Setelah berhari-hari, berpekan-pekan, bahkan hampir mencapai satu bulan melalui lembah, hutan, pegunungan dan perkampungan, tiba lah akhirnya Arya Balawa dan Kumbara di kawasan hutan terlarang atau yang disebut Alas Purwo. Perjalanan selama puluhan hari itu tak bisa dikatakan menyenangkan. Arya Balawa sengaja menghindari keramaian-keramaian, sengaja memilih jalan-jalan yang jarang dilalui, yang menurut sebagian orang berbahaya. Cerita yang beredar menyebutkan bahwa Alas Purwo adalah hutan yang teramat angker, sehingga jarang ada orang yang mau lewat hutan itu. Namun, hutan itu adalah jalan satu-satunya menuju Padepokan Tapak Seta*n, sehingga mau tidak mau Arya Balawa dan Kumbara harus melewatinya. Matahari kian meninggi, merayap sejengkal demi sejengkal menuju ufuk barat. Arya Balawa dan

