GESEKAN antara meja kayu dan case handphone membuat getarannya terdengar lebih nyaring, beberapa pesan w******p masuk bersamaan. Tangan ku lihai merapikan buku-buku yang sudah lama tidak ku gunakan. Berbagai genre bertumpuk sesak menempati rak kecil itu, mulai dari genre fiksi hingga non-fiksi. Bahkan kertas-kertas soal jaman SMA dan soal tes SBMPTN pun masih ku simpan--ikut terselip disana. “Ya, ampun. Kamar orang dewasa kok berantakan gini” ujar Salma dari depan pintu. Dia menggeleng. “Ini lagi ngerapiin. Mau ngapain?” tanya ku padanya penuh selidik. Pasalnya anak itu baru akan mendatangi ku jika ada maunya saja. “Nggak, kok. Suudzonan banget jadi orang” “Trus ngapain berdiri disitu?” Dia berjalan masuk dan duduk diatas kasur ku. “Kak Salwa kan udah sibuk kerja. Terus usaha bapak j

