainya. Hatiku menjerit merasa takut, bahkan jika itu hanya suara pikiran di dalam kepalaku, yang mengatakan jika dia akan pergi meninggalkanku suatu saat nanti. "Jangan meninggalkanku."ucapku. Perkataan itu mengalir begitu saja keluar dari bibirku. Aku tidak bisa menjauh darinya. Aku rasa tidak akan sanggup bisa tidak melihat Jensen sehari saja. "Aku tidak akan pergi kemana-mana."ucapnya bagai janji teguh yang terapalkan untuk kupegang. Aku percaya padanya. Kepalaku mengangguk dan menatapnya dengan keyakinan yang kutunjukan dengan cara aku menatapnya.  "Aku mencintaimu."ucapku lagi bersungguh-sungguh. Aku ingin dia percaya dan menyadari betapa aku sangat mencintainya.  Tubuh Jensen seolah tersentak. Reaksi tubuhnya terkejut. Bibirnya tersenyum lalu mengecup bibirku singkat. "Kalimat itu benar-benar menerjangku. Aku ingin kau mengatakannya setiap saat." Aku menatapnya, bibirku tersenyum merasa aman. Walau seharusnya aku takut dengan posisiku saat ini yang duduk dipinggir puncak Tower Seattle. Jensen meraih daguku. Mencium bibirku dan membuatku memejamkan mata. Sentuhan bibir lembutnya yang dingin menggetarkan hatiku. Aku menyukai lumatan lembut bibirnya. Gigitan kecil dan sapuan lidahnya membuat ku merasa ketagihan untuk memperdalam ciuman kami. Tiba-tiba Jensen melepaskan ciumannya. Aku menatapnya bingung kemudian dia tertawa. "Aku harus tahu diri. Dimana kita sekarang. Aku tidak mau jatuh ke bawah karena hanyut dalam ciumanmu." Ucapannya seketika membuat tubuhku membeku. Mendorong paksa pikiranku ke dalam jurang ketakutan dan khawatiran yang sudah berdentang memberikan peringatan keras yang ku abaikan sejak tadi. Jensen benar, tidak seharusnya aku berciuman di atas ini, Jensen mungkin bisa menjauhkanku dan membuatku nyaman dengan vampire jahat di sekitarku yang ingin membunuhku. Tapi mungkin saja Jensen tidak bisa menolongku jika kami tertajuh dari atas sini karena sebuah ciuman.  "HEI. ANTAR AKU PULANG SEKARANGGGGGG."teriakku ketika melihat ke bawah Tower. Sialnya Jensen malah tertawa terbahak-bahak. Dia benar-benar kejam, bagaimana bisa dia membuatku terduduk di sini. *** Jensen mengantarku kembali ke Apartemen, ia tetap berada di sisi ku ketika kami berbaring di atas ranjang tempat tidur. Aku merasa nyaman kehadirannya di sini membuatku merasa nyaman. Sebelah tangannya terus mengelus kepalaku, menenangkanku dalam tidur nyenyakku. Aku memejamkan mata dan merasakan bagaimana lembut nya tangan Jensen ketika membelai kepalaku dan membuatku tenggelam dalam rasa kantuk. Bibirnya bergumam sesuatu seperti nyanyian tidur yang membuat mataku terasa lebih berat. "Kau akan tetap di sini kan!."gumamku dengan mata terpejam seraya memeluk tubuhnya semakin erat, menenggalam kan wajahku pada d**a bidangnya yang paling nyaman yang pernah aku rasakan, merasakan aroma tubuhnya yang sangat harum dan menenangkan. Aku dapat merasakan bibirnya menyentuh kepalaku. Dia menciumku.  "tentu saja. Aku akan ada di sini ketika kau memejamkan mata dan ketika kau membuka matamu besok pagi."aku menyukainya mendengar ia berkata dan berjanji untuk tetap berada di sampingku. Kata-kata sesederhana itu membuat hatiku menghangat. Aku tidak tahu jika jatuh cinta lagi akan terasa semanis ini. Aku pernah ingin berhenti untuk pecaya jika cinta sejati itu ada. Aku tidak bisa mengatakan jika percintaan kami termasuk ke dalam cinta sejati. Aku manusia sementara Jensen adalah seorang vampir. Aku tidak bisa berharap banyak pada hubungan ini, tapi aku menyukai bagaimana kisa ini berlanjut dan berkembang setiap menitnya. "Aku memberitahu Rena dan Meli tentang hubungan kita."gumamku, aku berbicara tanpa melihat ke arah Jensen namun dapat menebak betapa ia menyukai hal itu. Jensen selalu berkata untuk memperkenalkan hubungan ini pada dunia. Aku menyukai nya dan menginginkannya juga, namun ada sisi dimana aku merasa khawatir. Apakah kami akan baik-baik saja jika hubungan ini terlihat lebih jelas lagi. Apa yang akan terjadi. Bagaimana hukumnya manusia dengan vampire, jika disebuah novel atau film semua itu tidak berakhir baik. Hal ini membuatku cemas, berkali-kali Jensen mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Kalau dipikir-pikir Jensen selalu menenagkan ku hal ini membuatku tidak percaya padanya. "Baguslah.. apa responnya menakutimu."Aku membuka mataku dan bibirku tersenyum mengingatnya. "Tidak. Aku menyukainya. Aneh sekali bukan."Jensen tertawa aku dapat merasakan dadanya bergemuruh karena tawanya. Aku menjauhkan wajahku darinya agar bisa menatapnya. Mengamati wajahnya yang sangat ku sukai. Dia menatapku, ekspresinya sangat teduh Jensen benar-benar tampan. Aku bahkan masih merasakan betapa berlebihanya respon jantungku ketika di tatap olehnya. "Kenapa aneh. Bukankah responnya sangat baik. Kita tak perlu menutupi hubungan ini lagi." "Bagaimana denganmu. Apa dampaknya pada kaummu jika ada salah seorang vampire yang berkencan dengan manusia."Jensen nampak berpikir, ia tetap mengamatiku namun aku tahu ia tengah memikirkan sesuatu. "Tidak sama sekali. Sudah ku katakan kau terlalu banyak menonton film."ucapannya membuat ku memutar kedua bola mataku malas. Mungkin cerita-cerita Helen benar-benar sudah meracuni otakku. Kenapa juga aku bisa terkena kata-kata itu. ahh.. otakku ebnar-benar dalam masalah. "Aku kan tidak tahu. Hanya saja... Aku harus waspada pada kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Bisa aku bertanya padamu tentang kejadian akhir-akhir ini. Banyak... kau tahu berita."Pertanyaan itu keluar dari bibir Liana dengan suara ditarik-tarik. Ia tak ingin membahasnya namun lagi-lagi rasa penasarannya begitu tinggi hingga terlalu sulit baginya untuk mengabaikan hal itu. "Beberapa dari mereka meninggal dengan keadaan yang membuat ku curiga. Ada bekas kau tahu. Jika kau bukan salah satu dari mereka aku pasti akan percaya jika itu gigitan ular namun kau ada di sini dengan status sebagai bukan bagian dari kami hal ini membuatku bertanya-tanya apakah itu..." "Ya."jawaban singkat Jensen membuatku terkejut.  "Apa!." "Apa yang kau pikirkan itu benar Liana, namun kau tidak perlu takut. Aku ada di sini dan tak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu."Aku merasakan ketulusan dari nada bicaranya, namun bukan itu yang kutakutkan. "Apa alasan bagi mereka untuk melakukan hal ini? Bagaimana jika kaum kalian terekspose ke media?." "kami memiliki seseorang yang bertugas agar melindungi kami, itu tidak akan mudah terekspose. Diam-diam semuanya juga sedang di selidiki. Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Mungkin saja ada sesuatu yang sedang bermain-main dengan hukum. Pikirkan saja tentang hubungan ini. Aku tidak sabar untuk memamerkanmu, kau tidak perlu lagi menutupi status kita di kantor aku tidak menyukainya bahkan Mark harus tahu siapa aku bagimu dan apa artimu bagiku agar dia tidak lagi mengganggumu." Bibirku tersenyum menahan tawa, apa Jensen cemburu! Aku menyukainya ketika ia bersikap protektif padaku. Jangan berlebihan. sesuatu yang sederhana semacam ini saja sudah membuatku sangat senang.  "Kau cemburu padaku."Aku menyentuh pipinya. Wajahnya memberengut lalu mendekatkan diri semakin dekat denganku. "Tentu saja. Kau seharusnya tahu aku begitu mencintaimu. Jika seseorang mendekatimu maka aku akan kesal. Kau tidak boleh melihat ke arah pria lain. Kau hanya harus melihatku nona Megan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN