Part 45

1738 Kata
  * * * * * * * * * Part 45 * * * * * * * * *   Padahal, gak nyampe 1 menit Lala ninggalin dia buat ke kasir, bayar buku  y a n g dibelinya, eh tau-tau aja tuh orang udah gak ada ditempatnya. Kesel banget kan. Harusnya tadi Lala seret aja Vio ke kasir  d a n  gak perlu ninggalin cewek itu, emang Vio nih harus di pegangin terus biar gak ilang ilangan. C u m a kan yaa repot juga, tadi tuh Lala mau ke kasir doang kan,  d a n   y a n g belanja pun C u m a Lala doang. Gak enak dong kalo misalkan harus ngantre berduaan gitu, nanti malah di protes sama orang  y a n g mengantre di belakang Lala lantaran ngeribetin. Apa lagi Vio suka banget nanya hal  y a n g aneh aneh,  y a n g mana nanti bikin Lala gak fokus pas ngeluarin duit buat bayar ke kasir. Makanya deh, Lala tinggal aja sebentar. Sebentar doang loh, gak lama kok. Tapi ternyata Vio malah udah ngilang gini. Jadi repot deh Lala harus nyariin anak itu. Dengan kaki  y a n g mengentak-ngentak, Lala mencoba mencari ke tempat terakhir kali mereka berpisah. Lala akhirnya berjalan juga, gak C u m a mencari lewat pan d a n gannya aja  k a r e n a  emang gak ketemu. Lala mencari ke tempat-tempat rak  y a n g menyimpan berbagai macam novel,  d a n , ya ampun, ternyata Vio emang ada di sana, lagi berdiri disalah satu rak dengan wajahnya  y a n g polos,  d a n  juga jari telunjuk  y a n g di ketukannya di atas dagu nya. Seperti kebanyakan orang lagi mikir gitu. Vio emang banyak mikir sih, mikirin hal hal  y a n g gak penting, tentu saja. Bahkan omongan Lala pun sering di pikirkan sama Vio  k a r e n a  cewek itu suka gak ngerti. Tepatnya, Vio telat banget mikirnya. Tapi meski pun begitu Lala senang berteman dengan Vio, C u m a harus ekstra sabar aja kan menghadapinya. Tapi gak papa lah, mungkin ini emang harga  y a n g harus di bayar demi memiliki teman  y a n g baik kan. Toh Vio emang anaknya baik banget, ka d a n g juga asik. Vio tuh anaknya gak rese, gak suka ngomongin orang, kayak kebanyakan anak anak di kelasnya. Lala gak suka banget sama genk genk seperti itu, jadi Lala memilih untuk berteman dengan Vale  d a n  Vio  y a n g emang gak banyak tingkah  d a n  gak banyak julid tentunya. "Vio, ke mana aja sih, gue cariin dari tadi gak tau nya di sini. Udah ayo pulang, Tuan Besar gue ngomel-ngomel tuh nyuruh pulang." Kata Lala  y a n g gemas saat melihat Vio, cewek itu pun berjalan menghampiri Vio  y a n g masih berdiri di tempatnya tadi. Lala kini berjalan dengan menenteng kantong plastik berisi buku  y a n g baru saja di beli  d a n  di bayarkannya di kasir tadi,  y a n g bikin dia hampir kehilangan Vio ini.  d a n  benar saja kan kini Vio seperti anak hilang  y a n g ling lung  d a n  kebingungan sendiri. Lucu sih emang tampang Vio nih, Lala jadi kasihan juga udah ninggalin Vio sendirian di tempat ini. Mungkin lain kali Lala emang harus mengajak Vio mengantre saja saat diirinya mau membayarkan tagihannya pada kasir. Tuan Besar? Lala selalu menyebut Papa nya dengan panggilan 'Tuan Besar' jadi, kalo sudah menyangkut 'Tuan Besar'nya Lala, pasti masalah cepet kelar. Ya, you know lah... perintah Papa kan gak bisa di ganggu gugat, kalo berani di ganggu gugat, uang jajan Lala  y a n g bisa terganggu juga. Demi keamanan  d a n  kenyamanan bersama, Lala jadi gak mau ngebantah ucapan Papa  d a n  nurut aja kalo misalkan di kasih perintah. Lagian perintah Papa juga gak pernah aneh aneh, khas bapak bapak  y a n g suka khawatir sama anak nya gitu loh. Yaa itu kan juga  k a r e n a  pertanda bahwa Papa emang sa y a n g sama Lala, jadi Lala emang gak ngebantah  d a n  C u m a nurut aja. Lagian itu termasuk win win solution dong bagi mereka berdua, Lala nurut, uang jajan aman. Lala gak nurut, Papa marah, uang jajan terpotong. Duh, ya Lala gak mau dong uang jajannya sampe berkurang. Makanya ia memilih buat nurut aja deh dari pada harus panjang kan. Sekali lagi, Vio bernapas dengan lega saat sebelum Lala kesini, dia sudah sempat mengusir Ricky dari sisi nya. Ia  t i d a k  mau sampai Lala melihatnya se d a n g bersama Ricky ...  k a r e n a , ya Vio malu aja. Nanti Vio harus jawab apa, Vio gak mau pipinya keliatan bersemu kemerahan kayak kepiting rebus saking saltingnya. Belum lagi kalo ternyata nanti Lala malah ngomel ngomel atau ceramahin Vio terkait Ricky, itu juga Vio gak mau denger. Masalahnya ia sama ricky beneran gak ada apa apa. Atau tepatnya belum ada apa apa sih. Yah, apa pun itu Vio belum siap buat diketahuin sama Lala. Apa lagi konteksnya harus kepergok gitu, gak mau deh. Jadi dari pada hal itu terjadi lebih baik Vio buru buru ngusir Ricky kan sebelum tertangkap oleh mata Lala  y a n g tajam  d a n  mnyeramkan itu. Tapi, oh God, ternyata cowok itu belum pergi. Melainkan berdiri disalah satu rak  y a n g sekarang se d a n g di lewati mereka, melongokkan kepalanya ke arah Vio  y a n g berjalan di belakang Lala, lagi-lagi cowok itu nyengir. Menunjukkan sederetan giginya  y a n g putih bersih  d a n  teratur, sudut bibirnya tertarik ke atas, hingga membuat dua titik di pipinya. Cengiran  y a n g selalu sukses meluluh lantakan hati Vio setiap kali melihatnya, lagi lagi Vio seolah terhipnotis oleh senyuman itu. Ricky memang sepertinya sengaja melakukan hal tersebut  k a r e n a  tau kelemahan Vio, jika Ricky bersikap begini terus,  j e l a s   hidup Vio menjadi  t i d a k  aman  d a n  akan mengalami masalah terus menerus. Sebab Ricky seolah sengaja mempermainkan dirinya dengan sikap lelaki itu  y a n g terus terusan menggo d a n ya, Vio kan  j e l a s   tergoda  k a r e n a  ulah cowok itu, tapi takut ketahuan Lala, lagi lagi Vio kan malu kali nanti malah di godain Lala. Ya ampun, penyakit jantung Vio kambuh deh. Rutuk nya dalam hati. Saat melihat senyuma Ricky  y a n g masih lebar, serta tatapan jailnya  y a n g mengarah pada cewek itu. Belum lagi matanya  y a n g teduh juga tampak berseri saat melihat wajah Vio  y a n g kini pasti terlihat menganga  d a n  seperti orang bodoh. Vio membenci refleksnya sendiri, tapi Ricky seolah menikmatinya. Terbukti dengan senyuman cowok itu  y a n g semakin lebar, serta seringaian di matanya  y a n g tampak bahagia sekali melihat tingkah Vio saat ini. Padahal Vio masih sebal dengan cowok itu, tapi melihatnya tertawa sendiri, terlebih tertawa  k a r e n a  tingkahnya, tak ayal membuat Vio ikut menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman sebagai tanggapannya terhadap cengiran Ricky tadi. Vio buru buru mengalihkan pan d a n gannya saat Lala terus menyeretnya untuk keluar dari toko buku,  y a n g artinya Vio harus menyudahi saling pan d a n gnya dengan Ricy  y a n g masih berada di sana. Cewek itu tampak kewalahan menyamai langkahnya dengan Lala  y a n g lebar lebar, terlebih  k a r e n a  Vio sendiri se d a n g  t i d a k  fokus  k a r e n a  terpancing oleh Ricky. Alhasil membuat ia kewalahan untuk melangkah sesuai langkah Lala itu. Ricky memang sukses mengacaukan pikirannya, Vio  t i d a k  boleh terdistrek lagi oleh Ricky. Ia harus fokus dengan langkahnya agar  t i d a k  kesandung.  y a n g ada kalo sampe kesandung  d a n  Vio jatuh, terus masih kelihatan sama Ricky kan malu juga. Malu maluin banget sih itu. Meski Vio sering berperilaku malu maluin, tapi kali ini Vio gak mau terlihat malu maluin di depan Ricky. Meski Ricky sudah mengetahui sifat cewek itu juga tanpa perlu Vio berusaha menutupinya, tapi ya refleksnya Vio saja sudah cukup menghibur, jangan sampai Vio membuat hiburan lain  k a r e n a  kecerobohannya. Itu  y a n g Vio maksud, sebisa mungkin ia harus lebih hati hati dong. Masalahnya kalo kesandung  d a n  nanti jatuh kan Vio juga  y a n g sakit, Vio gak mau dengkulnya lecet lecet kayak pas dia SD. Vio pasti bakal nangis  k a r e n a  kesakitan serta dengkulnya  y a n g berdarah,  d a n  akan berhenti setelah kelelahan lalu tertidur. Seperti itu biasanya setiap Vio menangis  k a r e n a  jatuh. Tapi saat ini kan Vio gak mungkin bersikap begitu. Enggak di depan Ricky, tentu saja. Astaga, ternyata Vio sudah tumbuh menjadi seorang remaja  y a n g mulai memikirkan image nya di depan seorang cowok. Vio mulai berpikir hal hal  y a n g  t i d a k  akan ia lakukan di depan cowok  y a n g saat ini se d a n g memenuhi hatinya. Vio sendiri bahkan  t i d a k  menyangka ia bisa berpikir seperti itu, ia pikir selamanya pola pikirnya  h a n y a   sebatas seperti anak anak saja  d a n  sulit untuk dewasa. Ternyata memang  h a n y a   perlu waktu  d a n  keadaan sih, meski hal tersebut gak membuat Vio seratus persen meninggalkan kelemotannya  y a n g sudah mendarah daging itu. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * T o  B e  C o n t i n u e d * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN