8. Hal tak terduga

2020 Kata
"Bawa tugas Akuntansi dan Matematika juga ya." "Bawa LKS Sosio yang udah lo isi dong." "Lo udah janji mau hari Minggu pokoknya harus dateng." "Jadi kan nih? Gue terpaksa main hari Minggu." Dikecam dari berbagai mulut teman-temannya, Priska berjanji akan datang ke rumah Nabila. Dia tidak mau melanggar janji yang dibuat. Karena Sabtu hari kemarin sudah ada janji duluan dengan Inna, makanya hari Minggu ini dia menepati janji main ke rumah Nabila. Jam 12 siang Priska sudah berada di rumah Nabila. Di ruangan berkarpet luas banyak benda seperti tas, toples, dan jaket sudah berantakan. Priska duduk diam dengan tangan menopang meja bermain ponsel. Dia membaca-baca berita artis Korea di situs onlen. Kadang Priska berpikir dia mau pacaran sama aktor Korea saja, yang umurnya di atas gadis itu. Di drama kan cowok-cowok Korea romantis. "Ini udah lo cek bener semua kan?" Nabila memastikan. Di depannya sudah terbuka lembar jawaban LKS miliknya dan milik Priska yang sudah diisi rapi. "Tapi belom diperiksa. Semoga banyak benernya," sahut Priska sambil mengangkat kepala sedikit dari layar ponselnya. "Ya udah. Daripada gue nggak ngisi." Nabila akhirnya tetap menyalin semua dengan pasrah. Priska mendengus sedikit sebal pada tingkah mereka yang hobi nyalin tugas tapi curigaan. Apalagi tugas Matematika dan Akuntansi yang diminta untuk disalin oleh Rianti dan Puput, mata pelajaran yang susah. Tapi keduanya entah ke mana bukannya menyalin tugas. Priska sudah berusaha menjawab mati-matian, meski tidak akan benar semua, itu adalah usahanya. Di tengah kerjaan menyalin tugas, Nabila mengambil ponselnya. Gadis itu terlihat cekikikan dengan tangan bergerak. "Pris, lo nggak apa-apa, ‘kan?" tanya Nabila tampak aneh. Sampai Priska heran menatap minta penjelasan. "Kenapa?" "Lo nggak suka sama Gerald, ‘kan?" Nabila membuat Priska tersentak. "Nggak. Ngapain suka sama dia!" seru Priska sarkas untuk nutupin perasaan kesalnya pada Gerald. "Kayak nggak ada cowok lain aja, kenapa si?" "Soalnya dia kayak lagi deketin gue gitu. Lo udah nggak marah sama dia?" tanya Nabila enteng. Priska menggeleng. "Udah gue lupain kok masalah itu. Toh gue yang menangin kejadiannya." Dalam hatinya gadis itu sebal seperti kejadian taruhan itu tidak ada apa-apanya buat Gerald, cowok itu langsung ngejar cewek lain. Bilangnya sudah melupakan, tapi dalam hati kesal banget setiap mengingat kejadian detailnya. "Oh, ya udah. Kalo gue jadian sama dia, lo jangan cemburu ya?!" Nabila tersenyum. Senyuman di bibir Priska sangat palsu. Dia tidak senang amat kalau Nabila jadi pacar Gerald. Cowok nyebelin yang pernah mempermainkannya. Bagaimana kalau rutinitas Gerald ketemu Nabila makin sering, otomatis Priska bakal sering melihat wajah cowok itu. Ingin mengatakan bahwa Gerald bukan cowok baik karena kemungkinan ada tujuan juga, tetapi Priska tidak punya alasan. Apa memang benar Gerald deketin Nabila atas dasar perasaan asli? Kenapa Priska tidak suka mendengarnya. Bukan karena dia masih suka, tetapi ada rasa di mana sangat iri, karena perlakukannya dibedakan. Gerald memperlakukan Priska seperti mainan sedangkan pada Nabila layaknya permata. Gadis biasa pasti bisa iri, ‘kan? "Katanya Gerald itu nggak ada maksud loh. Dia cuma tertantang aja karena Maulana berani ngasih duit yang lumayan," ucap Nabila lagi tanpa beban apalagi diminta. "Nggak usah dibahas lagi bisa nggak sih!" Sikap jutek Priska keluar, dia menukas dan meminta Nabila yang masih nyerocos ini supaya diam. Orang kayak Nabila harus diunjukin ketidaknyamanan di depan mata secara langsung. Cewek itu mana bisa baca situasi. Bisa tidak bahas masalah itu lagi? Karena meski terlihat Priska sok tegar. Dia masih kesal banget. Nabila menahan senyumnya. "Oh, ya udah. Pris lo kalo mau apa-apa ambil di dapur aja." Sebagaimana tuan rumah yang baik, Nabila jauh dari kata itu. Tamunya disuruh bebas berkeliaran tanpa sungkan. "Si Rianti Puput dan Evhi mana?" Daripada berbicara tentang Gerald lagi, Priska bangun dari duduknya dan merapikan bagian belakang celananya. Dia merenggangkan otot cukup pegal sudah duduk terlalu lama. "Di lantai atas. Pokoknya kalo nggak di balkon, ya ada di kamar gue. Mereka lagi foto-foto." Rumah Nabila besar dan saking besarnya dengan orang yang bisa dihitung pakai jari kesannya sangat luas sepi dan kosong. ART-nya sibuk di dapur, papanya tidak di rumah sedangkan kakaknya pada liburan. Dan, mamanya Nabila sedang ada di kamarnya setelah turun sebentar tadi naik lagi ke atas. Menurut gosip di kamar orangtuanya ada TV yang besar. Barangnya di rumah Nabila juga tidak banyak. Atau saking luasnya sehingga barang-barang yang biasa nyempitin di rumah Priska, kalau di rumah Nabila masih menyisakan ruang yang besar. Barang biasa seperti lemari kaca, sofa dan mejanya, meja TV dan yang berisi pajangan figura. Benda-benda yang umum di rumah. Bedanya di rumah Nabila banyak hiasan guci mahal dan mengkilat. Koleksi papa dan mamanya. Gadis itu menaiki tangga menyusul ketiga temannya yang lain. "Woi. Rianti, Puput, kalian nggak ngerjain tugas?" tanya Priska begitu sampai ke lantai atas dan melihat ketiganya di balkon sedang foto-foto dengan ponsel baru milik Nabila yang keren sekali. Model yang belum dimiliki anak sekolahan, karena yang lagi hits adalah Blackberry. Ketiganya menoleh merasa terganggu. "Ah, bentar lagi asyik. Bagus di sini pemandangannya!" seru Puput wajahnya agak tidak senang. "Buruan salin mau gue simpen. Nggak aman kalo masih ada di kalian," gerutu Priska, dia takut tugasnya rusak atau basah terkena sesuatu. Bisa saja kan kadang perempuan itu suka ceroboh dan kejadian tak terduga terjadi. Ngerepotin saja kalau tugasnya menjadi rusak! "Ah, nggak asik nih. Dua kali lagi," sahut Rianti dan mereka berfoto kembali dengan gaya sok imut. "Tau kan foto bertiga nggak boleh!" celetuk Priska tidak tahan mengeluarkan mitos itu. Dia rada sebal sama cewek yang dikit-dikit foto. Mau gayanya sama saja hasilnya tetap puluhan udah gitu satu foto 4 frame. Foto ya seadanya saja. Yang penting bagus. "Percaya aja lo!" seru Evhi langsung diketawain Priska. "Ya udah, lo pegang ya, Vhi, tar kasihin ke Nabila. Gue mau nyalin tugas punya Priska dulu sama Puput. Besok dikumpulin," kata Rianti berpesan ke perempuan berkacamata namanya Evhi. Evhi mengangguk-ngangguk diserahkan ponsel milik Nabila dan dia dengan lihai memainkan benda itu. Puput menarik tangan Rianti. "Yuk ah, tar jadi pengen foto lagi kalo kelamaan di sini." Mereka berdua pergi dari balkon. Di sana hanya ada Evhi dan Priska. Evhi asyik memainkan sedangkan Priska fokus memandang ke sekitar rumah Nabila. Pemandangan dari Balkon sangat bagus dan dan menyejukkan. Apalagi sepoi angin siang yang tidak terlalu panas bikin betah. "Lo mau nyoba mainin nggak? Ini ada game seru banget, mau coba nggak?!" cetus Evhi menyorongkan ponsel itu ke Priska. "Ah, batrenya udah mau abis tuh. Lo charge deh," keluh Priska melihat persen batre ponsel itu sudah 5%. Paling tidak lama lagi benda itu langsung mati di tangannya. "Emang disuruh Nabila nanti di-charge. Ingetin gue ke kamar Nabila ya buat charge ni hapenya, dia minta charge di kamarnya aja," ucap Evhi tapi masih menunduk memainkan menggeser balok-balok kayu di layar pipih itu. "Iya, ntar gue ingetin." Priska penasaran dengan ponsel itu tapi Evhi asyik mainan. Tidak tega meski mau pegang sebentar. Priska kan sedikit tidak enakan. "Udah lobet nih." Evhi mengerang saat layar tiba-tiba menghitam. "Ayo, langsung charge aja!" Ajak Priska keluar dari pintu balkon. Dia tahu letak kamar Nabila. Dia ingin segera turun ke bawah lagi dan mengambil makanan. Saat mereka di depan kamar Nabila tiba-tiba Evhi mengerang. "Anjir. Kok gue sakit perut kayak pengen boker. Apa masih mencret-mencret? Nih lo charge ya, tolongin. Katanya charge-nya di deket colokan biasa kita pake." Gadis itu menyerahkan paksa Ponsel Nabila ke Priska. "Elaah, kebanyakan makan sambel lu!" Priska menerimanya lalu pasrah disuruh oleh Evhi padahal itu bukan tugasnya. Bukan dia yang ngabisin batrenya. Priska memang sedikit perhitungan untuk soal tanggung jawab. Malas harus diperintah oleh orang lain. Gerutuan Priska tidak didengar. Punggung Evhi menjauh berlari menuju toilet di lantai atas membuatnya mendecih sebal. Dia segera membuka pintu kamar Nabila untuk mencari charge ponsel yang dimaksud. *** Di ruang tamu, Priska duduk di sekelilingnya ada Evhi yang mainan games di ponselnya sendiri setelah buang air cukup lama, Puput dan Rianti yang menyalin tugas. Tangan Priska berkutat dengan buku LKS Sosiologi yang dibaca ulang lagi sejak halaman awal. Gadis itu mengingat jawaban yang benar. Sembari main dia ingin belajar juga. Daripada tidak ada kerjaan begini. "Hape gue nggak ada di kamar sama charger-nya juga! Terakhir siapa yang pegang??" tanya Nabila sambil sesenggukkan menangis. Kemunculannya yang tiba-tiba membawa kabar buruk membuat suasana jadi tegang. Sontak Priska menoleh ke Evhi dengan jantung berdegub kencang. Yang dilihat juga syok. Evhi terlihat heran dengan mulut membuka dan mata melotot. Tangannya menunjuk Priska. "Kan priska yang gue suruh charge di kamar lo. Gue tadi ke kamar mandi. Tadi lo kan yang bawa terakhir," ucapnya pada Priska. Mata Rianti mengerjap. "Kenapa memangnya si, Nab??" Dia bingung sekarang kenapa Nabila terlihat sedih dan emosi. "Ada apa si?" Puput menghentikan menulisnya dan menatap Nabila dan Priska bergantian. Dua orang cewek di depannya itu terlihat sama-sama menegang. Priska juga langsung pucat dan membeku. "Iya, gue taro kamar colokin charge ke listrik sesuai yang lo suruh!" balas Priska jantungnya berdegub keras. Dia masih positif thinking bahwa Nabila mungkin tidak melihat benda itu di sekitar colokan listrik. "Tapi nggak ada, coba aja ayo ke kamar gue!" Dengan kasar Nabila menarik tangan Priska. Dari sikapnya yang seperti itu, Nabila sedang emosi dan marah. Kesal juga. Campur aduk deh. Priska pasrah dibawa ke atas kamar Nabila. Di belakang ada Evhi, Rianti, dan Puput mengekor dengan langkah besar menaiki tangga tidak sabar. Mereka juga ikut deg-degan karena benda itu tidaklah murah. Benda penting. Dalam kamar Nabila semua mencari mengobrak-abrik kamar mencari benda yang dimaksud. Nabila menggunakan ponselnya yang lain, yang juga cukup bagus di kalangan anak sekolahan. Priska memperhatikan gelagat Nabila yang gusar sekali sambil menempelkan ponsel ke telinganya. "Ngga aktif," decaknya sambil terisak. "Ke mana tuh hape gue! Belinya nabung bukan minta sama orang tua!" Bibir Priska digigit dan untuk meneguk ludah saja rasanya sulit. Dia yang terakhir mencolokkan benda itu ke listrik. Saat ditinggalkan benda itu masih ada dan pintu ditutup rapat. Saat dia turun pun si Evhi masih di toilet buang air. "Lo yang ngambil? Bener??" tuduh Nabila melotot ke arah Priska dan semuanya langsung menoleh bersamaan. Kikuk karena dituduh tanpa bukti. Lebih bingung tidak tahu harus menjawab apa. Priska menggeleng gugup dan tubuhnya sudah dingin. "Bukan. Demi, gue nggak ngambil dan sesuai apa yang Evhi suruh. Lo kan yang terakhir turun Vhi? Apa elo?" Priska melotot. "Enak aja! Gue di toilet lumayan lama," jawab Evhi meyakinkan. "Gue naik ke atas Evhi masih di toilet." Nabila menjawab menatap bengis ke Priska. "Mana mungkin dia. Pas gue liat ke kamar, udah nggak ada tuh hape gue. Astaga ke mana??" Dengan lemas Nabila duduk di atas kasur dan menangis sesenggukkan. Rianti, Puput, dan Evhi mendekat ke sisi Nabila menenangkan dengan mengelus bahu. Mereka semua memandang ke arah Priska dengan sorot penuh kecurigaan. Dicurigain mengambil ponsel itu, Priska mau menangis seakan dia maling di situ dan tidak ada yang mempercayainya. Dia memang ingin bermimpi punya benda itu yang bagus dan mahal. Tapi mana mungkin ngambil punya orang!? "Kalian nggak percaya sama gue?!" pekik Priska dengan suara serak. Semuanya pergi ke Nabila tidak ada yang memihak padanya. "Geledah. Bantu cariin di badan atau saku-saku dia. Oh ya tasnya juga!" Perintah Nabila dengan bahu terguncang masih menangis. "Gue bakal geledah kamar pembantu takut mereka yang ternyata ngambil." Setelah itu dengan sigap Evhi dan Puput memegang tubuh Priska. Yang bertugas meraba saku-saku celana Priska bahkan pinggang dan pundak. Diperlakukan bagai maling Priska mau berontak tapi dia harus terima digeledah. Dia tidak bersalah jangan takut. Biar dibuktiin benda itu tidak ada padanya. "Mana ngga ada, ‘kan?" gertak Priska nada bicaranya minta dipercaya tapi kasar. "Udah diumpetin palingan," sahut Puput menoleh ke Nabila. "Pokoknya cari. Gue bakal ngasih tau pembantu rumah gue juga," kata Nabila berjalan keluar dari kamar. Puput dan Evhi mengikuti gadis tinggi itu meninggalkan Priska yang kecewa. Saat Rianti mau menyusul Nabila tangannya dicegah oleh Priska. "Lo juga nggak percaya sama gue?" Mata Priska menyorotkan sakit hati. "Mana percaya kalo udah gini, sampe benda itu ketemu." Tangan Rianti segera ditarik. Dia menyipitkan mata ke Priska. Gadis itu berjalan keluar kamar Nabila mengikuti jejak sang pentolan geng. Di belakang Priska mendesis dan memandang pintu yang kosong. Dalam hatinya dia mengumpat. Untuk keadaan tidak menyenangkan ini dan Nabila si gadis menyebalkan. Makanya jangan suka pamer! *** 7 Des 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN