Awal yang Kelam
Kota ini tidak pernah benar-benar tidur.
Lampu-lampu neon menyala terang di sepanjang jalan, menciptakan bayangan yang menari di trotoar basah. Di balik kemilau itu, kehidupan berjalan cepat—penuh rahasia, kebohongan, dan darah. Dunia yang terbagi antara yang kuat dan yang lemah. Di sinilah tempatnya… tempat di mana cinta bisa menjadi senjata, dan kekuasaan adalah mata uang utama.
Rafael DeLuca berdiri di balkon ruang kerjanya, menatap ke jalanan yang sibuk di bawah sana. Angin malam menerpa jas hitamnya, tapi pikirannya jauh dari hiruk-pikuk kota.
Keluarga DeLuca telah menguasai sebagian besar wilayah ini selama bertahun-tahun. Bisnis narkoba, perjudian, dan perdagangan ilegal lainnya berada di bawah kendali mereka. Dan Rafael—pria berusia tiga puluh lima tahun dengan sorot mata tajam—adalah rajanya.
Wajahnya dingin dan nyaris tak berperasaan. Tatapan mata cokelat gelapnya menyimpan banyak rahasia. Ia bukan hanya pemimpin, tapi juga algojo dalam kerajaan gelap yang dibangunnya dengan darah dan pengkhianatan. Dalam hidupnya, tak ada tempat untuk kelemahan… apalagi cinta.
Namun malam itu, entah mengapa, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Pintu ruang kerja terbuka. Vincenzo, tangan kanan setianya, melangkah masuk.
“Tuan, semuanya sudah siap untuk pertemuan besok,” lapornya singkat, merujuk pada negosiasi besar dengan keluarga mafia rival.
Rafael mengangguk tanpa menoleh. “Pastikan tak ada celah. Semua harus berjalan sesuai rencana.”
Vincenzo mengangguk cepat, namun ragu-ragu sebelum kembali bicara. “Tuan… ada informasi baru. Tentang Isabella Moreno.”
Rafael langsung menoleh, matanya menyipit. “Apa kau bilang?”
Nama itu—Isabella Moreno—terdengar seperti ledakan kecil di pikirannya. Sudah lama ia mendengar nama itu, namun tak pernah benar-benar memedulikannya… sampai malam ini.
“Dia baru saja kembali ke kota. Bekerja di perusahaan milik kenalan lama ayahnya,” jelas Vincenzo. “Kami sudah memantau. Tapi… ada sesuatu yang mencurigakan. Dia terlibat dalam proyek properti yang bisa mengancam bisnis kita.”
Rafael terdiam. Pikirannya bekerja cepat. Isabella… wanita dari keluarga Moreno, keluarga yang dulu menantang kekuasaan DeLuca. Kini, dia muncul kembali, membawa sesuatu yang bisa mengganggu kestabilan kekuasaannya?
“Awasi dia. Tapi diam-diam,” perintah Rafael tegas. “Aku ingin tahu setiap langkahnya.”
Meski perintahnya jelas, ada kegelisahan yang mengusik hatinya. Nama Isabella terus bergema di benaknya. Dia bukan siapa-siapa… tapi mengapa bayangan wanita itu mengganggunya?
Setelah Vincenzo pergi, Rafael duduk kembali di kursinya. Ia menatap ke luar jendela, ke arah kota yang telah menjadi medan perangnya selama ini. Semua sudah diperhitungkan, direncanakan. Tapi sekarang, semuanya terasa... berbeda.
Di sisi lain kota, Isabella Moreno berdiri di balkon apartemennya. Matanya memandang kosong ke jalanan yang ramai.
Dulu, dia hanyalah wanita biasa. Namun hidup membawanya kembali ke kota ini—kota yang menyimpan sejarah kelam keluarganya. Kota yang kini dipenuhi musuh, termasuk satu nama yang tak pernah bisa ia hindari: Rafael DeLuca.
Udara malam terasa dingin, menusuk kulitnya. Tapi yang lebih dingin adalah kenyataan yang harus ia hadapi. Dia berada di tengah dunia yang tak pernah ia pilih. Dunia mafia.
Ia menarik napas panjang. Hatinya dipenuhi pertanyaan—mengapa keluarganya harus terlibat? Apa tujuan sebenarnya dari semua ini?
Dan Rafael… pria itu bukan sekadar lawan. Dia adalah pusat dari segala kekuasaan dan kegelapan di kota ini.
Isabella tahu, sejak ia kembali, tidak akan ada jalan keluar yang mudah. Dalam dunia seperti ini, setiap langkah bisa berarti hidup… atau kematian.
Di ruang kerjanya, Rafael memejamkan mata. Nama Isabella Moreno berputar-putar di pikirannya.
“Isabella Moreno...” bisiknya pelan, seolah nama itu memiliki kekuatan yang tak bisa dijelaskan.
Permainan telah dimulai. Dan kali ini, taruhannya lebih besar dari sebelumnya—lebih dari sekadar uang atau kekuasaan. Mungkin... bahkan lebih dari nyawa.
Isabella duduk di tepi ranjang, menggenggam secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya sembab, tapi tak ada air mata yang jatuh lagi. Tangisnya sudah kering sejak malam kemarin.
Dia menatap cermin di hadapannya. Wajah yang dulu ceria kini terlihat asing—lelah, tapi keras kepala. Sejak datang ke kota ini, hidupnya berubah drastis. Ia tak lagi hanya seorang wanita biasa. Ia sedang bermain di medan perang yang bahkan tak ingin ia masuki.
Nama DeLuca kembali menggema di pikirannya.
Rafael DeLuca.
Nama itu bukan sekadar ancaman, tapi juga teka-teki. Terlalu banyak rahasia di balik nama itu. Isabella tahu, jika ingin bertahan di kota ini, ia harus tahu siapa yang sedang ia hadapi.
Dan lebih penting lagi—ia harus tahu, mengapa ayahnya dulu begitu membenci keluarga DeLuca.
Isabella berdiri dan membuka lemari kecil di samping tempat tidurnya. Ia menarik sebuah kotak kayu tua yang terkunci rapat. Kunci kecil tergantung di lehernya sejak ia masih remaja.
Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak itu.
Di dalamnya tersimpan potongan koran usang, foto lama, dan sebuah surat dengan tulisan tangan ayahnya.
"Jika sesuatu terjadi padaku, cari tahu kebenaran tentang DeLuca."
Isabella menelan ludah. Surat itu tak pernah ia buka sejak kematian ayahnya tiga tahun lalu. Tapi kini, semuanya terasa seperti sinyal—dan Rafael Deluca adalah pintunya.
Sementara itu, Rafael menatap foto Isabella yang terpampang di layar besar ruang kerjanya. Foto itu diambil diam-diam, dari kejauhan, oleh salah satu anak buahnya.
Dia membesarkan gambarnya.
Pandangan mata Isabella di foto itu tidak takut. Tidak lugu. Tapi tajam dan waspada.
“Dia bukan sekadar wanita biasa…” gumam Rafael pelan.
Vincenzo berdiri di sampingnya, menunggu perintah.
“Terus awasi dia,” kata Rafael, matanya tidak lepas dari layar. “Tapi jangan dekati dia dulu. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya.”
Vincenzo mengangguk. “Kita temukan sesuatu. Dia punya akses ke berkas lama milik Moreno. Termasuk file yang berisi kontrak properti di kawasan pelabuhan.”
Rafael menoleh cepat. “Kawasan pelabuhan? Itu bukan urusan keluarga mereka. Itu urusan kita.”
“Benar, Tuan,” jawab Vincenzo. “Tapi tampaknya dia sedang menggali sesuatu yang seharusnya sudah terkubur.”
Rafael diam sejenak. Matanya menyipit. Dalam hati, ia merasa amarahnya mulai tumbuh. Tapi bukan hanya karena Isabella mencampuri urusannya—melainkan karena ada sisi dirinya yang tak seharusnya tertarik pada wanita itu.
Di malam yang sama, Isabella berdiri di atap gedung apartemennya, menatap bintang yang tertutup kabut lampu kota.
"Aku takkan lari," bisiknya pelan. "Kalau Rafael DeLuca adalah kunci semua ini… maka aku harus membukanya."
Langkah pertama sudah dimulai.
Dan dalam bayang-bayang kota yang tak pernah tidur, dua jalan yang bertolak belakang kini mulai berpotongan.
Satu milik seorang pria yang memegang dunia di tangannya.
Satu lagi milik wanita yang tak takut kehilangan apa pun… karena semuanya sudah direnggut darinya.
Dan kisah mereka baru saja dimulai.