Pagi itu, Nara merasakannya bahkan sebelum ia sampai di kelas, tatapan-tatapan kecil yang terlalu cepat berpaling, bisik-bisik yang berhenti begitu ia mendekat. Senyum yang masih ada, tapi terasa dipaksakan. Ia duduk di bangku belakang, membuka buku catatan, berpura-pura sibuk. Dosen belum masuk dan ruang kelas dipenuhi suara obrolan rendah. “Katanya dia sempat tinggal sama orang penting,” bisik seseorang, tidak terlalu pelan. Nara menahan napas. “Kok bisa sekarang balik ke kos lagi?” sahut yang lain. Ia menggenggam pena lebih erat, tidak ada nama disebut, tapi ia tahu arah pembicaraan itu ke mana. Reza duduk di sebelahnya tanpa banyak bicara. Ia meletakkan tas, lalu berbisik pelan, “Kalau kamu mau pindah duduk,” “Nggak apa-apa,” jawab Nara. “Aku bisa.” Reza menatapnya sejenak, lal

