Part 40

1781 Kata
* * * * * * * * * Part 40 * * * * * * * * *   Vale gak jadi ke toko buku sama Vio,  k a r e n a  akhirnya kalah di lawan males. Mungkin salah satu faktornya  k a r e n a  Lala gak bisa ikut juga sih, kepala Vale lagi pusing, dia gak mau makin pusing  k a r e n a  harus ngurusin Vio di sepanjang jalan. Jadi Vale memutuskan untuk mengundur jadwalnya ke toko buku saja dari pada nanti kepalanya malah meledak lantaran tak kuasa menahan segala kepenatan  y a n g menyerang. Lagi pula, sepertinya Vale lebih membutuhkan banyak waktu untuk sendirian seperti ini, merenungu nasibnya  y a n g terasa lucu  d a n  patut di tertawakan. Dalam kesendirian seperti ini, di dalam kelas  y a n g  t i d a k  ada penghuninya selain Vale seorang. Diam.  d a n  tak ada  y a n g bersuara, seolah menjadi teman Vale saat ia se d a n g tak ingin berteman dengan siapa pun. Vale menikmatinya, membiarkan waktu terus terlewat dengan gadis itu  y a n g meman d a n g ke sekitar  d a n  tak menemukan siapa pun di sana kecuali dirinya. Vale tersenyum miris, demi Lala  t i d a k  curiga dengan sikapnya, Vale tadi sampai pura pura pulang duluan  y a n g padahal C u m a pergi ke toilet, lalu balik lagi ke kelas untuk melanjutkan duduk di sana. Mencatat pelajaran  y a n g tadi belum selesai, demi membunuh waktu dengan melakukan segala kegiatan  y a n g bisa memangkas waktu tersebut. Vale  h a n y a   butuh sendiri untuk saat ini,  t i d a k  ingin di tanya oleh siapa pun, sebab saat menjawabnya akan terasa sangat sesak  d a n  ia tak sanggup untuk menceritakan apa apa tentang hal  y a n g tengah terjadi untuk saat ini. Vale  h a n y a   ingin menenangkan dirinya sendiri, tanpa ada gangguan siapa pun. Se t i d a k nya untuk saat ini. Jadi  y a n g ia lakukan  h a n y a   mencatat terus padahal tadi ia malas sekali mencatat, tapi  k a r e n a   t i d a k  ada hal lain  y a n g di lakukan, memainkan ponselnya  h a n y a   akan membuatnya membaca pesan masuk  y a n g menyatakan berita  y a n g sama  y a n g  t i d a k  ingin Vale dengar. Lalu cewek itu pun  h a n y a   terus mencatat sampai ia bosan sendiri. Lanjutin catet di rumah aja deh, biar ada kerjaan, dari pada ngeliatin orang berantem di rumah. Batinnya tersenyum miris. Mengingat dengan kegiatan  y a n g terjadi di rumahnya,  y a n g membuat Vale menjadi  t i d a k  betah berada di rumah. Sehingga segala upaya di lakukannya untuk mengulur waktu jam pulang sekolah ini,  h a n y a   demi memangkas waktunya di rumah sehingga  t i d a k  terlalu lama. Mungkin Vale harus mengubah strategi, ia akan membeli earphone  y a n g  t i d a k  terdengar apa apa selain musik  y a n g di mainkannya, sehingga ia  t i d a k  perlu mendengar keributan dari luar kamarnya  y a n g  h a n y a   akan membuatnya sakit kepala. Vale akan menyetel musik kencang kencang,  d a n   t i d a k  akan mengizinkan suara apa pun masuk ke gen d a n g telinga nya  y a n g sudah di sumbat oleh benda tersebut. Sepertinya ide itu bagus juga untuk ia coba, nanti saat sampai rumah ia akan berselancar di market place untuk mencari benda tersebut  y a n g akan menyelamatkannya dari rasa kesal  k a r e n a  huru hara  y a n g ada di rumahnya itu. Lumayan juga Vale menjadi ada kegiatan  y a n g bisa di lakukannya tanpa peduli dengan  y a n g terjadi di luar. Atau Vale mungkin bisa mencoba ide lain, ia bisa membeli karpet  d a n  busa peredam suara untuk ia tempel di kamarnya, sehingga Vale  t i d a k  akan mendengar suara dari luar kamarnya. Vale  h a n y a   perlu menutup pintu kamar,  d a n  kamarnya akan menjadi tempat paling aman  y a n g bisa ia singgahi  k a r e n a  dunia luar  y a n g begitu kejam  d a n  penuh teriakan serta makian. Vale enggan mendengarnya, enggan juga melerai, enggan juga menonton, ia enggan untuk melakukan apa pun  k a r e n a  sudah berada di tahap paling melelahkan  y a n g pernah ada. Sebab kejadian seperti itu bukan  y a n g pertama kali, melainkan sudah sangat sering terjadi, hingga Vale sangat bosan melihatnya  d a n   t i d a k  perlu menontonnya lagi. Sebab ia sudah nyaris menghafal segala situasi  y a n g akan terjadi  d a n   h a n y a   terus berulang, lagi  d a n  lagi, tanpa menemukan jalan keluar meski peperangan itu berlangsung tiap hari. Vale sampai benar benar muak melihat segalanya  d a n  ingin keluar dari rumah itu saja secepatnya. Setelah merapikan buku, memasukkannya kedalam tas, Vale menggendong tasnya dikedua pundaknya,  d a n  melangkah keluar kelas. Melewati koridor-koridor sekolah  y a n g sudah sepi ternyata asik juga ya. Gak ada siapa pun, c u m a dia seorang. Tenang,  d a n  nyaman. Ah, suka suasana kayak gini. Coba aja, tuh rumah bisa setenang ini, mungkin gue bakal betah, hem. Coba aja di rumahnya gak ada keributan setiap hari,  y a n g di warnai huru hara suara Mama  d a n  Papa nya  y a n g entah kapan akan berakhir. Setiap harinya selalu saja ada masalah  y a n g di ributkan serta  t i d a k  pernah memiliki jalan keluar, Vale sampai heran sendiri kenapa dua orang itu bisa menjalin hubungan selama ini jika  y a n g dilakukannya  h a n y a   ribut  d a n  ribut serta menyakiti perasaan satu sama lain. Vale sangat sangat  t i d a k  habis pikir apa pertimbangan mereka bisa bersama, hingga detik ini. Bagaimana cara mereka berkomunikasi dulu, mengapa  t i d a k  di terapkan sekarang agar se t i d a k nya dunia Vale bisa lebih tenang  d a n   t i d a k  berisi teriakan  d a n  teriakan di sepanjang waktu,  k a r e n a  Vale sendiri sudah muak mendengarnya. Saat se d a n g berjalan, Vale  t i d a k  begitu memperhatikan langkahnya, juga benda benda  y a n g menghalangi langkahnya itu. Gak sengaja, Vale menginjak sebuah kertas kecil di kaki kirinya. Kertas  y a n g kini terjepit oleh sepatunya, sehingga tak bisa terbang ke mana pun selagi kaki Vale belum menyingkir. Vale mengernyit, kertas siapa?  d a n  kertas siapa? Sepertinya ini bukan kertas coret coret  y a n g sengaja di buang, dari bentuknya seperti kertas dengan isi  y a n g lumayan penting. Vale jadi penasaran kira kira apa isi tulisan di kertas itu, apakah menari. Lumayan kan jika menarik ia bisa mengisi pikirannya dengan hal lain asal bukan dengan permasalahan keluarganya  y a n g tak kunjung usai. Vale bahkan berharap kertas itu berisi teka teki  y a n g harus Vale pecahkan, rasanya Vale juga siap untuk memecahkan teka teki tersebut. Dengan menundukkan kepala seDikit, Vale menggapai kertas  y a n g memang ada di bawah sepatu nya. Mengambilnya,  d a n  secara perlahan membuka kertas  y a n g dibentuk dengan bentuk pesawat-pesawatan. Kayak anak kecil aja. Siapa sih  y a n g main pesawat pesawatan di bangku SMA gini, terlebih sekolah ini emang khusus SMA, gak ada anak SMP, SD, apa lagi TK. Lagian, kalo emang mau menyampaikan pesan ya kali masih main kirim kiriman surat kayak jaman jebot gini. Sekarang kan apa apa sudah serba mudah, bisa kirim chat aja gitu, tinggal pilih mau di aplikasi apa. Berbagai aplikasi penyedia jasa chat sudah banyak, disertai foto jika perlu. Kasih foto pesawat kertas kalo emang segitu pengennya mainan pesawat kertas gini. Tapi Vale gak mau ambil pusing kenapa si orang  y a n g membuat sepucuk surat dalam pesawat ini,  y a n g mana  h a n y a   akan buang buang waktu saja untuk memikirkannya. Cewek itu memilih untuk segera membuka pesawat kertas itu untuk memeriksa tulisan di dalamnya. Temui gue, ditaman, deket sekolah. Sekarang. Sekali lagi, Vale mengernyit. Melongokkan kepalanya kekanan  d a n  ke kiri dengan bingung. Sepi. Gak ada orang. Vale berusaha menajamkan pan d a n gannya lagi, berusaha mencari siapa pun  y a n g melintas untuk mencari sosok pengirim pesawat kertas ini, tapi ia tak menemukan siapa pun. Jam pulang sudah berbunyi sejak tadi, se d a n g kan Vale sengaja pulang terlambat hingga suasana sekolah sudah begitu sepi. Bahkan nyaris tak ada  y a n g melintas,  h a n y a   ada beberapa siswa  y a n g  t i d a k  Vale kenal,  d a n  itu pun berada sangat jauh sekali. Gak mungkin dia bisa kirim pesawat kertas sampai ke sini, secara logika saja sudah gak sampai. Setelah Vale berusaha mencari siapa pengirim pesawat kertas itu  d a n   t i d a k  menemukan orang  y a n g bisa di curigai sama sekali, ia pun menyerah. Terus, ini buat siapa? Gue? Vale bergumam, memikirkan isi surat tersebut  k a r e n a  bingung. Surat tersebut tergeletak begitu saja, se d a n gkan  y a n g melintas saat itu  h a n y a   Vale, ia kan jadi  t i d a k  paham sebenarnya surat ini di tujukan untuk siapa. Apa mungkin emang sengaja di terbangkan ke arahnya saat orang  y a n g entah siapa itu melihat Vale keluar dari dalam kelasnya? Entah lah, Vale juga  t i d a k  paham cara kerjanya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * T o  B e  C o n t i n u e d * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN