* * * * * * * * * Part 42 * * * * * * * * *
5 menit kemudian, Vale sudah sampai tepat di tempat y a n g dimaksud dalam kertas itu. Taman deket sekolah. Well, siapa y a n g nulis ini? Melihat dari situasi taman y a n g sudah lama gak di datengin ini sih kayaknya ada sesuatu y a n g gak beres di sini. Bisa bisanya tadi Vale berpikir tempat ini akan ramai, ia baru ingat bahwa taman di sekolahnya memang sebegini sepi k a r e n a jarang ada y a n g mengunjungi lantaran t i d a k terurus. Lantas siapa y a n g membuat janji di taman y a n g sepi begini, dengan mengirimkan surat pesawat ini? Vale jadi ragu jika surat itu ditujukan untuk dirinya, k a r e n a Vale merasa t i d a k se d a n g berhubungan dengan siapa pun saat ini, kenapa harus dikirimi surat surat begini. Pasti Vale salah nangkep tadi, mungkin surat ini buat orang lain tapi gak sengaja jatuh di kakinya, k a r e n a itu lah Vale berpikir bahwa surat ini malah untuknya.
Vale baru inget, terakhir kali dia kesini kan k a r e n a gak sengaja main kejar-kejaran sama Lala d a n Vio, di taman ini. Taman y a n g sepi. Gak pernah diurus, kelamaan, jadi usang gini deh. Iseng, Vale menghampiri bangku panjang berukuran L itu ditengah-tengah taman, mengambil ancang-ancang untuk duduk. Tapi, um, Vale mengerutkan dahinya, ada sebuah kertas di sana.
Kertas warna pink. Kertas y a n g sama kayak kertas y a n g tadi ditemuin nya dikoridor sekolah. Tapi be d a n ya, kertas ini dilipat seperti hal lazim lainnya, gak dibentuk jadi benda apa pun, termasuk pesawat.
Vale mengambilnya, membuka lipatannya, d a n membacanya.
Gue bakalan nunjukin perasaan gue, bukan mengatakannya.
Aih, apa sih nih? Kata-kata puitis? Ya ampun, kok lama-lama hidup Vale kayak sinetron sih?
Jadi, surat ini beneran dari pengagum rahasianya? Berarti benar benar untuk Vale dong ya? Ya ampun, siapa pun pengagum rahasia nya ini. Tolong dong sewa kafe y a n g mahalan dikit, bukan di taman y a n g gak kerawat d a n banyak nyamuk gini. Bukan romantis, kaki Vale malah gatal gatal k a r e n a di gigit nyamuk. Tau gitu kan Vale sedia autan dulu biar seenggaknya kaki nya aman dari terjangan hewan tersbeut y a n g dengan ganas menyerbu dirinya k a r e n a di anggap santapan manis atau bahkan malah sebuah ancaman bagi kelangsungan hidup mereka. Vale akan memberikan usul pada siapa pun pengagum rahasia y a n g nanti akan menunjukkan sosoknya pada Vale k a r e n a ia sudah mengikut arahannya untuk sampai ke tempat ini.
Hari ini, hidup Vale sungguh dramatis macam drama komedi romantis y a n g males banget Vale tonton k a r e n a Vale masuk ke dalam golongan fobia uwu. Dari mulai nemuin kertas dikoridor, y a n g isinya disuruh ke taman. d a n sesampainya ditaman, gak ada siapa pun, melainkan h a n y a ada kertas y a n g sama, dengan isi y a n g berbeda.
Huh, siap-siap Vale kena virus dramatis nya Vio dah ini mah. Dengan berdecak kesal, Vale kembali melangkahkan kakinya menjauhi taman. Berniat buat pulang sih, tapi, setelah di pikir-pikir, mending kesuatu tempat y a n g seru aja dulu. Pikirnya girang.
Se d a n gkan Vale pergi dengan wajah kesal y a n g sekarang berganti menjadi girang, orang y a n g sudah dari tadi bersembunyi di balik pohon ini malah tersenyum manis menatap kepergiannya.
d a n setelah dipastikan kalau bayangan orang y a n g di kuntit nya tadi sudah menghilang, saat itulah dia juga melangkahkan kakinya ke lain arah. Misi satu, berhasil. Haha.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * Past , Present , and Future * * * * * * * * * * * * * * * * * *
"Halo, Vio."
Sebuah suara terdengar memanggil namanya, suara y a n g lumayan familier di telinganya. Vio y a n g tengah sendirian j e l a s terkejut k a r e n a memang tak jarang suara seorang cowok – benar suara tersebut adalah suara cowok – memanggilnya. Vio t i d a k terlalu banyak berhubungan dengan lawan jenis k a r e n a memang selama ini ia h a n y a bermain dengan Lala d a n Vale saja. d a n hal tersebut rasanya memang sudah cukup untuk Vio. Maka dari itu saat mendengar suara seorang cowok y a n g memanggil namanya seperti ini, Vio j e l a s kebingungan. Memangnya ada keperluan apa hingga cowok tersebut sampai memanggil namanya? Apakah ada hal sepenting itu sampai harus menemuinya begini? Bahkan tanpa melihat sosok tersebut, jantung Vio kontan sudah berdegup dengan kencang k a r e n a mengenal si pemilik suara y a n g tadi memanggil namanya itu.
Gadis ini tersentak saat ada tangan y a n g menepuk pundaknya dengan seDikit keras. Membalikkan ba d a n dengan cepat, melihat kesumber suara, saat itulah Vio menyesal k a r e n a sudah melakukan itu.
Seharusnhya ia tak usah menoleh, sebab dugaannya memang benar mengenai sosok y a n g memanggilnya itu. Seharusnya Vio t i d a k usah menanggapinya saja d a n buru buru pergi saat mendengar suara itu memanggil namanya, bukannya malah menoleh hingga membuatnya berhadapan dengan sosok itu, y a n g berusaha Vio hindari belakangan ini.
Terlanjur malas, Vio pun memutuskan untuk meninggalkan sosok tersebut k a r e n a malas untuk menanggapinya. Ia masih kesal dengan Ricky, d a n enggan untuk berhubungan dengan cowok itu untuk saat ini. Jadi langkah y a n g tepat saat ini memang melangkah untuk menghindarinya saja dari pada harus berhadapan dengan cowok itu y a n g mana nanti nya akan membuat Vio semakin kesal.
Dengan kesal, Vio mengentakkan kakinya dengan keras d a n melangkahkan kakinya ke arah lain. Menajauhi pemilik suara. Bisa panjang jika urusannya terus berlanjut dengan Ricky, maka dari itu Vio memang sengaja meninggalkannya k a r e n a enggan terlibat lebih jauh dengan cowok itu. Juga masih kesal k a r e n a pernah di bohongi oleh Ricky, meski bukan Vio y a n g di bohongi secara langsung sih.
Ingat soal tragedy perpustakaan? Saat Vale di tinggalkan di sana seorang diri d a n harus terjebak dengan Bhisma y a n g mana merupakan teman Ricky? Yap! Saat itu kan Ricky turut andil juga dalam rencana tersebut. Ricky malah meminta Lala untuk bertemu dengan salah satu guru y a n g Lala takutin hingga Lala percaya begitu aja. Ya memang sih, Ricky membohonginya Lala. Tapi Vio kan juga jadi keseret, k a r e n a Lala minta di temani oleh Vio dalam menghadap guru tersebut, jadi secara gak langsug Ricky juga turut membohongi Vio saat itu. d a n Vio merasa t i d a k terima dengan hal tersebut.
Memang sih, Ricky sengaja meninggalkan Bhisma y a n g masih di dalam kelas d a n nyamperin Vio di kelasnya, sialnya, belum sempat Ricky sampe di kelasnya, itu cewek udah ditarik-tarik aja sama Lala.
Ricky lumayan kesal juga dengan sosok teman Vio y a n g satu itu, y a n g kerjaannya seneng banget narik narik temennya. Emang tuh cewek gak bisa ngelakuin hal hal sendirian apa? Harus banget ngajak Vio di setiap aktivitasnya. Bukan ngajak sih, tapi ya maksa melibatkan k a r e n a memang y a n g terlihat begitu. Vio y a n g polos polos aja gak terlalu sadar kalo dia tuh di peralat sama cewek kayak Lala d a n Vale dalam memenuhi keinginan atau pun aktivitas y a n g se d a n g mereka lakukan. Tapi ya Vio ngerasa seneng seneng aja k a r e n a memang dua orang itu adalah temennya, jadi tuh cewek gak ngerasa terbebani sama sekali. C u m a kan Ricky jadi susah buat mendekati Vio kalo Vio diikutin terus sama Lala sepanjang waktu.
Bukannya apa apa, Ricky malas juga harus berurusan dengan Lala atau pun Vale y a n g serem serem itu. Gak seperti Vio y a n g polos d a n manis, ke dua temannya itu j e l a s sangat bar bar d a n galak. y a n g ada baru beberapa langkah Ricky berusaha mendekati Vio, tuh cewek – Lala atau pun Vale – pasti sudah akan melotot seolah menjadi penjaga pribadi Vio y a n g merasa harus menjaga cewek itu dari spesies macam Ricky. Hal tersebut j e l a s membuat Ricky juga t i d a k nyaman, ia enggan untuk menghadapi Vale d a n Lala y a n g nantinya malah jadi bikin ribut. Sudah cukup Bhisma saja y a n g harus ribut dengan Vale dengan masalah y a n g gak kelar kelar itu.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * T o B e C o n t i n u e d * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *