Suasana di meja kafetaria itu seakan tertutup kabut tebal. Denting sendok dan garpu dari meja lain seakan tak terdengar lagi, tergantikan oleh detak jantung Rhea yang mendesak keras di dadanya. Tatapan Tiago benar-benar menusuk, seperti sedang menelanjangi semua rahasia yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat. Rhea menggigit bibir bawahnya. “Aku, tidak tahu harus bilang apa.” Tiago menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyilangkan lengan di d**a. Gerakannya tampak santai, tapi sorot matanya jauh dari itu. “Kau tidak tahu? Atau kau memang memilih diam? Karena bagaimanapun, diam itu bisa berarti membenarkan gosip,” katanya. Hanin tak tahan mendengarnya. “Dokter Tiago, kamu keterlaluan. Rhea tidak pernah mencari masalah. Kalau gosip itu sampai liar, itu karena orang-orang rumah sakit

