Luna memutuskan untuk belajar mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Ia akan belajar melupakan Rakha yang selama ini ada dalam hatinya. Saat ini ia sedang menjalani salah satu masa terberat yang harus ia lewati. Ketika Skripsi sedang berjalan saat itu pula ia harus menghadapi kekecewaan yang mendalam. Luna memang sedang terpuruk, namun di sisi lain Luna merasa harus bangkit dari keterpurukannya. Entah bagaimana caranya, Luna akan berusaha menjalani semua ini dengan optimis. “Walau berat, semua akan aku jalani... Apakah mungkin aku bisa melupakannya?” Luna merenung dalam kamar kosnya dan sesekali air matanya masih menetes. “Aaarrrggghhh... Aku menyesal!” Luna berteriak dan menangis sambil menutup wajahnya dengan bantal. Apa yang dirasakan oleh Luna adalah sesuatu hal yang sangat pedih.

