Ini hari terindah dalam hidup Alka.
Akhirnya mendapat kesempatan untuk mengantar Inna pulang ke rumahnya. Cuaca sangat cerah dan di langit tidak ada awan bergerumul kehitaman yang biasanya sebagai tanda mau hujan. Pokoknya suasana bagus banget mendukung Alka.
Sekarang mereka sudah tiba di depan sebuah rumah minimalis dengan pagar cat hitam. Inna turun dari boncengan Alka dengan hati-hati.
"Makasih ya, Al. Mau mampir nggak?" Tawar gadis itu tersenyum manis.
Alka menggeleng. "Udah sore. Lain kali aja mainnya dari pagi biar lebih lama. Kalo sebentar nggak enak, ‘kan? Eh, tapi, emangnya Alka boleh main lagi?" Cowok itu gemas sekali ingin mencubit pipi Inna yang tiba-tiba merona kemerahan karena malu.
"Boleh kok main lagi. Mau belajar bareng juga boleh." Gadis itu agak menggoyangkan tubuhnya menutupi rasa malu-malu.
Suasana menjadi canggung karena keduanya hanya saling tatap dan melempar senyuman manis.
"Kalo mainnya sendiri boleh nggak? Alka nggak ngajak Alya," kata Alka membuat Inna mendongakkan kepalanya dan mata gadis itu melebar. Syok.
"Boleh kok." Dalam hati Inna deg-degan takut. Apa dia akan dianggap murahan dan gampangan? Selama berteman belum pernah Alka main ke rumah Inna seorang diri, mereka hanya dekat di sekolah saja. Inna yang polos dan gadis baik-baik membuat Alka takut mengajak untuk pulang bareng. Apalagi Inna masih bergantung sama mamanya.
Dalam hati Alka bersorak riang. "Besok mau jalan sama aku nggak? Ada film bagus. Minggu depan udah mulai ada jadwal PM, ‘kan? Gimana, Na?" Dia cemas saat Inna hanya diam kemudian menunggu respons Inna yang tidak langsung jawab.
Gadis itu terlihat tercenung dan bingung. Terlihat lucu ekspresinya yang bingung dan gemesin.
"Aku pengen ngerjain tugas besok pulang sekolah. Maaf ya, nggak bisa kasih jawaban sekarang," ujar Inna.
"Yah!" Alka langsung kecewa. Dia tersenyum tidak mau Inna tahu dia sedang kecewa berat dan putus harapan lagi. "Ya udah deh, mungkin lain waktu aja ya? Aku pulang sekarang, nanti malam aku mainin lagu lagi buat Inna."
Cowok berjaket hijau itu tersenyum dan memakai helm.
Mata Alka masih menatap ke Inna tak berkedip.
Dipandangi oleh sepasang manik mata tajam dan indah milik Alka, sang gadis menjadi kikuk. "Dah! Makasih ya!" pekiknya, Inna melambaikan tangan pada Alka yang beranjak pergi dari depan rumahnya.
Alka melihat lewat spion. Cengiran lebar tidak bisa ditahan. Sepanjang perjalanan Alka senyum-senyum sendirian. Masih ada banyak hari, makin lama pasti akan semakin maju mendekatnya. Seperti dalam video game, untuk mencapai target harus ada banyak level yang dilalui meski tantangannya semakin berat.
***
Alka sudah sampai di rumahnya. Dia memasukkan motornya ke dalam garasi berpagar pintu kayu. Saat memarkirkan motornya, dia melihat ke sebuah motor besar yang terparkir di sudut jauh. Motor sport warna putih. Motor itu terlihat masih bagus dan bersih. Kapan dia akan menaiki benda itu lagi?
Mau sampai kapan Alka? Suara hatinya tiba-tiba seperti menyentaknya.
Benda yang pernah rusak dan nyaris hancur remuk tak terbentuk bisa dikembalikan seperti semula. Namun memori, tidak bisa dengan mudahnya dimanipulasi.
Semuanya seperti masih mengendap dalam lubuk hati Alka. Ada pada satu sudut yang sepi dan tidak pernah disentuh oleh siapapun. Terjebak di dalam dan tidak ada yang bisa menyembuhkan. Alka menarik diri mengabaikan motor besar itu dan berjalan menuju pintu yang biasa digunakan untuk masuk ke dalam rumah. Ada dua buah pintu. Pintu satunya menuju ruang makan, dan satunya lagi menghubung ke ruang TV. Ada suara TV dan di jendela nako terlihat pucuk kepala perempuan sedang menunduk. Ada seseorang tetapi tidak mirip Alya.
Dia memutuskan untuk lewat menuju pintu yang menuju ruang makan. Pintu tersebut menghubungkan ke ruang makan, saat Alka mau naik ke atas lewat tangga dia tersentak menghentikan langkahnya dan sembunyi pada tembok dekat tangga. Dia baru sadar di rumahnya memang sedang ada tamunya Alya. Mata Alka memicing terkejut melihat dengan jelas, ponsel milik adiknya yang terletak di meja depan orang itu diambil dan dimasukkan ke dalam tas yang bukan milik adiknya. Dan, sepertinya tas milik si gadis itu.
Oleh Priska.
Gadis itu tidak sadar tingkahnya sedang dilihat oleh Alka yang berdiri mematung mengepalkan tangannya. Napas Alka berderu. Dia langsung keluar dari persembunyiannya untuk menegur dan memaksa pengakuan pada Priska.
Mengapa gadis itu memasukan benda yang bukan miliknya ke dalam tas?
Alka tertegun melihat eskpresi terkejut dari Priska. Gadis itu langsung gugup dan pucat. Tangannya mencengkeram erat tas miliknya. Mata Priska melebar dan sendu. Tatapan yang menyedihkan dan ketakutan.
"Mas, kapan masuknya udah di sini aja? Kok diam melamun?" Alya masuk ke ruangan itu membawa mangkuk panas.
Alka menoleh. "Oh. Masuk lewat garasi." Dia kembali memandang ke Priska yang sudah kembali berwajah dingin seperti biasa dan menunduk terpaku ke sebuah buku. Alka tahu gadis berambut panjang itu sedang pura-pura menghindari tatapannya.
"Mas!! Melamun aja! Masuk sana terus mandi. Aku masakin mie ya!" teriak Alya sambil meletakkan mangkuk di meja. Gadis itu pergi lagi mau ngambil mangkuk lain di meja dapur.
Tanpa berkata-kata dan menuruti perintah Alya, Alka mengikuti adiknya ke dapur. Ada sesuatu yang ingin disampaikan. Di dapur Alya sibuk mengaduk mie, Alka menunggu sambil melirik pintu takut suaranya akan terdengar sampai keluar.
"Kamu main sama dia? Hati-hati aja," tutur Alka. "Dia kayaknya bukan cewek baik."
"Kenapa??" Alya heran sama Alka yang asal bicara. Alya menghela napas menatap sang kakak heran.
"Nanti kamu buktiin aja sendiri. Cek deh sana! Hape kamu masih di sana, ada apa enggak." Alka berbalik mau pergi ke tangga dan masuk kamar.
Sudah terlalu lelah hari ini, lagi senang-senangnya atas kemajuan hubungan dengan Inna masa rusak dalam sekejab karena Alya yang tidak percaya pada ucapannya dan Priska, si cewek yang mencurigakan itu.
***
Kejahatan terjadi karena adanya kesempatan. Niat Priska makin bulat padahal dalam dirinya tadi sudah berperang. Melawan diri sendiri menyakitkan hati. Tapi, dia rasa ini adalah waktunya.
Priska bergemetar hebat. Alka sudah pergi tetapi ketakutan masih menyelimuti dirinya.
Entah apa yang dia lakukan hari ini adalah kesalahan fatal kesekian kalinya yang akan semakin menejerumuskan dalam masalah. Tapi dia mengingingkan benda itu. Dia ingin mendapatkan uang dengan segera untuk membayar hutang yang dituntut oleh Nabila karena kelalaiannya. Sekarang dia benar-benar bingung dan kesempatan emas ada di depan mata. Benda itu milik Alya. Yang mungkin nilai jualnya bisa mendekati jumlah hutang Priska. Sisanya bisa dicari lagi.
Tangan Priska mencengkeram erat pada tasnya. Dia ketakutan sekali saat ini.
"Priska, makan dulu baru pulang," kata Alya. "Lo terakhir makan di sekolah tadi siang kan?" Senyum gadis itu, yang masih belum sadar juga benda itu raib dari meja. Dia benar-benar tidak paham sama ucapan kakaknya. Atau mungkin lupa.
Priska merutuki dirinya. Mengapa orang baik yang harus dia jahatin?
"Kalo gue langsung pulang aja, boleh nggak?!" Priska tergugu.
"Jangan! Nggak boleh. Pokoknya makan dulu, abis itu gue anterin sampe rumah lo deh." Alya memaksa.
Dalam hati Priska berdoa semoga Alya tidak menyadarinya bahkan sampai pulang nanti. Bagaimana kalau kejadiannya akan seperti kemarin dan bikin heboh rumah ini? Priska menjilati bibir panik. Ponsel itu masih ada di dalam tasnya. Tadi nyaris ketahuan, saudaranya Alya alias Alka tadi sudah mengetahui sesuatu. Kalau nanti digeledah paksa bagaimana?
Gawat.
Sekarang lo benar-benar maling Priska!
***
"MAS! BANGUN!!"
Alka muncul di pintu mengacak rambutnya. Saat terdengar suara teriakan sang adik membangunkan dari luar pintu dia tersentak melotot setengah sadar.
Begitu ditengok di balik pintunya tidak ada siapa pun di sana. Sepertinya Alya juga langsung sibuk mengurus persiapan untuk ke sekolah. Pemuda itu melotot melihat jam dinding menunjukkan angka setengah enam. Dia melewatkan banyak hal. Tidak boleh telat sampai ke sekolah. Dengan cepat dia bersiap-siap.
Saat sudah rapi Alka memergoki Alya naik dengan langkah cepat yang membawa sebuah ponsel. Kaget masih melihat benda itu pada Alya. Dia menahan adiknya di depan pintu kamar.
"Eh Al, itu hape kamu ada??" jeritnya heboh.
"Ya memang ada. Maksud Mas tuh apa si! Aku nggak ngerti," ucap Alya dan segera melepaskan diri dari Alka. "Aku mau berangkat nih, ayo cepet! Kamu turun sarapan bareng. Aku naro hape dulu di kamar."
Di meja makan Alka memperhatikan Alya yang makan cepat sekali bahkan tidak berbicara. Mereka hanya berdua di meja itu dan Alka terus-terusan kepikiran dalam bingung.
"Jangan bawa hape ke sekolah!" seru Alka tiba-tiba, rautnya serius.
"Udah aku lakuin," tandas Alya mendesah kesal.
"Jangan tunjukin hape ke teman kamu meskipun di rumah," kata Alka lagi.
"Kenapa?"
"Kamu nggak tau dalam diri seseorang itu gimana." Kemarin masih jelas sekali Alka ingat bahwa Priska memasukan ponsel Alya ke dalam tasnya. Melihat dengan mata kepala sendiri.
"Kamu nuduh orang lain nggak bagus, Mas. Emang Mama pernah ngajarin gitu? Nggak sopan tau nuduh orang jahat." Bela Alya.
"Tapi aku lihat loh, dia masukin hape kamu ke tas. Nggak percaya, ya udah!"
"Buktinya tuh hape ada di aku. Kemarin ada di meja kok, saat mau nganter dia pulang aku kantongin juga," jelas Alya mengibaskan tangan.
"Yah, terserah deh." Hela Alka sambil lesu. Dia kesal tidak dianggap serius oleh adiknya.
Tetapi apakah yang kemarin itu jika ternyata dia hanyalah salah lihat? batin Alka tiba-tiba.
"Mas salah liat atau ngira dia masukin hapeku padahal bukan kali." Alya berceloteh ketus.
"Warna putih. Hape dia bukannya item?" Alka mendengkus.
"Power bank kali atau dompetnya. Kok tau hape Priska warnanya hitam?" Alis gadis itu bertautan heran.
Alka mendelik sinis. "Pernah liat dia mainan. Ya udah, jangan dipermasalahin lagi. Yang penting hapenya beneran masih ada."
"Tapi Mas udah nuduh-nuduh orang!" celetuk Alya. "Ya udah, aku jalan duluan ya, mau pamitan sama Mama." Gadis itu mengambil tas dan berjalan mencari sang mama.
Di meja hanya ada Alka duduk dengan piring tersisa sedikit makanannya. Dia juga jadi kepikiran bagaimana bisa Priska mengambil ponsel tetapi tidak terbukti. Mengapa Priska si primadona sekolahan itu mencuri? Daripada berspekulasi lebih baik dibuktikan sendiri. Toh dia sudah memegang kuncinya, dia akan menekan Priska mengaku melakukan percobaan mencuri. Remaja perempuan juga bisa bersikap mengerikan pada temannya.
Usai menghabiskan makanannya dan cepat bersiap tidak sabar sampai ke sekolahan, lalu Alka pamitan pada Mama. Yang selama ini dilihat bagus belum tentu aslinya juga menawan. Siapa tahu dalamnya? Hanya topeng yang mampu menutupi wujud asli seseorang. Tersenyum di depan banyak orang tapi di belakang juga menderita.
Sampai di sekolah Alka bergegas cepat menuju kelasnya Alya dan Priska. Sisa waktu hanya 10 menit sampai bel masuk nanti. Alka melihat di kelas itu di mejanya Alya mengobrol dengan Priska. Mereka tampak akrab dan senang. Alya sibuk bercerita dan Priska mendengarkan sambil tertawa.
Alka menatap tajam pada gadis itu.
Dia orang yang berbahaya. Dalamnya mengerikan. Bisa menusuk kapan saja.
Alka terkesiap kala Priska menoleh dan sadar pada tubuh Alka yang diri di pintu kelas. Mereka bertukar tatapan sesaat. Tidak akan Alka biarkan Priska berbuat jahat pada orang terdekatnya.
Bulu kuduk dan di tangan Alka meremang saat dia menerima senyuman kecil dari Priska. Senyuman yang terlihatnya mengerikan dan berbahaya.
"Eh, lo ngapain di sini??!" Tobi menyentak lamunan Alka. Dia datang masih dengan tas menempel di punggung.
"Mau ketemu Alya," jawab Alka terbata-bata.
"Modus bilang aja mau liatin cemewew." Tobi menyebutkan sesuatu yang tidak dipahami Alka. Membuat pemuda tinggi itu mengerutkan kening.
Setelah ditepuk punggungnya oleh Tobi. Alka mendesis. Tobi sangat mengganggu!
***
9 Des 2021