12. Resek!

2095 Kata
"Priska!" Yang punya nama baru saja memasuki Jalan Pattimura dikagetkan panggilan dari suara seorang cowok. Tidak ada cowok yang memanggil dengan lengkap, kecuali Guntur. Priska menoleh dan di sampingnya sudah ada Alka mengendarai motor mengikuti langkah kecilnya. Pelan-pelan. "Priska, emang jalan kaki dari jalan raya depan ya?" tanya Alka tampak basa-basi sekali di mata Priska. "Ah, enggak. Kakak gue lagi buru-buru, jadi turun di depan." Gadis itu menjawab apa adanya dan dingin. Dia tidak mau meloloskan kesempatan Alka makin dekat dengannya. Bagaimana kalau dia jadi terpengaruh untuk memenangkan taruhan itu? Percaya diri itu bisa saja muncul karena peluang besar terbuka depan mata bukan? Selain dituruin di depan karena Mas Evan buru-buru, dia juga mau berjalan kaki melewati tempat kepergian Naya. Aneh memang tempat itu menyakitkan tetapi juga membuat rindu. Priska berjalan mempercepat langkahnya menghindari Alka. Beberapa hari lalu dia pulang terlalu larut karena hujan deras, dan saat mau pulang diajak oleh Alka pulang bareng. Gadis itu menolak dengan mengatakan dia sudah dijemput. Padahal dia menunggu di gerbang sedang menahan pertarungan dalam dirinya lagi. Dilema yang hebat. Mengapa Alka mendekat saat Priska diminta Nabila untuk mendekatinya? Kemarin Priska juga menghindari Alka yang mendadak jadi main ke kelasnya dengan modus bertemu Alya lalu akhirnya dia ngajak ngobrol Priska dengan tema tentang Inna. Alka mendadak jadi menyebalkan di mata Priska karena penasaran dan mau tahu banyak hal tentang Inna terus. Mulai dari bagaimana pertemuan pertama mereka, siapa cowok yang pernah mendekati Inna dulu, gimana pandangan Inna tentang cowok yang pernah Priska dengar dari bibir cewek itu. Pokoknya pertanyaan yang membuat Priska kesal. Bagaimana rasanya ingin memenangkan suatu taruhan demi uangnya? Namun, si cowok sedang tergila-gila ke cewek lain. Priska antara ingin tega dan tidak tega. Makanya dia memilih memasang tameng agar kembali dingin dan disegani orang lain. Mungkin sikap berisiknya Alka yang bertanya selalu tentang Inna, pemuda itu mengira Priska sudah mau menerima dan mendukung hubungan itu. Priska tentu saja awalnya mau mendukung Inna dan Alka tetapi dia kan juga harus menangin Alka biar hutangnya lunas. Dalam dirinya Priska mendesis lagi. Dia melirik Alka mengekorinya di samping dengan raut wajah polos. "Priska, kalo nanti kalian lagi bareng sama Inna terus gue dateng ikut ngobrol. Kira-kira gimana?" tanya Alka lagi-lagi tentang Inna. Bertarung dengan diri sendiri sangat meresahkan. Ego saling ingin dimenangkan. Pertanyaan Alka tadi jujur adalah pertanyaan yang sangat tidak disukai Priska. Kayak begitu saja masih ditanyain. Ragu-ragu banget sih nih cowok! "Ya, ngobrol aja kayak biasa." Priska malas berpikir jadi jawabannya membingungkan. Dia sendiri jadi heran ikutan berpikir dipaksa begitu karena ditanya-tanya. "Lo mau nggak ikut nonton biar Inna mau pergi sama gue? Gue bayarin deh," ucap Alka seperti pengganggu baru dalam hidup Priska. Priska melongo hebat. "Hah? Terus gue ngintilin kalian?" Membayangkannya saja sudah miris. Masa dia berjalan di belakang orang mabuk asmara? Tengsin dan jatuhin harga diri banget. Tiba-tiba Alka terkekeh tidak peduli Priska memasang wajah masam. "Nggak sih. Lo duduknya agak jauh gitu, bilang aja kalo lo nggak mau ganggu. Ayo, dong bantu gue." Alka memasang wajah penuh memohon. "Nggak deh. Lo bujuk terus, dia pasti mau jalan berdua sama lo." Priska memberi peringatan dengan raut wajah yang berubah kesal supaya Alka menjauh darinya. "Udah deh! Jangan ganggu dulu, emosi gue lagi tinggi!" Alka menatap wajah Priska yang kesal banget tapi lucu. Pemuda itu menarik sudut bibirnya membuat Priska tersentak dan jalan cepat memasuki gerbang. "Eh, kenapa sih Priska lo sewot banget? Lagi PMS ya?" kekeh Alka di belakang sambil berkata pelan, dan tidak digubris sama sekali oleh Priska yang memang ingin meninggalkan Alka saat itu juga. Priska masih mau berpikir panjang bagaimana nantinya. Tetapi sesungguhnya dalam hati terbersit keinginan untuk memanfaatkan Alka sekarang. Waktunya sangat pas karena Alka sedang mendekat padanya, walau dia bertujuan lain. Tetapi bukankah kata Nabila semua cowok bisa digaet karena kecantikannya? Dunia Alka hanya ada Inna dan Inna. Merebut yang belum menjadi pacar orang boleh saja, ‘kan? Priska meyakinkan diri bahwa tujuannya nanti hanya uang. Demi gantiin hutang itu dia nekat melakukan ini. Biasanya dimainin, makanya sekarang waktunya bermain. *** "Lo sama Alka udah sampe mana si? Kalian udah sama-sama suka dan sayang?" Priska bertanya pada Inna. Keduanya lagi ngobrol di depan kelas Inna. Dia harus tahu dulu apakah peluang untuk masuk ke hubungan pendekatan mereka di saat yang pas atau tidak. Apakah masih ada kesempatan? "Inna peka tapi kita belum sama-sama bilang sayang. Cuma baru kayak suka-sukaan aja. Ya … namanya juga Inna anak polos. Hihi." Gadis itu nyengir memamerkan giginya. Dalam hati Priska tersenyum masam. "Lo ngerasa nggak sih dia jadi nganggep gue sebagai teman lo. Dia suka nanyain lo gitu, deh. Nggak apa-apa nih? Bahkan dia suka chat gue dapet nomer dari Alya. Ya, ngomongin elo mulu. Nanya-nanyain gitu khas orang pendekatan." Dia harus ngasih tahu ke Inna supaya tidak salah paham dengan Alka yang tiba-tiba jadi sering tersenyum penuh makna ke dirinya dan sok akrab tiba-tiba. "Oh," Inna jadi seperti sadar sesuatu. "Jadi, dia deketin lo buat mantau gue? Aduh, jadi makin geer nih gue. Dia pernah nanya-nanya juga hubungan pertemanan sama Priska gimana. Ya, udah gue cerita kalo lo temen dari kelas 10." Dasar Alka. Ternyata cowok itu beneran ingin membuat segitiga setan untuk hubungan ini. Melibatkan Priska juga ke pendekatannya dengan Inna. Ya, memang kalau pedekate harus ada teman yang dikorbankan. "Iya, gue disuruh mantau elo. Ups, dia ngomongin lo mulu deh. Kayaknya dia cinta mati dan sayang banget sama lo." Di sebelahnya Inna terlihat sedang menahan senyum dan wajahnya memerah malu. Priska hanya mengatakan yang dilihatnya pada Alka. "Priska juga bantu pantauin Alka ya. Mau nggak? Jadi kalo Priska dapet cerita dari Alka kasih tau. Biar Inna makin memantapkan hati ke Alka," kata Inna menusuk hati Priska. Tapi Priska tersenyum dan mengangguk kecil. Gadis itu lalu bertanya, "Sebenarnya apa sih yang bikin lo sedikit ragu sama dia? Bukannya dia itu cowok baik? Mau berapa lama lagi lo kayak friendzone-in dia?" Sebenarnya maksud Priska bertanya itu dia ingin tahu berapa waktu dan ide apa yang akan dibutuhkan untuk merebut Alka. Semoga tidak dalam waktu dekat. Karena akan lumayan sulit mengingat peran Priska di situ adalah orang ketiga calon perusak, tidak disukai oleh Alka dan perantara cerita antar dua orang. Waktunya tergantung nanti pada hubungan dua orang itu. "Sebentar lagi mau ujian. Takut nggak konsen kalo fokus ke cowok juga. Inna bingung. Terus juga kayaknya masih muda banget buat pacar-pacaran." Inna terlihat bingung dan gelisah mengerucutkan bibirnya. "Tapi intinya lo suka dia, ‘kan? Ada kemungkinan buat nerima dia jadi cowok lo?" tanya Priska dengan hati mencelus. Rencana lo jahat sih jadi bawannya merasa bersalah terus. Inna mengangguk pelan. "Iya suka, masa nggak suka dispesialin sama cowok kayak Alka. Dia bisa bikin cewek nyaman banget." Dari gesture Inna yang ceria, sebenarnya dua orang itu memang sama-sama suka. Hanya saja Inna masih takut masuk dalam dunia percintaan. Priska jadi bingung sekarang. Apakah boleh menusuk teman sendiri? Alka juga cowok baik bukan tipe yang harus dijahatin dan dikerjain. Priska kembali berkaca pada dirinya. Dia sering dikerjain ya karena sikapnya yang jelek dan ngilani. Tapi Alka? Inna? Apakah Priska sanggup menyakiti keduanya? Apa pun akan dia lakukan, kepalang tanggung. Dia membutuhkan Alka demi melunasi hutang. *** "Gimana udah mulai deketin si target? Jangan lupa lo ada utang banyak sama orang," kata Nabila saat menemui Priska untuk membicarakan hal ini di lapangan depan kelas. Mereka berbicara bersembunyi di dekat pohon. Supaya tidak ada yang nguping. "Oke, gue terima tantangan lo. Kita buat perjanjian ulang gimana?" tanya Priska. "Apa? Oke, nanti gue buat surat itu dan ditandatanganin sama kita berdua," jawab Nabila. "Kalo gue bisa deket sama Alka, nggak sampe pacaran aja gimana?" Priska berbisik pelan. "Enak aja! Siapa yang percaya! Pokoknya lo harus pacarin dia kalo mau hutang lo utuh gue relain lunas." "Kenapa si harus Alka? Gue nggak bisa milih?" Masih saja usaha Priska untuk menghindar dari Alka. Nabilah geleng dengan wajah sengak. "Nggak bisa cowok lain, karena pasti lo bakal milih yang udah pernah naksir sama lo. Gampang amat! Udah bagus Alka. Dia manis dan lumayan mukanya, daripada yang nggak ngenakin mukanya?!" "Tapi Alka itu cowok yang-" Omongan Priska terhenti. Dia nyaris mengadu penghambat terbesar misi nanti adalah teman dekatnya sendiri si Inna. "Dia kalem dan nggak suka sama lo. Makanya gue minta dia aja yang kita pilih," cetus Nabila senyum miring. "Ya, sebanding Priska sama duit yang lo hutang ke gue. Usahanya bakal keras ya karena utang lo nggak sedikit." "Oke. Gue bakal deketin dia dan berusaha dapetin status pacaran. Lo ternyata jahat ya mainin orang sampe kayak gini," kata Priska pasrah. "Buat kenangan masa SMA biar sedikit berwarna dan indah. Gue ke kelas dulu ambil kertas dan puplen buat bikin suratnya. Lo ke koperasi gih beli materai." Gadis tinggi dan langsing itu pergi melambaikan tangan centil pada Priska yang pasrah menerima tantangan dari Nabila. Kalau memang kesempatan mendapatkan Alka adalah 0%, dia akan mulai menabung atau mencari cara agar dapat lunasin hutangnya. Atau jujur saja ke papa dan Mas Evan kalau dia dituduh menghilangkan ponsel dan harus ganti? Tapi mengadu dan minta dibantu hanya mencerminkan dia adalah anak manja dan tidak bertanggung jawab. *** Priska tidak ingin jahat tetapi kesempatan untuk dekat dengan Alka selalu terbuka. Seperti saat ini. Pulang sekolah Priska dicegat oleh Alka di depan Jalan Pattimura. Di belakang motor Alka kosong. Priska sudah tahu bahwa kembar Alka dan Alya dibekali motor yang berbeda. Alka terlihat memasang senyuman misterius memandang Priska yang diam-diam berusaha mau menjauh dari cowok itu. Priska sudah berdiri di pinggir protokol, Jalan Ngurah Rai, menunggu angkutan umum lewat. Mana sih nih angkot, gue lagi hindarin makhluk rese yang hobi banget cerita tentang gebetannya! "Priska, lo mau nolak tawaran gue lagi? Nggak mau diajak pulang bareng, nonton bareng dan sekarang diem-diem hindarin gue," gerutu Alka berhenti di depan Priska. "Lo kenapa jadi demen ngikutin gue? Mau ngomongin Inna lagi kan? Nanti aja di rumah lewat chat." Usul Priska dan si cowok bernama Alka itu langsung senyum manis dan semringah. Priska bergidik ngeri sambil melipat kedua tangan depan perut. Priska memaklumi Alka yang kayaknya lagi Mabok Inna alias jatuh cinta, sampe terlihat menyeramkan senyum mulu dan auranya terlihat cerah. "Oke, nanti kita bahas tentang Inna pas udah di rumah. Jadi, sekarang lo mau ke mana?" Alka mengamati Priska dari ujung kaki. "Mau ke toko buku. Udah sana lo pulang aja! Itu tempat yang nggak mungkin cowok sukain," ucap Priska ngusir halus. "Siapa bilang? Gue suka baca. Kadang gue baca cerita di blog atau aplikasi baca. Gue mau ikut dong sama lo!" Priska tersentak dan melongo sedangkan raut wajah Alka sudah serius dan minat banget ingin ikut bersama Priska. Niat Priska buat kabur dan hindarin Alka gagal. Malah terjerumus. Karena si cowok makin memepet dirinya. Sekarang cowok ini benar-benar ngalahin Guntur resenya. "Kenapa lo mau ikut?" Priska menatap masam tak suka. "Kenapa nggak boleh? Lo mau ngutil barang ya di Tokbuk?" Alka asal bicara. Dikecam begitu Priska langsung takut. "Nggak! Kok nuduh gue gitu? Emang gue ada tampang pengutil?" Beraninya si Alka ngeledek. Tidak tahu siapa Priska?? Alka terkekeh menyebalkan dan mengangkat bahunya. "Siapa tahu. Karena gue liat apa yang lo lakuin sore itu di ruang keluarga rumah gue." Hal itu membayang dalam diri dan pikiran Priska lagi. Bagaimana kalau Alka akan membawanya ke meja hukum atau pada Alya? "Emang gue ngapain di rumah lo? Jadi tujuan lo mepet gue mulu mau nanya soal itu? Ya udah, tanya aja sini!" geram Priska. Kesabaran Priska habis, dia melipat tangannya dan membuang wajah ke arah lain. Dia sebenarnya sedang gugup, Alka beneran sudah mengetahui kejadian saat Priska masukin ponsel Alya ke dalam tasnya. Gawat ini. Bisa jadi dia dicap sebagai gadis maling. Hatinya tercabik-cabik dibicarakan secara tidak langsung sebagai cewek pengutil artian maling. Itu adalah imej paling tidak ada bagusnya. "Omongin nanti aja di toko buku sambil milih-milih buku." Priska jelas tidak mau Alka akan merusak rencana senang-senangnya pergi ke toko buku. "Udah, di sini aja kita bahasnya. Abis itu lo pulang. Ganggu gue aja kalo lo ikut deh. Gue lama soalnya di sana!" seru Priska buru-buru daripada Alka makin rese. "Nggak. Ini terlalu rahasia. Kenapa kalo lama? Gue nggak lagi buru-buru kok. Atau, lo emang mau ngutil barang ya makanya nggak mau diikutin??" tuduh Alka sambil tertawa geli. Kenapa Priska dipertemukan dengan sosok manusia kepo dan menyebalkan lagi merusak hari indahnya di sekolah untuk ke sekian kali. Tapi, lantas Priska ingat ada misi untuk mendekati Alka. Win-win solution. "Gue nggak ngutil di toko buku. Ya udah, kalo lo nggak percaya! Ikut aja sama gue!" Nada suara Priska sudah meledak marah dan wajahnya memanas. Tetapi Alka malah terkekeh penuh kemenangan. *** 11 Des 2021  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN