Bab 7

2205 Kata
Satu minggu lamanya Callie dan Yasta berada di London. Hanya tiga hari waktu itu tapi satu minggu dia ada di sana. Yasta berhasil mendengus kesal akan hal itu, tapi ia senang karena Callie mengajaknya ke miami, dan kita jalan-jalan. Yasts juga sempat mempertimbangkan menatap hotel yang akan di bangun di pinggir pantai. Cukup indah dan mewah, mungkin hotel itu akan digunakan untuk pernikahan saja, mengingat indahnya. Ya ternyata Barcha membuat pertemuan di sana tentang hotel yang akan dibuat. Yasta dan Callie merengut dia sepertinya memang pernah bertemu dengan Kenant tapi dimana. Secara dandanan dan penampilan terlihat dewasa, dan berbeda. Tapi ia tidak memperdulikan itu. Walau Callie sedang sakit dan masih dalam masa perbaikan saat itu, tetapi ia harus terbang bersama Miami bersama Yasta. Setelah urusan mereka selesai hari ini mereka pun kembali ke ibu kota. Yasta yang terlihat saat ini. Mungkin dia tidak pernah perjalanan jauh, jadi ini sama dia langsung capek. Sedangkan Callie malah menertawani kembarannya itu. Dia seperti tidak pernah ke luar negeri dan baru saja seperti ini dia sudah menerima. "Oh Tuhan ku cinta Adam Levin, aku sayang Justin Bieber, ku rindu Kriss Wu, inginkan Shwam Mendes". Teriak Yasta sambil bernyanyi aneh. Callie menjitak kepala Yasta yang bernyanyi ngelantur itu dan tertawa. Di ajak keluar negeri sekali langsung gila. Efek otak ketinggalan kali ya jadi begini. "Belajar gila eh setelah tau luar negeri." kekeh Callie dan membuat Yasta mendengus sebal. "Sialan, bukan gitu gue kan udah lama gak kesana. Malahan perusahaan yang di Paris aja Daddy yang nanganin." jelas Yasta. Callir tersenyum, apa pun yang berhubungan dengan luar negeri, mengapa harus Nathan yang perg? Callie tahu adiknya ini belum dewa, dan belum siap memegang perusahaan. Apa Yasta gak terima kasih sama Nathan, dia udah tua, udah lama dia libur kerja. "Lo itu apa-apa Daddy, kapan lo punya tanggung jawan buat hidup lo sendiri kalau lo apa-apa Daddy terus? Gak selamanya lo hidup tergantung sama Daddy" ucap Callie menatap Yasta "Lo kan tau kalau gue belum siap Lie, gue gak kayak lo, malah gue terbebani dengan ini semua." jawab Yasts jujur. Ya selama ini dia selalu terbebani dengan hal pekerjaan. Dia harus sekolah, dan harus disetujui. Yasta merasakan jika dia tidak bisa merasakan masa lalu dengan indah. Tidak seperti yang lain, jika yang lain akan sibuk bermain, nongkrong atau apa pun. Yasta malah sibuk bekerja dan sekolah. "Dan apa lo tau selama gue hidup di London kayak apa? Lebih keras dari lo Yas. Harusnya lo bersyukur dalam keadaan ini Ayah masih mau ngebantu lo, sedangkan gue? Mati-matian gue kerja di negara orang selama satu tahun dan baru megang perusahaan baru dua tahun. " jelas Callie. Yasts menoleh kaget, dia malah sampai melonggo menatap Callie. Mana mungkin dia bekerja di tempat orang sementara Daddy sama memiliki banyak perusahaan. Seingat Yasta waktu Callir berangkat dia pergi 15 tahun. Itu tandanya saat Callie sampai di London dia magang dulu di perusahaan asing? Terus baru megang perusahaan? Buat apa? "Jadi selama ini lo gak kerja di perusahaan Daddy?" tanya Yasta yang penasaran. Callie mengelengkan agar pasti dan tersenyum. Dia masih ingat pertana kali dia datang ke London. Dia langsung di antar ke rumah kecil yang sederhana danpapaun minimalis. Dia bekerja di bawah naungan Weadge Crop selama satu tahun untuk melihat mampu atau tidaknya, dan barulah dia memegang perusahaan dan tinggal di apartemen. "Selama satu tahun gue di pekerjakan di perusahaan asing di sana sama ayah, tinggal juga di rumah kecil. Alasannya sederhana, biar gue bisa nanggung semua beban perusahaan. Satu tahun gue kerja keras, gue gak kerja gue gak makan. Sekolah aja gue home schooling itu udah masuk SMA, dsn gue udah pindah ke Apartemen. Lo tau Ayah gak pernah ngirim uang jajan buat gue, bayangin aja hidup di negara orang dengan tanpa uang sepeserpun. Kerja gue lakuin. Kerja di perusahaan gaji gak banya, makan, deposito kamar kos, terus belum lagi keperluan lainnya. Gue sampai kerja paruh waktu cuci piring di sana buat bertahan hidup. " "Gue butuh kerja sebaik mungkin. Banyak banget geng caci maki, ngrendahin gue. Intinya kita baik, ya orang lain juga baik, tapi ada juga yang songong dan sombong juga di sana." lanjut Callie. "Christine?" tanya Yasta bingung. Jika Callie hidup menderita selama satu tahun, lalu apa gunanya Christine di ssnakalau gak buat bantu Callie. "Selama datu tahun dia yang pegang perusahaan. Dia gak bisa bantu gue juga, jadi selama satu tahun kita hidup kayak orang gak kenal. Gue berjuang sendiri, apa-apa sendiri sampai gue siap nerima beban perusahaan." jelas Callie "Jadi, jangan manfaatkan orang lain buat keperluan lo. Apa lagi itu tanggung jawab lo. Lagian ini udah nasi kuta kayak gini jadi terima aja konsekuensinya. Ayah udah tua dan dia butuh pemulihan dan liburan." kekeh Callie. Mata Yasts mendelik sempurna. Dia pun memukul Callie dengan kesal. Ngomong-ngomong soal liburan Yasta lama juga gak pernah liburan. Baru kali ini pergi ke luar negeri setelah sekian lamanya. "Awas mata lepas." **** Callyasta Aku mengedarkan pandanganku Ternyata aku sudah sampai di rumah. Pantesan saja kembaran ku itu keluar dengan cepat sudah sampai di rumah toh. Aku pun keluar dengan cepat menuju ruang tamu. Ternyata di sana sudah ada Daddy dan Mommy tak lupa juga dengan Callie yang menunjukkan proyek hotelnya pada Daddy. Aku menatap Daddy yang tersenyum puas dengan hasil proyek Callie di sini. Ya Callie bekerja dengan baik di sini. Bahkan Hotel yang di bangun juga gak nanggung-nanggung makanya Ayah puas senang. Aku sedikit menimang terima kasih Callie tadi. Ada benarnya juga ucapan Callie. Apalagi ia tidak memiliki tangung jawab dalam pekerjaannya, aku selalu mengandalkan Ayah dalam hal apapun. Dan aku belum dewasa karena takut masalah perusahaan yang jauh lebih memusingkan dari pada hidup. Sementara Callie ia berusaha dan harus merasakan sensara dalam satu tahun di negara orang. Hidup tanpa bantuan, dan harus berjuang sendiri. Harusnya aku bersyukur bukan malah puas. Kalau aku jadi Callir, kita bisa posisi aku di London, mungkin aku sekan Callie juga.  Aku nampak seperti anak kecil yang merengek pada kedua orang tuanya saat masalah melandaku. Aku bajosn tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Dan orang lain lah yang akan menyelesaikan masalahku. Bukannya aku bukan dewasac tapi entah kenapa perilakuku yang seperti anak TK. Berbeda dengan Callie yang dewasa dan cukup tenang. Tapi aku ingat dia itu bandel dulunya, tapi mampu membuat Daddy dan Mommy bangga. "Sayang kamu ngapain di depan pintu situ, ayo masuk." ucap Mommy lembut dan membuatku tersadar dari lamunanku. Aku tersenyum dan duduk di antara Ayah dan Ibu. Aku memeluk Ayah dengan erat, dan Ayah pun memelukku juga. Mungkin mereka bingung dengan perilakuku saat ini. Sering aku manja dengan mereka. Tapi jika masalah peluk begini pasti aku ada maunya. "Kenapa, hmm. Kok tumben banget minta peluk." ucap Nathan lembut. "Daddy maafin ayasta ya. Yasta udah nyusahin Daddy. Yasta udah bebani Daddy selama ini dengan kerjaan Yasta. Yasta gak dewasa ya Daddy. Maafin Yasta, Daddy." ucapku dengan menanggis. Ayah membuka pelukan itu dan menatapku dengan senyum manisnya. Entah lah mendengar ucapan Cakkie tadi buat ku merinding dan Sadar. Jika Ayah harus berlibur. Lihatlah kerutan di coba cukup banyak. "Ayah senang terbebani dengan kamu. Ayah malah senang dengan pekerjaan ini karena Ayah butuh hiburan." ucap Nathan santai dan melirik kembaranku. Ada apa? Pikirku. "Karena kakakmu mengambil alih semua aset perusahaan dan tidak menerima Daddy bekerja. jelasnya. Aku pun menoleh ke arah Callie yang saat ini malah bersenandung ria seakan dia tidak punya masalah sedikitpun. "Jadi ... ngapain Daddy setiap hari ke kantor pusat?" tanyaku heran. Ya hampir setiap hari Daddy ke kantor pusat pulang jam 5 sore. Periksa hari sabtu dan minggu. Aku pikir itu Daddy juga kerja, walau pun kantor putar di pegang oleh Callie. "Memang hanya tanda tangan terus pulang, itu pun kalau ada rapat ayah ikut. Terkadang kakak kamu juga kejam tidak memperbolehkan Ayah ikut rapat. Padahal ayah cukup bertanggung jawab dalam hal ini." jelas Nathan dan membuat ku tertawa. "Sudah lebih baik Ayah pergi ke Kakek Swiss dan Nenek sangat merindukan kalian berdua." sahut Callie tapi tatapannya tertuju pada tablet. Kujaukan itu pasti pekerjaannya itu di miami. Entah lah dalam hal seperti ini dia masih sibum bekerja. Sementara saya memiliki waktu untuk keluarga dan teman. Sedangkan dia? Entah lah ... "Boleh juga ide kamu, Callie." celetuk Thania, Mommyku. Mommy dan Daddy pun tertawa, aku pun ikut tertawa bersama dengan mereka. Dan kali ini aku mengucap terima kasih kepada Callie yang sudah membuatku tersadar dengan sikapku selama ini. Setidaknya aku harus bisa membuktikan jika aku bisa bertanggung jawab dalam hal apapun, tanpa mengandalkan Daddy. Aku akan banyak belajar Dari Callie akan hal ini. Agar aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan tenang, tanpa emosi. **** "Hoam." Aku masih  mengantuk. Sungguh mengantuk semalam aku begadang dengan hasil laporan kantorku. Ya kantor cabang yang aku tangani bukan kantor pusat. Aku memiliki kantor pusat tapi di Singapura, di dana juga sudah ada yang menangani sedsngakn aku tinggal beres saja tanpa turun tangan. Kali ini sekolah pulang pagi, karena sebentar lagi akan ujian dan semua siswa di haruskan belajar. Mengingat TO ke dua tinggal beberapa minggu lagi. Aku menghela nafas saat menatap Callie kembran ku berdandan seperti dirinya akan pergi holiday. Tapi nyatanya dia akan pergi ke kantor pusat untuk kunjungan mungkin. Aku menatap dia memakai dress pred body dengan memakai sepatu. Apa dia gila seorang CEO memakai sepatu saat pergi kekantor. Yang ada sepatu untuk sekolah, tapi penampilannyan cukup keren, mengingat dia suka sekali mengoleksi sepatu. "Callie seriusan lo pakek beginian?" tanyaku memastikan . Dia hanya mendengus kesal dan berjalan santai memasuki kantor pusat. Ya kali ini aku dan Callie mendapat telpon dari kantor pusat dan mengharuskan aku dan Callie datang ke kantor. Semua orang tersenyum ke arahku dan menatap bingung Callie kembaranku. Aku menahan tawaku saat ini juga saat semua karyawan menatap Callie heran. Mereka belum pernah bertemu kecuali di televisi atau majalah model mungkin. Aku memang berjalan di belakangnya tapi saat di depan lift aku berdiri di dekat kembaran ku. Biar orang lain tambah bingung. Saat pintu terbuka aku sempat shock menatap lelaki yang sepertinya ku kenal tapi dandanannya berbeda. Dia tersenyum ke arah ku. Aku pun masuk ke dalam lift dan menatap dia yang keluar. tapi sebelum pintu lift itu tertutup aku menatap lelaki itu menoleh ke arah aku. Senyum ya seperti Elano. Tapi apa iya Elano ke sini? Tapi untuk apa? Ya setelah hujan-hujan beberapa hari lalu. Aku dan Elano bertukar nomor ponsel, id line, bbm. Apapun yang berhubungan dengan sosmed kita tukeran. Intinya kita saling mengenal. Kayaknya Elano tapi iya engak sih. Terus ngapain coba ke sini dia nya?. Gerutuku dalam hati. Aku memasuki ruang rapat di sana sudah ada Daddy dan beberapa collage bisnis Daddy. Aku tersenyum saat Daddy berdiri dan tersenyum hangat padaku. Ternyata bukan kunjungan, mungkin ini rasat besar mengingat banyak orang di sini. Dan lagi, ini ruang meeting yang khusus. "Perkenalkan ini anak saya, Callia dan Callyasta." ucapnya memperkenalkan diriku dan kembaran ku Aku hanys tersenyum begitu juga dengan Callie yang ikut tersenyum dan sedikit membungkuk. Mungkin kalau di Luar Negeri itu hal biasa, tapi di sini mungkin agak aneh juga. "Putri Anda sangat cantik Mr.Nathan." ucap lelaki paruh baya seumurn Daddy tapi masih terlihat tampan walau dengan rambut sedikit beruban. Itu rambut kalau di warnai biru pasti bagus sekali. Pikirku. "Bilang saja kau menginginkan salah satu di antaranya Barcha, karena kau tidak memiliki anak perempuan." ejek lelaki satunya dan membuat semua di ruangan ini tertawa . Bentar-bentar? Barcha? Jadi dia ini Barcha? Apa Kenant juga ada di sini anaknya? Alu sedikit curiga sih dengan nama Kenant yang sama seperti nama Kent photografer itu. Walau namanya sama tapi mukanya kayaknya gak asing. "Mentang-mentang kau memiliki anak perempuan  tapi sayang dia jauh Daniels bahkan dalam satu tahun kau tidak bisa menemuinya."  ejek Barcha dan membuat semu orang tertawa . Haa Daniels? Jadi dia ini Daniels dsn Batcah orang gang terkenal kaya se-ASEAN no satu dan dua? Oh Ya Tuhan. Aku baru saja  melihat mereka berdua di sini. Sebelumnya mana pernah, mungkin yang dering bertemu itu Daddy. "Maaf saat terlambat." ucap seseorang. Suara berat itu membuat ku menoleh dan menatap pria di lift tadi. Dua pria bertubuh tegap itu memasuki ruangan dan membuat semua orang menatap mereka kagum. "Nathan ini anakku, Kenant Aprilio Barcha" ucap Mr.Barcha dan tersenyum ke arah Daddy. "Senang bertemu denganmu Mr.Nathan." ucapnya pada Daddy dan membuat Daddy tersenyum. Sudah di pastikan jika Daddy akan mengenalkan kita. Rapat seperti ini biasanya ajang perjodohan, yang punya anak laki-laki atau perempuan selalu di bawa dan di perkenalkan pada semuanya. Kalau cocok ya nikah. "Ini anakku, Callia dan Callyasta." ucap Daddy memperkenalkan ku dan juga Callie. Aku tersenyum sedangkan Callie memasang wajah datarnya dam sedikit tersenyum miring. Kita sudah tahu siapa Kenant di sini. Aku sedikit asing dengan nama Kenant seperti pernah mendengar tapi di mana. Setauku jika kent aku mengetauinya sepertinya tidak mungkin. Ah iya ingat Kenant rekan bisnis Caklie di Miami. Hampir saja lupa akan hal itu. Padahal beberapa hari lali bertemu. "Dan ini anak keduaku Nathan, Elano Daniels" ucap Daniels. Aku membulatkan mataku saat nama Elano tersebut di bibirnya. Sedangkan Daddy tersenyum dan menjabat tangan Elano seperti menjabat tangan Kenant. Setelah itu aku menatap Elano tajam. Sedangkan dia malah mengedipkan satu matanya ke arah ku. Benar-benar jika ini Elano, jadi selama ini dia bohong sama aku. Rapat pun dimulai tetapi aku diam saja tanpa memperdulikan tatapan aneh dari Elano. Dia bilang hari ini dia ngampus tapi malah di sini. Meminta dia membohongi diriku tentang statusnya. Ponselku berdering saat di sela-sela rapat. Aku mengambil ponsel itu dan mulai mengobrol dari Eano. Maaf , j ika aku membohongimu . Sebuah ku can Jelaskan Jangan marah Padaku. Aku hanya bisa membaca dan memasukkan ponselku pada sakuku dan melihat monitor yang menampilkan semua angka apa yang aku juga tidak mengerti. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN