Ch 6. PANDANGAN PERTAMA

1452 Kata
Sementara itu di dunia lain... DUKH! Benturan keras di kepala membuat Adam terperanjat kaget. Entah bagaimana dia terbangun dalam keadaan duduk di kursi kereta api. “Eh? Ada apa ini? Kenapa gue bisa ada disini? Gue kan mangkal di perempatan bukan di stasiun?” Masih dilanda kebingungan Adam mengintip ke balik jendela di sampingnya. Sangat kontras dengan ruangan di kereta yang serba putih, rupanya kereta tengah melintas dalam terowongan gelap. “Eh Pak, permisi ini tujuan keretanya mau kemana ya?” tanya Adam kepada seorang pria berseragam kondektur yang kebetulan tengah memungguginya. “A-astagfirullah! Setan!” Adam spontan merosot dari tempat duduknya saat pria itu berbalik menghadapnya. Wajah Adam pucat pasi, keringat dingin mengucur dari pelipis Adam, jantungnya berdebar kencang. Sosok lelaki kondektur itu berwajah datar, tanpa hidung, mulut ataupun mata. “Ya Allah, gue ada dimana?” Adam yang ketakutan sontak berusaha melarikan diri. Dia berlari melewati satu gerbong ke gerbong yang lain tapi anehnya dia tetap berakhir di gerbong yang sama. Gerbong nomor 4 dan sialnya dia bertemu kembali dengan sosok tanpa wajah itu. “Ampun, ampun Om Jin, Setan, Iblis atau siapapun! Jangan apa-apain saya! Please tolong!” Saking lelahnya berlari dan karena dikuasai rasa takut, Adam akhirnya bersimpuh dengan pasrah di hadapan sosok mengerikan itu, “Selamat datang di Pemberhentian terakhir, semua penumpang dipersilakan turun.” Entah darimana datangnya terdengar suara lembut wanita yang khas seperti pengumuman di dalam kereta. “Eh, apa-apan ini?” Pertanyaan Adam dijawab dengan terbukanya pintu gerbong di depannya. Cahaya putih menyilaukan datang dari arah itu. Seketika beberapa penumpang manusia berpakaian serba putih dengan serempak berjalan menuju ke pintu itu. “AAARGHHH!” jeritan memilukan terdengar saat cahaya menyilaukan tadi berubah menjadi kobaran api yang melahap tubuh gerombolan manusia tadi. Seketika pintu gerbong menutup kembali dan kereta berjalan lagi. Adam yang dilanda kebingungan dan ketakutan luar biasa tak sanggup bergerak dari posisinya. “Hei, gondrong! Mana tiketnya?” suara seorang pria menegur Adam. “Tiket?”Adam balas bertanya dan lagi-lagi dia terkaget saat menyadari sosok kondektur tak berwajahlah yang berbicara padanya. “Iya tiketnya, ayo cepet tunjukan! Gak ada tiket kamu gak bisa turun!” “Maaf, tapi ini dimana, Om? Saya jam segini harusnya udah pulang di kontrakan!” Adam memberanikan diri bertanya. “Kamu berada di gerbong kematian! Tiket yang kamu bawa akan menentukan pemberhentian kamu dimana,” jawab sosok itu dengan nada datar. “A-apa? Apa ini artinya saya udah mati?” “Ya kalau belum mati kamu gak akan berada disini. Ayo cepetan mana tiketnya?” Pertanyaan Adam mungkin terdengar bodoh, namun saat itu juga ingatan semalam mulai berputar di kepalanya. Saat dirinya masih menjadi tukang parkir di mini market lalu pertemuannya dengan Samsul serta benturan keras dari mobil yang menabrak tubuhnya. “Sialan! Ini gara-gara si Ucul, bocil paling nyusahin sedunia!” gerutu Adam sembari mengepalkan tinjunya. “Apa gak ada dispensasi Om? Saya kan matinya gara-gara nyelamatin bocil! Jadi saya pastinya bakalan ke surga kan, Om? Tapi saya belum siap mati, saya belum sempet bahagiain Emak! Belum bisa ajak Emak naik haji, saya juga belum kawin! Tolongin lah Om! Izinkan saya ketemu jodoh dulu nanti saya siap kesini lagi! Tolonglah! Please! Please!” Adam memelas dan memeluk erat kedua kaki sosok kondektur itu. Meskipun tidak memiliki wajah dan ekspresi sepertinya tingkah Adam membuat sang kondektur kesal. “Lah kok nawar? Emangnya situ siapa?! Sontoloyo!” Sang kondektur yang marah tiba-tiba saja membentak dan menendang kasar tubuh Adam menuju pintu gerbong yang tiba-tiba terbuka. Cahaya menyilaukan seketika menyelimuti tubuh Adam. Seperti medan magnet yang menyedot jiwa raganya. Namun, dalam situasi kritis itu entah bagaimana tiba-tiba saja ada tangan yang terjulur ke arah Adam dan tanpa pikir panjang Adam dengan segera meraihnya. “AAAARGH!” Adam tak kuasa berteriak begitu kencang hingga tenggorokannya sakit. “Ka-kamu sudah bangun? Oh God! Yaay!” tanya Ivy dengan nada kaget sebelum kemudian memekik riang. Saking lega dan bahagianya dia memeluk Adam begitu saja, tanpa peduli jika lelaki itu masih kebingungan. Adam yang baru saja terbangun dari mimpi buruknya masih gemetar ketakutan, nafasnya kasar dan detak jantungnya juga begitu kencang. Tak lama kemudian dia tersadar tengah berpelukan dengan sosok tubuh yang hangat dan empuk. “Oh Tuhan! Terimakasih akhirnya kamu bangun juga! Thank God!” pekik Ivy sembari menangkup kedua pipi Adam hingga kedua mata mereka bertatapan. Ivy masih menahan Ca-cantiknya! Apa ini yang namanya bidadari? Apa gue udah beneran ada di surga? gumam Adam dalam hati, dia mengerjapkan mata berulang kali menatap wajah Ivy dengan mulut menganga. Rasa lega dan bahagia membuat Ivy tak sadar kembali memeluk Adam dengan erat. Bukannya membalas pelukan, lelaki yang selama ini menjadi beban pikirannya itu malah mengaduh kesakitan. “Ouch ... AAARGH!” Adam meringis saat merasakan tulang belulang ditubuhnya terasa remuk. ‘Bukannya ini surga? Tapi kenapa dipeluk sama bidadari badan gue malah sakit semua?’ gerutunya dalam hati. “Eh Oh! Maaf, sakit ya?” tanya Ivy yang dengan serta merta melepaskan pelukannya. “Eh enggak gak apa-apa...” Adam menggelengkan kepala, berusaha menyangkal dan bersikap sok tangguh walaupun sebenarnya rasa nyeri di tubuhnya masih terasa. “Oh, ya! Hampir lupa kamu pasti bingung dengan kehadiran saya disini, perkenalkan ... nama saya Ivy. Saya gak sengaja nabrak kamu, saya bener-bener minta maaf dan sangat bersyukur kamu ternyata masih hidup!” “Eh, oh? Saya-” “Saya tahu nama kamu Adam kan?” Adam belum selesai bicara tapi Ivy sudah memotong kalimatnya. “Loh, kok Neng tahu?” sahut Adam dengan kening mengkerut. “Anak kecil yang bernama Samsul yang beritahu saya...” “Samsul? Maksudnya si Ucul?! Bocil sialan! Dimana sekarang? Apa dia selamat?” Mendengar nama Samsul disebut, Adam mendadak emosi dan sebaliknya Ivy justru menjadi panik. “Ka-kamu tenang aja! Samsul sehat walafiat, kamu berhasil menyelamatkannya...” “Beneran? Oh syukurlah Alhamdulillah...” Suasana hening seketika dan kembali canggung. Mereka berdua hanya bertatapan tanpa suara. Baru kali ini Adam berada di ruangan yang sama dan berdekatan dengan wanita yang cantiknya di atas standar yang biasa dia temui di jalan. Adam sampai tak bisa berkedip, kecantikan Ivy seperti gadis yang biasa Adam lihat di TV, dan entah kenapa hal itu membuatnya grogi. Begitupula dengan Ivy, walaupun dia selama ini sudah menyaksikan bagaimana saat Adam tertidur, tapi melihatnya siuman dan berbicara padanya menimbulkan perasaan aneh dalam dirinya. ‘Ini mata gue yang siwer atau apa, kenapa ni orang ganteng juga ya?’ batin Ivy di balik senyum manisnya yang sedikit kaku. Dia tak bisa pura-pura biasa saja melihat tubuh atletis Adam yang sedikit terekspose dibalik balutan perban. “Sa-saya,” dengan ragu Adam memulai percakapan. “Kamu kenapa?” Ivy membelalakan matanya keheranan. Ditatap seperti itu Adam malah menjadi semakin gugup. Dia menundukkan kepala tapi sialnya pandanganya malah tertuju ke tubuh Ivy yang aduhai. Gadis dihadapannya saat ini tengah memakai gaun mini yang ketat dan seksi. Terlalu seksi bagi mata Adam yang tidak biasa melihat lekukan indah tubuh wanita. Saking groginya tiba-tiba sesuatu menyembul di balik selimutnya hingga menyerupai tenda. ‘Waduh Dasar ‘Joni Iskander’ sialan! Kenapa lu harus bangun disaat seperti ini? Gak bisa aja liat yang seger seger!’ Adam berkomat-kamit dalam hati, berusaha menahan gejolak aneh dalam dirinya. “Eh oh, Maaf, Neng! Sa- saya ada panggilan alam?” “Panggilan alam? Maksudnya apa?” kening Ivy mengkerut tak mengerti. “Sa-saya pengen... kencing,” Adam sedikit berbohong, wajahnya memerah karena malu karena tidak bisa menutupi reaksi biologis dalam tubuhnya. “Ooh! Bi-biar saya panggilkan suster ya!” “Gak gak! Perlu biar saya sendiri!” Ivy dengan sigap beranjak dari kursi untuk memanggil bala bantuan suster, bodohnya Adam yang terlanjur malu malah berusaha mencegahnya. Dia serentak menarik lengan Ivy tanpa menyadari sekujur tubuhnya yang masih cidera parah. BRUGH! Keduanya terjerembab secara bersamaan ke lantai, dan tubuh raksasa Adam tak terelakan lagi jatuh menimpa Ivy. “Aackh! Sakit! Kamu... awas!” Ivy meringis kesakitan saat punggungnya membentur lantai. "Aduh, ma-maaf Neng!" Adam sontak panik dan merasa serba salah. Dia berusaha bangkit namun tubuhnya sulit digerakkan hingga tanpa sengaja bergesekan dengan tubuh Ivy. “ASTAGFIRULLAH ADAM! KALIAN NGAPAIN? BUKAN MUHRIM!” Teriakan melengking datang dari arah pintu serta merta mengagetkan keduanya. Mata Adam melotot saat menyadaruli rombongan keluarga besarnya yang entah bagaimana sudah berkumpul di dalam ruangan, mendapati dirinya dalam situasi yang memalukan. “Emang ada apaan sih Mak?!” wajah anak kecil muncul dari balik gamis sang Ibu, bocah laki-laki yang sudah sangat Adam kenali. “Ucul! Awas, jangan lihat lu masih kecil!” bentak sang Ibu sembari menutup kedua mata Samsul dengan tangannya. “Yaah, Emak biarin Ucul lihat kenapa? Ada keseruan apa sih?” "M-mpok Lela, Engkong Haji, Pak RT! I-ini cuma salah paham! Adam bisa jelasin! Sumpah!" gagap saking paniknya, Adam berusaha membela diri dari kesalahpahaman yang terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN