selesai menuntaskan nafsu terlarangnya bian langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri ia tak mau fiani curiga. secepat mungkin bian menghilangkan jejak sisa percintaannya dengan nadia, jika melakukan persetubuhan dengan cara seperti ini memang selalu menjadi suatu tantangan tersendiri apalagi sensasi yang diperoleh sangat dahsyat sekali. buktinya saja bian sangat menyukai kegiatannya bersama nadia walau dalam hati bian selalu was was karena kapan saja perbuatan mereka bisa dipergoki oleh orang lain.
nadia berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi belakang rumah fiani, tenaganya habis terkuras dalam waktu kurang dari setengah hari ia sudah melayani dua pria. tapi kepuasan yang nadia dapatkan sangat seimbang dengan lelah tubuhnya sekarang.
"ssstttt ngilu banget m***k ku uuhhh yaampun. ga sampe setengah hari aku disodok dua k****l super, mana tenaga mereka kuat banget. uhhhhh m***k ku sampe lecet" gumam nadia saat membersihkan diri dikamar mandi. dengan berjalan tertatih nadia keluar kamar mandi, ia sempat terkejut karena melihat fiani sudah pulang dari membantu ibu mereka. tatapan mata fiani seolah menguliti tubuh nadia, sangat dingin dan menakutkan.
"kenapa?" tanya nadia menetralkan detak jantungnya karena mendapatkan tatapan penuh intimidasi dari adiknya.
"kenapa jalan mba kayak gitu? mba dari mana? kata ibu mba dari pagi pergi terus kenapa kesini bukannya pulang bantuin ibu" cecar sang adik.
"ck kamu masih aja bawel kayak ibu. aku habis kencan, ini hmm ya kamu tau lah kalau habis kencan terus pasangannya perkasa jadi susah jalan" nadia memang terkenal urakan dan ceplas ceplos ia tak malu membuka persoalan tabu didepan adiknya.
"ga usah melotot gitu, kayak ga pernah ngerasain k****l aja kamu fi. kemarin aja kamu jerit jerit ditusuk k****l suami mu" nadia berlalu kekamar tamu rumah fiani dan mengunci pintu dari dalam. tubuhnya yang lelah ingin segera tidur karena pasti ibunya akan datang dan mengganggu tidurnya.
apa mba nadia denger pas mas bian lagi ngawinin aku ya? duh kalau beneran mba nadia denger gimana, isshh malu banget. fiani segera berlari kekamarnya untuk mencari bian.
ceklek
bian yang berbaring diatas ranjang langsung menoleh kerah pintu saat istrinya berdiri disana.
"sini" oanggil bian sambil menepuk ruang kosong disebelahnya.
"billa mana?"
"dirumah ibu, tidur siang sama bapak"
"hmm mas mandi? emang udah ga demam?" tanya fiani sambil menciumi d**a suaminya.
jelas udah ga demam fi aku tadi udah olahraga penuh nikmat sama kakak mu batin bian memeluk erat fiani.
"udah enakan makanya mandi. tapi sekarang jadi.........." bian menggantung ucapannya karena fiani sudah meraba tonjolan ditengah celana pendeknya.
"mas aku mau kamu naiki kalau memang sudah ga demam. sengaja billa aku tinggal karena dari subuh aku nahan" desah fiani.
"udah dari subuh pengen k****l baru bilang sekarang?" tanya bian sambil melumat rakus bibir istrinya.
hmmm uuumm keduanya mendesah saat hasrat mereka mulai bangkit, gila harus main lagi padahal baru aja mandi pikir bian sambil tangannya masuk mencari lubang s******a mungil yang mampu menampung batang besar kebanggaan bian.
"mas tapi jangan kasar, takut mba nad denger. soalnya tadi dia bilang dia denger pas kita lagi main aku jadi malu. uuuuuhhhhh" fiani tersentak saat satu jari bian berhasil masuk kedalam memeknya.
"iya goyangnya pelan kok, tapi sampai mentok"
baik ibnu maupun fiani langsung saling lepas pakaian dan mereka sudah mulai memberi dan menerima perlakuan nikmat dari satu sama lain. memang nikmat bila mereguk madu bersama pasangan halal pikir bian tapi saat menuntaskan hasrat dengan yang bukan halal juga penuh dengan sensasi dan puncak kepuasannya jauh lebih nikmat lagi.
tanpa lelah fiani terus meminta lebih dari sang suami, pun tanpa menolak bian terus bergoyang memberi apa yang istrinya inginkan seolah bian ingin memberi obat atas rasa sakit yang secara sadar bian torehkan pada fiani cinta halalnya.
dikamar sebelah, walau dengan janji tak bermain kasar tetap saja lenguhan dan desahan yang fiani keluarkan membuat nadia terganggu. ia sudah meraba lubang nikmatnya untuk ikut mencari pelepasan karena miliknya berdenyut saat mendengar desahan fiani.
"ough mashh kamuh aaaaaaahhhh"
"kenapa sayang? mau berhenti? kamu lelah?" bian ingin mengerjai istrinya karena ia merasa akan sampai kalau terus bergoyang walaupun tak menggunakan tempo yang cepat.
"hmm"
tak mendapat jawaban bian menarik batang kerasnya hanya sampai menyisakan ujung kepalanya saja. jelas hal itu membuat fiani reflek mengunci pinggang bian dengan kedua kakinya, ia menahan agar bian tak melepas batang yang sudah memberi kenikmatan padanya disiang nan panas ini.
"mash jangan dicabut, aaaahhh aku masih ingin digempur mash. ayooohhh mas sodok lagiiiihhhhh" suara fiani mendayu dengan matanya yang sayu ia merayu bian untuk kembali membenamkan miliknya. melihat wajah istrinya yang menyiratkan gairah membara bian langsung menyentak dengan keras dan kembali berayun memberi kepuasaan yang fiani inginkan.
sekarang fiani duduk diatas batang keras suaminya, dengan sangat mahir fiani bergoyang bahkan memutar pinggulnya untuk memelintir si batang keras nan perkasa yang sudah lebih dari 1jam bermain namun belum menunjukkan tanda akan muncrat.
"auh aaaahh aaahhh jangan diputar sayang nanti keluar" desah bian kelabakan karena miliknya diremas sangat kencang oleh putaran pinggul sintal fiani.
"hmm, mash ga suka aku beri yang enak enak?"
"aaaaaaahh suka sayang suka, ayo lagi lagi beri aku lagi aaaaaahhhh"
bian ikut menyentak dari bawah agar miliknya bisa masuk semakin dalam dan tak sampai 5menit biar menggelepar dan meremas b****g fiani dengan sangat keras. ia keluar pertahanannya runtuh dengan remasan m***k sang istri yang begitu menggigit.