"Hai Inna!" Alka tersenyum lebar pada Inna, yang sedang duduk depan kelas bersama dengan Winjes. Senyuman Alka menghilang berganti sama perasaan kecewa, karena Inna tidak membalas sapaannya, dan melengos tertawa kepada Winjes.
Alka menatap bingung pada Inna yang aneh. Apa dia melakukan suatu hal yang bikin kesal sampai Inna melengos begitu? Sepertinya dari kemarin pulang nonton film bareng tidak ada yang salah.
"Terus gimana lanjutannya, Win?" tanya Inna tidak mau merespons Alka—yang berdiri di dekatnya sambil pasang wajah polos.
"Ya gitu, kita bingung keluarnya gimana, mana jauh dari gerbang Dufan. Alhasil nebeng sama mobil listrik sampe gerbang depannya. Dikasih izin sih, lagian kita mainnya sampe malam dan sepi." Cerita Winjes kemudian dia menoleh pada Alka. Cewek itu mengerutkan kening.
Alka dan Winjes bertukar tatapan. Si cowok fokus lagi memandangi Inna. Alka berdiri di dekat mereka, dan menatap Inna yang masih memalingkan wajah. "Hai, Na!" sapa Alka lagi.
"Hai, Bro!" balas si Winjes daripada suasana menjadi krik-krik.
"Oh, hai." Akhirnya Inna membalas dengan senyuman kecil dan kesannya aneh. Kayak bukan senyuman manis dan tulus yang biasanya Alka kagumi bikin meleleh.
"Apa kabar, Na?" Alka duduk di sebelah Inna.
Cewek itu malah sedikit menggeser seakan tidak mau didekati Alka. "Baik kok."
Dan, Alka tidak ditanya balik. Biasanya Inna akan bertanya balik gitu.
"Selalu baik kalo lo ngajak main Inna biar dia refreshing, al," cetus Winjes.
Inna melotot tidak senang. Alka jadi terkekeh tapi raut wajah Inna yang aneh cukup membingungkan. Alka merasa tidak senang kalau Inna lagi bete.
"Jangan main mulu mau Ujian," sahut Inna.
"Inna seneng tau diajak main sama lo, Ka," kata Winjes.
Dan, kakinya disenggol oleh Inna. "Jangan usil. Winjes boong nih," sahutnya dan Alka langsung nyengir gugup.
Boong aja gue seneng apalagi enggak. Duh.
Alka senyum-senyum dalam hatinya. Pemuda itu mengutarakan maksud tujuan utamanya mendatangi Inna.
"Nanti ada jadwal PM nggak? Kalo nggak ada pulang bareng yuk. Kalo ada, aku tungguin sampe selesai," katanya.
Lalu si Winjes bersiul menggoda. Alka tersenyum ke Winjes yang sedang menaik turunkan alisnya.
Yang diajakin pulang bareng, Inna menggeleng. "Inna nggak ada jadwal PM hari ini," kata Inna membuat Alka langsung suasana hatinya ceria dan ada harapan. "Tapi dijemput sama Mama."
Senyuman Alka langsung padam.
"Yah, sabar Bro ditolak egen. Kuatin hati lo!" Winjes tertawa terpingkal-pingkal.
Alka menghela napas lesu. "Kenapa? Ayo, pulang bareng dong," ucapnya lagi dengan raut sendu.
"Mau pergi sama Mama nanti langsung dari sini. Maaf ya, Alka," kata Inna berusaha tetap manis.
"Ya udah, lain kali pulang sama aku lagi ya?"
Inna menggumam pelan. "Ya."
"Masih usaha keras aja," celetuk Winjes.
"Eh, jangan diledek mulu dong. Kasih dukungan kek kayak Priska," ucap Alka keceplosan.
Muka Inna berubah saat Alka yang dulu jarang nyebut nama itu jadi sering nyebut. Alka menyadari raut Inna yang berubah itu.
"Hah, Priska? Lo juga deketin dia yak buat jadi mata-mata? Dasar niat banget lo sama Inna," decak Winjes ketawa.
Alka juga tertawa. "Ye, biar Inna dijagain sama lo dan Priska." Diliriknya Inna yang masih diam saja dengan mata membulat dan bibir mengerucut.
Ekspresi Inna mengapa terlihat sedih dan aneh? Apa sedang ada masalah?
Apa saat dia usai mengantar gadis itu pulang nonton, Inna dimarahin karena pulang telat? Padahal dia pulang jam 5 kok kalau itu bisa disebut masih sore. Perasaan Alka jadi tidak tenang melihat Inna, yang tidak seperti biasanya.
***
Hujan turun dengan lebat saat Alka sudah berada di dekat motornya. Pemuda itu menggerutu hujan turun sesaat dia belum pulang. Tapi dia bersyukur tidak kehujanan di tengah jalan. Dia merasakan hujan yang turun mengenai kepalanya makin deras kencang, bahkan angin menggoyangkan pepohonan. Pemuda itu berbalik lari kecil ke sebuah lorong. Dia mengusap bagian tangan dan bahunya yang basah.
"Hujan lagi," gumamnya sambil menyugar rambut.
Saat memperhatikan sekeliling, di lorong koridor depan banyak anak murid duduk bercanda ria. Alka melangkahkan kaki, kembali masuk ke dalam gedung sekolah. Dia mencari kelas yang kosong, untuk menenangkan diri sementara menjauh dari suara hujan yang menyiksa dirinya.
***
Punggung Alka terasa ditepuk oleh seseorang. Saat matanya terbuka yang dilihat adalah seorang perempuan cantik berambut panjang tersenyum lebar. Masih memakai seragam dan tas di punggung. Gadis itu ternyata tidak hanya tersenyum melainkan sedang tertawa.
"Lo ngapain di sini? Tidur mah di rumah." Tawa gadis itu. Priska terlihat geli pada kelakuan Alka.
Alka mengerjapkan matanya, "Eh? Gue ketiduran? Jam berapa nih? Masih ujan nggak??" Dia celingukan menatap luar jendela.
Di genting ada tetesan air, khas suasana habis hujan. Langit masih mendung tetapi hujan sudah tidak turun.
"Udah reda. Oh ya, sekarang jam setengah 5. Lo nggak pulang? Dan, ini bukan kelas lo, ‘kan?"
"Lo sendiri ngapain di sini? Lo baru pulang?" Alka mengusap wajahnya, takut ada sesuatu yang bisa membuatnya malu. Misalnya, iler atau belek mata. "Gue udah mau pulang tapi langsung turun hujan."
"Kelas gue udah mulai PM. Pas gue liat ada seseorang di sini kirain siapa. Taunya elo. Takut lo nggak bangun sampe malem, ya gue sadarin sekarang aja deh."
"Makasih deh. Selamat ya udah mulai PM. Gue mah belum." Alka tertawa. "Udah mau pulang? Pulang sama siapa?"
"Sendiri. Kenapa memangnya?"
"Bareng yuk. Tapi nanti dulu ya, di luar masih wangi hujan banget."
"Kenapa? Udah reda kok." Priska menatap genting samping kelas.
"Tunggu bentar lagi. Oke? Sambil nunggu mending lo duduk." Titah Alka menunjuk kursi sebelahnya. "Ngobrol dulu sebentar."
Priska terlihat menghela napasnya berat. Tapi perempuan itu menurut duduk di sebelah Alka. Di luar masih wangi hujan, dan perasaan Alka untuk membawa seseorang dalam keadaan baru hujan agak was-was. Dia belum pernah membawa seseorang dalam kondisi habis hujan. Tapi dia baru saja ngajak Priska pulang bareng. Sudah terlanjur terucap.
"Udah nggak ujan kok," gerutu Priska.
"Iya, tapi jalanan masih licin banget," jawab Alka.
Priska mengernyit. "Kenapa? Lo takut sama jalanan licin?"
Alka ngangguk sebentar. "Iya. Takut. Sori kalo nanti gue bakal kagok atau lama bawa motornya."
"Kenapa?" Priska tampak penasaran sekali.
"Takut aja. Gue juga takut sama hujan deras, apalagi dengan suasana hujan yang ditambah berangin. Lo boleh ngatain gue aneh atau kasihan."
"Emang aneh si," sahut Priska tertawa pelan. "Gue suka banget sama hujan. Bisa bikin tenang."
"Gue malah sebaliknya, hujan bikin gue gelisah dan takut." Alka menatap lurus ke depan, tidak sadar Priska sedang menatapnya dari samping.
"Bener-bener takut? Lo trauma dong?" terka Priska.
"Kayaknya," Alka ngangguk sambil meringis. "Aneh ya? Cemen banget jadi gue."
"Kenapa bisa trauma?"
Alka tidak menjawab. Priska tidak mau memaksa Alka jawab pertanyannya.
"Mungkin karena hujan deras suaranya gaduh. Bikin pandangan menjadi buram nggak jelas. Wangi hujan yang dingin dan katanya sejuk, yang gue rasain bikin sakit dan menusuk."
“Iya, hujan memang terkadang terlihat mengerikan.” Priska pada akhirnya juga setuju dengan hal itu.
***
Cowok ini lumayan unik atau benar-benar unik. Baru saja Priska mendengarkan cerita tentang Alka yang takut sama hujan. Bodohnya Priska seakan larut dalam cerita itu, menikmati hawa habis hujan selagi mendengarkan cerita Alka. Dia baru tahu, bahwa cowok itu sering terlihat di sekolah menunggu hujan reda. Jadi, karena alasannya memang takut pada hujan. Tak peduli waktunya akan terbuang sia-sia menunggu hujan berhenti.
Cowok lain biasanya memaksa menerobos hujan pakai jas tetapi Alka lebih sering menunggu hujan sampai reda.
"Kasian ya lo memasuki musim di mana trauma lo akan sering muncul." Priska berkomentar menatap profil samping Alka.
Tampan.
Kalo senyum juga manis.
Priska mengerjap. Dia baru saja memuji cowok. Sesuatu yang langka. Mengapa Dia baru sadar kalau Alka memang menarik dilihat dari dekat? Padahal dari jauh terlihat biasa saja.
"Iya, hujan udah sering muncul kok, dari bulan kemarin juga," jawab Alka.
"Kasian amat lo. Udah nggak ujan dan jalanan nggak selicin tadi. Ayo, pulang!" Ajak Priska bangkit dari duduknya. Dia ingin cepat pulang. Kabur tepatnya.
Dia tidak mau terbawa suasana karena kali ini mereka berdua tapi tidak membicarakan Inna. Membicarakan hal pribadi tentang diri sendiri kan bisa membuat bahaya pada hati dan perasaan. Bagaimana kalau Priska ikut hanyut dan menceritakan masalah hidupnya juga? Yang selama ini dia pendam.
Rencana dia cuma satu pada Alka. Menjadi pacar. Itu juga kalau tercapai.
Tiba-tiba Priska teringat sesuatu. Petaka. Kesialan. Ini berbahaya. Cowok itu memiliki trauma dan Priska berpotensi bisa melukainya. Dia tidak mau pulang bareng kalau tahu bagaimana kondisi Alka aslinya.
Priska berjalan lebih cepat atau setengah lari menuju gerbang. Semoga Alka tidak peka, dia tengah berusaha kabur tanpa ingin menjelaskan dengan kata-kata atau beberapa patah kata. Dia ingin pergi tanpa penjelasan yang pastinya akan berbuntut panjang.
Di jalanan menuju gerbang, ada banyak genangan air dari aspal yang berlubang dan membentuk cekungan mengikuti kontur tanah.
Priska melangkahkan kakinya, lebih cepat menghindari Alka. Dia ingin kabur dari cowok itu. Tidak mau diajak pulang bareng. Tidak jadi. Lebih baik tidak usah, pulang bareng kalau tahu ternyata Alka tidak bisa membawa motor kalau jalanan licin.
Bagaimana rencananya berhasil kalau dia masih belum tega akan rencananya itu?
Haduh!!
Dan ada alasan lain, mengapa sore ini dia mendadak menjauhi Alka dan tidak mau diajak pulang bareng. Masalah Alka dengan traumanya.
Itu berbahaya sekali, saat Priska teringat bagaimana orang lain dulu menyebutnya. Penghinaan dari orang lain untuk dirinya yang membuat satu, atau dua nyawa melayang.
Tangan Priska ditarik oleh Alka. "Lo mau ke mana?"
Priska tersentak dan Alka juga. Cowok itu bisa mengejarnya dengan cepat. Cowok itu melepas pegangannya dan mata melebar.
"Lo trauma sama jalanan licin. Gue nggak mau lo ambil risiko pulang berdua sama gue. Bisa gue bilang itu sedikit membahayakan ... elo? Menurut cerita tadi, lo memang takut banget sama jalanan licin dan hujan. Meski udah nggak hujan, jalanan masih banyak air dan licin."
Alka tercenung, memandangi Priska yang terlihat ketakutan dan bibirnya pucat.
"Pelan-pelan. Makanya tadi gue nenangin diri dulu. Ada apa sih?" Alka menatap lurus pada sepasang manik mata Priska.
"Jangan! Lebih baik lo pulang sendiri dan gue naik angkot!" bentak Priska mau pergi, dan ditarik lagi oleh Alka.
"Kenapa?"
Priska tidak menjawab. Dia menarik tangannya dari Alka. Mata cewek itu terlihat sayu dan gelap. Priska berjalan cepat bahkan sedikit lari. Dia tidak mau melihat ke belakang.
Kaki Priska membawanya menuju ujung Jalan Pattimura. Dia kira sudah aman, Alka akan mengabaikannya begitu saja, tetapi dari belakang ada suara motor dan sayup-sayup teriakan suara Alka menyebut nama Priska.
"Priska! Priska!"
Cewek itu berhenti berlari dan menoleh ke belakang. Dilihatnya Alka membawa motor menuju arahnya cukup cepat. Tangan Priska menyetop pada Alka yang membawa motor lumayan cepat.
"Berhenti! Di sini! Jangan ngejar gue!" Teriak Priska menahan motor Alka.
Alka mau turun dari motornya setelah menghentikan mesin motor. "Lo kenapa?"
"Jangan deket-deket kalo nggak mau celaka. Gue bahaya buat lo," ujar Priska sudah menyentak kasar agak histeris.
Yang diajak bicara tidak paham. "Maksud lo?"
"Gue udah sering bikin orang lain celaka. Nggak cuma satu. Gue--"
Dulu gadis itu pernah menerima label sebagai cewek malaikat maut saat kejadiannya masih hangat dan menjadi gosip terpanas di sekolah.
"Terserah lo mau ngomong apa. Sekarang lo pulang sama gue, daripada ngomong aneh-aneh. Naik! Jangan kabur lagi!" seru Alka tidak mau dibantah.
Priska menurut naik ke belakang Alka. Daripada dia kabur dan akan melewati jalan itu dikejar Alka seperti tadi. Di belakang cowok itu, Priska berdoa dalam ketakutan.
Bagaimana kalau kejadian itu sampai terulang kembali?
***
Setelah mengucapkan terima kasih ke Alka dan tidak mau membahas kejadian membingungkan tadi. Priska segera lari masuk ke dalam rumahnya.
Alka mengetahui sesuatu, meski hanya sekilas pasti akan berusaha mencari tahu sendiri. Suatu saat Alka akan mengetahui sesuatu yang dipendam Priska selama ini.
Semoga Alka tidak penasaran dan mencari tahu di balik omongan membingungkan Priska tadi. Dia akan mendapat info yang double killed. Tentang pengalaman tragis Priska bersama seorang cowok yang meninggal dan ketakutan Priska yang seperti tadi.
Di teras ada beberapa buah sepatu besar. Gadis itu melesat masuk ke dalam rumah mengira ada tamu. Memang ada tamu. Di ruang tamu ada beberapa orang. Salah seorangnya pemuda yang tidak dia kenal. Masih muda. Dan ada dua pria dewasa. Di sofa ada Papa menangis sambil ditenangkan oleh Evan. Evan juga terlihat syok, pucat pasi wajahnya.
Priska memeluk Papa, takut terjadi sesuatu. "Ada apa, Mas?" Dia mendapat tatapan dari tiga orang tamu itu.
Evan mengelus pundak Priska menenangkan. "Papa sedang syok berat. Priska, ada kabar duka, Elang ditemuin overdosis di salah satu kosan teman SMA-nya tadi sore. Meninggal. Kita bakal ke rumah sakit nunggu Papa mampu untuk bangun, dan kamu pulang. Kalo papa belum siap, kamu temanin Mas ya. Si Litha sudah berada di rumah sakit."
APA?
Seluruh tubuh Priska lemas dan kehilangan energinya. Dia seperti kaku sekarang mendengar kabar Elang sudah pergi.
Elang sudah pergi ...,
"Elang, huhu ... apa salah Papa? Apa yang kurang dari yang Papa beri, sampe kamu pakai obat terlarang?" Tangis sang papa membuat Priska memeluk erat dan menumpahkan air matanya.
"Papa, huhu ...,"
"Elang, maafin Papa nggak bisa jaga kamu. Nggak bisa membuat kamu bahagia." Racau Papa lagi menyayat hati.
Evan merangkul tubuh Priska dan Papa. Hanya dia yang masih mampu menahan gejolak mau menangis.
***
13 Des 2021