Velo mengernyitkan keningnya melihat Kayla yang tiba-tiba ingin pulang. Apalagi Kayla sampai menyeretnya seperti ini. Dia pun menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang ada di sana dan berusaha Kayla hindari. Karena dia sangat kenal betul Kayla. Tapi Kayla menghalangi pandangannya. Sepupunya itu kembali menariknya menuju mobil.
"Kamu kenapa sih Kay? Liat apaan emangnya di dalam?"
"Ga liat apa-apa. Cuma pengen pulang aja," jawab Kayla cepat.
"Kamu gak bisa bohongin aku Kay. Aku kenal sama kamu" Velo menatap mata adik sepupunya itu. "Jadi apa yang sebenarnya kamu sembunyiin?'
Kayla terdiam. Dari dulu dia memang sering bercerita masalah apapun pada Velo ataupun Vela. Mereka berdua akan dengan mudah tau jika ada yang tidak beres dengan dirinya. Tapi apakah dia harus menceritakan masalahnya ini? Dia malu sekaligus takut.
"Atau mau ke rumah Vela kalau kamu sungkan cerita sama aku?" tanya Velo lagi. Dia merasa Kayla memiliki beban berat. Makanya dia tidak mau langsung bercerita.
Velo mendekat dan membawa Kayla yang hanya diam saja ke pelukannya. Diusapnya punggung adik sepupunya yang sudah dia anggap seperti adik kandung sendiri.
"Kayla belum siap cerita, Kak," lirih Kayla pelan. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Velo. Sementara wajahnya dia benamkan di d**a Velo. Air matanya akhirnya turun juga.
"Yaudah aku gak akan maksa kamu buat cerita. Tapi kapan pun kamu mau cerita aku ataupun Vela selalu siap dengerin," kata Velo lagi. Dia mengurai pelukan mereka lalu menghapus air mata yang membasahi wajah cantik Kayla.
"Yau dah, kita pulang ya," ajak Velo. Kayla pun mengangguk. Dia menurut saat Velo membukakan pintu mobil untuknya.
Sementara di sana Felix melihat semuanya. Melihat bagaimana Kayla yang dengan senang hati menerima pelukan Velo. Tapi dia yakin kalau Velo bukan pacar Kayla. Karena dia samar-samar sempat melihat nama dan photo pacarnya Kayla saat Kayla menerima telepon waktu itu.
***
Kayla terpekik kaget saat ada yang menarik tangannya. Dia pun refleks menolehkan wajahnya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Felix ada di hadapannya. Sepertinya dimana dia berada dia selalu bertemu dengan dosennya itu.
"Pak Felix, Bapak ngapain di sini?" tanya Kayla heran. Dia menarik tangannya yang dipegang oleh Felix.
"Kamu ikut saya!" ujar Felix tak mau dibantah. Dia pun memegang pergelangan tangan Kayla lalu menyeretnya keluar dari pusat perbelanjaan itu.
"Bapak apa-apaan sih? Saya gak mau," tolak Kayla. Dia tidak suka dengan sikap dosennya yang suka seenaknya itu.
"Mikayla!" tegur Felix. Dia menatap Kayla tajam.
"Bapak ini kenapa sih? Suka banget ngatur-ngatur saya," dumel Kayla. Apalagi kini Felix sudah memasukkannya ke dalam mobil.
"Salah kamu gak pernah mau nurut sama saya. Sedangkan sama cowok semalam aja kamu nurut," ujar Felix sengaja memelankan ucapannya di kalimat terakhir.
"Maksud Bapak?" heran Kayla. Samar-samar dia bisa mendengar ucapan Felix itu.
"Sudah kamu gak usah banyak tanya!"
Kayla mendengus. Benar-benar tak mengerti dengan sikap dosennya ini. Ini pula dia tidak tahu mau dibawa ke mana. Selama perjalanan dia hanya menatap ke luar jendela. Tak mau menatap wajah Felix. Karena yang ada dia makin kesal jika melihat wajah dosennya itu.
Hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah. Kayla menatap rumah itu dengan kening berkerut. Sementara Felix sudah turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Kayla.
"Ayo turun."
"Ini rumah siapa Pak? Ngapain Bapak ngajak saya kesini? Bapak mau macem-macem lagi sama saya?" tanya Kayla beruntun. Bagaimana dia tidak berpikiran negatif kalau tiba-tiba Felix membawanya kesini. Bisa saja nanti di dalam Felix mengurungnya atau malah memaksanya melayani dosen m***m itu. Kayla bergidik membayangkan hal itu.
"Jangan berpikiran m***m. Kalau mau bilang aja. Saya dengan senang hati akan ngelakuin kemauan kamu." Felix menjentik pelan dahi Kayla. Lalu dia membawa Kayla masuk ke rumahnya.
"Apaan ogah banget. Bapak tuh yang m***m gak tau tempat," sungut Kayla.
"Terserah kamu."
"Ini rumah siapa sih, Pak? Ngapain Bapak bawa saya kesini?" tanya Kayla untuk kesekian kalinya.
"Rumah saya"
"Rumah Bapak?"
"Iya rumah orang tua saya."
"Terus ngapain Bapak bawa saya ke mari?"
"Kamu bawel banget sih, saya cium mau?" ancam Felix yang berhasil membuat Kayla diam.
"Kalau gini 'kan cantik," puji Felix. Dia tersenyum kecil kepada Kayla. Lalu dia mengecup bibir mungil Kayla kilat. Kayla yang diperlakukan seperti itu pun melotot horor.
"Bapak kenapa sih suka banget cium-cium saya?" kesal Kayla. Dia berniat memukul d**a Felix. Namun Felix sigap menahan tangan Kayla. Lalu dia mendudukkan dirinya di sofa dengan menarik serta Kayla hingga terduduk di atas pangkuannya. Dipeluknya pinggang Kayla erat.
"Lepas pak!" Kayla mencoba memberontak. Dia jengah saat Felix mencari-cari kesempatan untuk menyentuhnya seperti ini. Apalagi dia bisa merasakan kalau Felix mulai mencium lehernya.
"Kamu wangi, bikin saya pengen," ujar Felix yang membuat Kayla membelalak. Dia bisa merasakan Felix yang mulai meniupkan napas hangat di lehernya. Apalagi dia juga merasa ada sesuatu yang keras menyentuh pinggulnya di bawah sana.
"Mikayla...," lirih Felix sebelum dia mendaratkan bibirnya di lekukan leher Kayla. Dihisap dan dijilatnya leher jenjang itu. Bahkan dia juga sengaja menggigitnya kuat hingga membuat Kayla terpekik.
"Lepasss pakkk!" Kayla masih mencoba memberontak. Dia takut Felix nekat melakukannya lagi. Apalagi dosennya itu sudah mulai menciumi lehernya. Dia sangat yakin kalau di lehernya sudah ada tanda kemerahan.
Namun, bukannya menuruti ucapan Kayla. Felix malah merebahkan Kayla di sofa dan menindihnya. Dia cium bibir Kayla meskipun Kayla mencoba menghindar. Sebelah tangannya dia gunakan untuk merangkum kedua tangan Kayla. Sementara kaki Kayla dia tindih dengan kakinya. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Apalagi Kayla terlihat sangat menggoda. Hasratnya benar-benar melonjak naik.
"Paakhhhmmmppp"
Protesan Kayla teredam oleh ciuman bibir Felix. Dia mencoba lepas tapi seluruh akses geraknya ditahan oleh Felix. Sekuat tenaga dia tidak mau membalas ciuman bibir Felix. Dia tetap mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Namun Felix tak pernah putus asa. Dia melakukan segala cara agar Kayla membuka bibir dan membalas ciumannya. Termasuk dengan meremas p******a Kayla. Dan benar saja Kayla pun mendesah sehingga refleks bibirnya terbuka. Kesempatan itu pun dipergunakan oleh Felix untuk memasukkan lidahnya ke mulut Kayla.
Lama kelamaan Kayla mulai terbuai dengan ciuman Felix. Bibirnya membalas lumatan yang dilakukan bibir Felix. Tangannya pun sudah dilepaskan oleh Felix saat dosennya itu sudah yakin kalau Kayla tidak akan memberontak lagi. Bahkan kini tangannya melingkar di leher Felix.
"Aahh..." Kayla merutuk karena bisa-bisanya dia mendesah. Tapi dia tidak bisa membohongi kalau ciuman Felix terasa nikmat juga. Apalagi ditambah dengan remasan-remasan kecil pada payudaranya dapat membangkitkan hasratnya. Biar bagaimanapun dia sudah pernah merasakan ini sebelumnya.
"Mikayla..."
Kayla membuka matanya saat mendengar namanya disebut. Matanya bertatapan langsung dengan mata Felix yang sudah berkabut penuh gairah. Hingga kemudian Felix menurunkan wajah menuju d**a Kayla.