* * * * * * * * * Part 47 * * * * * * * * *
"Lo ngapain?" Vale tersadar dari lamunannya y a n g konyol itu. Ya, sekarang, dia memang di sekolah. Rencananya sih tadi mau keruang musik dulu, ruangan favoritnya, setelah mendapatkan surat gak j e l a s tadi dia berniat nenangin diri dulu di ruangan itu.
Eh, muncullah sesosok malaikat y a n g membuatnya berhenti berpikir. d a n parahnya, Vale seakan lupa kenapa dia ada di sini. Kayaknya otak Vale seketika ngefreeze saat bertemu pan d a n g dengan mata Gani y a n g terasa menyilaukan pan d a n gannya itu, y a n g sukses membuat jantungnya berdebar tak karuan, juga tubuhnya lemas seperti tak memiliki tulang. Lihat lah, Vale kembali hiperbolis degan perumpamaannya y a n g semakin aneh. Gani benar benar sukses membuat Vale semakin imajinatif dalam merangkai kata kata dramatis, t i d a k seperti Bhisma y a n g membuatnya menjadi imajinatif jalur pikiran psikopat. Alias, y a n g Vale pikirkan saat berhadapan dengan Bhisma adalah semua hal y a n g seram seram d a n kejam untuk ia lakukan pada cowok itu. Vale seolah lupa bahwa dirinya ini anak cewek y a n g manis d a n baik hati – meski ka d a n g ka d a n g jahat sih, tapi gak sering kok – gara gara bersama Bhisma. Pikiran kejamnya seolah lebih mendominasi, di bandingkan perasaan berbunga bunga seperti saat ini. Perasaan khas remaja cewek y a n g se d a n g kasmaran.
Ya ampu, tadi Vale mikir apa? Kasmaran ? maksudnya, saat ini Vale se d a n g kasmaran gitu sama Gani? Kok bisa bisanya Vale berpikiran kayak gitu. Vale jadi malu sendiri membayangkan hal tersebut y a n g terasa menggelikan di perutnya. Kupu kupu y a n g tak bisa diam itu seolah terus menggelitik, memberikan sensasi menggoda y a n g gemas sekali. Segemas saat Vale meman d a n g sosok di hadapannya ini.
Dengan gelagapan, Vale menjawab. "Ah, um," aduh, gue ngomong apaan ya? Vale mendadak kehilangan seluruh kosa kata y a n g seharusnya sudah berkumpul di kepalanya, tapi lidahnya seolah tertahan untuk menjawab k a r e n a gugup d a n terkejut di tatap sedemikian rupa oleh Gani. Tatapan y a n g adududu bikin meleleh banget. Vale kayaknya besok besok harus pakai kaca mata hitam biar gak silau. Benar, ketampanan Gani sangat menyilaukan. Vale kayaknya gak sanggung menghadapinya dengan mata telanjng ini. Tapi pasti aneh banget dong ke sekolah pake kacamata hitam, di kira Vale mau liburan ke pantai. Atau y a n g lebih parah, di kira Vale mau nyari sampingan jadi tukang urut. Hal itu j e l a s malu maluin banget, Vale harus mencoret bayangan bahwa ia ke sekolah pakai kaca mata hitam. Hal tersebut j e l a s konyol.
"Ini mau pulang kok, duluan ya, Gani. Daaah..." akhirnya Vale bisa mengatakan sesuatu dengan j e l a s , setelah beberapa detik cewek itu tampak tergugup k a r e n a salah tingkah berada di dekat Gani. Vale h a n y a mengucapkan sepenggal kalimat tersebut demi menyelamatkan hatinya y a n g tengah berceceran. Demi kesehatan jantungnya, ia harus segera berlalu dari hadapan Gani sesegera mungkin. Vale akan belajar besok besok untuk menghadapi Gani dengan tenang, tapi timingnya saat ini emang gak bagus juga k a r e n a Vale se d a n g terkejut makanya jadi salah tingkah gini. Yak, begitu lah Vale. Terus saja menyalahkan hal lain, sebab Vale memang tak bersalah. y a n g salah j e l a s orang lain.
Baru aja, Vale ingin berniat kabur, eh, dengan cepat juga cowok ganteng itu menahan lengan kanan Vale. Hal tersebut membuat langkah Vale tertahan, serta detak jantungnya y a n g semakin deg degan. Di tatap Gani aja rasanya mau mati, ini pake di pegang tangannya.
Keba y a n g gak sih gimana keadaan jantung Vale saat ini? Rasanya udah gak aman lagi, Vale butuh pegangan sebelum ia terhuyung ke belakang h a n y a k a r e n a perasaan konyok y a n g kini menerjangnya. Tapi hal tersebut j e l a s t i d a k terjadi, Vale harus bersikap normal d a n keren di hadapan Gani. Gak boleh kelihatan jadi cewek aneh y a n g se d a n g kasmaran. Oke, Vale benar benar kasmaran rasanya untuk saat ini. Sulit juga mengelak hal tersebut mengingat perasaan y a n g tengah melan d a n ya itu.
"Mau ke mana?" tanya Gani, memecah keheningan y a n g semula tercipta, y a n g h a n y a di isi oleh berbagai macam pertanyaan y a n g berlangsung di kepala Vale. Saat pikiran Vale sudah berkembang entah ke mana, d a n mempertanyakan hal y a n g t i d a k t i d a k .
Cowok itu kini menatapnya seiring dengan pertanyaan tadi. Kenapa Gani ingin tau Vale mau ke mana sih, kalo gin ikan Vale jadi mikir Gani perhatian dengannya. Nanti Vale kepedean, perasaannya malah semakin panjang lantaran mendapat sinyal d a n perlakuan manis dari Gani y a n g entah h a n y a special untuknya atau memang manis ke semua orang. Vale j e l a s t i d a k tahu, ia bingung sendiri bagaimana harus menilainya, sebab ia t i d a k memperhatikan bagaiomana keseharian Gani di dalam kelas. Kelas mereka kan berbeda, masa iya harus nanya sama Bhisma y a n g merupakan teman sekelas Gani, ya gak mungkin lah! Vale juga ogah nanya ke cowok itu. nanti y a n g ada malah makin panjang d a n di persulit, Vale gak mau ya berurusan panjang dengan Bhisma.
"Pulang." Vale menjawab singkat, sebab ia takt ahu lagi harus menjawab apa. Kan y a n g ditanya memang mau ke mana, ya pulang lah. Ini kan pulang sekolah, memangnya tujuan Vale ke mana lagi selain pulang. Apa lagi Vale udah sendirian gini, gak sama Vio d a n Lala. Kalo sama mereka kan barus bisa di pertanyakan bahwa mereka akan pergi main, d a n cocok untuk di tanya mau kemana. Emang dasar Gani pengen buka percakapan aja gak sih sama vale, sampe harus nanya hal hal gak penting gini. Vale kan jadi makin kepikiran kalo Gani segitunya pengen ngobrol sama Vale. Ini boleh geer gak ya. Duh hati, baik baik yak amu dalam menghadapi sikap Gani y a n g bisa keliatan manis ini C u m a k a r e n a hati Vale y a n g emang lemah. Meski padahal sikap Gani tuh ya biasa aja, apa salahnya nanya mau ke mana, y a n g mana mungkin h a n y a sekadar basa basi semata. Gak lebih. Tapi emang dasar Vale y a n g senang berpikiran lebih sih.
"Naik apa?" Gani bertanya lagi. Nah kan, Gani emang seneng pengen buka pembicaraan dengan Vale. Atau seperhatian itu, atau se pengen tahu itu. kayaknya halal deh buat Vale baper saat ini, k a r e n a sinyal sinyal y a n g di tunjukan oleh Gani emang mengarah pada sebentuk perhatian seorang cowok y a n g emang se d a n g suka dengan cewek. Ada rasa penasaran, juga perhatian, y a n g bercampur menjadi satu. Gani j e l a s terlihat melakukan hal tersebut pada Vale, bukan salah Vale jika ia berpikir y a n g t i d a k t i d a k . Sebab sikap Gani sendiri memang memancingnya untuk berpikiran seperti ini. Vale kini t i d a k ambil pusing lagi untuk menghentikan pikiran hiperbolisnya dalam menerka nerka sikap Gani.
"Bus." Jawab Vale, menanggapi pertanyaan Gani tadi y a n g menanyakan dirinya pulang naik apa. Vale h a n y a menjawab apa a d a n ya, sesuai dengan kendaraan y a n g memang ia tumpangi untuk menuju ke rumah. Bus y a n g berada di depan sekolahnya, maksudnya halte bus y a n g memang ada di depan sekolahnya. Lebih mudah untuk menggunakan angkutan masal itu di bandingkan membawa kendaraan pribadi, sebab Vale memang menyukai naik kendaraan umum. Terlebih ia juga t i d a k harus transit k a r e n a memang arah rumahnya dekat dengan rute bus y a n g di lalui ke sekolahnya. Untuk itu lah Vale menjadi penumpang tetap bus dalam berangkat d a n pulang sekolah, atau pun kebutuhan sehari harinya saat akan keluar.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * T o B e C o n t i n u e d * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *