"Maksud kamu apa?" aku yang baru saja ingin memejamkan mata, tiba-tiba suara Mas Prabu terdengar. Aku langsung membuka mataku dan menoleh ke arahnya. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah, dan tangannya tergenggam kuat-kuat. Bahasa tubuh yang menggambarkan bahwa dia sedang marah. Aku melakukan kesalahan apa lagi? Tubuhku saja masih kedinginan karena hukumannya tadi dan sekarang apa lagi yang harus aku bahas. "Aku kenapa lagi, Mas?" tanyaku setengah berteriak. "Berani kamu berbicara sekeras itu?" dia mulai mendekat dan mencengkeram rahangku, "kurang ajar sekali kamu sampai menjelek-jelekkan saya dimata temanmu." Aku menggigit bibir dalamku keras-keras. Aku lupa bahwa w******p-ku terhubung dengan laptop Mas Prabu. Pasti dia membaca curhatanku dengan Andro di aplikasi itu. "Aku niatnya e

