Priska tidak tahu harus mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Di rumah, gadis itu seperti kehilangan semangat dan kepikiran terus. Apalagi Nabila terus meneror mengirimkan chat berisi kecaman pelunasan hutang. Dia kemarin gagal mengambil ponsel milik Alya. Sengaja. Saat Alya masuk ke dalam ruangan dapur rumahnya, dia mengeluarkan ponsel itu lagi, diletakkan pada tempatnya. Godaan Priska makin besar saat melihat Alya memiliki uang di selipan kertas bayaran sekolah. Bukan hanya itu. Uang kas kelas yang dipegang oleh Mega, si Bendahara kelas juga menggoda untuk diambil. Jadi begini perasaan orang yang ingin mencuri. Mengawasi sikap sang target dan peka pada uang yang jumlahnya cukup banyak. Sebelumnya Priska mana peka kalau Mega memegang uang kelas dan akan dikeluarkan saat mau beli kertas folio.
Jam istirahat kedua Priska di kelas disamperin oleh Nabila. Gadis itu sendirian, anehnya. Dan, raut wajahnya agak dingin.
"Mana uangnya, Pris?" tanya Nabila dengan nada biasa aja seolah yang diminta uang gocengan.
Mereka sama sekali tidak membuat murid lain curiga. Nabila juga tahu daripada gempar masalah itu mending dia kalem saat menagih pada Priska.
"Belum ada! Kasih waktu dong, beberapa bulan atau tahun," pinta Priska dengan nada berbisik.
Nabila melongo Priska minta dikasih waktu dalam jangka setahun. "Ikut gue sini!" Ajak Nabila sambil melirik ke kanan-kiri. Dan bodohnya Priska nurut mengikuti Nabila. Mereka berdua berdiri di dekat pohon.
"Gue tau cowok yang bisa lo ambilin duitnya. Mereka tajir dan pasti kalo lo bisa nyenengin dia, bakalan royal ngasih duit ke lo-nya." Nabila cekikikan.
"Maksud lo? Gue mending nggak usah diajak ngomong kalo bahas hal menjijikan kayak begini!" tukas Priska. Sudah dua kali Nabila menyuruhnya menggunakan kecantikan dirinya untuk uang. Dia memang cantik tetapi mana bisa menggoda cowok. Tidak ada dalam kamusnya Priska bisa merendahkan harga diri di depan cowok.
Saat dia mau pergi ditahan oleh Nabila. "Gerald, Jay, sama Maulana itu tajir. Lo bisa pacarin dia buat duitnya doang! Atau semua cowok yang pernah nembak, lo deketin lagi. Kayak usul gue waktu itu."
"Ogah!" Harga diri Priska kayak diinjak-injak. "Gue nggak gila!"
"Tapi ada sedikit rencana nih. Gue bakal ngurangin dikit hutang lo atau bahkan bisa ikhlasin hutang lo. Dan, bisa lo cicil semampu lo gantiin. Asal-" Mata Nabila berbinar menjengkelkan dan licik. Nabila segera mendekatkan bibirnya ke telinga Priska.
Priska menganga saat dia dibisikkan sesuatu oleh gadis itu. Sepertinya lebih baik menjilat ludah sendiri mengejar Maulana atau Jay, yang katanya cinta mati dengan dirinya itu. Bahkan Jay sudah mau merancang masa depan mereka dengan serius.
Daripada dia harus …,
"Deketin dan pacarin Alka."
Cowok itu tidak mudah didekati. Tipikal cowok polos dan baik.
Mulut Priska terbuka. Dia makin bingung karena Nabila malah berbuat usil. Mengapa targetnya adalah Alka yang notabene belum pernah dekat sama Priska! Karena Nabila tahu usaha Priska akan tidak ada artinya alias 0. Alka terkenal sulit didekati dan hanya mengejar satu cewek. Tipikal cowok baik-baik dan setia, ‘kan?
Semoga tidak ada yang dengar omongan mereka.
"Mending Maulana atau Jay! Nggak mau sama Alka!" pekik Priska. Dia baru saja membuat kesalahpahaman ke cowok itu. Takut kalau dekat-dekat akan dicecar habis.
"Oke, fix. Gue maunya Alka. Dia kan nggak pernah suka sama lo dan setia ngejar Inna," bisik Nabila lalu tertawa keras.
"Biasanya lo yang dijadiin bahan taruhan, kali ini lo buktiin. Lo juga harus bisa menangin sebuah taruhan."
Priska kehilangan kata-kata dan menekuri wajah Nabila yang kelihatan senang banget. Tangannya terkepal dan rahangnya mengatup rapat. "Lo gila! Temen SMP gue dulu gantiin ponsel yang hilang setengah harga belinya. Udah ikhlasin aja, gue bakal cicil bayar beberapa persennya," kata Priska mau berdamai. "Nggak pake taruhan deketin tuh cowok kan bisa?"
"Lo cantik dan juga harus pinter. Udah lo lakuin aja tuh rencana. Pengen tau kan rasanya taruhan??"
Dasar ular.
Priska mengerjapkan mata dan membuang napas kasar. Gadis itu tidak mau melakukan hal yang menurunkan harga diri.
"Good luck, baby!" Nabila menepuk bahu Priska sok bersahabat dan dibalas desisan dari bibir Priska.
Di tempat itu Priska sendirian berpikir untuk bagaimana ke depannya? Dia sering dijadikan bahan taruhan tapi tidak pernah terbersit sama sekali dalam pikiran untuk membalas melakukannya ke orang lain. Tapi apa daya. Mungkin omongan Nabila benar. Tidak ada yang bisa dilakukan. Beberapa persen dari 8 juta itu masih cukup besar.
Kenapa harus Alka yang dijadikan bahan taruhan? Nabila ternyata lebih licik dan pintar dalam membaca situasinya.
***
Langit Jakarta diguyur hujan lagi sore ini. Dari suara hujan yang gede dan bergemuruh volume air yang turun banyak sekali. Priska menepi di depan kelasnya. Koridor sepi karena murid yang kejebak hujan saat itu mengungsi di kelas masing yang ramai. Priska memejamkan mata saat air yang terkena angin kencang memercik mengenai matanya. Dingin dan basah. Kaus kaki dan sepatunya basah terkena cipratan hujan yang mampir ke koridor.
Dia mengungsi ke sebuah kelas 12 IPA yang letaknya di lantai bawah. Ternyata hanya ada satu orang di sana. Sosok cowok yang menelungkupkan kepalanya pada tangan di atas meja. Orang itu menatap ke dinding membelakangi Priska.
Priska memilih duduk di kursi meja yang ketiga dari pintu agar tidak terkena air hujan yang mampir masuk. Dia tidak peduli orang itu siapa. Dia di situ cuma mau menumpang meneduh sebentar. Daripada kembali ke kelasnya dan di sana ada gengnya Nabila. Oke sekarang terasa aneh dia seperti bukan bagian dari kelompok itu lagi.
"Bisa tolong tutup pintunya?" pinta seseorang dari belakang. Priska menoleh tersentak mengetahui orang itu adalah sosok bernama Alka Karisma.
ASTAGA!
Dengan gugup Priska bangun dan mengambil tasnya berderap menuju pintu. Dia mau kabur saja kalau tahu di ruangan itu akan bersama Alka. Bagaimana nanti kalau disidang??
Saat Priska menarik gagang pintu dan mau keluar. Suara Alka menahannya pergi. "Jangan pergi. Lo di sini aja. Ada yang mau gue tanyain."
Jantung Priska langsung berdegub keras. Dia menutup pintu patuh disuruh oleh Alka. Dan berkat pintunya tertutup, suara hujannya yang deras dan rada seram menjadi sedikit tersamar. Priska kembali duduk di kursi yang tadi. Dia mendengar ada langkah kaki mendekat dari arah belakang. Priska tidak berani menoleh dan menatap papan tulis di depan berharap dugaannya salah. Bahwa di belakangnya sudah ditempati seseorang.
"Hei, Priska. Boleh kenalan, ‘kan?"
Bahu Priska dari belakang terasa dicolek. Priska menoleh. "Bukannya udah kenal?" Dia menutupi kegugupannya dengan ucapan sinis. Sumpah saat ini dia sedang gugup bukan main.
"Biar lebih akrab." Alka berjalan pindah duduk jadi ke sebelah kiri Priska.
"Gitu ya?" Priska melirik Alka yang di sebelah kirinya dengan posisi duduk lurus ke arah sisi sampingnya.
What the ...,
Kenapa jadi duduk di sebelah gue, makin nggak bisa dihindarkan?
"Priska terkenal ya di sekolah. Jadi most wanted banyak yang suka. Adek gue sering cerita pengen jadi kayak lo gitu," ujar Alka membuat Priska mati kutu.
Apa yang ingin dibahas kejadian kemarin?
"Kenapa pengen? Setiap orang punya hidup masing-masing." Kalau orang lain pikir menjadi dirinya enak, dengan senang hati Priska mau bertukar hidup. Dia mau sembunyi dari dunia saat ini.
"Tadi udah kenalan, ‘kan? Sekarang kita jadi temen ya?" tanya Alka dengan lucunya.
Priska menahan tawa geli. Sebenarnya mau nih cowok apa sih?
"Iya, temen, emang kenapa?" Priska tidak tahu arah omongan Alka yang memang tidak ada arahnya.
Bingungin.
Biasanya yang sok manis gini-gini ada maunya. Dan, maunya itu pastinya hal yang akan ngerepotin.
"Karena lo adalah temen gue dan temennya gebetan gue. Gimana kalo lo bantuin gue biar lebih deket sama Inna?" Tuhkan benar.
Oh, jadi ini tujuan cowok itu ngomong panjang lebar dan menganggap dirinya sebagai teman. Dia ingin mendekati Inna lewat dengannya. Cara seperti ini kuno. Merekrut teman-teman sang gebetan untuk jadi mata rantai. Priska banyak mendengar taktik semacam ini saat sekolah menengah pertama dulu.
Hhh, Alka! Cara lo tu kayak anak SMP banget! Dasar pasangan polos.
***
Sebenarnya yang mau Alka bicarakan ke Priska tadi adalah kejadian di ruang keluarga waktu itu. Alka mau meyakinkan sendiri apakah Priska benar mau mencuri ponsel Alya. Tetapi dia tidak tega langsung mencolok Priska dengan tuduhan begitu.
Lagi pula baru dekat. Tidak enak jadinya bikin canggung atau Priska bakal marah ngamuk dan bentak dirinya. Alka pernah melihat Priska mengamuk dan nyeremin banget. Yang dibicarakan Alka malah jadi Inna. Tentu itu sesuatu yang tidak merugikan amat. Dia jadi memiliki agen mata-mata ke Inna.
Alka meminta ke Priska agar mengawasi dan melaporkan sesuatu yang mencurigakan. Kalau Inna cerita sesuatu yang aneh harus dikasih tahu ke Alka. Priska tidak menolak diminta seperti itu padahal bisa jadi mengganggu.
"Jadi, kalo Inna cerita tentang gue, lo bilang ya. Biar gue sadar ada sesuatu yang ganggu dia dan bikin nggak nyaman." Gitu pesan Alka ke Priska saat hujan sudah reda dan mereka mau pulang.
Priska ngangguk setuju. "Oke. Ya udah, gue duluan ya pulangnya." Gadis itu pergi. Di belakang Alka menatap dengan bingung.
Pemuda itu berjalan ke depan dan mengamati area lapangan. Sudah cukup sepi. Alka mengeluarkan ponsel dan menghubungi Inna.
"Halo, Inna di mana?"
"Udah di jalan pulang sama Mama," kata Inna.
"Yah, ya udah. Nggak bareng deh." Sesal Alka.
"Maaf ya, hehe."
Alka jadi ikutan tersenyum mendengar kekehan ringan Inna. "Nggak apa-apa. Kalo ikut aku nanti kesorean pulangnya."
Usai menutup telpon, Alka mengedarkan pandangan. Dia mengamati langit yang masih gelap tetapi hujan sudah benar-benar berhenti. Alka berlari menuju parkiran mengambil motornya mengeluarkan dari area parkir.
Saat di gerbang terlihat masih ada Priska berdiri menunggu sesuatu, dia berhenti di sebelah gadis itu.
"Ayo, bareng!"
"Nggak usah, makasih."
***
10 Des 2021