Bab 78. Apakah Akan Berhasil?

1127 Kata
-Disisi lain- Vian dan Melvern berdiri mamandang ke arah rumah kecil Rivaille di seberang danau. Mereka berdua masih memantau apa yang akan terjadi setelah mereka berdua bertemu. Melvern takut sekali Rivaille akan bertingkah kasar pada Tiffa dan membuat suasana semakin buruk. Tapi tampaknya setelah beberapa menit berlalu, tidak ada keributan atau suara kekerasan yang terdengar. “Aku rasa mereka berdua baik-baik saja.” Gumam Melvern langsung melangkah mondar-mandir menunggu. Vian juga khawatir tadi. Tapi setelah beberapa menit berlalu, tampaknya mereka berdua sudah berbaikan. Dengan perasaan lega Vian duduk di atas sofa sambil mendongakkan kepalanya. “Haahh… Buat khawatir saja.” Disaat mereka berdua sudah merasa lega, datanglah Iefan dan bersama Veronica. Ikut penasaran dengan hasil pertemuan perdana mereka. “Apakah semua baik-baik saja?” Veronica bertanya lebih dulu. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan pandangan terarah ke seberang danau. Melvern tersenyum lega. “Sepertinya begitu.” Iefan duduk di sebelah Vian tanpa rasa segan lagi. Persetan dengan umur. “Apakah di kerajaan kalian dulu punya tradisi atau kegiatan tertentu sebelum menikah?” Vian langsung duduk tegak. Tiba-tiba saja ia jadi semangat membahas tradisi keluarganya dulu. “Tentu saja ada. Biasanya sebelum menikah, ada tradisi Perang Raja.” Melvern mendengar kata perang langsung sakit kepala. “Akhir-akhir ini aku sangat sensitif mendengar kata perang.” Veronica tertawa kecil. “Setelah menikahi ratu, mempelai pria akan diangkat menjadi raja. Untuk itulah diadakan tradisi Perang Raja sebelum menikah. Jika pria pilihan ratu ini lolos dari tradisi ini, mereka bisa melanjutkan menikah. Jika tidak… maka tidak berjodoh. Dan ratu tidak boleh menikahi pria pilihannya itu.” Iefan tidak aneh melihatnya. Tapi jika melihat vampir zaman dulu sekuat Tiffa dan Vian, entah sekuat apa para pria di zaman dulu. “Perang Raja ini seperti game?” Vian mengangguk seakan-akan bangga sekali dengan tradisi keluarganya. “Calon pengantin pria harus berduel dengan seluruh anggota keluarga ratu. Dan untuk jenis permainannya, pihak anggota keluarga yang akan menentukannya.” “Hey, Vian. Itu berarti Rivaille harus berduel denganmu? Kau gila?” Veronica menyambar tiba-tiba. Melvern dan Iefan tentu saja langsung emosi dengan peraturan game itu. “Tidak masuk akal jika Rivaille harus melawan adik iparnya sendiri.” Tapi Vian memainkan senyumannya. Ekspresinya tampak tidak sabar menunggu acara itu berlangsung. “Tradisi, tetaplah tradisi. Jika tidak seperti itu, maka tidak akan ada yang menikah. Baik aku, atau kakakku.” “Cih!” Iefan mendengus dan berdiri menjauh dari Vian. Pria berengsek, tetaplah berengsek. Dan setelah perbincangan singkat mereka, Veronica dan Melvern memilih untuk membubarkan diri daripada harus terpancing emosi dengan wajah Vian. Ia akan bertanya pada Tiffa langsung besok pagi. Karena Melvern mulai tidak percaya dengan apa yang dikatakan Vian lagi. -Rumah Rivaille- Keesokan harinya, suasana di dalam rumah Rivaille tampak tenang dan terasa hangat sekali. Ia duduk dengan tamu khususnya yang sedang berendam di bathtub sambil membaca buku. “Aku baru tahu jika penguin betina menyukai penguin jantan yang gemuk ketimbang yang kurus.” Tiffa menutup bukunya. Rivaille tertawa kecil dibuatnya. “Kau ingin aku gemuk juga?” Tanyanya dibalas delikan maut dari Tiffa. “Kau pikir aku seekor penguin? Lagipula setelah aku hamil, yang akan gemuk bukan kau. Tapi aku.” Ucapnya ketus sekali. Dengan santainya Tiffa keluar dari bathtub dan mengambil salah satu buku di dekatnya. Rivaille juga ikut menutup bukunya ketika tubuh tanpa busana itu keluar dari bathtub. Tiffa tidak peduli kakinya akan membuat lantai becek karena air sabunnya. Setelah mendapatkan satu buku yang menarik, Tiffa kembali ke dalam bathtub. Rivaille tentu saja mendekat dan mencium lembut tulang belikat Tiffa. “Apakah kali ini sungguh akan berhasil?” Tangan Rivaille turun untuk mengelus perut Tiffa. “100 persen berhasil. Aku harus rajin makan mulai dari sekarang.” Ucapnya menyentuh tangan Rivaille dengan lembut juga. Tiffa berkata bahwa saat ini ia tidak mengenakan pelindung apapun di tubuhnya. Dan kemungkinan besar ia hamil akan besar setelah mereka bercinta semalam. Dan semalam juga Tiffa berkata ingin hamil dan percintaan mereka harus sungguh-sungguh tadi malam. “Aku lapar sekali.” Gumamnya mulai sedikit emosi. Wajar saja, semalaman penuh mereka bersama. Dan Tiffa belum makan sesuatu setelah bangun dari hibernasi. Rivaille lantas mencium kepala Tiffa dengan penuh kasih sayang. “Asal kau tahu saja. Saat ini sulit mencari makan karena manusia sudah tahu keberadaan bangsa vampir. Jadi jangan kaget setelah kau melihat manusia memakai kalung bawang di pinggir jalan.” Tiffa langsung menoleh cepat. Air sabun sampai tumpah keluar karena gerakan tiba-tiba tadi. Tapi ekspresi Tiffa membuat Rivaille ingin tertawa. “Apa yang terjadi selama kau hibernasi?” Rambut Tiffa yang digulung bun di atas kepalanya menarik perhatian Rivaille. “Setelah peperangan dengan The Condescendent, bangsa vampir langsung berulah. Dan tidak ada yang bisa menutupi keberadaan bangsa kita sekarang.” Tiffa memutar matanya malas. “Menyusahkan saja.” Ucapnya tidak mau repot berpikir. “Semakin aku banyak makan, bayiku akan semakin banyak juga menyerap nutrisi dari yang aku makan.” Rivaille juga tahu itu. Karena dulu saat ibunya mengandung Eredith dan Elunial juga setiap jam makan. Ia lalu mengangkat tubuh Tiffa dari dalam bathtub dan membawanya ke bawah shower untuk membilas tubuh. “Tinggalah disini. Aku akan membangun kamar baru untuk bayi kita nanti.” Tiffa tertawa kecil karena geli saat tangan Rivaille sempat menggerayang dadanYa. “Kita lebih butuh ruang bersalin ketimbang kamar bayi. Kau tidak tahu bagaimana ibuku melahirkan Vian dulu. Satu kastil rubuh dan teriakannya terdengar sampai ke kastil Xandes. Sebulan penuh aku puasa karena ibuku yang kelaparan.” Rivaille langsung mundur beberapa langkah dan berkacak pinggang kemudian. Kemejanya basah kuyup, begitu juga dengan celana panjangnya. Ia masih mengolah beberapa kata dari Tiffa tadi. “Apakah separah itu?” Tiffa berbalik dan sengaja mengelus perutnya di depan Rivaille. “Tentu saja. Kau pikir aku bercanda?” Rasanya kertas tagihan dan bon pembelian material kembali menghantui kepalanya. Baru setahun ia menikmati vila baru dan sekarang pikirannya kacau dengan bagaimana Tiffa bersalin nanti. Satu wanita saja yang melahirkan bisa menghancurkan kastil. Bagaimana jika ratusan wanita yang melahirkan secara bersamaan? Untung saja hanya Tiffa satu-satunya wanita di zaman dulu yang masih bertahan. “Ibuku tidak separah itu ketika melahirkan Eredith dan Elunial.” Tiffa tersenyum kecil. Tidak peduli dengan ia yang teLanjAng bulat keluar dari bilik shower. Ia meraih tangan Rivaille lalu membawanya untuk menyentuh perutnya lagi. Tapi samar sekali Rivaille bisa merasakan ada yang begerak di perut Tiffa. Matanya melotot kaget. Seketika Rivaille menunduk untuk mendengarkan gerakan samar itu. “Baru semalam kita bercinta….” Tiffa tersenyum seraya mengelus kepala Rivaille dengan lembut. Tidak ia sangka pria muda ini akan menjadi ayah sebentar lagi. “Janin sangat cepat berkembangnya.” Rivaille semakin takjub. Seperti ini rasanya merasakan kehidupan baru di dalam perut Tiffa. Apa yang dilakukan calon bayinya di dalam sana? “Kenapa dia banyak bergerak di dalam sana? Apa seperti ini normal?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN