Cahaya siang menembus jendela besar kafetaria rumah sakit, memantulkan bayangan ramai para tenaga medis dan keluarga pasien yang keluar masuk. Rhea berjalan di samping Tiago, langkahnya tenang tapi hatinya berdegup cepat. Dia tahu benar, banyak pasang mata yang mengawasi. Namun wajah Tiago yang rileks seakan menjadi pelindung kecil yang membuatnya berusaha santai. Mereka sudah membawa pesanan di tangannya. Cafetaria rumah sakit itu sistemnya counter service. Jadi pelanggan memesan sekaligus membayar. Ada juga yang minta diantarkan ke meja pelanggan oleh waiters, bisa juga mengambil sendiri lalu memilih meja, seperti yang Rhea lakukan itu. Memilih meja dekat jendela. Tiago dengan sigap menarik kursi untuk Rhea sebelum dia sendiri duduk di seberangnya. “Silakan, Dokter Cantik,” ujarnya

