Sabtu ini tidak terlalu menyenangkan di rumah bagi Priska. Bagaimana tidak, sang kakak tiri yang super jutek dan sinis sedang pulang ke rumahnya. Katanya sedang liburan akhir semester makanya Elang pulang ke rumah.
Priska terkejut saat turun ke bawah pagi hari yang harusnya lumayan menenangkan seketika mendadak jadi tegang. Elang selalu menatapnya dingin penuh kebencian. Hubungan mereka juga tidak membaik sudah hidup bersama beberapa tahun.
Elang masih saja tidak terima bahwa Priska dan kakaknya yang tidak memiliki hubungan darah masih ditampung oleh sang papa. Padahal ibu mereka yang menjadi istri papanya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Elang iri karena pilihan papanya masih menerima Priska dan Evan di rumah itu, menegaskan pendapat dia tidak didengar oleh Papa.
"Mas, hari ini aku izin pergi ya, boleh kan?" kata Priska memohon pada Evan yang sedang memotong rumput halaman samping. Priska kebagian tugas membersihkan daun-daun rontok di pot bunga.
"Mau ke mana lagi? Minggu lalu udah pergi," keluh Evan pada Priska yang jadi main terus.
"Ke makam Mama, Papa, dan juga Naya."
Priska tidak tahu lagi ke mana dia harus pergi, hanya tempat-tempat itu yang menjadi tujuannya kalau sedih dan ingin bercerita tapi tidak butuh pendengar berwujud. Karena Priska belum menemukan orang yang bisa diajak bercerita, tanpa diputarbalik. Dia kesal kalau cerita pada seseorang berujung orang itu yang jadi bercerita padanya. Bahkan lebih banyak ceritanya. Pengakuan, orang itu adalah Nabila cs. Bahkan Inna dan Winjes. Namanya juga manusia biasa. Lebih baik dia cerita saja sama yang tidak akan bisa menjawabnya. Yang penting dia bisa mencurahkan isi hati tanpa mendengar ocehan orang lain yang tak penting.
"Mau ke sana? Nanti Mas ikut dong ke makam Mama dan Papa. Tapi kamu ke makam Naya sendiri nggak apa-apa?" tanya Evan. "Soalnya Mas mau pulang dan pergi lagi."
Makam tempat Naya berbeda dengan Mama dan Papa, Evan tidak bisa harus ikut ke makam Naya dan menunggu sampai Priska selesai dengan urusannya.
"Tapi anterin sampe depannya ya?"
"Iya, pasti. Ya udah selesein dulu nih tugas abis itu kita siap-siap."
Priska tersenyum. Dia melirik ke pintu ruang tengah yang letaknya samping halaman. Di sana ada Elang duduk dekat meja dan melamun. Elang sekarang lebih dewasa dengan wajah tirus dan tampak terlihat tua dengan area bawah mata yang mencekung. Beda sama Elang yang dulu cowok ganteng dan baby face.
Priska masih memandang ke arah Elang. Elang terlihat terkesiap lalu membulatkan matanya dan bertatapan dengan Priska. Elang terlihat aneh menatapnya tak berkedip dengan ekspresi datar. Priska tersenyum kecil, tapi tidak digubris. Elang memilih pergi dari tempat itu.
Kenapa sih orang itu masih tidak terima kehadirannya? Ada perasaan aneh yang hinggap dalam hati Priska, sudah lama dia mengenyahkan perasaan itu tidak menganggap penting. Tidak boleh perasaan itu muncul lebih kuat dari sebelumnya. Mengapa dia memiliki rasa yang tidak biasa? Ada degub yang berbeda ketika memandang Elang walau dari kejauhan.
***
"Mas, kasih bunga yang putih buat Mama dan buat Papa yang merah." Priska memilih buket bunga di depannya yang dipajang dengan riasan cantik. Dia mengambil beberapa buah tangkai bunga.
Evan mengeluarkan uang membayarkan. "Nggak sekalian buat Naya?"
"Nanti aja aku beli di dekat pemakaman Naya. Aku di sana juga mau beli buat Guntur," ucap Priska.
Sambil menunggu uang kembalian Evan menatap sang adik. "Kamu masih rajin ke makam Guntur? Kenapa Priska? Apa kamu masih merasa bersalah?"
Sang adik perempuannya itu geleng kepala amat pelan. "Biar Guntur tau aku udah nggak benci sama dia."
Evan tidak paham tapi dia hanya menggumam oh saja daripada makin penasaran dengan hubungan Guntur dan Priska. Yang dia tahu Guntur adalah kakak kelas yang disukain sama Naya dan meninggal di tempat yang sama dengan Naya. Evan juga baru tahu setelah Priska bercerita beberapa minggu setelah kepergian Guntur.
Priska meresapi ucapannya sendiri. Penyesalan selalu datang belakangan. Andai, dia bisa lebih awal memberi tahu Guntur tentang Naya dan meminta agar tidak mengejar dirinya terus. Guntur akan menyerah dan senang memiliki pengagum seperti Naya. Tentu akhirnya tidak akan tragis. Baiklah, itu takdir hidup Guntur. Priska dalam hati meyakinkan semuanya bukan salahnya. Tetapi setiap dia mengelak, rasa bersalah akan diam-diam muncul dan menyiksa dalam dirinya.
Kadang ketakutan datang walau tidak disadari.
***
"Kamu mau makan dulu apa langsung ke sana? Udah siang nih."
Priska melirik jam tangannya mengikuti sang kakak. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Perutnya juga sudah berbunyi. Dia menganggukkan kepalanya ke Evan.
"Iya, makan dulu, Mas. Abis itu baru pergi lagi. Mas juga kalo di rumah nanti nggak sempet makan langsung pergi kalo nggak ada yang ingetin," kata Priska.
Mereka sedang di dalam mobil dalam perjalanan mencari makanan. Priska mengamati jalanan sekitar. Kali saja matanya menangkap rumah makan yang enak dan buat penasaran di sekitar jalanan ini. Mereka melewati toko penjual bunga yang tadi. Ada Sesuatu yang menarik hatinya berdiri di sana sambil memegang buket bunga. Alka berdiri di depan toko itu sendirian memegang buket bunga dan mencium bunga itu. Di depan toko bunga itu terparkir mobil yang pernah Priska naikin bersama Alya dan Alka. Jadi kemungkinan besarnya itu memang Alka.
Alka membeli bunga untuk siapa? Apakah Alka ingin menembak Inna secepat ini?
Gadis itu jadi gelisah. Mengapa dia jadi tidak senang pada hubungan kedua orang itu? Gawat!
Semoga saja Alka dan Inna tidak jadian dalam waktu dekat. Karena Priska-lah yang harus memenangkan taruhan itu terlebih dahulu.
Apa kata Nabila kalau Priska kalah karena Inna?
"Mas, aku boleh pinjem duit nggak?" tanya Priska dengan suara lemah.
"Berapa? Buat apa? Nanti Mas kasih aja," sahut Evan santai. Dia tidak mengira Priska akan meminta dalam jumlah tak terkira.
Priska meneguk ludah. "8 juta. Laptop Priska rusak dan biaya servisnya segitu." Gadis itu menggigit bibir.
"Masya Allah!" pekik Evan syok sambil berusaha nyetir dengan tidak dalam kondisi kacau. "Rusak apanya sampe segitu kenanya mahal banget?"
"Aku kan ngeceknya di official service center-nya."
Tapi kayaknya di sana tidak akan semahal itu juga.
Evan menggeleng. "Mending kamu beli nambah dikit dapet yang baru. Nanti Mas cek kali aja bisa dibenerin di tempat yang lebih murah. Yang penting datanya aman, ‘kan?" Kakaknya itu menoleh dengan serius.
Astaga! Padahal Laptopnya baik-baik aja di kamar. Bagaimana ini?
Priska berpikir sudah gagal mendapatkan uang 8 juta itu.
"Nggak apa-apa si, masih bisa dipake, rusaknya juga kadang-kadang bahkan pas dicek suka nggak eror."
"Asal masih bisa dipake nggak apa-apa, ‘kan? Maaf ya."
"Iya, Mas tenang aja. Aku masih sanggup pake kok."
"Nggak enak ya minta sama Papa. Sebisa mungkin Mas nggak minta uang sama beliau lagi. Untuk biaya nikah juga hasil usaha selama ini," tutur Evan menatap Priska lembut.
"Kadang aku berpikir, Mas, sampe kapan kita ikut sama mereka. Aku kurang nyaman sama Elang yang sinis," ungkap Priska.
"Nanti abis nikah sama Olla, kamu ikut kami aja? Di rumah BTN yang selama ini udah mas cicil."
"Nggak, Mas!" Tolak Priska dia tidak enak masa ikut serumah sama kakaknya yang sudah menikah. Akan sangat ganggu pasangan baru yang butuh waktu untuk berduaan setelah resmi halal. "Nggak enak tau, aku akan ganggu. Apa aku kuliah yang jauh biar ngekos?"
Dalam hatinya Priska menggerutu. Hutang saja masih banyak mau ngekos dan butuh dana banyak. Tapi ada sesuatu yang ingin dikatakan Priska, tentang masa depannya.
"Kamu pengen kuliah ya di kampus negeri luar Jakarta? UI?"
UI masih dalam lingkup dekat. Ragunan-Depok dekat sekali, ‘kan?
"Kalo diizinin mau ke UGM atau Unpad. Aku mau ikut seleksi jalur bidik misi."
"Tapi Papa nggak akan ngebiarin kamu masuk lewat jalur bidik misi?" Evan menatap dengan wajah cemas.
Priska ngangguk. "Makanya, kalo aku bilang jujur ke beliau tentang rencana kuliah akan semakin memberatkan. Mas, selain lewat jalur bidik misi aku masih bingung. Aku disuruh wali kelas ikut jalur undangan juga, peluang di undangan cukup ada tapi ujungnya akan meminta bayaran dari Papa."
"Beliau baik banget nganggap kita sebagai anak kandungnya dan tanggung jawab sampai kita sukses. Nanti diusahain biar Mas yang bisa tanggung jawab besar sama biaya kuliah kamu."
"Aku inget pesan beliau ke Mama waktu itu yang terakhir kalinya. Janji sama Mama, mau ngurusin kita sampe dewasa."
***
Ciiiittttt ....
Priska terkesiap kaget saat ada sebuah mobil tiba-tiba masuk ke dalam Jalan Pattimura, dengan kecepatan tidak wajar. Suara klakson motor langsung serentak berbunyi di sekitar gadis itu. Mereka para pengendara yang ingin masuk ke Jalan Pattimura. Semua mengutuk sang pengendara mobil hitam itu yang terlalu kencang.
Padahal Priska, gadis itu sudah mengulurkan tangan menghalau kendaraan yang mau masuk agar bergerak lebih pelan. Dia menyeberang di depan kendaraan yang mau lewat. Ramai sekali.
Biasanya para pengemudi biasanya diperintah agar memelankan kendaraan di tikungan maut itu. Sebuah mobil hitam yang tadi nyaris menabrak Priska melaju dengan gesit tidak membiarkan gadis itu menyeberang terlebih dahulu. Kecepatannya membuat orang di sekitar menghela napas gemas dan sekaligus takut. Kejadian tadi mengundang perhatian dari orang lain di pagi yang cerah dan kendaraan banyak lalu lalang.
Priska mengelus dadanya yang berdegub keras dan kakinya gemetaran melangkah meneruskan nyeberang melewati motor-motor yang berada di belakang mobil tadi dengan gesit.
Nyaris.
Mata gadis itu mengerjap masih syok akibat mobil tadi. Mengapa harus di tempat itu juga dia nyaris tertabrak?
Sesampinya di kelas Priska melihat Inna dan Alya di depan kelasnya. Mereka berdua lagi asyik tertawa. Saat tahu ada Priska, Alya langsung memberi kode dengan tangan agar Priska mendekat.
Melihat keduanya, Priska jadi ingat pada Alka tadi malam. Hanya mereka berdua saja yang tahu. Priska yakin dia akan bisa membuat Alka melebihi tujuan awalnya mendekat pada dirinya. Membuat Alka melupakan tujuan awalnya.
"Pris, sini deh. Lo harus tau kalo kemarin hari Minggu, Kakak gue ngajak Inna jalan. Romantis, ‘kan?" seru Alya tertawa geli.
Priska langsung menatap Inna tak percaya. "Beneran?" Lantas dia teringat hari Sabtu siang melihat Alka di toko bunga dan terlihat bahagia sekali.
Apa mereka sudah jadian? Tapi Alka tidak mengatakan perihal mereka sudah jadian. Padahal Alka dan Priska sering ngobrol lewat pesan. Kenapa Alka tidak mengatakan apa pun?
Jangan bilang tuh cowok emang jago cuma baperin cewek!
Inna mengangguk pelan. "Nggak nyangka dia nekat ke rumah, ya udah Inna dibolehin sama Mama."
"Kalian udah jadian apa belum?" tanya Priska dengan lidah pahit seperti habis minum obat.
"Belum kok." Inna menjawab cengengesan malu.
"Kita doain aja biar cepet diresmiin ya, Pris?" Alya nyengir menatap Priska yang lagi hatinya bolong.
Priska menjawab hm pelan. Gadis itu masam, tapi tidak kentara. Karena kapan saja Priska bisa terlihat jutek dan sinis.
Hari Jumat Alka masih mengikutinya ke toko buku dan mereka meluruskan kejadian itu. Priska mengaku ke Alka bahwa dia tidak sengaja masukin ponsel Alya ke tasnya karena mengira itu ponselnya.
Awalnya dia memaksa Priska mengaku memang sengaja ngambil. Alka setelah menggodanya dengan nada menyebalkan akhirnya menyerah dan percaya juga.
Priska tidak mau mengaku yang sebenarnya karena cowok itu targetnya demi taruhan. Masa merusak imej sendiri? Mengaku maling sama saja bikin Alka menjauh. Bisa jadi bakalan ilfeel.
"Gue ke toilet ya. Tar keburu bel." Pamit si Alya langsung pergi.
Mungkin ini kesempatan Priska buat berbicara ke Inna. Manasin dengan cara yang manis. Dia tidak mau menusuk langsung, pelan-pelan dulu lewat verbal.
"Na, lo didatengin Alka hari Sabtu dan dibawain bunga?" tanya Priska dengan serius.
Inna langsung membulat matanya. Dia menatap Priska tidak percaya. "Eh? Alka nggak hubungin Inna pas hari Sabtu. Tapi malemnya sih iya. Kenapa?"
"Gue lihat dia hari Sabtu beli bunga dan keliatan ceria banget. Dia ciumin tuh karangan bunga kayak orang jatuh cinta. Bawa mobil pula. Ke mana ya? Masa bukan buat nemuin lo?"
Mendengar berita itu Inna langsung mencelus hatinya. Habis kata-katanya Priska seperti itu.
"Kali aja buat keluarganya atau disuruh mamanya?" tandas Inna dengan lidah kelu.
Priska bisa menyadari temannya itu langsung berubah, suasana hatinya jadi kacau dan buruk.
Priska menyipitkan matanya. "Gue takut lo bakal sakit hati. Tapi dia bukan cowok baik-baik. Mau ke mana coba bawa mobil dan beli bunga? Sendirian. Biasanya kan dia selalu sama Alya," kata Priska. Saking pengen bikin Inna kesal, dia lumayan jago ngarang. Dia tidak tahu ada Alya di situ atau tidak. Bodo amat.
"Masa?"
Jarang Alka pergi sendiri kalau memang urusan keluarga pasti ada Alya. Priska tahu Alka akan melibatkan Alya. Kalau cowok itu sendirian ya memang urusannya pada dirinya sendiri yang bisa jadi dirahasiakan.
Yang dibicarakan datang, Alya, gadis itu mengerutkan kening. "Kalian masih di sini?"
"Alya, memang hari Sabtu di rumah ada acara keluarga?" tanya Inna pada Alya.
Priska tersentak karena Inna nanya langsung ke orang yang berhubungan langsung dengan sosok yang dibicarakannya. Ya … Alya. Bagaimana kalau kejadian ini akan membuat salah paham? Lebih parahnya lagi kalau Inna nanya ke Alka, yang akan membuat cowok itu langsung peka menganggap Priska sebagai penghalangnya. Karena Priska terlihat sangat mengada-ada sekarang dan menggunakan alasan itu untuk bikin Inna curiga ke Alka.
"Gue Sabtu ada di rumah kok. Nggak ada acara apa-apa. Emang kenapa?" Alya bertanya balik.
"Katanya Priska lihat Alka di luar rumah lagi beli bunga," ujar Inna membuat Priska jantungnya langsung empot-empotan dan menggerutu dalam hati.
Sialan nih anak polos amat nanya langsung begini!
Alya terlihat aneh. Gadis itu tampak berpikir tapi langsung berbicara. "Oh! Iya kayaknya Alka pergi. Nggak tau dia ke mana perginya sih. Tapi kata lo tadi dia beli bunga ya?" tanyanya ke Priska dengan nada aneh tidak seceria biasanya.
Dan, diangguki oleh Priska. "Ya."
"Ke mana sih dia perginya?" Inna terlihat jadi bete. “Bawa bunga ya?
"Nggak tau si," jawab Alya sambil senyum gugup.
Priska melirik dan tersenyum dalam hati melihat Inna sedang bete berat karena pemanasannya. Belum tahu saja bagaimana cerita mereka tentang ke toko buku bersama, juga sms dan telepon dari Alka. Priska bisa membuat hati Inna panas kalau memamerkan pesan chat dari Alka yang menyuruh Priska agar makan dan tidur nyenyak.
Oh ya, bahkan Alka tadi malam mengirim rekaman permainan pianonya. Priska yang meminta Alka memainkan lagu Canon in D karya Pachelbel. Lagu klasik favorit Priska.
Mereka bubar untuk masuk ke kelas masing-masing saat bel berbunyi.
***
12 Des 2021