“Boleh saya bicara berdua saja dengannya, Bu Dokter?” Kalimat Jordan lebih terdengar seperti perintah daripada sekedar pertanyaan. Kehadirannya dan auranya yang otoriter di dalam ruangan membuat suasana hending dan canggung seketika.
“Oh, baik permisi...” Dokter wanita yang sedari tadi masih terdiam dengan ekspresi syok hanya bisa mengangguk dan tersenyum kikuk. Dia berlalu pergi meninggalkan ruangan ditemani dua perawat.
“Saya heran dengan reaksi kamu, Ningsih ...“ ucap Jordan dengan nada santai sembari mendaratkan pantatnya di sofa kecil dalam ruangan, duduk bertopang kaki layaknya seorang bos. “Sebagai perempuan dari kampung yang hamil di luar pernikahan, tanpa ada pasangan ataupun juga pekerjaan, bukankah harusnya kamu lega setelah keguguran? Benar, kan?”
“Ma-maksud Bapak apa?” Ningsih terbata, raut wajahnya menunjukkan ekspresi gelisah dan ketakutan.
“Tadi saya dengar kamu teriak-teriak lebay, itu kenapa, huh? Kenapa kamu bersikeras ingin mengandung bayi kamu, apa biar kamu bisa gunakan untuk memperalat saya?” sarkas Jordan.
“Sa-saya tidak berniat seperti itu! Sumpah! Apa salahnya kalau seorang ibu menyayangi anaknya sendiri?” Ningsih mencoba berkelit tapi jawabannya itu hanya membuat Jordan terkekeh. Dia bangkit dari kursinya untuk melangkah mendekati Ningsih yang masih terduduk di ranjang rumah sakit. Dia menurunkan punggungnya hingga tatapan mereka kini sejajar.
“Hehe, Ningsih... Ningsih! Kamu gak usah berpura-pura lagi di hadapan saya. Harusnya kamu tuh mikir dan ngaca! Walaupun janin dalam kandungan kamu itu benar anak saya! Saya tidak akan sudi menikahi wanita seperti kamu! Bisa merusak reputasi dan garis keturunan saya nanti! Sebaiknya kamu berhenti membaca novel roman picisan! Kamu mungkin bisa memobodohi Ivy dengan wajah polos kamu, tapi kamu tidak bisa membodohi saya!”
“A-a...” Ningsih tergagap, dia tak sanggup berkata. Kalimat Jordan yang panjang lebar begitu menohok hatinya dan tatapan pria di hadapannya seolah tengah menelanjanginya.
“Hh, tapi kamu tidak perlu khawatir, saya adalah orang tahu balas budi,” Jordan meraih dompet di saku celananya, dia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas bernilai 100 ribu sebelum melemparnya ke arah Ningsih.
“Apa ini, Pak?” Ningsih terkesiap.
“Bayaran atas pelayanan kamu di ranjang. “ jawab Jordan datar.
“Tapi saya bukan p*****r!” bantah Ningsih mencoba mempertahankan harga dirinya.
“Kalau masih kurang bilang sama sekretaris saya. Harusnya kamu bersyukur saya masih berbaik hati mau memberi kamu lebih. Asal tahu saja wanita seperti kamu di jalan dibayar 300 ribuan juga berani.” cetus Jordan dengan senyuman remeh. “Ayo, ambil aja, gak usah malu-malu. Ini kan tujuan utama kamu? Sekarang kamu bisa gunakan uang itu untuk pulang kampung, belanja, liburan apapun, terserah! Asal ingat! Jangan pernah menampakan wajah kamu lagi dihadapan saya!” ancam Jordan dengan gaya bicaranya yang tenang.
“Ta-tapi... Hiks!” Ningsih yang merasa tak berdaya hanya bisa menangis terisak menumpahkan emosinya. Melihatnya seperti itu bukannya bersimpati atau kasihan, Jordan malah semakin jengkel.
“Dengar ya perempuan jalang!” Jordan yang kehilangan kendali merenggut rambut panjang Ningsih saking kesalnya. “Hentikan tangisan buaya kamu! Kalau kamu tetap keras kepala dengan terus menerus mengganggu hidup saya, kamu akan berhadapan dengan pengacara saya! Saya pastikan kamu masuk penjara karena kasus penipuan dan pencemaran nama baik! MENGERTI?” bentak Jordan di akhir kalimatnya.
“Jadi pilih mana, hm? Uang atau penjara?” tanyanya sekali lagi dengan senyuman licik.
Diberi pertanyaan seperti itu Ningsih semakin tak berkutik. Ningsih lupa perbedaan status sosial diantara mereka. Lelaki seperti Jordan dengan pengaruh kekuasaan dan juga uangnya bisa dengan mudah membeli hukum di negara ini. Ningsih tak memiliki harapan,, mengemis cinta dari lelaki b******n seperti Jordan sepertinya sia-sia.
Setelah lama tak ada suara dari mulut Ningsih akhirnya dengan tubuh gemetar wanita itu hanya bisa mengangguk. Melihatnya seperti itu Jordan tersenyum simpul, dia merasa beban di pundaknya kini sedikit hilang. Tak menunggu lama dan tanpa bicara banyak lagi dia dia segera bergegas pergi, meninggalkan Ningsih yang masih termangu sendiran, menatap lembaran uang yang berserakan di ranjangnya dan meratapi nasibnya.
Hari sudah berganti pagi tapi langit masih gelap, Jordan berjalan di area parkit memasuki mobil jemputan yang sudah menunggunya. Meskipun masalah Ningsih sudah dia anggap selesai, masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Baru kali ini dia dicampakkan dan dipermalukan di hadapan publik oleh seorang wanita, ditambah lagi status Ivy yang seorang influencer memiliki banyak pengikut di berbagai akun sosial medianya. Jordan sadar jika kabar ini tercium sampai ke internet, dirinya akan emnjadi bulan-bulanan netizen. Hal itu tak hanya akan memperburuk citra dirinya tapi juga perusahaan dan bisnis yang tengah di gelutinya. Hal ini tentunya tak bisa dibiarkan, karena itu Jordan pikir dirinya harus bergerak lebih cepat sebelum hal itu terjadi.
“Yo, Raymon! Ini gue Jordan,” sapa Jordan pada lelaki di balik sambungan teleponnya.
“Ada apa Jor? Tumben pagi-pagi buta udah nelponin gue?” sahut pria bernama Raymon dengan suara parau.
“Lu tahu kan yang terjadi semalem di klub?” tanya Jordan langsung ke pokok masalah.
“Iya, emangnya kenapa?”
“Gue cuma mau tanya, berita Ivy labrak gue udah sampai belom di twitter atau i********:?”
“Hm, kayaknya sih udah! Nama lu sama Ningsih sempet trending semalem di twitter lokal. Video waktu lu disiram juga dah bermunculan di t****k, i********: ma youtube.”
“b******k! Sialan dasar cewek gila sosmed! By the way, lu punya kenalan team buzzer kan? Tolong lu sebarin kalau Ivy pulang dari klub malam mabok dan nabrak dua orang sampai mokat!”
“Loh. berita soal tabrakan emang udah ada, tapi dia kan ke klub cuma bentar gak minum sama sekali?!”
“Halah, soal bener atau nggaknya itu belakangan, yang penting beritanya naik duluan! Dan kalau bisa lu jadiin trending ngalahin berita tentang skandal gue! Oh ya, sekalian aja tambahin kalau dia juga positif ngedrugs, bisa kan?”
“Waah, tega bener lu ya sama cewek sendiri! Serius lu?”
“Kenapa enggak? Sekarang kan dia udah jadi mantan.” Jordan mengedikkan bahunya acuh. Hatinya masih dipenuhi amarah dan dendam pada wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu.
“Hahah Jordan... Jordan dasar lu emang b******n! Well, gue bisa aja sih, yang penting cuan,” sahut Raymon lagi dengan
“Soal duit gampang, lu kayak yang gak kenal gue aja! Gue Jordan Andrean Crazy Rich Jakarta Selatan!”
“Iya iya deh! Siap, Bosque!” ucap Raymon sebelum akhirnya Jordan menutup panggilannya.
Jordan tersenyum lega, dia menyandarkan punggungnya di kursi belakang mobil, menyuruh sang sopir untuk menyalakan lagu favoritnya. Di jendela sebelahnya langit hitam berubah warna menjadi biru kelabu, hari baru yang Jordan pikir mirip dengan suasana hatinya yang juga kelabu. Rasa sakit hati setelah dicampakkan serta dipermalukan wanita terkasihnya masih membekas dalam benaknya, dan Jordan tidak tahu kapan dia bisa sembuh dari kepedihan ini.
Bagaimana Ivy? Apa kamu bisa selesaikan masalah ini sendirian? batin Jordan dengan senyuman licik tergambar jelas di wajahnya.
Di keesokan harinya, DRRRT! Suara getaran ponsel mengagetkan Ivy hingga dia terbangun dari tidurnya. Dia yang tengah meringkuk di sofa sontak menggeliatkan tubuhnya. Dengan malas dia mengulurkan tangannya mencari-cari ponsel yang dia letakkan di meja kecil di sampingnya.
“Halo Cher? Lu kemana aja? Lu bilang semalam mau temenin gue di rumah sakit?” tanya Ivy dengan nada kesal. Dia bangkit duduk sembari memijat lehernya yang kaku. Tidur meringkuk semalaman membuat sekujur tubuhnya terasa kaku dan pegal.
“Iya Ivy, sory banget! Elu kan semalem suruh gue cariin lawyer, jadinya kemaren gue sibuk ngurusin itu. By the way apa kamu udah cek trending twitter?” balas suara wanita dari balik telepon.
“Ya, belum lah! Gue gak ada waktu ngurusin trending twitter? Emangnya kenapa?”Ivy balas bertanya.
“Gawat Ivy, elu tuh dikabarin lagi ditangkap Polisi karena pengaru drugs pas tabrakan kemarin!”
“APA?! Kok bisa? Amit-amit, ngawur banget deh beritanya, you know I never touch those kind of things!”
“Maka dari itu gue juga kaget, Vy! And by the way lagi apa lu emang ketemu polisi pas kejadian?”
“Ya iyalah, waktu itu ada beberapa Polantas di jalan, mereka malah ngawal ambulan bareng gue ke rumah sakit! Gue berani sumpah Cher! Mau disuruh tes urin, tes darah atau tes folikel rambut kek, gue dijamin bersih dari pengaruh alkohol apalagi drugs!” celoteh Ivy panjang lebar. Nada bicaranya meninggi pertanda emosi, tidak menyangka berita yang beredar di masyarakat justru adalah hoax tentang dirinya. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itulah pribahasa tepat yang tengah terjadi pada dirinya,
Sementara di ruangan yang sama, suara mesin monitor detak jantung terdengar konstan. Adam masih terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur. Hampir sekujur tubuhnya dari kaki hingga kepala dibalut perban. Operasi darurat yang cukup alot berlangsung semalaman. Menurut dokter ketua dari tim bedah yang menangani Adam, lelaki itu disenyalir mengalami patah tulang dibeberapa titik tubuhnya, seperti rusuk, pergelangan kaki dan bahu. Dia juga mengalami benturan keras di kepala yang kemungkinan menyebabkannya gegar otak atau lebih parahnya kehilangan nyawa.
“Adam atau siapapun nama kamu, ayolah bangun, please! Bangun! Aku gak ada maksud membunuh kamu! Hiks!” Tak sanggup menahan emosinya lagi Ivy meraih tangan Adam, menggenggamnya erat dan menangis terisak disisi tempat tidurnya.
Hari berlalu, tanpa terasa Ivy menghabiskan waktunya membesuk Adam di rumah sakit daripada kegiatan biasanya. Dia sengaja ingin menyendiri untuk menghindari wartawan, Jordan dan juga rekan sejawatnya yang tentunya penasaran dengan situasi yang sedang di alaminya. Dia bahkan tak peduli dengan endorsement dan engangement di sosial medianya yang mungkin akan menurun karena skandal ini. Yang Ivy khawatirkan saat ini hanyalah suara detak jantung Adam, berharap agar tidak pernah berhenti.