Rhea berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan map pasien di tangannya. Pagi itu terasa berbeda. Biasanya para perawat menyapa ramah, beberapa tersenyum atau sekadar mengangguk. Tapi kali ini, hanya beberapa saja yang melakukan hal itu. Sisanya lebih banyak menunduk, berbisik dengan rekan di sebelahnya, atau bahkan berpura-pura sibuk. Langkah Rhea sempat melambat. Matanya menangkap sekelompok perawat di dekat nurse station. Mereka menoleh ke arahnya sejenak, lalu cepat-cepat membuang pandangan dan saling berbisik. Dari gerak bibirnya samar-samar, Rhea bisa menangkap kata-kata seperti “wanita itu” dan “bukan siapa-siapa dulu, sekarang”. “Apa kau dengar? Dia tinggal dengan direktur Tama,” bisik salah satu staf sambil menutup mulutnya dengan tangan. “Benarkah? Padahal dia kan masih, ya

