7. Are You Crazy?

1343 Kata
"Bu-nda," gagap Kayla. Dia tidak menyangka kalau Shilla sudah ada di dalam kamarnya. Dia menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat tatapan mata Shilla. "Jadi siapa yang hamil?" Shilla duduk di samping Kayla. Ditatapnya wajah putri pertamanya itu intens. Dia sempat terkejut saat mendengar gumaman Kayla tadi. Makanya dia langsung bertanya seperti itu. Dia sangat takut kalau Kayla mengalami apa yang pernah menimpanya dulu. "Bukan siapa-siapa kok, Bun," jawab Kayla berusaha biasa saja agar Bundanya percaya. Padahal jantungnya sudah ketar-ketir tak karuan. Dia takut Bundanya tahu. "Kamu gak bohong 'kan sama Bunda?" "Enggak kok, Bun," jawab Kayla lagi. Shilla pun dapat menghela napas lega. Lalu dia membawa Kayla ke dalam pelukannya. "Kamu harus bisa jaga diri kamu ya sayang. Jangan sampai ngulangin kesalahan Bunda dulu," ujar Shilla. Diusapnya lembut rambut putrinya itu. Kayla yang mendengar ucapan Bundanya pun sontak mendongakkan wajahnya. Ditatapnya Bundanya dengan pandangan tak mengerti. "Maksud Bunda?" "Kamu istirahat ya. Bunda keluar dulu." Kayla menatap Bundanya dengan pandangan heran. Di otaknya bertanya-tanya apa maksud ucapan Shilla itu. Apalagi Bundanya yang langsung pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya tadi. Apakah ada sesuatu hal buruk yang pernah dialami Bundanya dulu? Sehingga Bundanya menyuruh agar dirinya menjaga diri? Tapi sayangnya Kayla tidak bisa melakukan apa kata Bundanya itu karena pada kenyataanya dirinya telah rusak. Kehormatannya sebagai seorang perempuan sudah direnggut oleh laki-laki yang bahkan bukan suaminya. Dan laki-laki itu adalah dosennya. Sementara itu, di luar kamar Shilla tampak menghapus air matanya. Dia teringat lagi bagaimana masa lalunya dulu. Untungnya dia memiliki suami yang penuh pengertian dan tanggung jawab seperti Iyel. Dia tidak bisa membayangkan kalau putrinya mengalami nasib yang serupa dengannya. "Sayang.." Shilla buru-buru menghapus air matanya saat mendengar suara panggilan Iyel. Suaminya itu sudah berada di depannya dan menatapnya heran. "Kamu kenapa? Atau Kayla kenapa?" tanya Iyel khawatir. Dia langsung membawa Shilla ke dalam pelukannya. Dia cemas saat melihat Shilla yang tiba-tiba menangis seperti itu. Diusapnya punggung istrinya itu dengan lembut. "Aku gak apa-apa Yel," sahut Shilla. Dia mengurai pelukan mereka. "Beneran? gak ada yang disembunyiin kan?" tanya Iyel menyelidik. "Iya," *** Felix baru saja tiba di rumahnya. Dia mengernyitkan kening saat melihat ada seorang wanita bersama Mamanya duduk di ruang tengah. "Felix, sini dulu sayang. Ini kenalin Tasya anak teman Mama," ujar Winda, Mamanya Felix. Dia berdiri menghampiri Felix dan membawa anaknya ke hadapan wanita tadi. "Hai Mas, kenalin aku Tasya," ujar wanita itu dengan suara yang dilembut-lembutkan. "Felix," jawab Felix singkat tanpa minat. Dia terbelalak saat wanita itu mendaratkan kecupan di pipi kanan dan kirinya begitu saja. Wanita itu juga tampak tersenyum manis kepadanya. Sementara Felix mengernyitkan keningnya. Dia memandangi wanita di depannya yang lumayan cantik dan seksi pula. Tapi sayangnya dia tidak tertarik. "Sorry, saya harus ke dalam." "Felix, kamu temenin Tasya dulu!" tegur Winda tak suka dengan sikap anaknya itu. Dia heran karena dari sekian banyak perempuan yang dia kenalkan kepada anaknya itu, tak ada yang bisa memikat hatinya. Padahal umur Felix sudah sangat layak untuk berumah tangga. Felix menghela napas beratnya. Dia paling tidak suka jika sudah mulai dijodoh-jodohkan seperti ini. "Mas Felix kerja apa?" Tasya mencoba membuka obrolan antara dirinya dan Felix. Tentu saja lagi berusaha mendekati Felix. Padahal kenyataannya dia sudah diceritakan oleh Winda mengenai Felix. "Dosen." "Wah keren dong. Aku mau deh jadi mahasiswinya kalo dosennya itu seganteng Mas Felix." Felix menatap wanita itu dengan pandangan tak suka. Apalagi nada suaranya yang dibuat-buat selembut mungkin. Jangan lupakan wanita itu yang sengaja berpindah duduk menjadi di sampingnya. Apalagi tangannya yang dipegang-pegang wanita itu. Entah dari mana Mamanya bisa menemukan wanita seperti ini. Yang jelas bukan tipenya. "Maaf saya harus ke atas dulu," ujar Felix. Dia merasa bosan bersama wanita itu. Dia lepaskan tangan wanita itu dari tangannya. Lantas dia pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan wanita itu dengan kekesalannya. Baru saja Felix meletakkan jasnya di atas tempat tidur saat pintu kamarnya dibuka. Terlihatlah sosok Mamanya yang sudah hampir memasuki kepala enam itu. Meskipun begitu, Mamanya masih terlihat cantik karena sering merawat diri. "Mau kamu itu apa sih sebenarnya?" Felix menatap Mamanya yang tampak berkacak pinggang sambil menatapnya. Terlihat kalau Mamanya itu marah kepadanya. "Aku mau Mama berhenti jodoh-jodohin aku. Itu aja kok, Ma." "Mama akan berhenti menjodohkan kamu kalau kamu sudah menikah Felix. Tapi buktinya apa? Sampai usia tiga puluh lima tahun kamu belum juga menikah. Kamu itu normal gak sih sebenarnya?" Felix membelalakkan matanya saat mendengar Mamanya meragukan kenormalannya. Kalau dia tidak normal, mana mungkin dia bisa melakukannya dengan Kayla. Dan lagi pula dia masih berhasrat terhadap Kayla. Tapi tidak kepada wanita yang sering Mamanya bawa ke rumah. "Demi Tuhan Felix masih normal, Ma. Mama gak perlu raguin hal itu." "Buktinya apa? Kamu gak pernah tertarik sama wanita yang Mama bawa ke rumah." "Aku gak tertarik sama mereka. Tapi bukan berarti aku gak normal, Ma. Aku masih normal. Senjata aku masih bisa berfungsi dengan baik. Jadi aku minta Mama tolong stop menjodohkan aku" "Tapi mau sampai kapan kamu melajang kalau gak Mama jodohin. Ayolah Felix pilih salah satu dari wanita itu dan nikahi. Mama udah gak sabar nimang cucu dari kamu. Coba kamu lihat keponakan kamu, dia bahkan sudah punya tunangan dan hampir menikah. Sedangkan kamu? Calon aja gak ada?" "Ma, Felix janji akan bawa calon Felix sendiri. Tapi please, Mama jangan jodohin Felix lagi. Felix gak suka, Ma." "Beneran ya kamu? Awas kalau kamu bohongin Mama!" Ancam Winda. "Iya, Ma, iya," sahut Felix. Felix memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa membawa calon istri untuk diperkenalkan dengan Mamanya. Tapi dia tidak mempunyai kenalan yang ingin dijadikan istri. *** Felix mengernyitkan keningnya ketika melihat keberadaan Kayla di kampus. Lebih tepatnya Kayla lagi ada di perpustakaan. Entah kenapa begitu melihat Kayla dia teringat ucapannya dengan sang Mama. Sepertinya tidak buruk kalau dia menikah dengan Kayla. Dia mulai terpikir untuk menjadikan Kayla istrinya. Ya sepertinya dia harus mengubah kesepakatannya dengan Kayla. Lagipula dengan Kayla menjadi istrinya mereka bebas melakukannya kapan saja. Tapi pertanyaannya apakah Kayla mau? Dengan langkah santai Felix pun menghampiri Kayla yang sedang asik mencari buku. Kebetulan sekali Kayla juga berada di rak yang paling ujung. Sehingga dia tidak perlu takut untuk mendekati Kayla. "Ehem!" Felix berdehem pelan untuk menarik perhatian Kayla. Dan benar saja Kayla langsung membalikkan badannya. Dia terkejut saat melihat dosennya itu ada di hadapannya. "Bapak mau apa lagi? gak cukup apa bapak melecehkan saya waktu itu?" tanya Kayla pelan. Dia cukup tahu malu untuk tidak berbicara nyaring. "Kamu ikut saya sekarang, ada yang mau saya bicarain sama kamu," ujar Felix. Dia meraih tangan Kayla, namun Kayla langsung menepisnya. "Lepasin, Pak, saya yakin bapak pasti mau m***m sama saya." "Kamu mau ikut apa saya cium di sini?" ancam Felix yang membuat Kayla diam. Mana mau dia dicium Felix di tempat umum seperti ini. Di tempat tertutup saja dia tidak mau. Makanya dengan terpaksa akhirnya dia pun mengikuti langkah kaki Felix. Kayla mengernyitkan keningnya saat Felix membawanya ke parkiran. Apalagi laki-laki itu membuka pintu mobil dan menyuruh Kayla masuk. Kayla ingin menolak, tapi Felix memelototinya. "Sebenarnya apa sih mau bapak? Kenapa bapak gangguin saya terus?" kesal Kayla. "Kamu sudah jelas tau apa mau saya." Kayla meneguk ludahnya begitu mendengar jawaban dosennya itu. Tetap saja ternyata tidak jauh-jauh dari hal itu. "Lagian kenapa Bapak gak menikah aja sih? Bapak belum menikah 'kan? Karena kalaupun sudah gak mungkin bapak nyari di luaran." "Ya kamu benar. Saya memang belum menikah. Makanya ayo kita menikah." jawab Felix santai. "HAH?" "Bapak udah gila?" Kayla terbelalak mendengar ajakan dosennya itu. Memangnya menikah bisa segampang itu? "Kenapa? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau saya harus menikah. Jadi ayo kita nikah." "Tapi bukan sama saya pak, lagi pula saya sudah punya pacar." "Apa pacar kamu tau kamu sudah gak perawan lagi?" Kayla terdiam tak mampu menjawab pertanyaan Felix. Hal itu pun diartikan Felix sebagai jawabannya. "Karena kamu diam saja, saya yakin dia belum tau. Lagian apa kamu yakin dia bakal nerima kamu setelah tau semuanya? Apa dia gak bakal ninggalin kamu?" Kayla mendadak ragu begitu mendengar penuturan Felix itu. Memang selama ini dia tahu kalau Abizar adalah orang yang baik dan pengertian. Tapi bagaimana jadinya kalau dia tahu semuanya? "Jadi ayo kita menikah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN