Part 51

1804 Kata
* * * * * * * * * Part 51 * * * * * * * * *   Ya, sejak percakapan di koridor tadi, mereka sama-sama belum ngeluarin kata-kata lagi, c u m a saling diem.  d a n  kalo mereka gak sengaja saling bertatap muka, keduanya c u m a bisa nyengir, atau gak, mesam-mesem gitu. Aih, ini sih bukan Vale banget.  d a n  entah kenapa, Vale canggung banget berduaan sama nih orang. Dari tadi, jantungnya selalu dag dig dug, dag dig dug, kenceng banget. Sebuah keajaiban Gani gak tau apa  y a n g dialamin sama Vale. Sudah 10 menit mereka di sini, masih dalam posisi nya masing-masing. Vale  t i d a k  melakukan apa pun, tapi  t i d a k  juga memikirkan apa pun lagi. Cewek itu  h a n y a   duduk dengan tenang berusaha untuk terlihat menjadi cewek manis di hadapan cowok  y a n g tengah di sukainya, tentu saja seperti remaja remaja pada umumnya. Biar bagaimana pun kita  t i d a k  bisa melupakan bahwa cewek itu juga masih seorang remaja  y a n g tengah mencari jati dirinya, jadi sikapnya memang terka d a n g  t i d a k  terarah  d a n  masih belum stabil. Seperti contohnya Vale  y a n g bisa bertindak bar bar dengan orang lain, sebut saja pada Bhisma, anak anak basket, atau anak anak lainnya  y a n g sering Vale galakin. Bahkan dengan guru pun terka d a n g Vale suka bersikap semaunya. Lalu kepribadiannya kini mendadak berubah saat berhadapan dengan Gani,  k a r e n a  demi menjaga image anak baik baik di hadapan cowok  y a n g memang tengah ia sukai. Hal ini tentu wajar, bukan berarti saat bersama Gani, Vale se d a n g berpura pura menjadi orang lain. Tentu saja bukan, tapi memang Vale tengah berproses untuk mencari jati diri sesungguhnya.  y a n g mana belum ia temukan,  d a n  biarkan cewek itu mencarinya selagi ia berproses menjadi sosok remaja  y a n g mencoba segala hal  y a n g kelak akan semakin banyak di temuinya. Mungkin saja bisa baik, atau mungkin juga bisa menyakitkan. Hal tersebut tentu lumrah untuk di alami sosok sosok remaja sepertinya. Vale duduk diarah kanan,  d a n  Gani disampingnya. Keduanya masih betah dengan suasana sunyi nya.  d a n , secara tiba-tiba, Vale berdiri, melambaikan tangannya kedepan, cewek ini menyetopkan sebuah bus di depan mereka. Sebenernya, gak di setopin juga bus nya pasti stop kok kalo di halte, tapi berhubung Vale gerah dengan suasana sunyi nya, yaudah deh, dia ngelakuin hal konyol kayak gini. Padahal , sudah mati matian Vale berusaha untuk  t i d a k  bertindak konyol atau melakukan hal hal aneh seperti  y a n g sering di lakukannya saat bersama Vio, Lala, atau pun saat berhadapan dengan Bhisma  d a n  Ricky. Namun usaha tersebut seolah sia sia, sebab Vale masih tetap melakukannya dengan inisiatif tinggi,  l u a r   b i a s a   sekali bukan. Vale rasanya ingin mengubur dirinya hidup hidup saja atas kebodohannya  y a n g baru saja terjadi di hadapan Gani. Ya kali, bus  y a n g udah ada haltenya di stopin pake tangan. Mana  y a n g tadi mengatakan lebih suka naik bus di banding angkot, perbedaannya bahkan sudah  j e l a s  . Bus memiliki halte sendiri se d a n gkan angkot  t i d a k . Lalu Vale malah bertingkan seperti se d a n g naik angkot, aliasa menyetop di pinggir jalan. Aneh banget kan, gini rasanya kalo salting jadi gak karuan. Vale benar benar menyesalinya sekarang. Gani pasti akan mengingatnya sebagai cewek aneh  y a n g memberhentikan bus di halte,  y a n g padahal pasti akan berhenti  k a r e n a  memang sudah aturannya demikian. Terlebih lagi, Gani mengetahui bahwa Vale ini sudah sering naik bus, seementara Gani  y a n g baru pindah  y a n g seharunya kebingungan atau melakukan hal hal aneh. Tapi ini justru malah sebaliknya, Vale  y a n g bertindak aneh dengan menstop bus  y a n g padahal memang mau berhenti. Bukannya Gani  y a n g melakukan hal tersebut padahal cowok itu lah  y a n g baru pertama kali menaiki bus rute di kota ini,  t i d a k  seperti Vale  y a n g sudah setiap hari. Awalnya, entah sadar atau enggak, Vale sempet melihat Gani  y a n g mengulum senyum ke arahnya. Kurang ajar, apa tuh orang tau kalo perbuatan gue ini konyol? Ternyata meski Gani baru tinggal di sini, tuh cowok tahu kalo bus itu gak perlu di berhentikan pake tangan segala juga akan berhenti dengan sendirinya. Gani tampak terhibur dengan ulahnya itu, di tandai dengan tawanya  y a n g tampak menggema, membuat Vale ingin marah  k a r e n a  di tertawakan menjadi  t i d a k  tega  d a n  memilih untuk menikmati tawa kecil  y a n g membuat wajah cowok itu semakin ganteng  l u a r   b i a s a    d a n  gak ada lagi obat  y a n g bisa melunturkan kegantengannya saat itu. Jadi, Vale gak jadi marah  k a r e n a  Gani tetep ganteng meski harus mentertawakannya. Mana tega Vale marah dengan sosok di hadapanyya itu  y a n g terlihat imut imut lucu gemesin kan. Maka Vale  h a n y a   memaafkannya saja tanpa membahasnya lebih lanjut, ia juga mengakui bahwa tindakannya itu memang konyol  d a n  wajar untuk di tertawakan.  k a r e n a  di sini  h a n y a   ada Gani,  t i d a k  ada penumpang lainnya  y a n g juga se d a n g menunggu bus, ya  j e l a s    y a n g menertawakannya  h a n y a   Gani saja. Mungkin jika ada oorang lain  y a n g ikut tertawa bersama Gani ,  y a n g artinya sosok tersebut menertawakan Vale,  j e l a s   cewek itu gak akan terima lah! Haahhh, Vale oon! Vale kini sibuk merutuki kebodohannya sendiri, dengan memaki dalam hati terkait sikapnya  y a n g memang aneh itu. Vale harus benar benar memikirkan hal ini agar  t i d a k  akan terulang lagi, tepatnya beberapa menit ke depan selama ia bersama Gani, Vale  t i d a k  boleh melakukan hal hal  y a n g aneh lagi  y a n g mana bisa tertangkap oleh mata si cowok  y a n g memang memeperhatikan Vale terus. Asli! Vale ngerasa banget sih kalo Gani kelewat memperhatikannya selama perjalanan pulang ini, Vale jadi salah tingkah banget  d a n  berkali kali menggaruk bagian tubuhnya di segala arah padahal  t i d a k  ada  y a n g gatal. Sebuah refleks  y a n g terjadi saat dirinya tengah salah tingkah ya memang begitu. Lagi lagi, Vale juga harus memikirkan refleks terbaik dalam salah tingkah, sepertinya ia tak bisa begini terus, karna salah tingkah dengan menggaruk garuk apa pun  j e l a s    t i d a k  terlihat cantik. Vale harus menghentikan aksi konyolnya itu.  t i d a k , seharusnya Gani  y a n g berhenti untuk menatapnya sedemikian rupa hingga membuat Vale salah tingkah seperti ini. Padahal kan Gani baru pertama kali naik bus kota ini, seharusnya Gani sibuk memperhatikan sekellilingnya. Untuk mempelajari apa saja  y a n g ada di bus ini, agar kelak Gani bisa naik sendiri tanpa harus mengikuti Vale. Namun, cowok itu tampaknya memang lebih tertarik untuk memperhatikan Vale ketimbang melakukan hal lainnya. Vale  h a n y a   pasrah saja di perhatikan sedemikian rupa dengan tatapan tajam  y a n g sanggup meluluh lantakan tulang tulangnya ini. "Ayo, naik." Ajak Vale, saat pintu bus telah terbuka  y a n g mana menampilkan seorang kondektur  y a n g menjaga pintu tersebut. Tangan Vale refleks untuk menarik pergelangan tangan Gani, untuk mengajaknya memasuki bus kota  y a n g pintunya  h a n y a   terbuka beberapa detik itu  d a n  akan kembali menutup. Vale  t i d a k  mau jika sampai ia sudah masuk ke dalam bus, ternyata Gani malah masih ketinggalan di halte. Kan gak lucu banget, pasti mereka akan akward jika bertemu andai kata hal itu kejadian. Maka, untuk menghindari hal hal semacam itu, Vale lebih memilih untuk menarik lengan Gani agar mengikutinya melangkah ke dalam bus. Meski resikonya adalah, kini Vale merasa deg degan banget  k a r e n a  berani beraninya menyentuh tangan Gani. Hingga membuat mereka kini tampak bergandengan,  t i d a k  saling bersentuhan saja Vale sudah salah tingkah tak berkesudahan. Ini lagi, Vale pake nyari nyari masalah dengan menggandeng tangan Gani. Coba aja bayangkan, kira kira jantung Vale aman gak? Gak usah di bayangkan deh,  k a r e n a  rasanya pasti nyaris meledak saking berdetak dengan kencang  d a n  gencarmya akibat bersentuhan dengan sang pujangga hatinya itu. Namun, diam diam Vale juga menikmatinya. Senyuman kecil tak mampu untuk  t i d a k  terbit di bibirnya, meski mati matian cewek itu berusaha menahannya agar  t i d a k  tersenyum dengan lebar. Maka kini senyumannya terlihat seperti sebuah senyum  y a n g tertahan, agar sosok di sebelahnya  t i d a k  perlu menyaksikan Vale  y a n g kini tampak kegirangan  h a n y a    k a r e n a  bergandengan tangan. Mungkin hal tersebut terdengar spele bagi orang orang, ya C u m a gandengan doang kan, anak SMP juga bisa. Tapi saat ini, Vale merasa bahwa hal tersebut berarti begitu banyak untuknya. Vale sangat jarang – atau  t i d a k  pernah – merasakan hal hal semacam ini, eh pernah sih, tapi ah sudah lah. Vale enggan membahas masalah itu. Kali ini  j e l a s   perkara beda. Ia  d a n  Gani berbeda dengan perasaan  y a n g pernah ia rasakan sebelumnya. Keduanya naik secara bersamaan kedalam bus  y a n g gak taunya sangat rame dengan berbagai macam orang. Gila, ini, bus, atau tempat antrian sembako? Panjang banget? Rutuk Vale kesal.  * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * T o  B e  C o n t i n u e d * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN