Ch 7. DAGELAN KELUARGA ADAM

1600 Kata
“Ayo Neng, diminum bir pletoknya ini buatan Engkong sendiri, Haji Naim asli! Enak dan anget buat musim hujan begini...” Haji Naim, lelaki berusia hampir 80 tahun yang identik dengan wajah keriput, rambut putih disertai kopiah dan sarungnya tersenyum memamerkan gigi ompongnya, menawarkan Ivy segelas minuman ramuan yang sengaja dibawanya dari rumah. “Oh, iya terimakasih Pak Haji...” sahut Ivy dengan senyum canggung, dia tak mau sok akrab dengan memanggil lelaki itu Engkong. Jujur saja Ivy merasa tak nyaman berada di tengah keluarga Adam yang berpenampilan kampungan menurutnya. Ditambah lagi entah kenapa semuanya menatapnya dengan ekspresi aneh. Meskipun sebenarnya enggan Ivy terpaksa meminum minuman yang baunya seperti jahe menyengat itu demi kesopanan. “Lu juga minum Dam! Ayok!”ujar lelaki itu kemudian pada Adam. “Apaan sih Kong? Adam kan baru siuman udah dikasih minum beginian?” tolak Adam sembari memalingkan muka. “Eeh, ini bir pletok udah gue jampi-jampi biar lu cepet sembuh!” Naim menoyor kepala Adam saking kesalnya dan tentu saja Adam yang masih cidera sontak kembali mengaduh. “Aduuh! Ampun... ampun Kong!” “Makanya dengerin kalau orang tua ngomong!” “Lagian lu Adam, jangan bikin Engkong darah tingginya kumat!” timpal Mpok Lela sebelum kemudian matanya terbelalak saat melihat tingkah putranya, “Ucul lu ngapain tiduran disitu?! Turun Abang lu lagi sakit!” tegurnya pada putranya yang malah berbaring di samping Adam. “Iya kenapa sih lu, jadi sempit gini!” sahut Adam. “Biarin aja Mak, Ucul kan kangen sama Bang Adam!” balas Samsul yang malah dengan cueknya berbaring sembari menatap ponsel androidnya. Dia tampak asyik memainkan game online disana tak peduli dengan suasana. Sementara itu di sebelahnya Pak RT yang sejak tadi diam, hanya menatap Ivy sembari cengar-cengir dibalik kumis tebalnya. “Hehehe, saya pernah lihat neng Ivy di TV, aslinya ternyata lebih cantik... ck saya jadi kepengen muda lagi... ” celetuk Pak RT tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. “Ehm, Ehm! Ingat istri di rumah Pak RT!” dehem Mpok Lela sembari memutar bola matanya dengan judesnya. Ditatap seperti itu senyuman Pak RT memudar, sadar karena Mpok Lela adalah biang gosip di sekitar RT bahkan sampai kelurahan. “Mpok Lela, Pak RT, Engkong, ngapain sih pada kesini? Bawa rantang sama tiker lagi? Mau piknik?” “Yee, kita ini semua datang khawatir sama elu, Dam? Lu sadar gak udah tidur koma berapa lama?” omel Mpok Lela dengan gaya cerewet khasnya. “Emangnya berapa lama?” Adam bertanya. “Lima hari, Mpok pikir lu bakalan mati, kita udah pesenin kain kavan sama buku yasin buat lu! Tuh lihat? Foto lu udah ganteng disini kayak cover boy!” balas Mpok Lela sambil memperlihatkan buku yasin yang dibawanya. “Astagfirullah, inalillahi! Sampai segitunya Mpok!” Adam terkejut melihat foto dirinya disana, “tapi kenapa harus foto pas Adam jadi pegantin sunat sih Mpok? Gak ada yang lain kenapa?”protesnya lagi. “Gak apa-apa! Yang penting ganteng! Abisnya lu gak punya foto paling update, foto di ijazah lu kan ancur gara-gara kebanjiran. Yang penting gue gak ambil foto lu yang pas pamer ottong waktu disunat!” Mpok Lela beralasan. “Bruah! Uhk ... uhk!” Mendengar percakapan keluarga ini dan melihat foto masa kecil Adam, Ivy yang tak sanggup menahan tawa spontan menyemburkan minumannya dan terbatuk-batuk. “Oh, maaf! Maaf Pak!” Ivy menggigit bibir bawahnya menyadari air semburannya mengenai wajah Pak RT, tapi Pak RT yang masih terkesima dengan kecantikan Ivy tampak tak berkedip sedikitpun. “Untungnya sih baru dicetak 10 biji kalo lebih bangkrut gue!” timpal Mpok Lela lagi. “Ya elah, pelit amat Mpok! Hari gini masih ngitung untung rugi! Adam juga kan hampir mati gara-gara nyelametin anak Mpok si Ucul!” cetus Adam sedikit emosi. “Yang penting sekarang lu idup lagi kan? Mangkanye kita heran sekaligus takjub, lu kok bisa bangun lagi, apa karena ada Neng Cantik lu jadi bangun, heh? Jangan-jangan yang bangun bukan badan lu doang?” celetuk Pak Haji dengan tawa gigi ompongnya. Mendengarnya Adam tertunduk malu karena “Eh, Engkong Haji bisa aja!” Adam menunduk dan tersipu malu tapi matanya melirik pada Ivy. Sialnya tatapan mereka tak sengaja bertemu. Kejadian memalukan tadi secara otomatis berputar kembali dalam otak Adam. Karena tidak ada tenaga dan hilang keseimbangan dia jatuh menimpa Ivy, dan wajahnya terbenam tepat diantara lekukan d**a Ivy. Sungguh pengalaman yang tak bisa terlupakan. Hampir saja Adam khilaf jika keluarganya tidak datang tepat waktu. Untungnya setelah dijelaskan oleh Ivy, mereka paham walaupun Adam masih merasa malu dan bersalah ada Ivy gara-gara kejadian tadi. “Ngomong-ngomong bau apa nih? Sepertinya familiar!” Adam mengernyitkan hidungnya pada aroma semerbak yang memenuhi ruangan. “Oh, ini Mpok bawain semur jengkol kesukaan lu! Kali aja lu kangen masakan rumah!” “Yah, masa Adam baru siuman udah disuruh makan semur jengkol? Kira-kira aja Mpok!”protes Adam lagi. Dia heran sekaligus kesal, bagaimana bisa keluarganya ini sedari tadi mempermalukannya terus-menerus dihadapan gadis secantik Ivy. Adam sadar imagenya sudah hancur lebur sejak pandangan pertama di hadapan Ivy. Tapi, kenapa juga dia harus peduli dengan image? “Eh, dicobain dulu! Ini masakan resep Emak lu!” bujuk Mpok lela lagi. “Emak!? Emak apa kabar, masih sehat?” Mendengar kata Emak disebut, pikiran Adam kembali melayang pada kontrakan rumahnya. Sang Ibu Siti Fatimah yang hingga kini masih terbaring sakit. Seharusnya yang mendapatkan fasilitas VIP rumah sakit seperti kamar yang Adam tiduri saat ini adalah Ibunya, bukan dirinya. Adam merasa semakin bersalah pada ibunya karena pasti sudah sangat membuatnya khawatir. “Iya, Emak lu masih sehat, tapi belum bisa jengukin lu, tahu sendiri dia gak bisa jalan jauh.” Mpok Lela yang merupakan adik kandung dari ibunya menjelaskan. Harusnya Mpok Lela dipanggil dengan sebutan Bibi atau Encing namun karena usianya yang masih muda, masih 30 tahunan awal dan hanya terpaut beberapa tahun, Adam jadi memanggilnya Mpok. “Iya sih.” Adam menunduk lesu. “Ayo Dam cepetan dimakan! Ini kan menu kesukaan lu!” “Jangan sekarang lah Mpok, ini kan makanan ekstrim bisa bikin mulut dan WC bau! Adam sampe sekarang kan masih kencing di pispot!” elak Adam dengan tegas. “Huu dasar lu! Gak tahu terimakasih! Apa lu gengsi karena ada Neng Ivy? Yuk, Neng makan bareng sini! Udah jam makan siang!” “EH? Oh, nggak bu, terimakasih! Saya sedang diet...” Ivy yang panik menggelengkan kepala. Dia yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan konyol dari kerabat Adam ini akhirnya buka suara. Sebenarnya sejak tadi dia tak sabar ingin pamit pergi dari tempat ini, tapi tak bisa. “Udah Mpok! Jangan dipaksa! Neng Ivy gak biasa makan makanan yang beginian. Nanti dia bisa sakit.” Menyadari raut wajah Ivy yang tampak enggan dan seperti tak nyaman, Adam berusaha membela. Dari penampilan luar ditambah kenyataan bahwa dia yang membayar kamar VIP dan semua biayapengobatan Adam selama di rumah sakit ini jelas bukanlah gadis biasa, dia gadis kaya raya. Jika dibandingkan keluarganya yang sederhana dan bahkan bisa dibilang diambang garis kemiskinan, gadis seperti Ivy mungkin akan merasa jijik dengan makanan yang biasa dikonsumsinya sehari-hari. “Tapi kan cobain dulu, gak ada racunnya kok Neng...” Mpok Lela masih saja mencoba membujuk. Ivy hanya bisa tersenyum terpaksa, menahan diri untuk tidak mengernyit jijik saat menatap makanan berbau khas dalam sendok yang tengah diulurkan padanya. DRRT! Beruntung bagi Ivy, di waktu yang tepat ponselnya bergetar dan rupanya panggilan dari Cheryl. “Umm, mohon maaf Pak Bu! Saya gak bisa berlama-lama disini, saya ada janji di tempat lain, permisi!” Ivy mencoba pamit sesopan mungkin, berharap kerabat Adam yang berisik dan sedikit menjengkelkan ini memakluminya. Dia sudah tidak tahan berada di ruangan yang sama dengan orang-orang ini yang dari topik dan cara bicaranya saja sudah tidak satu frekuensi dengannya. “Oh, gitu ya Neng? Tapi sebelum Neng Ivy pergi, boleh saya minta tanda tangan?” celetuk Pak RT yang rupanya meskipun wajahnya sudah disembur Ivy masih ‘starstruck’ pada pesona Ivy. Beberapa saat setelah kepergian Ivy, suasana di dalam ruangan sedikit tenang. Adam kembali merebahkan tubuhnya di kasur, berpikir tamunya ini juga akan segera pergi. Namun, ternyata dia salah. “Yuk Engkong Haji, mulai pimpin doa, Bismillah...” “Astagfirullah, kalian belum pulang?!” tanya Adam kaget. Rupanya saat mereka beranjak dari kursi bukannya pulang meninggalkan Adam sendiri, malah berlanjut menggelar tikar di dalam ruangan. Dihadapan mereka beberapa rantang makanan sudah dijejerkan memamerkan lauk pauk di dalamnya. “Ya Allah, kenapa pada makan disini? lesehan lagi? Dibilangin ini rumah sakit bukan tempat piknik!” komentar Adam dengan nada putus asa. “Habisnya disini adem disini kayak hotel bintang lima!” sahut Engkong Haji. “Lagian emangnya kenapa? Lu mau ngusir? Kita tuh udah capek dateng kesini naek metromini panasnya minta ampun. Udah lu tiduran lagi aja sono!” bentak Mpok Lela yang galak. Mendengar semua itu Adam hanya bisa geleng-geleng kepala dan menghela nafas pasrah. Keluarganya dan juga tetangga dekatnya yang tinggal di pinggiran kota Jakarta Selatan ini memang benar-benar katro. Tidak heran jika mereka menganggap kamar rumah sakit ini sebagai hotel, karena jika dibandingkan tempat tinggal Adam yang kumuh, kamar VIP rumah sakit ini memang jauh berbeda kenyamanannya. Ada TV, AC, sofa dan kasur yang ketinggiannya bisa diatur dengan remot, bagi kaum rebahan tempat ini seperti surga. Di tambah lagi menu makanan seshat yang beragam dan suster cantik yang siap melayani bergantian 24 jam. Tapi, meskipun Adam dikelilingi suster cantik, tidak ada seorang pun dari mereka yang bisa membuatnya melupakan Ivy dari pikirannya. ‘Duh, gue kenapa ya? Dag dig dug ser melulu kalau inget Neng Ivy? Apa gue punya penyakit jantung atau gue mulai gila?’ Adam membatin sebelum kemudian dia kembali terlelap ke alam mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN