Di luar, malam semakin dalam. Tetapi Rafael tahu bahwa permainan ini baru saja dimulai, dan dia harus siap untuk segala kemungkinan.
Ia berdiri di depan jendela kaca tinggi di ruang kerja, menatap lampu-lampu kota yang menyala seperti bintang jatuh yang enggan padam. Di tangannya, segelas anggur merah berputar pelan. Ia tak menyentuhnya, hanya menatap pantulan bayangannya sendiri di kaca. Dingin. Tak berperasaan. Seperti dirinya sekarang.
Ketukan pelan di pintu memecah lamunannya.
"Masuk," ucap Rafael dengan nada tegas.
Seorang pria berbadan besar masuk, menundukkan kepala hormat. “Nona itu sudah bangun, Tuan.”
Rafael hanya mengangguk. Ia meletakkan gelasnya, lalu berjalan melewati pria itu tanpa berkata sepatah pun.
Langkahnya tenang, tapi penuh tekanan. Suasana rumah besar itu hening, seakan tahu siapa penguasanya. Hingga akhirnya ia sampai di depan sebuah kamar yang dikawal dua anak buahnya.
Rafael membuka pintu sendiri.
Di dalam, seorang perempuan duduk di ujung ranjang, matanya menatap tajam meski ada ketakutan tersembunyi di baliknya. Rambutnya tergerai berantakan, pipinya memerah karena tamparan yang diberikan saat ia mencoba melawan tadi sore.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya, suaranya gemetar namun tetap berani.
Rafael menutup pintu di belakangnya, lalu menatap perempuan itu tanpa ekspresi. “Nama lengkapmu?”
“Kenapa? Mau buatkan aku akta kematian?”
Rafael terkekeh pelan. "Lucu. Tapi kalau aku mau membunuhmu, kau tidak akan duduk di sini sekarang."
“Aku gak takut,” ucap perempuan itu, mencoba berdiri tapi tubuhnya masih lemas. “Biar semua orang tahu siapa kamu. Cepat atau lambat, kamu akan jatuh, Tuan Mafia.”
Rafael mendekat perlahan, membuat perempuan itu mundur beberapa langkah sampai punggungnya menyentuh dinding.
“Namaku Rafael Adriano De Luca. Mungkin kau pernah dengar. Dan sekarang… kau ada di wilayahku.” Suaranya dingin, menusuk.
“Aku tahu siapa kamu. Pembunuh berdarah dingin. Mafia yang menguasai separuh kota ini.” Matanya menatap Rafael penuh benci. “Tapi tetap saja, kamu takut pada satu hal: cinta.”
Rafael terdiam sejenak. Matanya menyipit.
“Siapa namamu?” ulangnya pelan, kali ini dengan nada lebih lembut tapi mengancam.
Perempuan itu menatapnya. “Aleyna. Aleyna Putri Mahesa.”
Rafael tersenyum miring. Nama itu sudah ia dengar. Aleyna, anak dari musuh bebuyutan ayahnya. Gadis yang seharusnya hanya menjadi alat tawar. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Rafael ragu. Matanya… bukan mata orang yang mudah ditundukkan.
Dan itu berbahaya.
“Dengar, Aleyna. Kau di sini karena ayahmu bermain api dengan kartel yang salah. Kalau dia tidak ingin melihatmu hancur… dia harus datang kepadaku. Tanpa pengawalan. Tanpa senjata. Hanya nyali.”
“Ayahku tidak akan pernah tunduk pada orang sepertimu!”
Rafael mendekat, wajah mereka hanya berjarak sejengkal. "Kalau begitu, bersiaplah tinggal di neraka versi De Luca."
Aleyna menatapnya. Tak ada lagi kata. Hanya diam yang menggantung, tapi penuh gejolak yang membakar di dalam.
Permainan sudah dimulai. Tapi tak ada yang tahu siapa yang akan lebih dulu jatuh—si mafia kejam atau gadis berani yang menyimpan luka masa lalu.
Aleyna memalingkan wajah, menolak menunjukkan bahwa kata-kata Rafael berhasil menggoyahkannya. Ia terlalu lama menyimpan amarah, terlalu lama hidup dalam bayang-bayang seorang ayah yang lebih sibuk menyusun strategi perang daripada memeluk anaknya. Kini ia harus menghadapi musuh yang bahkan tak pernah ia pilih.
Rafael masih berdiri di hadapannya, matanya mengamati seperti predator yang mengukur mangsanya—bukan untuk dibunuh, tapi untuk dijinakkan.
“Besok pagi, kau akan dibawa ke ruang utama,” ucap Rafael dingin. “Berpakaianlah yang pantas. Aku tidak suka melihat tawananku seperti boneka rusak.”
“Kau pikir aku akan berdandan untukmu?” tanya Aleyna dengan sinis. “Aku bukan pelayanmu.”
Rafael mendekat dan menunduk, hingga wajah mereka hanya terpisah napas.
“Dan aku bukan pria yang suka mengulang perintah dua kali,” bisiknya tajam, sebelum berbalik dan keluar dari kamar itu, meninggalkan jejak aroma parfum maskulin yang mencampur tegang dan misteri di udara.
Aleyna meremas seprai tempat tidur. Ia benci diatur. Tapi ia lebih benci karena detak jantungnya berdetak tak beraturan sejak Rafael mendekat. Ia menggigit bibirnya, mencoba mengabaikan emosi yang campur aduk.
Namun jauh di balik kebenciannya… ada rasa penasaran yang tumbuh perlahan.
---
Keesokan paginya, Aleyna dibawa keluar dari kamar menuju ruang utama. Gaun putih sederhana melekat di tubuhnya, paksaannya untuk tampil "pantas" seperti yang diminta. Kepalanya tegak, matanya tajam.
Ruang utama itu luas, dindingnya penuh lukisan klasik dan senjata antik yang dipajang. Di tengah ruangan, Rafael duduk di singgasana seperti raja di istananya.
“Duduk,” perintahnya, menunjuk kursi di seberang meja panjang.
Aleyna menatapnya penuh tantangan, tapi akhirnya duduk. “Apa rencanamu, Rafael? Menjualku ke kartel? Menggunakan tubuhku untuk mengancam ayahku?”
“Aku bukan b******n rendahan,” balas Rafael datar. “Aku hanya ingin satu hal—ayahmu datang sendiri dan menyerahkan dokumen yang dia curi dari kami.”
Aleyna tertawa kecil, sinis. “Kau pikir dia akan peduli? Dia tak pernah peduli padaku sejak ibuku meninggal.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Dan Aleyna membeku. Ia tak berniat membukanya, tapi luka itu begitu dalam hingga tak bisa disimpan lagi.
Rafael menatapnya lama, ekspresinya sedikit berubah. “Jadi kau anak mafia yang dibuang?”
“Aku bukan bagian dari dunia kalian,” ucap Aleyna pelan, nyaris seperti bisikan.
Dan entah mengapa, Rafael merasakan sesuatu yang lain di dalam hatinya. Mungkin simpati. Mungkin rasa kagum. Atau mungkin sesuatu yang lebih berbahaya—koneksi.
“Tapi sekarang kau terjebak di dalamnya,” katanya akhirnya.
Aleyna menatap mata Rafael, dan untuk pertama kalinya, dia tak melihat hanya sosok dingin dan kejam. Ada kesepian. Ada luka. Sama seperti dirinya.
Dan di detik itu, mereka berdua tahu—mereka sedang bermain api.
Dan permainan ini tak hanya tentang kekuasaan. Tapi juga tentang siapa yang akan lebih dulu kehilangan kendali atas hatinya.
Waktu seakan berhenti ketika mata mereka saling mengunci. Tak ada kata. Tak ada ancaman. Hanya tatapan dua jiwa yang sama-sama terluka, tapi terlalu keras kepala untuk saling mengakuinya.
“Kalau kau sudah puas memelototiku, boleh aku kembali ke kamarku?” tanya Aleyna akhirnya, menyembunyikan kegugupannya dengan sarkasme.
Rafael menyeringai kecil. “Aku sedang berpikir... berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menaklukkan mulut tajammu itu.”
Aleyna berdiri. “Kau bisa mengurung tubuhku, Rafael. Tapi bukan pikiranku. Apalagi hatiku.”
Langkahnya sudah menuju pintu, namun suara Rafael menghentikannya.
“Kita lihat saja... Aleyna Putri Mahesa. Siapa yang lebih dulu jatuh dalam permainan ini.”
---
Malamnya, Rafael kembali ke ruangannya, namun pikirannya masih tertinggal di ruang utama bersama gadis keras kepala itu. Ia mencoba menyibukkan diri dengan laporan bisnis gelapnya, tapi tak satupun bisa membuatnya fokus. Tatapan Aleyna terus menghantui.
“Kenapa dia terlihat seperti… dia mengerti?” gumamnya sendiri. “Seolah dia pernah berdiri di tempatku. Di antara cinta dan pengkhianatan.”
Di sisi lain, Aleyna berbaring di ranjang besar dengan punggung menghadap jendela. Ia menatap ke luar, ke bintang-bintang yang tak bisa disentuh, seperti kebebasannya yang kini terenggut.
Namun, justru yang paling mengganggu bukan jeruji tak terlihat yang mengurung tubuhnya…
Melainkan sosok pria dingin yang entah mengapa berhasil menyentuh bagian hatinya yang selama ini terkunci rapat.
“Rafael Adriano De Luca… Kau mungkin monster,” bisiknya. “Tapi kenapa… aku melihat manusia dalam matamu?”
Ia menutup mata, tapi mimpi tak datang. Yang datang hanyalah bayangan masa lalu—kenangan ibunya yang mati karena konflik antarkartel, ayah yang menjadikannya pion, dan… tatapan Rafael yang menelanjangi lukanya.
Dan di luar sana, Rafael berdiri di depan pintu kamarnya. Ia tak tahu kenapa ia berdiri di sana. Tangannya terangkat, hampir mengetuk. Tapi ia mengurungkannya. Terlalu cepat. Terlalu berbahaya.
Karena jika ia mengetuk malam ini… mungkin besok, hatinya tak akan bisa ditarik kembali.
Permainan sudah dimulai. Dan malam-malam berikutnya hanya akan menjadi saksi… bagaimana cinta tumbuh di tempat paling gelap—di antara darah, pengkhianatan, dan kekuasaan.