Api yang Tak Bisa Padam

1379 Kata
Suara tembakan bergema di seluruh mansion De Luca. Penjaga berpakaian hitam, bersenjata lengkap, bergerak cepat melalui koridor-koridor panjang, menjaga setiap pintu dan jendela. Di luar, cahaya dari tembakan memantul di dinding, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas lantai marmer. Aleyna didorong masuk ke sebuah ruangan kecil di bawah tanah, jauh dari keributan yang terjadi di luar. Ruangan itu dingin dan gelap, hanya diterangi oleh cahaya dari beberapa lampu neon yang berkelap-kelip. Dua penjaga berdiri di depan pintu, memastikan tidak ada yang masuk. Ia berdiri di tengah ruangan, matanya penuh kecemasan, tubuhnya terasa kaku. Ia tidak bisa hanya duduk diam, menunggu seperti ini. Sesuatu dalam dirinya bergejolak—rasa tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan. "Apa yang sedang terjadi, sebenarnya?" gumamnya pada dirinya sendiri. Tapi jawabannya datang terlalu cepat. Pintu terbuka, dan Rafael muncul di ambang pintu, wajahnya berkerut, masih dengan ekspresi dingin yang selalu melekat di wajahnya. Rambutnya sedikit acak-acakan, namun itu tidak mengurangi aura kekuasaannya sedikit pun. Tatapannya langsung mencari Aleyna di ruangan yang gelap, dan saat matanya bertemu dengan mata Aleyna, ada sebuah ketegangan yang menyesakkan. “Kau baik-baik saja?” tanya Rafael, suaranya lebih lembut daripada sebelumnya, meskipun masih terkesan penuh perintah. Aleyna mengangguk dengan sedikit enggan, meski perasaan takut masih menggelayuti hatinya. “Aku baik-baik saja. Tapi aku ingin tahu, apa yang sedang terjadi?” Rafael mendekat, menatap ke luar melalui jendela kecil yang menghadap ke halaman luar. “Ini bukan serangan biasa. Mereka datang dengan tujuan yang lebih besar. Ada pihak dalam kartel yang mulai mencoba mengambil alih wilayah kami.” “Dari mana mereka tahu tentang ini?” tanya Aleyna, suara penuh curiga. Rafael menoleh, dan ada kilatan tajam di matanya. “Mereka selalu tahu. Dan itu adalah masalah terbesar. Kalau mereka tahu keberadaanmu di sini, itu berarti seseorang di dalam organisasi kami membocorkan informasi.” Aleyna terdiam, mencoba mencerna semua kata-kata itu. “Jadi ini semua karena aku?” Rafael menggelengkan kepala. “Bukan hanya karena itu. Tapi... iya, bisa dibilang, kehadiranmu memperburuk keadaan.” Ia berjalan kembali ke pintu, meraih ponselnya. “Aku harus keluar. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan.” Aleyna berdiri, merasa ada sesuatu yang tak beres dengan cara Rafael berbicara—seolah ada yang disembunyikan. “Apa yang sedang kau sembunyikan, Rafael?” Pria itu berhenti sejenak, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan yang sulit dimengerti. “Aku tidak sedang menyembunyikan apa-apa, Aleyna. Aku hanya melindungimu. Jangan terlalu banyak bertanya.” Aleyna merasa dadanya sesak. Kata-kata itu seolah mengingatkannya pada sesuatu yang lebih gelap, lebih jauh dari kenyataan yang sedang dihadapinya. “Kau mungkin bisa melindungiku dengan cara yang berbeda. Kau tahu aku bukan anak kecil, kan?” Rafael menghela napas, sepertinya berusaha menahan emosi. “Aku tahu, dan itulah kenapa aku tidak ingin melibatkanmu lebih jauh. Tapi kenyataannya... kau sudah terjebak dalam permainan ini, dan satu-satunya cara untuk selamat adalah bertahan.” Aleyna menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari tahu apa yang benar-benar ada di balik matanya. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang lebih dari sekadar pemimpin mafia dingin yang selama ini ia lihat. Tapi ia tahu, ia tidak bisa terlalu larut dalam perasaan itu. Tidak di dunia ini. Rafael melangkah ke arah pintu dan membuka sedikit. “Kau akan tetap di sini. Tidak ada yang bisa memasuki ruangan ini. Aku akan kembali secepatnya.” Sebelum pintu benar-benar tertutup, Aleyna menyahut, suara tegas tapi penuh tekad. “Aku tidak akan hanya duduk diam, Rafael. Kalau aku bisa membantu, aku akan melakukannya.” Rafael hanya terdiam sejenak, memandangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Kemudian, tanpa kata-kata lebih lanjut, ia keluar dari ruangan, meninggalkan Aleyna dengan pikirannya yang penuh keraguan dan kekhawatiran. Di luar, keributan perang semakin meningkat. Tembakan-tembakan semakin dekat, dan di dalam hatinya, Aleyna merasa perang ini baru saja dimulai. Bukan hanya perang antar kartel, tetapi juga perang dalam dirinya sendiri—perang yang melibatkan cinta, kekuasaan, dan pembalasan. Dan dalam ketegangan itu, satu hal pasti—tidak ada yang bisa memprediksi siapa yang akan lebih dulu kalah dalam permainan ini. --- Aleyna berdiri di depan jendela kecil di ruangan yang gelap, matanya menatap halaman luar yang sepi. Suara tembakan masih terdengar samar-samar, dan ada rasa ketidakpastian yang menggantung di udara. Di balik semua keributan ini, pikirannya terus mengingat ucapan Rafael tadi. “Aku tidak ingin melibatkanmu lebih jauh,” katanya. Tapi apakah itu benar? Atau hanya alasan untuk mengendalikan keadaan? Mengendalikan dirinya? Aleyna menghela napas dan meraih meja kecil di samping tempat tidur, mencari sesuatu yang bisa membuat pikirannya tenang. Sebuah buku tebal dengan sampul kulit yang sudah usang menarik perhatiannya. Buku itu milik ibunya, selalu dipenuhi catatan yang tak pernah dibaca banyak orang. Di dalamnya, Aleyna menemukan pengingat akan masa lalu yang penuh luka dan pengkhianatan—mengingatkan pada ayah yang selalu sibuk dengan dunia yang jauh dari jangkauan anaknya, pada perasaan terabaikan yang selalu membara. Setiap kata dalam buku itu terasa begitu berat, seperti beban yang tak pernah selesai diangkat. Ia menelusuri halaman demi halaman, hingga akhirnya ia menemukan tulisan ibunya tentang kartel, dunia yang tidak pernah ingin dia masuki. Namun, nasibnya berbicara lain. Ia terjebak di dalamnya. Tiba-tiba, suara pintu terbuka mengejutkan Aleyna, mengalihkan perhatiannya dari buku itu. Rafael kembali, wajahnya lelah, namun tetap tampak tenang. Seseorang yang tak pernah menunjukkan kelemahannya, meskipun di dalam, mungkin sama seperti dirinya—terperangkap oleh masa lalu dan harapan yang salah. “Aku sudah menyiapkan beberapa hal,” kata Rafael, suara tegasnya mengisi ruangan. “Aku akan menemui mereka. Jika kita tidak bergerak cepat, kita akan kalah.” Aleyna menatapnya, tetap tak bisa menyembunyikan keraguannya. “Kau benar-benar ingin aku tetap di sini? Terlalu banyak yang bisa terjadi. Aku bukan boneka yang bisa kau sembunyikan begitu saja.” Rafael mengamati Aleyna dengan pandangan tajam, seolah menilai apa yang ada di balik kata-katanya. “Ini bukan tentang menyembunyikanmu, Aleyna. Ini tentang melindungimu.” Aleyna menyeringai. “Melindungiku? Dari apa? Dari kenyataan bahwa dunia ini tidak pernah peduli padaku?” Ada keheningan sejenak antara mereka, sebelum Rafael menghela napas. “Kenyataan ini memang keras. Tapi itulah yang harus kita hadapi sekarang. Kau pikir aku menikmati ini? Menggunakan orang yang aku seharusnya bisa hindari?” Aleyna menatapnya, merasakan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia tidak tahu apakah itu untuk menenangkan dirinya atau sekadar menciptakan alasan untuk bertahan. “Tapi kita terperangkap di dalamnya,” lanjut Rafael, suara menjadi lebih dalam. “Kau dan aku, sama-sama. Dan kadang, untuk bertahan hidup, kita harus membuat pilihan yang sulit.” Mata mereka bertemu, dan dalam keheningan yang terasa tegang, Aleyna merasa seolah ada sesuatu yang mulai bergeser. Ada sesuatu dalam diri Rafael yang tidak bisa ia pahami, tapi sesuatu yang tidak bisa ia hindari. Apa yang dia lihat dalam dirinya? Kenapa ia merasa seolah ada dua sisi dari pria ini—satu yang keras dan tak kenal ampun, dan satu yang... rapuh? “Aku tidak suka dilindungi,” kata Aleyna akhirnya, memecah keheningan. “Aku bisa bertahan sendiri.” Rafael mengangkat alis, tidak menganggap kata-kata Aleyna sebagai ancaman, namun sebagai kenyataan yang pahit. “Aku tahu. Tapi kadang bertahan bukan berarti harus melawan semuanya sendirian. Terkadang, kau harus menerima bantuan, bahkan dari orang yang tidak ingin kau percayai.” “Dan kau ingin aku percaya padamu?” Aleyna memandangnya dengan tatapan tajam. “Kau pikir itu mudah?” Rafael menatapnya dengan mata yang seakan bisa menembus kedalaman hatinya. “Aku tahu, Aleyna. Tapi percayalah, aku tidak punya banyak pilihan. Aku hanya bisa berharap kita masih punya waktu sebelum semuanya hancur.” Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Aleyna merasa gelisah, seolah kata-kata itu bukan sekadar peringatan. Mereka berada di tepi jurang, dan tidak ada yang bisa memastikan siapa yang akan bertahan hidup, siapa yang akan jatuh. “Aku tidak tahu siapa yang lebih berbahaya antara kita berdua, Rafael,” ujar Aleyna, hampir berbisik. “Kau yang mengendalikan dunia ini, atau aku yang bisa menghancurkannya.” Rafael hanya terdiam, menatapnya dalam-dalam. “Mungkin kita berdua berbahaya. Tapi kadang, dua ancaman bisa menciptakan sesuatu yang lebih kuat.” Aleyna merasakan ketegangan itu, seperti benang tipis yang menghubungkan mereka berdua. Tapi dia tidak bisa membiarkan dirinya larut dalam permainan ini. Dia harus kuat, meskipun itu berarti bertahan di dunia yang penuh kebohongan dan kekuasaan. Dan begitu pintu ruangan itu ditutup oleh Rafael, ia tahu—perang ini belum berakhir. Bahkan, baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN