7. Langkah Alka

1366 Kata
"Teman sebangkumu serem ya ternyata," ucap Alka sambil mencomot kerupuk dari piring Alya. "Ish, apaan si Mas?!" gerutu Alya yang tadinya sedang makan sendirian tapi sekarang ditemani oleh saudaranya, si Alka. Diajak bicara tentang kejadian soal Priska yang bikin heboh karena ngerjain cowok-cowok usil itu, Alya langsung menoleh lagi. "Lagi marah aja cantik. Coba aku. Pasti kayak mak lampir." "Kalo makan ngajak aku dong. Masa sendirian? Jones nih!" Alka meledek dan merecoki makanan Alya. "Habisnya jam istirahat pendek. Aku males nyari teman dulu ngabisin waktu. Di kelas temanku cuma Priska. Susah deketin yang lain udah sama kelompok geng masing-masing." Curhat gadis itu lesu. "Dia mana mau main sama anak biasa aja kayak kamu. Makanya cari temen lagi. Jangan kalem aja," ucap Alka tidak sadar dirinya juga kuper dan memiliki teman seadanya. "Dari kelas lain, mainnya sama Inna dan Winka aja. Biar kamu cepet dapetin info banyak tentang Inna." Alya memukul kepala kakak kembarnya itu dengan sebal. "Dasar! Mas, kan aku dibeliin hape baru sama Papa. Bawa ke sekolah nggak ya?" "Jangan, itu tinggal aja. Bawa yang jelek ke sekolah! Gunanya buat SMS dan telpon sama browsing doang, ‘kan?" Alka sama sekali tidak iri adiknya Alya menerima Iphone putih. Menurut Alka itu hape perempuan. Alka yang sangat manly memilih warna hitam dan natural. "Tapi ini lemot dan internetnya masih 2G. Kesel aku pakenya," dumel Alya. "Masih zaman 2G!?" celetuk Alka. "Tapi aku bawa pasti langsung aneh pakenya. Tanganku belom bisa pegang touchscreen. Takut kotor. Takut layarnya sensitif. Mencolok banget nanti tiba-tiba aku pegang produk Apple." "Udah keren banget loh anak cewek pegang Blackberry, kamu udah pegang Apple. Hati-hati aja itu hape nggak murah," kata Alka mengingatkan sang adik. Alya jadi mengangguk. Dia menerima kado papanya sebuah ponsel mahal dan bermerk. Iphone. Padahal dia maunya ponsel yang biasa aja dipegang anak sekolahan kayak Alka yang berbasis Android. Tapi rezeki tidak boleh ditolak. "Wuihh, temen kamu tuh harusnya Nabila. Sama tuh hapenya!" pekik Alka menunjuk seorang cewek tinggi sedang memotret dengan ponsel putih yang mirip dengannya. Alya mendecak. "Nanti punyaku disangka KW kalo diliat sama dia dan hape kita ini merek dan tipenya sama." Memang hapenya sama Iphone 4S keluaran terbaru yang harganya masih di angka 8-9 juta. Anak SMA pegang hape keren mengundang bahaya dan kesyirikan temannya kan? Kejahatan terjadi karena adanya kesempatan. Tawa dari Alka tidak bisa ditahan. Adiknya itu suka sarkas dan merendah diri. Tangannya mengusap rambut Alya gemas. "Kamu bakalan bersaing sama Nabila kalo tau hapenya sama. Nanti kamu direkrut gabung ke geng itu." "Nggak mungkin! Nabila tajir banget ya, hapenya dua keren semua." Decak Alya. "Dah, jangan gosip. Mas ke kelas ya. Makasih nasinya," kata Alka kemudian kabur. "Ih mas! Bilang aja mau ketemu sama Inna." Saat sadar piring nasgornya sudah tinggal sedikit gadis itu melongo. “Eh, jangan lupa besok harus mau ikut!” Alka berteriak keras. *** Inna menolak pulang bersama karena akan dijemput oleh mamanya. Itu adalah kenyataan menyakitkan bagi Alka yang sedang berusaha makin modus mau mendekati Inna. Padahal cuaca terang, tidak hujan. Saat cuaca mendukung, sang gadis tidak mau pulang bersama. Huh! "Mas Alka, aku jalan duluan. Jangan pulang ngaret kelamaan sampenya!!" seru Alya berjalan mendahului memasuki parkiran bersama dengan seorang cewek yang dikenalnya. Yang bernama Priska. Alka menggeram diperingati jangan pulang ngaret oleh sang adik. Dia lagi kesal ditolak oleh Inna. Susah memang mau deketin cewek imut dan manis. Apalagi yang masih minta dijemput bergantung sama orangtuanya. Mata Alka melihat pada Priska yang duduk di boncengan belakang Alya. Dia tadi pagi jujur aja lega, bahwa Priska mengetahui rencana busuk geng Gerald. Tontonan itu buat hiburan satu sekolah dan gosipnya langsung santar kalau Priska jadi bahan taruhan. Cukup heboh kalau menyangkut Priska, cewek-cewek banyak yang membicarakan tentang gadis itu. Ada yang nyinyir. Ada yang kasihan. "Bro, bengong aja. Kemaren ayam tetangga gue mati mendadak karena diem aja." Suara cempreng Tobi mengganggu. Lamunan Alka buyar, dia melotot pada Tobi yang bajunya berantakan seperti biasa keluar-keluar dan tidak pakai dasi. "Buryam yuk! Gue bayarin!" ajak Tobi nyengir. "Ngebubur mulu. Gue ngopi aja deh. Ayo!!" Alka langsung mengiyakan. "Buruan. Ketemu depan ujung Jalan Pattimura. Motor gue jauh dapet parkirnya di belakang." Tobi melambaikan tangan dan pergi menuju gerbang sekolahan. Alka mengambil motornya. Motor matic yang biasa digunakan oleh ibu-ibu muda dan mayoritas cewek. Motor enteng. Dia keluar dari gerbang sekolah melajukan motornya menuju ujung Jalan Pattimura. Tangan Alka memelankan gas motor dan matanya terfokus pada objek di tengah jalanan itu. Sesosok perempuan mirip Priska meletakkan bunga mawar di tengah Jalan Pattimura. Kemudian, Priska pergi ke pinggir jalanan Ngurah Rai, dia membiarkan bunga itu hancur dan tangkainya patah terlindas oleh kendaraan yang lewat lalu lalang. Alka memejamkan matanya saat bayangan itu melintas dalam benak. Kenapa dia harus melihat tangkai bunga tadi saat terlindas ban kendaraan dan patah? *** Esok harinya … Alka dan Alya dalam perjalanan pulang usai mengantar Priska yang juga main ke rumah Inna, sampai ke depan rumah gadis itu. Setelah ditahan-tahan Alka mau cerita sesuatu ke adiknya. "Eh, aku pengen nembak ngajak Inna pacaran, tapi kalo ditolak gimana ya?" cetus Alka, terpancar dia gelisah dan kebingungan sambil mendesis dan mendecakkan lidahnya. "Menurut Mas, dia suka apa nggak? Ada tanda dia suka atau mau dipacarin nggak? Kodein dong." Alya jadi gemas sendiri menatap Alka yang menyetir dengan tatapan lurus ke depan. Alis sebelah Alka terangkat. "Nih ya, aku udah kodein terus. Tapi untuk sekedar mastiin perasaannya aja, dia suka apa enggak jawabannya bikin pusing. Dialihkan ke yang lain," jawab Alka menggerutu. "Malu kali. Atau nggak yakin. Tunggu aja waktunya nggak akan ke mana kok," sahut Alya memberi dukungan. "Kamu kurang membuat dia percaya kali. Tau nggak, ada cara biar pedekatenya berhasil?" Senyum manis di bibir Alya disusul ide cemerlang di otaknya. Dia mengetukan jari di dagunya. "Apa? Aku udah ngajak dia pulang bareng, main ke rumahnya, mainin lagu yang disuka dan selalu ada support dia. Tapi kayak ada yang kurang, menurutmu apa?" tanya Alka sambil berpikir juga. Dia memikirkan segala yang sudah dilakukan untuk pedekate selama enam bulanan ini. Sudah kenal mau dua tahun, masih ada yang mengganjal, tidak semudah itu dalam meluluhkan Inna. "Kurang mengenal dia. Aku yakin kamu masih abu-abu dan meragukan. Ada loh cara biar cewek tuh percaya dia lagi dideketin dan bikin merasa diperjuangin. Dan ,cara mengetes cewek itu ada perasaan balik atau enggak. Aku baca di blog orang sih, belum pernah mengalami langsung." "Apaan itu?" Kening Alka berlipat. Segala cara dia coba tetapi sepenglihatannya Inna masih menganggap Alka sebagai teman dekat saja. "Kamu mau yang mana dulu nih? Yakinin si cewek kalo kamu mau serius atau mau tau perasaan asli cewek yang dideketin?" "Emang bisa?" Alka tertawa. "Gimana caranya?" "Yang mana dulu?" "Dua-duanya." "Kalo yakinin si cewek kalo ni cowok mau serius gampang aja. Buat dia spesial dan cari tahu yang disuka," ucap Alya membuat Alka membatin dia sudah melewati tahap itu. "Lalu, kamu berteman sama teman yang jadi tempat curhat si cewek. Biasanya mereka bakal ngomongin si cowok. Dan, makin buat si cewek jatuh hati karena mereka biasanya ngomongin si cowok terus." "Bisa-bisa." Alka terpekur. Lalu siapa orang yang biasa dijadikan tempat cerita oleh Inna? "Terus, buat nyari tau perasaan asli gebetan. Kamu deket sama cewek lain juga, nah nanti dia ketahuan deh. Kalo nggak suka dan cemburu atau berubah jadi aneh, artinya dia ada perasaan khusus." Tambah Alya dan usul yang ini dibantah habis oleh Alka. Kakaknya itu menyela. "Kalo deketin cewek lain buat manasin Inna aku nggak bakal tega, Ya." Alka menggelengkan kepala tak setuju. Bisa jadi Inna malah ilfeel dan nganggap Alka tukang PHP. Padahal hanya percobaan saja. Hanya karena tips internet jadi gagal. Bahu Alya terangkat. "Sekali aja ngetes kan nggak apa-apa. Misalnya ngobrol sama cewek lain depan Inna. Yang penting, aku udah ngasih tips." Alya melirik abangnya. "Tapi tergantung ceweknya ada yang nunjukin langsung ada yang diem-diem cemburunya. Emang Inna tipe yang mana?" Pemuda itu meneguk ludahnya. Matanya yang tajam dan jernih mengamati langit. "Mungkin aku bakal coba yang deketin teman curhat Inna," gumam Alka. "Kali aja dia yang akan membantu proses pendekatan ini. Kira-kira Inna suka curhat sama siapa?" Dagu Alya dielus-elus sok mikir. "Ada dua orang yang cukup dekat sama Inna, yang aku tau selama main sama Inna." *** 6 Des 2021  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN