Luka yang Tak Terucapkan

1073 Kata
Langit malam kota Milan memayungi sunyi yang menggigit. Aleyna duduk di tepi jendela kamarnya di mansion De Luca, memandangi kerlip lampu dari kejauhan. Hatinya dipenuhi badai. Sudah tiga hari sejak insiden penembakan di gudang pelabuhan. Tiga hari sejak Rafael menariknya dari peluru maut dengan tubuhnya sendiri. Luka tembak di bahu Rafael memang tidak membahayakan nyawanya, tapi luka di hati Aleyna jauh lebih dalam. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Rafael, sosok mafia yang ditakuti, rela berdarah demi melindunginya. Ia tidak tahu apakah itu cinta… atau sekadar bagian dari taktik Rafael untuk melemahkannya. Pintu kamar diketuk pelan. Sebelum Aleyna menjawab, pintu sudah terbuka. Rafael berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja hitam yang membingkai tubuh tegapnya. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tetap tajam. "Kau belum tidur," gumamnya pelan. Aleyna tak menjawab. Rafael melangkah masuk, duduk di sisi tempat tidur. Keheningan menyelimuti mereka. “Aku ingin bicara,” katanya akhirnya. Aleyna mengalihkan pandangan. “Tentang apa? Tentang nyawamu yang nyaris hilang karena aku? Atau tentang betapa absurdnya semua ini?” Rafael menatap lurus ke arah Aleyna. "Tentang alasan kenapa aku melindungimu." Suasana kamar terasa semakin sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar, seperti menghitung detik kejujuran yang tertunda. "Aku bukan orang baik, Aleyna. Dunia ini kotor. Aku berdarah karena setiap keputusan yang kuambil. Tapi... sejak kau masuk ke hidupku, segalanya berubah. Bukan karena kelemahan. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku ingin melindungi sesuatu bukan karena kuasa... tapi karena rasa." Aleyna menahan napas. “Rasa? Jangan bermain-main dengan kata itu, Rafael. Aku tidak tahu apakah kau tahu apa itu cinta.” Rafael berdiri dan perlahan mendekatinya. Ia meraih tangan Aleyna yang dingin. “Mungkin aku belum tahu. Tapi aku ingin belajar, bersamamu.” Tepat saat Aleyna hendak menjawab, suara ledakan terdengar dari luar. Jendela bergetar. Lampu padam. Rafael langsung berdiri dan menarik pistol di balik pinggang. “Tetap di sini! Jangan keluar sampai aku kembali!” “Apa yang terjadi?!” “Villa ini diserang.” Darah Aleyna seolah membeku. Sekarang dia benar-benar masuk ke dunia Rafael—dunia yang tak mengenal damai. Namun di tengah kekacauan itu, satu hal menjadi jelas baginya: hatinya tak bisa lagi membohongi diri. Dia peduli pada Rafael… lebih dari yang seharusnya. --- Aleyna berdiri terpaku. Suara tembakan menggema dari halaman depan. Cahaya kilat dari peluru menembus malam gelap, membuat suasana seperti neraka terbuka di depan mata. Langkah kaki terdengar tergesa di koridor. Aleyna tahu, dia seharusnya tetap di dalam. Tapi hatinya berontak. Ia membuka pintu perlahan dan melangkah ke luar, menahan napas. “Nonna Aleyna, kembali ke kamar! Ini berbahaya!” teriak salah satu bodyguard Rafael. Namun ia tak menghiraukannya. Sementara itu, Rafael sedang bertarung di luar. Darah mengalir dari lengannya yang belum sepenuhnya pulih, tapi sorot matanya tetap buas. Musuh datang tak dikenal, bersenjata lengkap. Ini bukan serangan biasa. Mereka tahu celah villa. Mereka tahu kapan harus menyerang. “Pengkhianat,” gumam Rafael, menyadari sesuatu. “Ini kerjaan orang dalam…” Sebuah bayangan berlari di belakangnya. Sebelum ia bisa menoleh, sebuah peluru hampir menghantamnya—kalau saja tidak dicegat oleh suara tembakan lain. DOR! Aleyna berdiri dengan tangan gemetar, pistol kecil di tangannya masih berasap. “Aku bilang, aku nggak mau hanya jadi penonton dalam hidupku sendiri.” Rafael memandangnya, tercengang. Dalam kekacauan, ada sesuatu yang terasa damai—karena Aleyna ada di sisinya. “Tetap di belakangku. Jangan jauh dariku,” Rafael memerintah. Pertempuran berlangsung cepat. Tiga dari lima penyerang tewas. Dua lainnya kabur ke dalam kegelapan. Begitu situasi reda, Rafael memeriksa keamanan villa dan langsung memanggil tim investigasi. Tapi pikirannya tetap tertuju pada satu hal: siapa yang membocorkan informasi soal jadwal dan lokasi mereka? Di ruang tengah, Aleyna duduk dengan wajah pucat. Tangannya masih bergetar. Rafael menghampirinya, menyingkirkan pistol dari tangan Aleyna dan menggenggam jemarinya. “Ini bukan dunia yang pantas untukmu,” katanya lirih. “Terlambat. Aku sudah terlibat,” balas Aleyna. “Dan aku... tidak menyesal.” Rafael menarik napas panjang. “Kau harus tahu. Dunia ini bukan hanya soal cinta dan perlindungan. Ini dunia di mana cinta bisa menjadi kelemahan... dan kelemahan bisa membunuh.” Aleyna menatap mata Rafael dalam-dalam. “Kalau begitu, biarkan aku jadi kelemahanmu. Setidaknya kau masih manusia.” Untuk pertama kalinya, Rafael tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menarik Aleyna dalam pelukannya, memeluknya seolah dunia di luar bisa runtuh kapan saja. Karena memang begitu adanya. Dan di malam penuh darah itu, untuk pertama kalinya juga, dua hati dari dunia yang bertolak belakang mulai menyatu. --- Beberapa jam setelah serangan itu, villa De Luca masih dipenuhi petugas Rafael. Jejak darah dibersihkan, mayat dibawa pergi, dan sisa-sisa peluru dikumpulkan sebagai bukti. Rafael duduk di ruang kerjanya dengan wajah kelam, sementara Aleyna duduk di sofa, tubuhnya dibalut selimut hangat. “Siapa mereka sebenarnya?” tanya Aleyna, memecah keheningan yang mencekam. Rafael menatapnya. Mata itu penuh amarah dan kesedihan. “Orang-orang yang sudah lama menunggu aku lengah. Tapi kali ini berbeda… Mereka masuk ke rumahku. Mereka nyaris menyentuhmu.” “Jadi kau pikir ini soal aku?” “Ini pasti soal kau juga. Sejak kau muncul, semua musuhku seperti mencium celah.” Aleyna menggigit bibir. “Kalau aku memang jadi bebanmu, Rafael, katakan saja. Aku bisa pergi.” Rafael mendekat, menarik dagu Aleyna agar menatap langsung ke matanya. “Jangan pernah bilang hal itu lagi. Aku lebih memilih kehilangan segalanya... daripada kehilanganmu.” Aleyna menatap Rafael tanpa berkedip. Sorot matanya melunak, tapi pertahanannya belum sepenuhnya runtuh. “Rafael… aku takut. Bukan cuma karena peluru atau kematian. Tapi takut… kalau semua ini hanya ilusi. Kalau perhatianmu ini cuma karena kau ingin aku tunduk.” “Aku tidak ingin kau tunduk,” bisiknya, hampir seperti doa. “Aku hanya ingin kau ada.” Perkataan itu merobohkan tembok yang Aleyna bangun selama ini. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Rafael memeluknya, membiarkan tubuh gadis itu bergetar dalam dekapannya. Hangat. Terlindungi. Tapi di balik kehangatan itu, ada bahaya yang terus mengintai. Dari balik layar monitor pengawasan, salah satu orang kepercayaan Rafael mengamati rekaman CCTV malam itu. Matanya menajam saat melihat sesuatu yang mencurigakan—seseorang dari dalam mansion yang membuka jalur rahasia untuk para penyerang. Nama si pengkhianat segera terungkap. Dan saat informasi itu dibisikkan ke telinga Rafael, tatapan lelaki itu berubah dingin. “Bunuh dia. Malam ini juga.” Aleyna yang duduk tak jauh darinya, menatap Rafael dengan campuran ketakutan dan kesadaran. Ia baru benar-benar mengerti… bahwa mencintai Rafael berarti juga mencintai kegelapan yang menyelimutinya. Dan di malam itu, cinta mereka lahir... dalam pelukan darah dan pengkhianatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN