kabar billa dirawat sudah nadia ketahui dari ibunya, sejak pagi nadia sudah harus ikut sibuk membantu ibunya menyiapkan barang bawaan kerumah sakit untuk menemani fiani menjaga billa karena bian harus masuk kerja hari ini.
"hari ini fiani yang jaga besok baru gantian bian yang cuti karena sudah dari kemarin fiani ijin ga ngajar" jelas ibu sambil memasukkan masakan kedalam rantang.
"ayo to nad, cepetan kamu lambat sekali kebanyakan ngelamun keburu adikmu kelaparan di rumah sakit"
nadia yang mendengar besok bian yang akan menjaga billa langsung merancang rencana untuk bisa melakukan hal gila bersama bian walaupun itu dirumah sakit sekalipun. hmm atau ga aku hubungi bian aja siapa tau dia pulang dulu kerumah selepas kantor jadi bisa ngerasain kontolnya bian lagi walau cuma satu ronde juga, pikiran kotor nadia langsung saja bereaksi.
"nad" suara ibu membuyarkan lamunan nadia.
"ya ampun ibu, ngagetin aja. aku denger ga usah teriak. ayo aku antar kerumah sakit nanti aku pulang lagi tapi"
"iya, ayo kasihan adikmu sendirian"
dengan mengendarai motor matic milik fiani, nadia pergi kerumah sakit. dalam perjalanan nadia terus mengkhayal betapa nikmatnya menerima tusukan batang besar milik adik iparnya, saat sampai dirumah sakit nadia tak sekalipun menanyakan keadaan billa keponakannya ia sibuk dengan ponselnya sedang berkirim pesan dengan seseorang.
"bian, kamu pulang kerja kerumah dulu kan? aku mau kita ketemu" to the point pesan yang nadia kirim.
"ga nad, aku langsung kerumah sakit kasihan anak dan istri ku" balas bian.
"ayolah bian, aku ada perlu dengan mu"
"ga usah bertele-tele urusanmu dengan ku hanya tentang s**********n saja, dan aku tak bisa kali ini. anak ku sedang sakit"
nadia yang mendapat penolakan langsung pergi begitu saja tanpa pamit pada ibu dan adiknya.
"mba nad kapan mau rubah polahnya bu? aku kepikiran sama mba nad kalau begitu terus. beberapa teman ku sering lihat dia janjian sama cowok pakai mobil hitam dan moto gede" kembali fiani mengeluhkan kakaknya.
"ga tau fi, mba mu ga mau rubah diri. sudah sampai ditinggal sama suaminya juga ga ada kapoknya, itu yang jemput pasti suaminya orang. biar saja nanti juga ketahuan sama istri selingkuhannya kan dilabrak fi, ibu sama bapak sudah capek urusin dia"
ibu dan anak itu menarik nafas berat, pasalnya nadia memang sangat sulit sekali dinasehati malah sering kali melawan orang tua dan selalu melakukan semua keinginannya tanpa berfikir resiko yang akan menantinya kelak.
"bapak kemana bu?"
"ketoko dulu cek barang datang nanti siangan baru kesini, makanya ini ibnu bawa makanan agak banyakan fi"
"maafkan fiani merepotkan ya bu"
"sudah ga usah ngomong gitu, ayo lanjutin sarapannya terus ini diminum teh jahenya biar anget badan mu takut masuk angin tidurnya ga dikasur"
setelah menyelesaikan sarapannya fiani kembali duduk disebelah ibunya karena billa baru saja tidur sehabis makan dan minum obat.
"fi, apa teman mu sering ngeliat mba mu itu jalan sama cowok?"
"aku ga tau bu, cuma beberapa kali aku dikasih tau sama beberapa teman tapi aku ga mau menanggapi. malu bu, mau aku jawab atau tanya malah nanti jadi ngebuka aib keluarga mendingan diam saja. tapi beberapa minggu lalu aku pernah lihat mba lagi jalan sama cowok pas aku ada acara cuma aku pura pura ga lihat mba"
"bapakmu sampai darah tinggi karena nadia dilabrak waktu itu padahal sebelumnya ga punya penyakit darah tinggi"
"sudah bu, kita tebalkan telinga saja sama omongan irang karena ulah mba nad. kalau kita terus terima omongan orang yang ada kita makin setres" fiani berusaha menenangkan ibunya.
"iya fi, mertua mu apa sudah ditelpon?"
"sudah bu, nanti pas papa pulang ngajar baru pada kesini katanya. ibu pulangnya nunggu mereka datang dulu ga apa kan?"
"iya, ibu pulang malam juga ga apa kok. pengen ketemu dulu sama besan, lama ga ketemu juga"
"iya bu, papa masih sibuk ngajar padahal sudah pensiun" ayah bian adalah seorang dosen dan sampai usianya yang sudah cukup tua masih sibuk mengajar disalah satu universitas swasta dikotanya sementara ibu bian adalah ibu rumah tangga.
"kalau langsung ga ada kegiatan bosan fi, kamu juga sudah biasa ngajar terus tiba tiba berhenti pasti suntuk"
"iya bu, oh iya ibu jadi buat puding ga?"
"jadi, tadi pas antar motor sama salin bian bilang katanya billa minta puding makanya ibu agak lama kesini karena nunggu pudingnya keras dulu. nanti kalau sudah bangun baru billa disuapi pudingnya"
obrolan ibu dan anak itu terus berlanjut, membahas segala macam hal. karena fiani sibuk mengajar dan mengurus rumah tangganya mereka jarang sekali bercengkrama seperti ini padahal rumah fiani hanya berjarak lima rumah saja dengan orang tuanya.