Ch 4. KENYATAAN PAHIT

1588 Kata
“Kijang satu kijang dua, lapor! Ada kecelakaan di area Mampang, dua orang tertabrak dan situasi kritis, dan ada satu lagi ibu hamil pendarahan!” Seorang polisi yang tengah melaporkan situasi kacau di depannya pada rekannya. Tak lama suara sirine mobil dan motor polisi meraung menulikan telinga, kerumunan massa semakin memadati TKP. Selentingan kalimat pedas dari pengguna jalan yang bersahutan menghujatnya semakin menohok hati Ivy. “Gue gak tahu harus gimana lagi, Cher! This is too much! Kenapa harus terjadi sama gue di hari ini malam ini?! Hiks!” “Oke, gue ngerti! Sekarang lu di mana dan sama siapa?” “Gue sekarang lagi nungguin ambulan! Cepetan kesini please temenin gue, please!” Panjang lebar, Ivy mencurahkan isi hatinya pada Cheryl sambil tak henti terisak. Cheryl adalah sahabat dekat sekaligus manajernya selama ini. Ivy sendiri belum berani memberitahukan masalah ini pada kedua orang tuanya. Dia tak bisa membayangkan reaksi Mami dan Papinya yang mungkin hanya akan membuatnya semakin frustrasi. Tak jauh darinya tampak dua orang polisi lalu lintas tampak sibuk mengatur massa agar menjauh dari TKP. “Aargh... sakiit!” erang Samsul dengan suara tercekat, tubuh kurus nan mungilnya mulai menggeliat. “Woi, yang kecil selamat!” “Oh, Alhamdulillah!” ucapan syukur terdengar riuh rendah, perasaan Ivy yang gundah gulana sedikit tenang karenanya. “Ka-kamu gak kenapa-napa, dek?”tanya Ivy dengan nada panik. Matanya yang masih basah berkaca-kaca penuh harap. Satu tangannya melap darah yang menempel di dahi Samsul dengan hati-hati. Samsul refleks meringis sebelum kemudian matanya terbuka lebar. “Bang? Bang Adam!” Bukannya menjawab pertanyaan Ivy, bocah lelaki yang baru siuman malah tampak kebingungan. Raut wajahnya berubah pucat saat dia melirik sosok yang masih tergeletak di sebelahnya. “BANG ADAM! BANG! Jangan mati Bang! Ucul minta maaf, Ucul janji bakalan jadi anak sholeh demi Abang! Samsul janji mau rajin sekolah, bikin PR biar nanti bisa jadi pejabat, biar kita gak usah terus-terusan melarat. Hiks, HUAAAAA! Bang Adam, bangun Bang, please! Maafin Ucul!” Dalam sekejap bocah itu menangis sejadi-jadinya, tangisannya yang melengking menulikan sekaligus menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya, termasuk Ivy. Suara berisik kerumunan medadak hening dan dramatis, yang terdengar hanya isak tangis dan ratapan Samsul. Sungguh ajaib, bocah kecil bernama Samsul bisa selamat dan hanya mengalami luka ringan, sayangnya Adam pemuda yang menyelamatkannya dari tabrakan masih tak sadarkan diri. Benturan di kepalanya menyebabkan kebocoran dan pendarahan hebat hingga darah segarnya menggenangi jalan. “Wah, jadi itu si Ucul sama Adam?! Kasihan banget si Adam mana masih muda!”celetuk bapak-bapak berjaket hijau khas ojek online yang rupanya mengenal Adam. “Iya, mana anaknya udah ganteng, baek, belum kawin lagi, masih perjaka tingting!” timpal ibu-ibu penjual gorengan ikut menyayangkan. Mendengar bisik-bisik itu, Ivy jadi sedikit penasaran dengan rupa Adam. Namun, melihat warna merah dan bau amis darah segar membuatnya mengurungkan niat. Ivy tak berani melihat keadaan mengenaskan pemuda yang baru ditabraknya. Beberapa saat kemudian ambulan pun datang, dengan sigap tim medis membawa tubuh Adam yang masih tak sadarkan diri dan juga Ningsih yang tak henti menjerit kesakitan ke dalam mobil ambulan. Dengan kawalan motor Polisi, kemacetan malam Jakarta bisa diuraikan hingga akhirnya ambulan sampai dengan selamat ke rumah sakit tujuan. Sesampainya disana, Ivy duduk di ruang tunggu sementara Adam dan juga Ningsih yang masing-masing dibawa ke ruang UGD. Detik jam dinding terdengar begitu keras di telinga Ivy saat dia terduduk di ruang tunggu. Tubuhnya sangat lelah dan perutnya lapar, semenjak sore dia bertemu dengan Ningsih, dia belum sempat makan malam. Bahkan gadis yang terbiasa selalu menjaga penampilan itu sama sekali tak peduli dengan penampilannya yang kacau saat ini. Rambutnya kusut dan makeup di wajahnya sudah luntur karena terus-menerus menangis. “Ivy, sayang kamu gak apa-apa?” tanya Jordan yang tiba-tiba saja datang dari lobby depan. “Aku gak apa-apa, harusnya yang kamu khawatirkan itu Ningsih!” sahut Ivy ketus. Raut wajahnya masam menunjukkan jelas bahwa masih ada amarah “Ivy, please! Tolong kamu juga ngerti posisiku, bagaimana aku bisa percaya sama Ningsih begitu aja dan mengakui jabang bayinya anakku! Soal perwalian itu adalah hal serius! Apa kamu tahu berapa banyak lelaki yang terkena tipu gara-gara masalah ini?” “Kalaupun kamu bukan bapaknya anak dari Ningsih, kelakuan kamu sama cewek-cewek murahan itu udah bikin aku ilfil! Berapa banyak perempuan yang sudah kamu tiduri, huh?” “Ivy...” “Jawab pertanyaanku, berapa orang yang udah kamu tidurin?” “Ivy, please! Kenapa kamu harus tanyakan pertanyaan itu di saat seperti ini? Aku pikir kamu itu smart girl yang open minded dan mau menerimaku apa adanya!” “I am open minded but I still have moral! Jawab aja berapa gak usah ngeles panjang lebar?” Ivy memutar bola matanya sebal, dia tak habis pikir bagaimana bisa Jordan berpikir seperti itu. “I don’t know! Aku gak ingat, setiap manusia gak ada yang sempurna dan pasti pernah khilaf, kamu juga kan? Aku ini udah 28 tahun, apa kamu pikir aku ini perjaka tingting? Itu gak mungkin! So would you please forgive me and move on? Aku janji setelah kejadian ini, aku gak akan main-main lagi. Aku benar-benar serius sama kamu! Hari pernikahan kita sudah di depan mata! Gak mungkin dibatalkan!” “Sorry, Jordan! Dari pernyataan kamu itu sudah jelas kalau kita punya perbedaan prinsip. Kalau kamu menganggap hubungan seks dengan sembarang orang tanpa komitmen adalah hal biasa, well then aku mundur. Konsep kesetiaan sepertinya gak ada dalam prinsip kamu. Aku gak mau ambil resiko menjadi istri kamu hanya untuk mengurusi saat kamu tua dan sakit-sakitan apalagi kalau kena penyakit kelamin menjijikan. Once cheater alwayas cheater!” “Ivy! Dengar! Apa kamu ingat kata pepatah? Jangan memutuskan sesuatu di saat emosi. Kamu akan menyesal nanti!” Jordan berujar dengan kalimat yang terdengar seperti ancaman. “Gak perlu sok bijak nasihati aku, Jordan! Penyesalan terbesarku adalah sudah mengenal kamu dan menghabiskan waktu pacaran sama kamu! Aku pikir kamu adalah lelaki terbaik pilihanku tapi ternyata zonk!” cibir Ivy dengan senyum sarkastik. Jejak tangis di wajahnya masih membekas tapi sudah tidak ada keraguan dari rautnya. “Sekarang sebaiknya kamu tengokin Ningsih, saat ini dia lebih butuh support kamu daripada aku. Mulai detik ini gak usah cari aku dan gak usah peduliin aku lagi!” “Argh, dammit! IVY, DENGAR AKU BERSUMPAH! KAMU PASTI AKAN MENYESAL SUDAH MENCAMPAKKAN AKU!” teriakan emosi Jordan terdengar menggelegar di sepanjang koridor rumah sakit yang sepi. Suaranya seperti singa jantan yang tengah terluka. Ivy memilih utnuk menulikan telinganya, tentu saja dia juga ingin menjerit berteriak meratapi kemalangannya. Selalu saja seperti ini, kenapa setiap lelaki yang dipacarinya tak pernah bisa memegang janji. Kurang apa coba dirinya? Sudah cantik, cerdas dan berasal dari keluarga terpandang dan dikagumi banyak lelaki tetapi tetap saja nasibnya soal percintaan selalu berakhir tragis. Entah kenapa setiap lelaki yang menjadi kekasihnya tak pernah bisa setia, selalu saja tergoda wanita lain? Apakah karena kepribadiannya yang sulit atau prinsip hidupnya yang terlalu naif? Ivy merasa saat ini tengah berada di titik terendahnya, malaupun demikian Ivy berusaha menunjukkan ekspresi tegar, dia tidak ingin terlihat rapuh. Sambil berlinang air mata Ivy mengintip dari jendela menatap bocah laki-laki yang tengah menangis tersedu-sedu memeluk lelaki yang hingga kini masih terbaring di tempat tidur. Adam Satria, dari selentingan kabar yang dia dengar dari orang-orang yang berkerumun semalam dia adalah seorang lelaki pengangguran yang bekerja serabutan. Menurut analisa dokter Adam mengalami patah tulang rusuk dan benturan di kepala yang menyebabkan pendarahan. Mereka telah melakukan operasi ringan untuk menutup luka dikepala, efek kecil Adam bisa mengalami gegar otak namun kemungkinan lainnya dia bisa cacat seumur hidup atau kematian. Hingga saat ini Ivy belum sempat melihat wajahnya namun dalam hati dan pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh rasa bersalah pada sosoknya. Ivy hanya bisa berdoa kemungkinan terburuk tak akan terjadi. Sementara itu di tempat lain Ningsih masih terbaring lemah di tempat tidurnya, dokter dan tim medis baru saja selesai menanganinya. Pendarahan di area intimnya sudah berhenti dan Ningsih merasakan lemas dan kebas di beberapa bagian tubuhnya. “Apa yang terjadi sama saya Dokter? Kenapa perut saya kok kempesan?” “Mohon maaf Ibu Ningsih, untuk menghentikan pendarahan dan mencegah infeksi, demi keselamatan Ibu kami terpaksa mengangkat janin dari rahim ibu.” terang dokter wanita berjas putih dan berkacamata tebal pada Ningsih. Dia menatap wanita muda yang masih terbaring itu dengan raut penuh simpati. “Ta-tapi kenapa dokter?” tanya Ningsih dengan ekspresi kebingungan, air mata mengalir di sela kedua matanya. Dia baru saja terbangun dari efek obat bius dan otak masih kesulitan mencerna apa yang diucapkan sang Dokter. “Janin Ibu yang sudah berumur 4 bulan sudah meninggal di dalam dan tak terselamatkan. Ibu sudah keguguran karena itu tidak ada cara lain selain- “ “Gak mungkin! Bu Dokter bohong kan! Saya gak mau kehilangan bayi saya! Kembalikan bayi saya! KEMBALIKAN!” teriak Ningsih dengan murka. “Tenang bu! Tenang! Ibu masih belum sehat!” sahut para perawat dengan nada panik. Tidak ada seorang pun yang menyangka akan reaksi gadis bertubuh mungil dan berparas lugu itu akan mengamuk. Ningsih, seperti sudah kehilangan akal sehat hingga butuh tiga orang perawat untuk mencegahnya bertindak nekat. Dia seperti sudah kesetanan dan ingin menyerang sang Dokter yang kaget dan juga kebingungan. “Untuk bu dokter bohong sama kamu, Ningsih?” celetuk Jordan keras yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan. “Pa-Pak Jordan!” Wajah Ningsih yang semula merah karena dipenuhi amarah berubah pucat saat menatap lelaki yang kini berdiri di hadapannya. Mereka berdua saling bertatapan dengan ekspresi penuh tanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ningsih bersikeras menjaga kehamilannya yang adalah aib? Dan kenapa juga Jordan datang dengan ekspresi yang begitu tenang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN