Chapter 18

1947 Kata

PAGI hari ku dapati orang tua ku diatas meja. Makan bersama sambil bercengkrama. Tidak terlihat ada kekhawatiran sama sekali. Ku pikir mereka adalah aktor dan aktris terbaik dalam menyembunyikan perasaan sebenarnya. Sedih rasanya karena mereka tidak membagi masalahnya pada ku. Apa aku sebegitu payahnya hingga mereka tidak berani mengandalkan ku? “Bu, jadwal wisuda Salwa sudah keluar” “Oh, ya? Alhamdulillah. Anak ibu sudah jadi sarjana” “Kapan acaranya?” tanya Bapak. “Dua minggu lagi, pak” bapak mengangguk sembari mengunyah makanan dimulutnya. “Harus ketukang jahit nih, bikin seragaman” ide ibu “Salma ikut, ya Bu? Pas Bang Kiel kemarin kan Salma nggak ikut” “Iya, boleh” “Asikkk!” seru Salma Wisuda, ya? Bukannya setelah ini aku akan menjadi pengangguran? Beban keluarga. Tidak ada k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN