Pagi itu datang tanpa damai. Langit Milan berwarna kelabu, seolah mengerti bahwa darah telah tumpah malam sebelumnya. Suasana villa De Luca pun tak jauh berbeda—hening, tapi penuh tekanan.
Aleyna duduk di balkon lantai dua, mengenakan sweater abu-abu milik Rafael. Aroma tubuh pria itu masih menempel di serat kain, membuat hatinya terasa aneh. Antara nyaman... dan terikat.
Pintu balkon terbuka perlahan. Rafael muncul, dengan rambut sedikit basah dan luka di pipi yang belum sepenuhnya kering. Ia membawa dua cangkir kopi.
“Untuk perempuan yang membuat dunia mafia terguncang,” katanya, menyerahkan satu cangkir.
Aleyna tersenyum tipis. “Aku tidak tahu apakah itu pujian atau kutukan.”
Rafael duduk di sampingnya. “Itu peringatan... karena sekarang kau adalah kelemahanku, Aleyna.”
Kata-kata itu menusuk. Aleyna menatap pria di sampingnya—dingin, berbahaya, tapi juga... begitu tulus saat bersamanya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana bersikap,” gumamnya. “Aku tidak pernah jatuh cinta dengan pria yang bisa memerintahkan pembunuhan sambil menyeruput kopi.”
Rafael tertawa kecil. “Dan aku tidak pernah jatuh cinta pada perempuan yang berani menembak musuh dengan tangan gemetar.”
Mereka saling diam untuk beberapa detik. Lalu Rafael berkata, “Aku ingin kau pergi dari sini.”
Aleyna menoleh cepat. “Apa maksudmu?”
“Aku akan kirim kau ke tempat yang lebih aman, sampai aku selesaikan pengkhianatan ini. Aku tidak akan biarkan mereka menyentuhmu lagi.”
“Dan bagaimana denganmu?” suara Aleyna bergetar. “Aku sudah terlalu jauh masuk, Rafael. Aku tidak bisa berpura-pura hidup normal lagi.”
Rafael menggenggam tangan Aleyna. “Kalau kau tinggal, maka dunia ini akan terus menarikmu ke dalam. Tidak ada jaminan kau akan tetap hidup.”
Aleyna menarik napas panjang. “Kalau mati bersamamu, mungkin aku akan menerimanya lebih mudah... daripada hidup tanpamu.”
Mata Rafael menegang. Tak ada yang bisa dikatakannya. Ia hanya menarik Aleyna dalam pelukan, mencium puncak kepalanya dengan lembut.
Namun di sudut lain villa itu, seorang pria dengan jas hitam memasukkan selembar foto ke dalam amplop coklat. Wajah di dalam foto itu adalah Aleyna.
Ia menyerahkannya pada seseorang di balik layar komputer. “Target berikutnya. Rafael terlalu lengah karenanya. Kita harus bertindak sebelum dia semakin lemah.”
---
Sementara cinta mulai tumbuh di tengah kekacauan, di balik bayang-bayang… bahaya yang lebih besar sedang menyusun langkah.
Aleyna belum tahu, bahwa keputusan Rafael untuk melindunginya... akan membuka perang yang tak bisa lagi dihindari.
---
Aleyna menghabiskan kopinya perlahan. Ia tahu Rafael sedang menimbang sesuatu yang besar. Bukan hanya tentang pengkhianatan yang baru saja terjadi, tapi juga tentang dirinya—wanita biasa yang terjebak dalam dunia penuh darah ini.
“Kau yakin ingin mengirimku pergi?” tanya Aleyna pelan, menatap lurus ke mata Rafael.
Rafael tidak langsung menjawab. Ia tampak bergumul dengan pikirannya sendiri.
“Aku yakin... aku tak akan pernah memaafkan diriku kalau kau terluka karena aku,” katanya akhirnya. “Tapi aku juga sadar, memisahkanmu dariku sama saja dengan mengiris jantungku sendiri.”
Aleyna terdiam. Kata-kata itu lebih menyakitkan dari peluru mana pun.
“Aku nggak butuh tempat aman, Rafael. Aku butuh kau tetap jujur padaku,” katanya dengan suara nyaris berbisik. “Kalau kau ingin aku pergi karena kau takut aku mengganggu rencanamu, katakan. Tapi kalau ini karena kau ingin melindungiku, biarkan aku memilih risikonya.”
Rafael menarik napas panjang. Lalu ia menyentuh wajah Aleyna, menelusuri pipinya dengan lembut.
“Kalau begitu... bertahanlah di sisiku. Tapi mulai hari ini, kau bukan hanya seorang wanita biasa. Kau adalah milik Rafael Adriano De Luca. Dan itu artinya—kau juga jadi musuh semua orang yang ingin menjatuhkanku.”
Aleyna menggenggam tangan Rafael, seolah menjanjikan sesuatu yang lebih dari sekadar kesetiaan.
Di ruangan tersembunyi villa itu, Raphael mengadakan pertemuan rahasia dengan dua tangan kanannya. Di meja besar, terpampang nama-nama keluarga mafia yang diduga terlibat dalam penyerangan.
“De Santis,” gumam salah satu orang kepercayaannya. “Mereka punya koneksi dengan salah satu mantan anak buahmu yang kau pecat dua tahun lalu.”
“Bocah itu?” Rafael menyipitkan mata. “Aku tahu dia tak akan tinggal diam setelah keluarganya bangkrut karena keputusan aku.”
“Kita bisa bunuh dia malam ini juga.”
Rafael menggeleng. “Tidak. Kita tarik dia ke dalam perang yang tak bisa dia menangkan. Aku ingin dia tahu rasa takut. Aku ingin dia tahu—apa yang terjadi ketika seseorang menyentuh sesuatu yang menjadi milikku.”
Dan di luar ruangan itu, di balik pintu tertutup… Aleyna berdiri. Tak sengaja mendengar semuanya.
Hatinya mencelos.
‘Milikku.’
Kata itu menusuk, lebih dalam dari peluru apa pun. Apakah Rafael benar-benar mencintainya? Atau hanya ingin memilikinya sebagai bagian dari kekuasaan?
Namun sebelum Aleyna bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan, ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal:
> “Jika kau ingin tahu siapa Rafael sebenarnya... temui aku malam ini. Sendirian. Jangan beri tahu siapa pun.”
Aleyna menatap layar ponsel itu lama.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Karena di balik cinta yang tumbuh, kebenaran mulai menunjukkan taringnya. Dan terkadang… cinta bukan sekadar perasaan. Tapi perang antara hati dan kenyataan.
---
Malam itu turun pelan-pelan, seperti bayangan yang merayap tanpa suara.
Aleyna duduk di tempat tidurnya, memandangi pesan misterius di layar ponselnya. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, menancap lebih tajam dari apa pun.
> “Jika kau ingin tahu siapa Rafael sebenarnya... temui aku malam ini. Sendirian. Jangan beri tahu siapa pun.”
Tangannya gemetar. Ia tahu, bisa jadi ini jebakan. Tapi hatinya... terlalu dipenuhi pertanyaan.
‘Siapa Rafael sebenarnya?’
Apakah pria itu benar-benar mencintainya? Atau hanya menggunakannya sebagai alat, bagian dari permainan kekuasaan?
Ia berdiri dan menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak lelah, matanya menyimpan ketakutan—tapi juga tekad.
Dengan hati-hati, Aleyna mengambil hoodie hitam dari lemari dan menyelipkan ponsel serta pisau lipat kecil ke dalam saku.
Ia keluar dari kamar, berjalan pelan menyusuri koridor gelap villa. Para penjaga tampak sibuk memeriksa perimeter, sebagian besar area pengamanan terfokus ke sisi belakang. Ia menggunakan celah itu.
Satu langkah... dua langkah... sampai akhirnya ia berhasil melewati gerbang samping.
Udara malam menyambut dengan dingin menusuk. Sebuah mobil hitam tanpa plat menunggu di ujung jalan kecil. Kaca jendelanya sedikit terbuka, memperlihatkan wajah seorang pria asing dengan bekas luka di pelipis.
“Kau Aleyna?”
Aleyna mengangguk. “Kau yang kirim pesan?”
Pria itu membuka pintu. “Masuk. Aku tidak punya banyak waktu. Dan kalau Rafael tahu aku bicara denganmu... aku pasti mati malam ini.”
Aleyna masuk dengan hati waspada.
Mobil melaju perlahan, meninggalkan kawasan villa. Suasana di dalam sunyi, sampai akhirnya pria itu membuka mulut.
“Kau pikir Rafael mencintaimu?”
Aleyna menatapnya tajam. “Apa maksudmu?”
“Dia pria berbahaya, Aleyna. Kau hanya bagian dari rencananya. Rafael tak pernah benar-benar mencintai siapa pun. Semua wanita di hidupnya berakhir dengan cara yang sama—hilang. Atau... mati.”
Jantung Aleyna mencelos.
“Siapa kau sebenarnya?”
Pria itu menghela napas. “Namaku Lorenzo. Dulu aku bagian dari tim Rafael. Tapi aku tahu terlalu banyak. Dan saat aku menghilang, hanya satu alasannya—karena aku tahu rahasia besar keluarga De Luca.”
“Rahasia apa?”
Lorenzo menatap Aleyna, serius.
“Rafael punya sisi gelap yang bahkan musuh-musuhnya takut untuk sentuh. Dia menyimpan satu hal yang bisa menjatuhkan semua mafia di Eropa. Dan jika kau tetap di sisinya... pada akhirnya, kau juga akan jadi target.”
Aleyna menelan ludah. Kepalanya terasa berat. Tapi sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut—
BRAK!
Sebuah mobil lain memepet mereka dari samping. Suara peluru menghantam kaca belakang.
“Berpegangan!” teriak Lorenzo sambil memutar kemudi.
Aleyna menjerit. Mobil melaju kencang, menembus malam penuh bahaya.
Satu peluru lagi menembus kaca depan. Lorenzo berhasil menghindari tembakan berikutnya, tapi bahunya tertembus peluru. Ia meringis, darah mulai menetes dari lengan jaketnya.
“Rafael tahu…” gumamnya. “Mereka sudah menemukanku…”
Aleyna menunduk, gemetar. Suara dentuman tembakan kini semakin dekat. Tapi di sela-sela kekacauan itu… ia tahu satu hal:
Malam ini bukan tentang benar atau salah.
Malam ini tentang pilihan.
Tentang cinta... dan siapa yang bisa dipercaya di antara bayang-bayang kekuasaan.