Rhea semakin tenggelam dalam pelukan tenang itu. Kelopak matanya yang berat tak mampu lagi bertahan. Napasnya mulai teratur, d**a naik turun pelan, hingga akhirnya dia benar-benar terlelap. Tama menunduk, menatap wajahnya yang damai. Ada semburat hangat di d**a pria itu, bercampur getir yang tak bisa dia ungkapkan. “Kau bahkan tak tahu betapa rapuhmu di mataku, Rhe,” bisiknya lirih, nyaris hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Beberapa saat dia biarkan Rhea tidur di lengannya. Namun ketika kepalanya mulai condong terlalu berat, Tama menghela napas panjang lalu meraih tubuh mungil itu. Dengan hati-hati, dia menyelipkan tangannya di bawah lutut dan punggung Rhea, mengangkatnya dalam gendongan bridal style. Rhea bergumam kecil, seolah tersadar sebentar, tapi tidak membuka mata. Kepala ga

