Ch 9. ARTIS DADAKAN

1561 Kata
Hari berikutnya di sebuah pasar tradisional pinggiran Kota Jakarta. Adam mengusap peluh di dahinya dengan punggung lengannya. Dia duduk berjongkok di pinggir sebuah toko sembako. Sementara di dalam toko tampak hiruk pikuk pembeli yang terlihat mengantri untuk membeli sembako, terutama minyak goreng. Sebotol minuman air putih di tangan Adam sudah hampir habis, demi melepas dahaga dia meneguknya terakhir kali. “ADAM?!” suara seorang pria memanggilnya dengan nada tinggi. “Yaelah, lu kemana aja? Gue cariin malah nongkrong disini?”pria botak berkacamata dengan singlet putih dan celana pendek warna senada berkacak pinggang di depannya. “Eh, Koh Acong! Maaf Koh, saya rehat dulu bentar, haus!” cengir Adam, berusaha ramah namun raut wajah bosnya terlihat masam. “Jangan leha-leha mulu! Noh, angkutin beras pesenannya bu Haji!” perintah Acong sembari menunjuk tumpukkan karung beras di dalam tokonya. “Berasnya yang mana Koh?” tanya Adam celingukan saat melihat berbagai merek beras di depannya. “Itu yang Pandan Wangi, bawain 50 kilo terus masukin langsung ke mobilnya!” perintah sang Bos dengan nada ketus. Dia menggelengkan kepalanya kesal karena pegawai barunya ini Adam tampak kikuk dan ceroboh. “Oke, siap, Koh!” sahut Adam dengan sigap mengikuti perintahnya. Adam tahu, bosnya Koh Acong yang merupakan pria keturunan Tionghoa ini terkenal sebagai pribadi yang galak dan juga pelit. Karena itulah di hari pertamanya bekerja Adam berusaha untuk memberikan kesan yang baik. Adam sendiri adalah pribadi yang malas berdebat. Setiap detiknya dia berusaha sabar mendengar kalimat pedas dari bosnya yang sering uring-uringan itu tanpa membalas. Mungkin itu juga yang menjadi alasan jika para karyawan Koh Acong tidak betah bekerja di tempat ini. Jika Adam pikir dia bisa diterima bekerja disini berkat bantuan rekomendasi dari Pak Haji Naim, pemasok obat-obatan herbal di toko ini. Ya, begitulah mirisnya hidup di negara yang seolah mengalami krisis kepercayaan ini, bahkan pekerjaan sederhana seperti kuli panggul pun masih membutuhkan koneksi orang dalam. Karena itu demi membayar rasa terimakasihnya pada Haji Naim, Adam pikir dirinya harus bertahan dalam pekerjaan ini. Lagipula menjadi kuli panggul di pasar masih lebih baik daripada menjadi pengangguran. “Ugh, berat juga ternyata!” ujar Adam saat memanggul 3 karung beras sekaligus dipunggungnya. Saat itu dia berada di tengah hiruk pikuk pembeli di toko, tanpa sengaja masker hitam yang biasa dipakainya melorot dari wajahnya. “Eh, Mas Adam ya?” tanya seorang Ibu-ibu berhijab sambil menunjuk ke arahnya. Dia terbelalak dengan senyum antusias saat menatap wajah Adam. “Iya, kok tahu saya, Bu?” balas Adam. Keningnya mengkerut heran dan perasaannya mulai tak nyaman. “KYAAA! Gemeeesh!” Sungguh tak disangka Ibu-Ibu itu malah menjerit histeris sembari mencubit kedua pipi Adam dengan begitu kerasnya. Tentu saja suara berisiknya mengundang perhatian pengunjung toko lainnya yang mayoritas memang ibu-ibu. “Gantengnya! Ih ternyata beneran ganteng! Gak bohong!” Satu persatu suara Emak-emak bersahutan mengelilingi Adam seperti semut mengerumuni gula. Mereka lupa dengan antrian minyak goreng yang sedang diskon di toko. “Eh, Bu! Bu bayar dulu belanjaannya!” terdengar teriakan kesal Koh Acong dari balik mesin kasir. “Adam?! Lu ngapain disitu bukannya kerja malah foto-foto?” “Ma-maaf, Koh! S-saya dipaksa-” sahut Adam gelagapan namun kalimatnya oleh Ibu-ibu yang mengajaknya selfie. Klak klik! Suara shutter kamera tertuju ke arah wajah Adam. Para Ibu-ibu pengunjung toko bergantian berfoto dengan Adam. Meskipun punggung dan tangannya pegal karena masih memanggul karung beras, Adam terpaksa harus tersenyum manis memamerkan gigi rapihnya pada kamera. ‘Ya Allah, apa ini yang dirasakan sama Nabi Yusuf? Tapi kenapa ngenes banget hidup gue? Badan pegel dan nyeri dicubitin, senyum melulu gigi sampe kering...’ batin Adam saat tersenyum ketir. Bagaimana dia bisa menolak para Emak-emak yang agresif itu, Adam kalah mental. Keringat dingin mengucur di pelipis hingga sekujur tubuhnya, namun aroma tak sedap dari keringatnya tak membuat para wanita itu menjauh darinya. Adam yang saat itu hanya memakai setelan kaos longgar tanpa lengan justru malah terlihat lebih seksi, posenya saat memanggul karung beras malah terlihat seperti binaraga yang sedang memamerkan kontraksi otot lengannya. Meskipun penampilannya sederhana tapi aura ketampanan dan kemaskulinan Adam membuat kaum hawa seolah takluk. Salah seorang dari ibu-ibu pembeli malah ada yang mengelap peluhnya, melupakan tatapan cemburu suaminya yang hanya bisa geleng-geleng kepala menonton kehebohan ini. “Ada apaan itu? Kenapa pembeli gue pada pindah ke di tokonya Koh Acong? Heboh bener disitu kayak ada artis lagi syuting aja!” tanya seorang pemilik toko sebelah. Dia keheranan karena tokonya sepi dan pengunjungnya tadi malah berpindah ke toko Koh Acong. “Itu, Bos! Ada anak baru si Adam! Jamet ganteng yang sempet viral di t****k!” sahut salah seorang anak buahnya. “Wah? Masa iya? Cuma ngelihat si Adam doang sampe begitunya. Gak mungkin, ini mah jangan-jangan si Koh Acong pakai jin penglaris di tokonya.” *** Sementara itu di tempat lain yaitu sebuah cafe mewah di bagian selatan Jakarta, Ivy ditemani sahabatnya Cheryl terlihat sedang menghabiskan waktu makan siang bersama. Cukup lama Ivy berusaha sembunyi dari pandangan publik karena masalah yang menderanya. Dia lelah dengan serbuan wartawan infotainment yang ingin meliput tentang dirinya, baik dari mulai kasus pembatalan pernikahannya hingga kejadian tabrakan tragis yang dialaminya. “Wartawan zaman sekarang gak punya etika, kalau gue gak mau diwawancara ya udah. Jangan ngarang berita yang macem-macem!” omel Ivy dengan kesalnya saat membaca berbagai artikel baik itu di website berita maupun di postingan sosial media seperti youtube, i********: dan twitter. ‘Ya, namanya juga wartawan, Vy! Gak ada berita ya gak ada duit!” Cheryl berusaha menenangkan Ivy meskipun dia tahu mood sahabatnya saat ini terlihat buruk. “Terus kenapa lu ngajak gue makan disini? Kalau ada yang pengen diomongin kan bisa via telepon!” gerutu Ivy lagi sembari lanjut mengunyah makanannya. Ivy adalah pribadi yang jika sedang stress maka pelampiasannya adalah pada makanan. “Apa lu tahu sekarang pihak Event Organizer yang lu sewa buat pernikahan nanti udah ngirim somasi sama lu? Mereka minta ganti rugi.” cetus Cheryl dengan nada datar. “Apa? EO-nya minta ganti rugi? Loh kok bisa? Kan masih sebulanan lagi acaranya masih lama, harusnya bisalah di cancel!” komplen Ivy yang emosi. “Masalahnya tuh dana yang dibayarkan ke EO buat sewa gedung, catering dibayarnya bukan sama Jordan tapi sama pihak sponsor! Baru setengahnya lagi, pokoknya ribet deh!” Cheryl mencoba menjelaskan. “Pihak sponsor apaan?” “Ya, sponsor buat acara pernikahan lu, Vy! Dari mulai aplikasi trading, skincare, hotel, tiket maskapai, mereka udah sponsorin acara lu buat live di TV!” terang Cheryl. “Loh kok bisa sih, Jordan gak bilang apa-apa sama gue? Gue pikir itu duitnya sendiri! Gue sendiri milih dan beli gaun pengantin sendiri!” “Ya, gaun pengantin lu emang gak pake sponsor, tapi setelan jasnya Jordan, terus seragam buat Mami Papi dan Mertua lu termasuk pengiring pengantin semua dari sponsor, semua dari perancang busana kondang Mak Igor! Maka dari itu ribet kan?” “Terus kenapa gue yang harus ganti rugi? Kan ini idenya Jordan, ya dialah yang bayar” “Masalahnya dia mengatasnamakan elu, Vy! Dia kan calon suami lu.” “b******k! Jordan sialan! Kenapa dia selalu nyusahin hidup gue?” kutuk Ivy yang tak bisa menyembunyikan lagi amarahnya pada sang mantan. “Lalu gue harus gimana, Cher? Kenapa cobaan dalam hidup gue tuh gak berhenti? Apa gue kena karma atau azab?” lanjutnya lagi sembari meratapi nasibnya. “Gue sendiri gak tahu Vy, lu kurang amal kali makanya ketiban sial mulu. Tapi, kalau lu tanya saran gue, hmm... giimana kalau lu balikan lagi aja sama Jordan, abis itu terserah... lu mau lanjut rujuk atau cerai deh! Artis aja kawin cerai kan biasa, gimana? Hm?” Cheryl menyarankan dengan senyum meyakinkan. “Enak aja, emang nikah itu becanda? Kawin cerai gampang banget, gue ogah jadi janda!” tolak Ivy dengan tegas. Kembali dengan Jordan adalah hal yang paling tidak dia inginkan saat ini. Mengingat wajahnya saja membuat Ivy jadi ingin memuntahkan kembali makanan yang sudah di telannya. *** Tiga hari berlalu semenjak Adam bekerja menjadi kuli panggul di pasar tradisional, tepatnya di toko sembako milik Koh Acong. Keadaan ternyata tidak berubah, toko semakin ramai tapi bukan hanya karena pembeli melainkan juga karena kaum hawa yang berlomba mengantri ingin berdekatan dengan Adam. “Bang Adam, lihat kesini! Aww! Gantengnya! Smile! Cheese!” seru seorang gadis yang terlihat masih memakai seragam putih abu-abu. Mereka tak kalah dengan Emak-emak, terlihat sigap dengan tongsis untuk berselfie dengan Adam. “UDAH-UDAH! BUBAR! TOKONYA MAU TUTUP!” Teriak Koh Acong tiba-tiba. Suaranya yang menggelegar mengagetkan semua pengunjung termasuk ibu-ibu langganannya. “Loh, kenapa? Kan masih siang Koh?” tanya Ibu-Ibu serempak. “Pokoknya toko gue tutup! Guenya kena Covid! Mau apa hayo?” balas Koh Acong dengan lantang. Dari ekspresinya dia tampak aral degan situasi di tokonya yang berantakkan. Sedari tadi tokonya ramai tapi barang dagangannya tak laku dibeli. Melihat ekspresi galak dari Bosnya, Adam sudah bisa merasakan firasat buruk, dan benar saja tepat setelah mereka mengusir para pengunjung dan toko ditutup. Aura kegelapan dalam toko terasa menguar di udara. Tepatnya bersumber dari Koh Acong yang tengah bertolak pinggang dan menatapnya dengan tatapan pembunuh. “Adam, sini! Gue mau ngomong!” panggilnya dengan nada datar. “Ada apa Koh Acong manggil saya?” tanya Adam hati-hati. Perasaannya dag dig dug tak karuan. “Adam, maaf ya, lu gue pecat dari toko gue.” DUAARR! Kalimat itu terdengar seperti petir di siang bolong. Adam hanya bisa melongo berharap yang didengarnya barusan hanyalah imajinasinya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN