9. Ditindas

1769 Kata
"Nggak ada. Gue udah cari ke seluruh rumah bahkan ART dan sekuriti depan ikutan nyari juga. Lo umpetin di mana sih?" tanya Nabila pada Priska yang lagi memunguti barang-barang pribadinya yang dikeluarin paksa dengan kasar oleh Nabila dari dalam tas. Sekarang Priska tampak rendah duduk di lantai memunguti bendanya sedangkan Nabila membentak sesuka hati. Priska awalnya menuduh Nabila drama dan mau ngerjain. Prank. Tapi ekspresi yang ada pada Nabila sungguhan bukan hanya sekadar tipuan. Benar-benar marah dan sambil nangis. "Sumpah," bela Priska. "Ngga ada di gue. Kenapa gue yang dituduh gini sih?!" "Karena lo yang terakhir pegang!" cetus Evhi. Diangguki Nabila dan yang lain. "Gue sama Puput nggak ninggalin meja kan dari sejak lo dateng," jawab Rianti yang jadi sinis banget. "Kalo gue yang ambil juga udah ketahuan. Nyatanya kan ngga ada!" Priska membela diri bangun dari duduknya dan memakai tas ke bahu. Matanya berkilat-kilat marah. "Bisa aja lo umpetin di mana dulu, abis itu ambil pas mau pulangnya." tuding Puput. "Terus tadi kayaknya lo pengen cepet pulang gelisah banget?!" Mata Priska melebar. "Nggak ada buktinya! Bisa aja ART Nabila kalii!" Tatapan Priska melemah ke Nabila. "Lo nggak percaya ama gue? Evhi kan di atas saat gue turun. Bisa aja dia pelakunya, ‘kan?" Evhi menyela dengan ganas. "Gue lagi sakit perut dan buang kotoran. Mana mungkin! Kok nuduh gue yang jelas-jelas lagi tersiksa?" Dia menatap ke Nabila. "Kan pas lo naik gue masih di toilet, ‘kan? Lo dengerin keran air nyala?" Nabila mengangguk. Priska kehilangan dukungan. Kenapa tidak ada yang percaya dengannya? Gadis itu jadi lemas dan beban hidupnya seakan bertambah. Dia tidak tahu ke mana benda itu dan semuanya menuduh seakan dia maling yang berbahaya. Jelas-jelas Evhi juga bisa dicurigai! "Pokoknya lo harus ganti!" seru Nabila. "Kalo enggak, lo bakal gue laporin polisi. Untungnya itu pake duit gue. Kalo dibeliin ortu, terus mereka tanya hapenya ke mana, pas tau ilang gitu aja bisa diamuk. Atau bahkan lo langsung dibawa ke polisi sekarang!" Mata Nabila melotot ke Priska. Acara main kali ini yang terburuk dan menyakitkan hati Priska. Kini sorot mata para temannya itu berubah menjadi sinis dan seakan memusuhinya. "Tapi itu kan harganya—" Priska meneguk ludah. Khawatir. Uang dari mana sebanyak itu? "Gue bakal lacak dulu ke semua rumah dan mastiin geledah semua kamar pembantu gue. Karena gue masih sedikit percaya sama lo. Kalo beneran nggak ketemu. Ya, benar lo harus ganti!!" seru Nabila. Priska menundukkan kepalanya. Dalam hati dia ingin berteriak dan mengatakan bahwa bukan dia. Posisinya tersudut dan dia tahu akan selalu salah. Dia salah memegang ponsel itu belakangan padahal bukan dia yang memainkannya. "Oke, kalo kalian nuduh-nuduh gue. Tapi bongkar semua tas juga dong! Biar adil." Setelah digeledah semua tas, ponsel milik Nabila tidak ketemu juga. Padahal Priska curiga berat kepada Evhi. Tapi mereka tidak ada yang benar-benar bisa dicurigai karena reaksi ketakutannya sangat asli. *** Hari ini sepertinya cerah tetapi Priska sedikit takut melangkahkan kakinya ke sekolah. Bagaimana kalau Nabila membocorkan ke anak lain tentang masalah itu? Apa ada yang percaya padanya? Biasanya pihak yang tersudut akan semakin disalahkan. Priska mengamati gerbang. Dia menarik napas. Lo nggak salah jadi jangan takut. Hadapi hari ini. Kalo hari ini lolos masih ada besok dan besok yang sama akan buat menderitanya. "Pagi!" sapa Priska pada Nabila cs yang berkumpul di dekat meja Rianti dan Puput. Inginnya beramah tamah namun ternyata dia dicuekin. Tidak ada yang membalas sapaan itu. Biasanya sapaan Priska hanya dibalas sekilas oleh mereka, tetapi kali ini sama sekali tidak digubris. "Kenapa semuanya jadi menjauh?" batin Priska meletakkan tas dan duduk di kursi. Dia menyaksikan sendiri empat orang temannya pada bergosip lagi bisik-bisik. Puput, Evhi, dan Rianti melihat ke arahnya dengan tatapan tajam sinis. Dalam hatinya dia menggerutu tentang kemunafikan semua temannya yang pergi untuk berlindung pada Nabila dengan mendukung gadis itu, dan takut kecipratan masalah jika berpihak pada Priska. Priska belum ada rencana selanjutnya setelah dituduh menghilangkan ponsel Nabila, bahkan dituduh mencurinya. Semalam Nabila mengabarkan semua rumah dan asisten rumah tangga digeledah juga tidak ditemukan benda itu. So pasti, Nabila memutuskan minta ganti kehilangannya ke Priska. Kejadian itu membuat Priska bingung. Uang dari mana saat dia diminta harus mengganti uang sebesar 8 juta? Perubahan sikap Nabila cs berlanjut lebih parah saat istirahat. Priska dicuekin tidak diajak bersama mereka. Kalau udah sendirian begini Priska jadi bingung. Meski dia pendiam, kan pergi sendirian rada kaku juga. Priska menatap Puput dan Rianti yang keluar tanpa mengajaknya. Menyusul ke Nabila dan Evhi yang datang ke depan kelas mereka. Dasar teman tidak tahu diri! Kalo ada yang susah ditinggalin takut kena masalah juga. Maunya manfaatin doang! dumel Priska dalam hati. Tidak tahan akhirnya mengumpat juga. "Nggak keluar, Pris?" tanya seseorang dari samping Priska. "Bareng yuk, makan sama gue." Tiba-tiba saja Alya teman sebangkunya ngajak bareng. Priska tersentak dan menoleh. Di saat seperti ini orang baik datang dari orang yang tak terduga. "Ayo, makan bareng sama gue." "Bareng sama Inna dan Winjes juga yuk. Katanya ada yang mau diomongin." "Gue nggak apa-apa ikutan?" Keduanya berjalan keluar bersama dan pergi menuju kantin. "Ayo! Nggak apa-apa. Lo kan juga temennya Inna? Dia suka cerita nggak sama lo lagi dipepet sama kakak gue??" "Oh." Priska menggumam. "Iya, dia sering cerita, gue juga nggak nyangka. Dia nggak cerita dari awal dideketin sama tuh cowok, baru cerita lagi pedekate setelah beberapa lama deket sama Alka. Kayaknya dia cerita pertama kali pas awal kenaikan kelas." "Mereka udah deket setahunan lebih. Udah mau dua tahun. Tapi beneran pedekatenya baru kenaikan kelas kemarin." "Lama amat," decak Priska tertawa kecil. "Makanya kasian kakak gue kena friendzone." Alya terbahak pelan. Senyumnya Priska lenyap saat kepergok Nabila yang melihat dengan tatapan tajam ke arahnya di depan pintu kantin. Jangan sok bahagia Priska. Lu lagi ada masalah. ** "Kakak lo ngajak gue nonton minggu ini. Gue nggak mau." Inna bercerita ke Alya. Dan didengar oleh Priska dan Winjes—yang masih makan belum berhenti juga sekarang lagi makan tempe goreng. "Kenapa sih? Mau aja kali, Na." Alya gemas sekali dengan Inna yang pemalu, cowok yang sedang mendekati Inna itu baik dan sopan. Kalau Alya jadi Inna sudah berada di zona aman sekali digebet cowok seperti Alka. "Malu jalan berduaan. Emang kalian mau ikut sama kita, biar nggak canggung di sana kalo cuma berduaan?" tanya Inna dengan memandang orang di sekitarnya. Priska menahan agar tidak tersedak minuman. WHAT? "Nggak mau, nanti gue bisa jadi iri liatin orang pacaran. Takut dalam hatinya Alka sebenarnya ngamuk-ngamuk karena banyak yang ngikutin. Nggak tanggung lagi, masa diikutin sama tiga orang," cetus Winjes bergidik ngeri. "Iya. Bisa jadi kita iri karena jomblo. Udah Na, lo berdua aja sama Alka. Mau ya kasian tuh kakak gue?" pinta Alya mengedipkan matanya. "Ya, abis gimana. Inna masih kaku kalo berduaan. Nggak nyaman gitu, gimana dong?" keluh Inna. "Sebenarnya lo suka nggak sih sama dia?" tanya Priska membuatnya jadi perhatian. "Suka kok sama Alka," jawab Inna langsung. "Tapi lo pasti ngerti kan gue ini pemalu dan masih risihan berdua sama cowok." "Ya, emang sih nggak semua cewek nyaman sama cowok. Ada perasaan kadang risih karena ya malu. Terserah elo, Na, mau gimana. Tapi jangan sampe bikin Alka tersinggung." Priska senyum ringan. Inna mengangguk dan dia tahu Priska akan memandang dari segala sudut. Priska yang terlihat tidak pernah pacaran serius pasti juga paham perasaan risih yang dialamin Inna. Kan Priska pernah direcokin makhluk cowok rese bernama Guntur. *** Bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Guru Matematika di depan sudah membawa bukunya mau keluar kelas. Priska bangkit dari duduknya sudah sejak satu jam lalu dia menahan buang air kecil. Tidak tahan lagi harus segera dikeluarkan. Kalau ngompol di kelas bikin malu dan imej rusak. Dia berjalan keluar kelas di belakang sang guru. Tidak terlalu jauh toiletnya dari kelas. Usai melepaskan beban yang ditahan beberapa waktu lalu gadis itu menghela napas lega. Siapa sangka saat keluar dari bilik toilet. Ada Nabila dan Evhi di depan kaca. "Gue nggak mau tau ya, besok udah harus lo gantiin 8 juta. Itu aja udah dikorting," ucap Nabila tiba-tiba to the point juga. Priska menjadi ketakutan. "Emang nggak bisa dengan cara kekeluargaan?" Dia merasa ini tidak adil. Karena dia tak merasa ngambil kenapa harus gantiin. "Gue kan nggak ngambil!!" Nada suaranya jadi sedikit naik demi menekan ucapan pada Nabila. "Tapi elo yang ngilangin!" gertak Nabila. Priska memejamkan mata saat kepalanya dirasa langsung mumet. Jadi, ini yang dinamakan ditindas? Pertemanan berubah jadi penindasan. "Lo minta maaf aja enggak! Nggak merasa bersalah amat sih jadi orang," desis Evhi menyadari hal itu. "Iya bener! Mana minta maaf lo?!" Nabila menggunakan penekanan untuk terus menyudutkan Priska. Priska mendesiskan bibir. "Oke, gue minta maaf. Terus gue juga harus tetap ganti barangnya kan?" celetuknya makin buat Nabila dan Evhi jengkel. “Lagian kenapa harus minta maaf kalo nggak ada salah?” Jaga sikap, Priska. Lo nggak salah dan berusaha membela diri tetapi nada lo nyolot. Jangan sampai sikap tempramental lo keluar, dan memperburuk suasana. "Nggak ngerasa bersalah banget! Lo pikir tuh hape harganya murah!? Ganti aja nggak bisa, masih bisa songong!" bentak Nabila menyeramkan. "Oke, bakal gue ganti. Tapi kasih waktu. Lo pikir itu duit sedikit? Lagian jangan langsung minta ganti seharga lo beli juga kali. Barang kali dalam waktu dekat ada solusinya ternyata tu hape lo ke mana? Ya kan? Dinginin kepala kita dulu." Priska mengendalikan emosi menarik napas dalam-dalam. Dia harus berpikir jernih dan semoga saja Nabila akan paham, masalah itu ada solusinya selain minta ganti sebanyak 8 juta. Nabila memutar bola matanya. Kesal. "Halah. Ngeles aja, lo mau cari pembelaan ke mana? Yang ada lo disalahin karena semua saksi matanya berpihak ke gue. Semua punya alasan kuat sedangkan lo mencurigakan." Tangan mulusnya menunjuk pada Priska. Evhi mengambil bagian pembicaraan. Gadis itu mematap marah ke Priska. "Lo mau minta pembelaan ke guru BK atau sekolah? Nanti yang ada satu sekolah tau dan imej lo tercemar. Mau dibilang sebagai maling?" Priska meneguk ludah dengan hati tercabik sakit. Dia memandangi Evhi dan Nabila dengan matanya yang nyalang. Ekspresi dan keadaan dalam hatinya berbeda. "Ya udah, nanti gue ganti," ucap Priska dengan mudah. Setelah itu dia kebingungan akan mendapatkan uangnya dari mana? "Kalo lo bingung dapet duit dari mana? Mau gue kasih tau caranya?" Senyuman miring di wajah Nabila terlihat mengerikan. Raut wajah Priska ke Nabila menampilkan ekspresi memohon. Tapi gadis di depannya tidak sepintar itu dan tidak sebaik itu. Tentang solusinya. Pasti sesuatu yang akan dikatakan Nabila akan menyakitkan untuk didengar. Sama sekali bukan solusi baik yang dapat didengar dari seseorang yang katanya disebut sebagai sahabat atau teman bermain, entahlah. "Lo kan cantik banget. Jual diri aja. Atau cowok yang mau sama lo tuh banyak. Pacarin aja semuanya dan ambilin duitnya pelan-pelan." *** 8 Des 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN