Ular besar itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, bergoyang-goyang sambil menjulurkan lidahnya yag bercabang. Desisannya terdengar menyeramkan, menggema memenuhi seluruh gua. Aliran darah Kumbara serasa berhenti, tidak menyangka kalau ia akan berhadapan dengan ular sebesar ini. Ia ingin menjerit kuat-kuat, tetapi apa daya lidah terasa kelu. Bahkan kaki terasa ditancapkan ke bumi begitu saja. Ia tidak bisa bergerak, pasrah dengan apa yang akan terjadi. Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan sepasang taring besar dan tajam. Kumbara semakin bergidik. Ia berpikir, mungkin riwayatnya akan tamat malam ini. Namun, ia tidak mau berpikir kalau ia akan berakhir dalam perut seekor ular raksasa. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang bocah macam dirinya? Melawan pun juga akan sia-sia. I

