8. Confused

1592 Kata
"Bapak pikir nikah itu gampang? Kita ini gak saling mencintai pak." "Banyak di luaran sana pasangan yang menikah tanpa cinta tapi mereka baik-baik aja. Mereka bahkan bisa punya anak. So do we? Kita pun bisa. Bahkan tanpa cinta kita sudah pernah tidur bareng kan? Kita sudah pernah saling menikmati, Jadi apa masalahnya?" Felix sengaja menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu dia menghadap Kayla. "Kalau masalahnya ada di pacar kamu, emangnya kamu yakin dia bakal nerima kamu apa adanya setelah tahu kamu gak perawan? Atau kamu yakin dia sebaik yang kamu pikir? Bisa aja 'kan di belakang kamu dia main perempuan" "Pacar saya gak mungkin kayak gitu pak" bantah Kayla tak terima Abizar dipandang rendah seperti itu. Selama ini yang dia kenal Abizar adalah sosok yang paling baik setelah Ayah dan keluarganya. "Coba pikir realistis Kayla! Lagian kalau kamu menikah dengan saya rahasia kita aman. gak bakal ada yang tahu kalau kamu sudah gak perawan. Dan kalaupun kamu hamil gara-gara kejadian malam itu, kamu-" "Saya gak mungkin hamil!" potong Kayla langsung. Felix menaikan alisnya karena mendengar jawaban Kayla yang terdengar sangat yakin. "Kamu yakin? Padahal saya ngeluarin di dalem loh." Wajah Kayla memerah mendengar ucapan Felix. Dia jengah sekaligus malu karena Felix membahas itu. "Stop Pak, jangan bahas malam itu lagi. Saya yakin gak akan hamil. Karena saya minum pil," ujar Kayla yang diangguki Felix./ "Oke, mungkin kamu gak hamil. Tapi tetap masalah utama kamu gak virgin lagi. Kamu bisa bayangin gak gimana jadinya jika orang tua kamu tahu masalah ini? Gimana kecewanya mereka setelah tahu kamu gak perawan?" "Dan itu semua gara-gara Bapak!" geram Kayla. "Bukan cuma saya. Malam itu kita melakukannya karena sama-sama suka Kayla. gak ada paksaan sedikit pun. Jadi tolong kamu pikirin baik-baik. Menikah dengan saya dan aib kamu bakal tertutupi. Dan saya pun memiliki calon untuk dikenalkan ke Mama saya. Apalagi yang paling terpenting kita bisa melakukannya lagi kapan pun" "Jadi ini masih tentang hasrat Bapak itu?" Kayla heran kenapa Felix bisa semesum itu. Yang ada dipikirannya hanyalah cara untuk memuaskan selangkangannya saja. "C'mon Kayla. Kalau kita menikah gak mungkin 'kan kita gak ngelakuinnya? Saya akan beri kamu waktu untuk memikirkan ini semua. Dan tentunya jika kamu menyetujui hal ini saya akan bantu menyelesaikan skripsi kamu. Saya janji." Kayla terdiam, dia tidak mungkin menyetujui ide gila dosennya ini. Biar bagaimanapun dia masih memiliki kekasih. Lagi pula apa kata orang tuanya jika dia menikah dengan Felix yang bahkan umur mereka terpaut jauh. Apalagi mengingat Felix adalah dosennya. Yang ada Ayah dan Bundanya malah curiga. Sementara yang mereka tahu kalau dirinya berpacaran dengan Abizar. *** Kayla mencoba untuk tak menghiraukan ucapan Felix beberapa hari yang lalu. Kini dia datang lagi ke hadapan dosennya itu dengan membawa revisian skripsinya. Tak seperti yang di bayangkan kalau Felix akan mempersulitnya. Dosennya itu bahkan tidak mengomentari apapun dari bab 1 yang telah Kayla revisi. Dan yang lebih mengejutkannya lagi Felix langsung memeriksa keseluruhan naskahnya hingga bab 3. Padahal biasanya hanya sampai satu bab saja. Itu pun sudah sangat patut disyukuri. "Bab 1 kamu sudah gak ada masalah. Bab 2 juga oke. Cuma perhatikan penulisan footnotenya aja. Terus untuk bab 3 saya rasa kamu perlu mengubah beberapa point pada instrumen penelitian kamu. Disesuaikan dengan perusahaan mana yang mau kamu teliti." Felix menutup map skripsi Kayla yang telah selesai dia beri tanda pada bagian yang perlu diperbaiki. Lalu dia serahkan kembali kepada Kayla. Dia mengisi buku bimbingan Kayla dengan tanda tangannya. "Silahkan kamu urus persyaratan untuk riset." "Bapak serius?" Kayla merasa ini bagai mimpi. Dimana Felix langsung menyuruhnya mengurus riset. "Tentu saja," jawab Felix singkat. Dia menyerahkan buku bimbingan Kayla yang sudah dia tanda tangani. "Terima kasih Pak," ujar Kayla yang diangguki Felix. "Jadi gimana?" Kayla mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan maksud pertanyaan dosennya itu. Dia menatap Felix dengan alis bertaut bingung. "Gimana apanya?" "Tawaran saya soal nikah." Kayla mengerti sekarang kenapa Felix menyetujuinya untuk riset. Ternyata ada pemicunya. "Maaf saya gak bisa, Pak." Felix menghela napasnya. Lalu dia menatap Kayla sebal. "Apa lagi yang kamu pikirin?" "Umur saya dan Bapak beda jauh. Apalagi gimana nanti pandangan mahasiswa lain kalau saya nikah sama Bapak?" "Umur saya baru 35. Sedangkan kamu 22 kan? Selisih kita cuma 13 tahun. Sementara di luaran sana masih banyak yang umurnya terpaut jauh daripada kita. Masalah omongan orang kamu gak perlu peduliin. Biar itu jadi urusan saya" Felix tampaknya masih berusaha meyakinkan Kayla agar mau menikah dengannya. Sementara Kayla tak pernah terpikir untuk menikah dengan dosennya sendiri. Drrrttt drrrtttt Kayla meraih ponselnya yang berdering dan ternyata Abizar menelponnya. Dia menatap Felix sebentar lalu izin ke luar. "Halo." Sapa Kayla begitu dia telah di luar ruangan Felix. "Halo sayang, aku ganggu kamu ya?" "Enggak ganggu juga sih. Cuma aku masih bimbingan tadi. Tapi bentar lagi juga selesai kok." "Oh gitu, berarti aku ganggu kamu. Ya udah, kamu selesain aja dulu bimbingannya. Nanti aku telepon lagi. Bye sayang. I love you." "Bye. I love you too." Setelah panggilan mereka berakhir, Kayla pun kembali ke ruangan Felix. Dia mengernyitkan keningnya saat melihat Felix tersenyum entah apa maksudnya. "Pacar kamu?" "Bukan urusan Bapak!" Jawab Kayla ketus. Lagian apa masalahnya kalau yang menelpon barusan adalah pacarnya. "Kenapa saya gak yakin kalau dia sebaik apa yang kamu pikir? Kamu yakin dia lebih baik dari pada saya?" Kayla kesal sekali mendengar nada suara Felix yang penuh kesombongan itu. Dari segi manapun Abizar akan terlihat jauh lebih baik daripada dosennya itu. "Tentu saja. Dia laki-laki paling baik yang pernah saya kenal. gak seperti Bapak!" "Oh ya? Di mana pacar kamu itu sekarang? Saya mau ketemu." Kening Kayla berkerut bingung. Untuk apa Felix ingin bertemu Abizar. "Buat apa Bapak ingin ketemu pacar saya? Dia lagi di luar negeri." Felix mengangguk-anggukan kepalanya entah apa maksudnya. "Hanya ingin kenalan aja. Siapa tahu dia mau melepaskan kamu setelah tahu semuanya." "Bapak kenapa jahat banget sama saya?" "Kapan saya jahat sama kamu? Saya cuma mau ngajak kamu nikah sama saya." *** Kayla mengacak rambutnya kesal. Dia kesal karena Felix sangat menyebalkan. Semenjak bertemu dosen m***m dan gila itu hidupnya terasa makin berantakan. Apalagi dosennya itu semakin nekat mengajaknya nikah. Padahal Kayla jelas tahu apa motif dari ajakan nikah dosennya itu. Pastinya tak jauh-jauh agar dia bisa melakukan hubungan suami istri. Kayla menggelengkan kepalanya membayangkan itu. Dia tidak mungkin menerima ajakan gila dosennya itu. Ditambah lagi dosennya itu sudah menjelek-jelekkan Abizar. Padahal mereka pun tidak saling kenal. Makin kesal saja dia terhadap dosen yang sok tau itu. Kayla menyeruput minumannya hingga tandas. Stress akibat dosen itu ternyata lebih memusingkan dari pada stress karena skripsi. Tingkat stressnya akhir-akhir ini meningkat semenjak kenal dosen itu. "Lama-lama bisa gila gue," gumam Kayla. *** Hari libur niatnya Kayla hanya ingin berdiam di rumah sambil malas-malasan. Dia sudah terlalu lelah memikirkan nasibnya yang begitu malang. Intinya semua kesialan ini terjadi karena dia datang ke klub malam itu. Padahal dia sendiri tahu kalau tempat seperti itu tak pernah baik untuk dikunjungi. Drrrrttt drrttt drrrrttt Kayla kesal begitu mendengar suara ponselnya. Dengan malas dia menjangkau ponsel yang ada di atas nakas. Dia angkat sambungan telepon itu tanpa membaca nama yang menelpon. "Halo," sapa Kayla malas. "Kamu baru bangun Kay?" Kayla langsung membuka matanya saat mendengar suara si penelepon. Dia pun melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Apaan enggak!" bantah Kayla. Dia langsung duduk dari berbaringnya. "Jangan bohong. Aku lagi menuju ke rumah kamu. 30 menit lagi kamu harus udah siap!" "Ke mana?" "Nikahan, puas kamu?" Pftttt Kayla tertawa begitu mendengar ucapan kakak sepupunya itu. "Ga ada yang lucu Kay!" bentak Velo. "Makanya cari pacar atau istri, Kak. Jadi kalau ada undangan gak perlu ngajak Kay lagi. Kak Vela aja udah mau punya anak. Kakak kapan?" "Jangan banyak tanya kamu. Mending buruan mandi terus siap-siap. Awas kalau aku sampai sana kamu belum siap juga" "Iya-iya." Kayla pun bergegas ke kamar mandi setelah panggilan mereka terputus. Hal ini sudah sering terjadi. Di mana Velo, kakak sepupunya itu mengajaknya pergi ke undangan seperti itu. Kayla bingung karena kakak sepupunya itu tak kunjung mempunyai pacar. Sementara Vela, saudara kembarnya saja sudah menikah dan akan memiliki anak. Padahal paras wajahnya tidak bisa diragukan lagi ketampanannya. Andai saja mereka tidak bersaudara mungkin Kayla pun akan jatuh hati. Tapi sayang mereka terlahir bersepupu. *** "Gimana skripsinya? Kata Bunda kamu lagi sibuk-sibuknya skripsi." "Ya gitulah, Kak," jawab Kayla malas. Velo yang heran pun menolehkan wajahnya ke arah Kayla. "Kenapa? Dosennya killer?" "Bukan killer lagi kak. Tapi nyebelin, seenaknya, kejam, me-" Kayla buru-buru mengatupkan mulutnya saat dia hampir menyebut m***m. Untung saja kepekaannya tinggi. Sehingga kata itu tak sampai tersebut. Kalau tidak Velo pasti akan bertanya-tanya. "Perempuan apa laki-laki? Terus masih muda apa udah tua?" "Laki-laki, udah tua juga." "Oh, kamu sabar aja ya. Maklumlah dosen 'kan emang kayak gitu." "Iya sih. Tapi ngeselin aja, Kak. Kalau aja bukan dosen males banget ketemu dia." "Sabar," kata Velo lagi. Mereka pun akhirnya tiba di tempat acara. Velo langsung saja mengajak Kayla menemui yang punya acara. Karena dia memang tidak suka berlama-lama di acara seperti ini. Setelah menyapa pemilik acara. Velo mengajak Kayla menikmati hidangan yang telah disuguhkan. Kayla memakan kue yang ada di dalam piringnya sambil mengedarkan matanya ke penjuru tempat. Dia sudah sering Velo ajak ke tempat seperti ini dan tentu saja acaranya sangat meriah. Namun Kayla terbelalak saat matanya tak sengaja menangkap sosok dosen m***m dan juga menyebalkan itu. Kenapa lagi-lagi dia bertemu dosen itu? Kebetulan sekali dosen itu juga sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kenapa?" tanya Velo heran melihat keterdiaman Kayla. "Gak apa-apa kok, Kak. Aku udah kenyang. Kita pulang aja yuk." Kayla melingkarkan tangannya di lengan Velo. Lalu dia ajak kakak sepupunya itu keluar dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN