* * * * * * * * * Part 48 * * * * * * * * *
"Bareng ya?" pinta Gani dengan tatapan meminta izin pada Vale. Matanya terlihat penuh harap, y a n g pertanda permintaan tersebut memang berharap untuk dikabulkan oleh Vale. Bahwa Gani boleh untuk pulang bareng dengan Vale naik bus. Vale sendiri gak tau arah pulang Gani ke mana, sampai ia ingin pulang bareng naik bus dengan Vale.
Mengingat bus sendiri memang kendaraan umum, Vale jadi bingung sendiri jika ingin menolak. Ini konteksnya Gani mengajak bareng, tanpa meminta untuk menebeng di kendaraan y a n g di bawa Vale, atau mengajak Vale untuk pulang bersamanya menaiki kendaraan milik cowok itu. tapi bareng naik bus, kendaraan umum itu, gak mungkin di tolak juga dong. Selama Gani punya ongkos buat bayar tarif bus, ya gak ada masalah sebenernya.
"Hah?" Namun, Vale tampak bingung dengan ucapan Gani hingga membuat cewek itu kini terlihat konyol. Vale bahkan tak mampu menutupi raut kebingungannya saat mendengar ucapan Gani tadi, sebelum ia sempat berpikir harus bereaksi seperti apa. Refleks Vale benar benar t i d a k cantik, d a n Vale kini tengah merutuki hal tersebt k a r e n a refleksnya itu. Harusnya Vale jangan langsung berekspresi saat mendengaru ucapan Gani, ia seharusnya berpikir d a n menelaah terlebih dahulu agar t i d a k salah sikap dalam menghadapi Gani. Agar membuatnya t i d a k terlihat jelek d a n aneh begini, tapi ya mau gimana lagi kalo sudah terjadi. Vale h a n y a bisa menyesali d a n berharap hal seperti ini t i d a k akan terulang lagi. Jika terulang lagi, Vale akan menyesal lagi d a n tentu saja berharap lagi agar kejadian tak terulang lagi. Begitu saja seterusnya d a n t i d a k akan pernah menemukan titik temu. Dasar Vale.
Vale masih ternganga. Bareng? Emang, nih orang gak bawa kendaraan? Motor? Atau mobil gitu y a n g kerenan Dikit? Atau di jemput sama supirnya gitu. Tapi biasanya cowok kan pasti bawa kendaraan, apa lagi di sekolahnya ini. Vale jarang banget nemuin ada cowok y a n g gak bawa kendaraan, k a r e n a nyaris semua cowok itu pasti minimal bawa motor. Makanya cukup ngerasa aneh pas tahu Gani malah mau bareng sama Vale naik bus, y a n g artinya Gani termasuk dari sedikit nya anak cowok y a n g gak bawa kendaraan ke sekolah. Padahl Vale lebih ngarep Gani bawa kendaraan d a n ngajakin pulang bareng dengan di bonceng motor, terus Vale bisa modus peluk peluk. Terus kalo Gani emang modus, pasti tuh cowok bakal sok kebut kebutan di jalanan biar bisa Vale peluk. Biarkan Vale menghayal dulu ya, masalah kenyataan y a n g berbeda itu urusan belakangan.
"Kenapa?" tanya Gani, saat Vale h a n y a bengong melihatnya. Tatapan cowok itu y a n g teduh, tapi tajam. Atau tepatnya sangat menawan, y a n g sukses membuat jantung Vale selalu deg degan setiap kali di tatap demikian. Saking magic nya tatapan Gani y a n g terasa menggetarkan sanubari. Vale belum pernah merasakan hal hal segini berlebihan, bukan k a r e n a urusan perasaan doang sih. Tapi k a r e n a Gani tuh emang ganteng banget. Bayangin aja sih rasanya di tatap orang ganteng tuh gimana, antara seneng seneng gemes tapi deg degan kan. Itu lah y a n g di rasakan Vale setiap kali di tatap oleh Gani. Rasanya Vale ingin menghambur saja ke pelukannya dengan suka rela, tapi pasti jadinya malah makin aneh banget. Oke, Vale gak boleh semakin merusak image dirinya di hadapan Gani y a n g bisa berpotensi menjadi pacar masa SMA nya ini. Ya ampun, hal besar apa y a n g di lakukan Vale di masa lalu sampai bisa berpotensi untuk pacaran dengan cowok ganteng ini? Kayaknya Vale ikutan berjuang dalam peperangan maja pahit deh, untuk bersama sama dengan gajah mada membantai kerajaan lawan.
Vale y a n g merasa ditatap seperti itu oleh Gani segera bertingkah konyol. Salting gitu. Vale emang cewek biasa y a n g gak bisa biasa aja saat di tatap oleh cowok ganteng y a n g se d a n g di taksir nya ini. Seberusaha mungkin Vale mencoba cool d a n santai, nyatanya ia tetap bersikap salah tingkah d a n penuh kecanggungan. Gelagatnya terlihat j e l a s , dengan ekspresi y a n g menahan senyum, tangan y a n g terus terusan mengusap tengkuk, serta kaki y a n g beberapa kali di mainkan hingga terangkat sebelah. Tipikal cewek cewek salah tingkah pada umumnya deh, Vale emang masih normal sebagai cewek dalam hal kasmaran. C u m a Bhisma y a n g bikin Vale jadi terlihat gak normal, beruntumg Gani mengembalikan kenormalan Vale.
"Ah, eh, um, emang lo gak bawa motor? Atau, apa gitu?" Vale menjawab dengan agak gugup, hingga ucapannya terdengar gagap seperti itu. Tangannya juga tak lepas dari menyentuh tengkuknya y a n g sama sekali t i d a k gatal, pertanda cewek itu memang se d a n g salang tingkah saat berhadapan dengan Gani seperti ini. Sungguh Vale t i d a k bisa menyembunyikan perasaan salah tingkah tersebut saat harus berhadapan d a n berkomunikasi dengan Gani seperti ini, mungkin k a r e n a efek tatapan Gani y a n g sukses menghipnotis kewarasannya sampai seperti ini. Namun, Vale masih berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. Atau tepatnya berusaha untuk tetap terlihat keren di hadapan Gani meski harus tergagap seperti ini. Dengan separuh kewarasannya y a n g tersisa, Vale berusaha menanggapi pertanyaan Gani itu dengan normal, dengan mengajukan pertanyaan lain y a n g menjadi sumber kebingungannya beberapa saat lalu saat Gani mengajaknya untuk pulang bareng.
"Enggak." sahut Gani, cowok itu menggeleng dengan polos. Lagi lagi di iringi senyuman y a n g manisnya kebangetan, Vale gak ngerti lagi kenapa Gani bisa seganteng itu. Maksudnya, Gani gak senyum aja tuh udah ganteng, di tambah lagi tuh cowok pake murah senyum. Makin gantengnya gak ada obat deh, berkah banget kayaknya orang tua cowok itu pas ngidam Gani, pasti mereka melakukan ribuan kebaikan sampai bisa melahirkan bibit unggul seperti ini, sungguh berkah l u a r b i a s a y a n g tiada terkira. Siapa pun y a n g meman d a n gi wajah cowok itu, pasti akan menggumamkan berbagai macam pujian seperti y a n g Vale lakukan setiap kali berhadapan dengan Gani. Vale gak berlebihan, ini benar benar apa a d a n ya. Gani emang gantengnya kelewatan buat di lihat oleh mata manusia biasa seperti Vale, y a n g jarang melihat makhluk seganteng ini sepanjang hidupnya. Percayalah, anak anak basket y a n g katanya ganteng ganteng banget itu – y a n g Vale sebut cupu – gak ada apa apa nya kalo di bandingin dengan kegantengan Gani y a n g sukses bikin jantung berdebar gila gilaan. Sebut saja Vale emang hiperbolis, tapi ya gak papa, semua ini jadi wajar untuk Gani y a n g ganteng nya keterlaluan.
"Berhubung gue baru pindah kesini, gue tadi dianter sama sopir gue. Tapi, sekarang, gak tau deh dia di mana. Udah hampir satu jam gue di sini." Gani melanjutkan ucapannya lagi, saat melihat raut wajah kebingungan y a n g terukir pada wajah Vale. Cowok itu buru buru mengonfirmasi terkait keadaannya saat ini y a n g seperti anak hilang, lantaran masih menjadi siswa baru y a n g belum terlalu paham lingkungan di sekolah ini. Gani juga t i d a k berbohong saat mengatakan ia memang menunggu supirnya y a n g entah ke mana, lalu tanpa sengaja ia malah menemukan sosok cewek imut y a n g belakangan menyita perhatiannya k a r e n a sikap nya y a n g sangat lucu itu. Sejak awal masuk sekolah ini, Gani sudah notis nih cewek k a r e n a mengantarkan dirinya ke kelas baru, lalu sikapnya y a n g imut imut gemes, tapi blak blakan membuat Gani menjadi tertarik dengan sosok ini. Lihat lah saat ini, Vale tampak salah tingkah berkali kali saat berhadapan dengan Gani, tapi alih alih meilih kabur, tuh cewek masih tetap berusaha cool untuk menghadapi Gani d a n menyahuti segala macam ucapan ucapan y a n g padahal sengaja banget Gani ucapin biar obrolan mereka panjang. Terkait pulang bareng, meski gak sepenuhnya k a r e n a Gani bingung caranya pulang, j e l a s saja sisanya k a r e n a Gani ingin semakin dekat dengan cewek ini. Sebut saja ini namanya modus, ya gak papa lah, mereka masih remaja. Memang saatnya menikmati masa masa seperti ini bukan?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * T o B e C o n t i n u e d * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *