Ch 8. DUA DUNIA

1648 Kata
Ivy berjalan di koridor rumah sakit dengan langkah tergesa menuju area parkir mobil. Tanpa mempedulikan lirikan sinis dari orang di sekitarnya, Ivy terus fokus dengan pembicaraan di teleponnya. Sejak dia keluar dari kamar Adam, ponsel yang dipegangnya masih saja menempel di telinga. “Oh jadi dia udah siuman? Syukurlah Vy, jadi lu gak kan terjerat pasal pembunuhan,” ujar Cheryl dibalik telepon. “Amit-amit deh, Cher! Gue kan gak sengaja!” sahut Ivy kesal. Dia membuka pintu mobilnya sebelum kemudian duduk di kursi kemudi. “Sengaja gak sengaja ya, nabrak orang sampai meninggal kan tetep ada hukumannya loh Vy.” Cheryl mengingatkan, sebagai sahabat dan sekaligus wanajer wanita ini memang selalu bicara blak-blakan dengan Ivy. Ivy hanya menghela nafas lelah sembari bersandar di kurisinya. Dia sebenarnya masih sedikit trauma dalam mengemudi, dan dia bisa saja menyewa sopir. Tapi mau bagaimana lagi? Meskipun terlahir dari keluarga kaya, dirinya adalah gadis mandiri. Semenjak Sejak awal memiliki SIM, dia tidak suka diantar sopir pribadi. Dan di waktu seperti ini dia memang merasa lebih nyaman sendiri daripada ditemani orang asing. Bahkan hingga saat ini Ivy belum berani berbicara pada kedua orang tuanya tentang permasalahan rumit yang dialaminya sekarang. “Oh ya, ngomong-ngomong si Nyai Kepo pengen interview lu buat konten youtubenya, lu mau gak?” “Nyai Kepo? Dih males gue! Gue tahu dia orangnya selalu pengen ikutan di setiap ada kasus kan? Gue mendingan langsung konferensi pers aja di kantor Polisi!” tolak Ivy mentah-mentah. “Serius Vy? Lu mau konfers di kantor Polisi?” “Iya, dimana lagi? Biar jelas dan gak ada fitnah lagi terutama dari orang kayak si Nyai!” balas Ivy dengan yakin. Nyai Kepo, wanita yang dikenal sebagai Ratu Gosip itu memang seseorang yang ingin Ivy hindari bukan hanya saat ini namun semenjak dia memulai karir sebagai influencer. Ivy sadar dirinya memang belum bisa disejajarkan dengan artis papan atas Indonesia, dia hanya sekedar artis sosial media. Beruntung dirinya memiliki pengikut yang jumlahnya bahkan lebih banyak dari artis ibu kota, karena itu namanya seringkali menjadi perbincangan juga di dunia entertainment. Dunia yang saat ini sedang dia hindari karena tragedi yang baru menimpanya. Saat Ivy larut dalam pikirannya, pertanyaan Cheryl selanjutnya membuat perasaannya terusik kembali. “Wah, ide bagus juga! By the way apa kabar cewek yang dihamilin Jordan?” “Oh, soal Ningsih, hmm gue sendiri gak tahu. Dia tiba-tiba menghilang begitu aja dari rumah sakit. Gue hubungin via telepon ataupun WA juga gak dibales...” balas Ivy dengan nada heran sekaligus khawatir. “Loh, kok kenapa gitu ya?” tanya Cheryl. “Ya, justru itu, gue sendiri gak ngerti!” sahut Ivy. Pikirannya menerawang jauh pada kejadian sesaat sebelum tabrakan. Sejauh yang Ivy tahu adalah bahwa Ningsih sudah kehilangan bayinya karena keguguran. Terbersit dalam hatinya ada sedikit rasa bersalah dan kasihan,tapi mau meminta maaf pun wanita itu sudah tidak ketahuan rimbanya. Dia seolah menghilang di telan bumi. Beberapa hari kemudian di sebuah klinik paranormal di sebuah desa terpencil Jawa Tengah. Aroma kemenyan semerbak di dalam ruangan yang berdinding bilik bambu. Ningsih duduk bersimpuh di lantai kayu, menatap lelaki paruh baya bertubuh tambun dengan janggut hitam panjang dan pakaian serba hitam. Raut wajah Ningsih menampakkan penasaran dan waswas saat lelaki itu berkomat-kamit sendirian sembari menghirup asap kemeyan yang dibakar di depan. “Gimana sih, Mbah? Katanya mantranya manjur tapi sampe sekarang kok Pak Jordan malah ogah ngawinin saya!” komplen Ningsih pada lelaki itu. Namanya adalah Mbah Jambrong, dukun paranormal paling terkenal di desa ini. “Yang namanya ikhtiar itu harus sabar, mungkin dari kamu sendiri yang melanggar pantangan-pantangan, Mbah!” sahut lelaki yang dipanggil Mbah sambil mengelus jenggot panjangnya. Jika dilihat sekilas orang akan menganggapnya pria yang menyeramkan, namun dari suaranya yang “Nggak kok, Mbah. Semua sudah saya jalani!” Ningsih menggeleng kepala berusaha meyakinkan. Meskipun ada rasa ragu dan takut dalam hatinya tekadnya yang bulat telah membawanya ke tempat ini. “Bener? Coba kamu inget-inget lagi! Kopi campur rendaman celana dalamnya diminum sampai habis gak sama lelaki incaranmu itu, hm?” tanya Mbah Jambrong. “Uh, soal itu! Saya nggak tahu, Mbah. Waktu itu saya keburu disuruh ngerjai tugas lain!” “Lah, itu! Di situ erornya!” cetus sang paranormal sembari telunjuknya mengarah pada wajah Ningsih. “ Tapi, Hmm... menurut penerawangan Mbah, Pak Jordan yang kamu sebut itu sebentar lagi dia juga akan mengalami kebangkrutan. Apa kamu tetap mau ngincar dia?” “Bangkrut? Loh, kok bisa Mbah?” “Ya, jika dihitung dari tanggal lahirnya, tahun ini keberuntungan gak akan berpihak sama dia, justru kerugian yang akan datang. Kalau dia gak berhati-hati dia akan mendapatkan malapetaka dari perbuatannya. Bisnisnya seret, percintaan juga gelap auranya.” Mbah Jambrong menuturkan panjang lebar. Bagi orang awam yang skeptis penerawangan sang paranormal itu mungkin sulit dipercaya, tapi bagi Ningsih semua yang diucapkan lelaki itu masuk akal juga. Meskipun dirinya hanya berprofesi sebagai cleaning service di kantor, seringkali dia mendengar selentingan curhatan dari para karyawan lain yang mengeluh dengan pembayaran gaji yang sering terlambat. Selain itu ada kabar burung bahwa Jordan menderita kerugian besar akibat trading saham dan juga perusahaannya terlilit hutang. “Lalu saya musti gimana Mbah? Saya sekarang sebatang kara. Saya sudah menyerahkan kegadisan saya sama Pak Jordan. Saya bahkan sempat hamil tapi keguguran ... Hiks!” Ningsih terisak meratapi kembali nasibnya. Dia tahu cara yang dia lakukan salah, tapi bagi perempuan seperti dirinya yang hanya lulusan SMA, salah satu cara cepat agar bisa meraih mimpi dengan mudah adalah dengan menikahi lelaki kaya. Ningsih pikir saat Jordan menunjukan ketertarikan setiap kali dia menawarkan kopi dan menawarkan jasa pijat di kantor adalah pertanda bahwa mimpinya akan segera nyata. Sialnya ternyata dia salah, pada dasarnya Jordan hanya seorang lelaki playboy yang tak pernah bisa menolak rayuan dari setiap wanita, termasuk wanita nakal murahan sekalipun. “Ya, Mbah sih terserah kamu! Kalau kamu mau kejar cinta nya Jordan ya terserah. Mau pake pelet Semar Mesem kek, Jaran Goyang atau apa Mbah bisa bantuin kamu sampai dia takluk. Tapi, pesan Mbah kalaupun kamu berhasil mendapatkan hatinya, hidup kamu belum tentu juga bahagia.” “Loh, kenapa Mbah?” tanya Ningsih lagi dengan polosnya. “Ya, karena ya kamu tahu sendiri cinta itu ibarat gula, rasanya manis. Tapi, rasa manis dari gula asli dan pemanis buatan tetap berbeda, nah pelet itu adalah pemanis buatan. Suatu saat rasa pahit dan efek sampingnya akan terasa, baik pada diri kamu atau lelaki incaran kamu.” Jelas Mbah Jambrong lagi dengan gaya bijaknya. “Saya gak ngejar cinta, Mbah! Saya cuma ingin memperbaiki kualitas hidup saya, saya ingin jadi orang kaya! Jadi Nyonya yang dihormati semua orang! Saya bosan selalu direndahkan orang terus, Mbah!” curhat Ningsih panjang lebar. “Ya sudah, kalau kamu hanya mengejar materi, Mbah sarankan sebaiknya kami cari inceran lain...” “Inceran lain?” Mata Ningsih mengerjap seperti kelilipan saat mendengar kalimat dari sang paranormal itu. Kenapa dia baru kepikiran sekarang? Tapi siapa lagi lelaki yang harus dia incar saat hatinya masih belum bisa melupakan Jordan? Beberapa hari kemudian, tepatnya tiga minggu dari semenjak tabrakan, Adam sudah berangsur pulih dari cidera parahnya. Tubuhnya sudah kembali bugar dan beruntung baginya dia tidak mengalami kecacatan. Rambutnya yang sempat dipotong demi operasi di kepala sudah tumbuh panjang kembali yang menjadi ciri khasnya sebagai jamet ganteng. Adam sadar dirinya harus bersyukur karena selain masih hidup, dia juga tidak perlu pusing memikirkan biaya rumah sakit. Tentu saja karena semua biaya rumah sakit ditanggung Ivy. Bahkan Ivy juga memberi santunan ganti rugi yang cukup besar untuk keluarga Adam. Nominal yang cukup besar bahkan sebagian digunakan untuk menggelar pesta sunatan Samsul. Namun ditengah kemeriahan itu ada satu hal yang masih mengganjal di hati Adam. Semenjak dirinya sembuh, Adam tidak bisa lagi bertemu dengan gadis cantik itu selain hanya melihat di TV. Ivy tampak sudah dilanda kesibukannya kembali sebagai seorang influencer dan sebaliknya bagi Adam, dia kembali pada kehidupannya yang penuh keprihatinan. “Ughk! Hoekkk!” terdengar suara Fatimah muntah di kamar mandi. Mendengar suara itu hati Adam mencelos lagi. Meskipun uang santunan dari Ivy kemarin cukup besar untuk membeli obat-obatan baik untuk dirinya sendiri dan juga sang Ibu, sayangnya penyakit sang Ibu masih belum sembuh. Sialnya persediaan uang santunan yang didapatnya itu sudah menipis dan sebentar lagi akan habis. “Emak, obatnya yang dari dokter udah diminum belum Mak?” tanya Adam sembari mencari beberapa pil dan tablet di sebuah kotak obat yang biasa disimpan ibunya. “Kok enggak ada? Emak habisin semua?” lanjutnya lagi dengan nada cemas. “Ugh, Ya udah habis lah, kan katanya diminum 3 kali sehari...” sahut Fatimah. “Astagfirullahaladzim, Emak! Bukan 3 kali, tapi 2 kali! Obatnya itu keras loh, makanya hati-hati! Terus ini botol ramuan apa lagi?” tanya Adam saat melihat botol dengan cairan berwarna kuning mencolok. “Oh itu jamu herbal baru punya Emak, emang kenapa?” balas Fatimah. “Aduh Emak! Udah Adam bilangin Emak mending berobat yang bener ke dokter! Jangan minum ramuan Engkong Haji Naim mulu! Apaan ini? Air kunyit doang sama jamp-jampi gak akan ngaruh apa-apa!” “Emak gak apa-apa, Dam. Namanya juga ikhtiar! Kunyit kan bagus buat lambung!” sahut sang Ibu membela diri. “Ikhtiar itu ke dokter Mak, bukan ke dukun! Sama aja kan ujung-ujungnya keluar duit juga?! Walaupun kata Engkong Haji seridhonya tapi tetep aja dia tuh mata duitan! Dikasih ceban kagak mau, pengennya lembaran seratus ribu! Benar kan?” gerutu Adam panjang lebar saking emosi. “Udaah, biarin aja! Engkong kan udah tua, lu dosa ngatain dia! Lagian hidup Emak juga gak akan lama, gak ada salahnya berbagi rezeki sama orang lain di hari-hari terakhir Emak, biar Emak sedikitnya punya pahala dari sedekah amal jariyah...” Jawaban yang terdengar pasrah dari Fatimah hanya membuat Adam terdiam. Dia sadar diri dan tak berani berdebat lagi. Selain karena memang ceroboh, Ibunya juga memiliki kemampuan literasi kurang sehingga tidak mengikuti resep dokter. Pada akhirnya yang bisa Adam lakukan hanya menyalahkan dirinya sendiri yang kurang perhatian dalam merawat sang Ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN