Luka yang Tak Terlihat

1065 Kata
Pagi harinya, Rafael duduk di meja makan panjang dengan tatapan kosong menatap koran yang bahkan belum dibukanya. Kopinya sudah dingin. Biasanya ia sudah selesai dengan urusan bisnis sebelum jam sembilan, tapi hari ini... tidak ada yang berjalan seperti biasanya. Pintu ruang makan terbuka. Aleyna masuk dengan langkah mantap, mengenakan kemeja putih dan celana kain gelap yang sedikit longgar, jelas bukan gayanya, tapi setidaknya tak seperti kemarin. Pandangannya tajam menatap Rafael. “Pagi, Tuan Rumah,” ucapnya sinis. “Atau… Tuan Penjara?” Rafael mendongak. Ada senyum samar yang muncul di sudut bibirnya. “Senang kau mulai belajar sopan.” Aleyna menarik kursi dan duduk di seberang. “Aku tidak sopan. Aku hanya lapar.” Seseorang membawakan sarapan dan meletakkannya di hadapan Aleyna. Ia menatap piring itu sejenak—telur mata sapi, roti panggang, dan segelas jus jeruk. Semua tampak normal, tapi tetap saja ia merasa diawasi. “Kalau kau ingin meracuniku, bisa pakai cara yang lebih dramatis,” sindir Aleyna. “Aku tidak butuh racun untuk mengendalikanmu,” Rafael menjawab datar. “Kau di sini karena ayahmu. Dan selama dia belum datang, kau adalah jaminanku.” Aleyna menggigit rotinya. “Kau bilang bukan b******n rendahan. Tapi memperlakukan orang seperti sandera? Itu definisi rendahan, Rafael.” Rafael menatap tajam. “Dan ayahmu bukan pahlawan. Dia memulai perang, mencuri informasi yang bisa menghancurkan keluargaku. Aku hanya bermain sesuai aturannya.” “Lalu kenapa kau terlihat seperti orang yang ingin keluar dari permainan ini?” Aleyna membalas cepat. Rafael terdiam. Tak ada jawaban untuk itu. Ia hanya meneguk kopi dinginnya, lalu berdiri. “Kau ikut denganku hari ini.” “Ke mana?” Aleyna bertanya curiga. Rafael hanya menoleh sedikit. “Melihat kenyataan.” --- Mobil hitam itu melaju pelan di tengah jalanan kota. Aleyna duduk di dalam, mencoba menebak-nebak ke mana Rafael membawanya. Namun saat kendaraan berhenti di depan sebuah panti sosial tua, ia terkejut. “Mafia dermawan?” tanyanya setengah mengejek. Rafael tak menjawab. Ia turun lebih dulu, menyapa beberapa anak kecil yang langsung berlari memeluknya. Aleyna terpaku melihat pemandangan itu—pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bayangan kota, sekarang tertawa bersama anak-anak seperti pahlawan tanpa nama. “Kenapa kau lakukan ini?” tanya Aleyna saat mereka duduk di bangku taman kecil dekat panti. Rafael menatapnya serius. “Karena tak semua dalam hidupku tentang senjata dan kekuasaan. Kadang... seseorang butuh alasan untuk merasa masih manusia.” Aleyna memandangnya lama. Untuk pertama kalinya, ia tak tahu harus berkata apa. “Mereka bilang aku tak punya hati,” lanjut Rafael. “Mungkin benar. Tapi anak-anak ini... mereka mengingatkanku pada apa yang dulu pernah kupunya—sebelum dunia ini merenggutnya.” Aleyna meremas ujung bajunya. “Aku kehilangan ibuku karena perang kartel. Dan ayahku... dia tak pernah benar-benar peduli. Jadi aku tahu rasanya.” Pandangan mereka bertemu. Kali ini, tak ada lagi tembok setebal baja. Hanya dua manusia yang menyimpan luka—dan mungkin, perlahan... menyembuhkan satu sama lain. --- Malam itu, Rafael berdiri di balkon kamarnya. Hujan turun perlahan, seperti membasuh dosa-dosa yang tak terlihat. Ia tahu, semakin dekat dengan Aleyna, semakin besar risikonya. Tapi perasaan tak pernah bisa dinegosiasi seperti bisnis. Perasaan tumbuh tanpa izin. Dan sekarang, ia tak yakin apakah ingin mengendalikannya… atau justru membiarkannya mengambil alih. Di kamar sebelah, Aleyna menulis sesuatu di buku kecilnya. Suatu hari nanti, aku ingin bebas. Tapi jika kebebasan itu berarti tak pernah melihat matanya lagi… mungkin aku harus bertanya: apa artinya bebas? --- Api yang Mulai Membakar Beberapa hari berlalu sejak kunjungan ke panti sosial. Namun suasana di rumah Rafael tak banyak berubah—masih sunyi, masih tegang, dan masih dipenuhi tatapan-tatapan tajam antara dua jiwa yang saling mencoba menahan gejolak. Aleyna mulai memahami pola di rumah itu. Ia tak lagi dikurung, tapi tetap dikawal. Ia bisa berjalan-jalan di taman belakang, membaca buku di perpustakaan pribadi Rafael, bahkan kadang menikmati senja di balkon, meski dengan tatapan awas dari pria-pria bersenjata. Namun, yang paling mengganggu bukanlah penjagaan itu. Melainkan fakta bahwa pikirannya... terlalu sering melayang ke Rafael. Sosok pria yang katanya tanpa hati, ternyata punya sisi lain yang tak bisa diabaikan. Ia memperhatikan. Ia melindungi. Ia menyimpan luka yang terlalu dalam, hingga membekukannya dari dunia. Dan malam itu, saat Aleyna berdiri di balkon, angin malam mengibaskan rambutnya, langkah kaki berat datang dari belakang. Rafael. “Kau suka senja?” tanyanya, suaranya dalam dan rendah. Aleyna tidak menoleh. “Karena senja itu jujur. Ia tidak menutupi akhirnya. Tidak seperti manusia.” Rafael berdiri di sampingnya. “Termasuk aku?” Aleyna akhirnya menatapnya. “Kau tidak pernah jujur. Bahkan pada dirimu sendiri.” Tatapan mereka terkunci. Tak ada kata-kata, hanya keheningan yang bicara. Ketegangan itu terasa seperti benang halus yang siap putus kapan saja. “Kalau aku jujur…” Rafael mendekat, napasnya menyentuh kulit Aleyna. “Apa kau siap mendengarnya?” Aleyna menelan ludah. “Katakan.” Rafael mengangkat tangannya, menyentuh lembut ujung rambut Aleyna, lalu menyentuh pipinya—bekas tamparan itu sudah memudar, tapi luka di hati mereka... belum. “Aku takut,” bisiknya. Aleyna mengerutkan kening. “Takut pada apa?” “Pada kenyataan… bahwa aku mulai menginginkanmu. Bukan sebagai sandera. Tapi sebagai sesuatu yang lebih dari itu.” Aleyna memalingkan wajah. “Itu… berbahaya.” “Aku tahu.” “Dan kau tetap mengatakannya?” Rafael mendekat lagi. Kini hanya jarak napas memisahkan mereka. “Karena lebih berbahaya lagi kalau aku membohongi diriku sendiri.” Aleyna terdiam. Dan sebelum logika sempat berbicara, tubuhnya sudah bergerak. Wajah mereka begitu dekat hingga dunia seolah menghilang. Tapi sebelum bibir mereka bersentuhan, suara tembakan terdengar dari kejauhan. Aleyna dan Rafael spontan menoleh. Salah satu penjaga berlari ke balkon. “Tuan! Serangan! Mereka datang dari arah selatan!” Rafael langsung berubah. Tatapan hangat itu hilang, digantikan dengan kedinginan dan amarah. Ia memberi isyarat cepat, dan anak buahnya mulai bergerak. “Bawa Aleyna ke ruang aman,” perintahnya. “Aku bisa melindungi diri!” Aleyna membantah. Rafael menoleh tajam. “Kali ini, dengarkan aku. Kalau kau terluka... aku tidak tahu apa yang akan kulakukan.” Dan sebelum Aleyna bisa berkata apa-apa lagi, Rafael sudah berlari, meninggalkannya bersama dua penjaga bersenjata yang menariknya ke lorong rahasia. Sementara di luar, peluru mulai terbang, dan malam yang seharusnya tenang... berubah menjadi medan perang. Tapi di dalam hati keduanya, pertempuran yang lebih besar sudah dimulai—pertempuran untuk menguasai perasaan mereka. Dan tidak ada pelindung dari luka yang akan datang... ketika cinta tumbuh di antara darah dan peluru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN