Alasan Raka Tak Sepenuhnya Jujur

1049 Kata
Balasan dari Raka langsung dikirim pada malam itu juga. "Kita bisa bertemu, besok setelah jam tujuh. Kalau kamu berubah pikiran atau kamu gak mau ketemu ya tidak apa-apa, kapan kamu maunya aja, aku akan siap." Isi pesan Raka. Tidak ada tanda tanya dan tidak ada desakan dari Raka. Itulah yang membuat Nara sedikit menyukainya. Pada keesokan harinya, Nara datang lebih awal ke kafe kecil yang sudah di sebutkan Raka dalam pesannya pada waktu itu, tempatnya tidak terlihat mewah bahkan cenderung sepi mungkin karena hari biasa, hanya ada beberapa pengunjung yang datang dengan pasangannya, lampu-lampu hias diatas menggantung dengan rendah dan terlihat indah, musik yang di putar dengan suara yang pelan, juga suasana yang sangat tenang dan enak. Ya, Nara memutuskan untuk bertemu dengan Raka saat itu. Disana terlihat Raka sudah duduk dimeja yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia tidak mengenakan jas, setelan nya hanya kemeja putih yang terlihat sederhana, dengan lengan yang digulung ke atas terlihat jelas jam tangan kulit yang melingkar di pergelangan tangannya membuat penampilan nya menjadi lebih mempesona meski itu terlihat sederhana. “Duduk,” katanya singkat saat Nara sudah sampai. Nara duduk berhadapan dengannya, menggenggam tas yang ada di pangkuan. "Maaf aku sudah pesan minum untukku terlebih dulu, untuk lmu aku sudah pesankan makan dan minum untuk teman kita ngobrol," ucap Raka. Nara hanya menganggukan kepalanya saja. “Aku tidak akan berbasa-basi,” kata Raka membuka pembicaraan. “Kamu berhak tahu kenapa aku mengajukan tawaran itu.” lanjut Raka yang menatap Nara. Nara menatapnya balik, kali ini tanpa harus menunduk. “Apa sebenarnya yang membuat Bapak mengajukan tawaran itu pada saya?” tanya Nara langsung. Raka menyesap kopinya sedikit, lalu meletakkannya kembali dan menoleh ke arah Nara. “Aku butuh status.” ucapnya. Kalimat itu terdengar dingin, tapi nada suaranya tidak sepenuhnya begitu. “Keluargaku menuntut stabilitas,” lanjutnya. “Seorang istri.” “Apa itu untuk citra?” tanya Nara pelan. Belum sempat Raka menjawab, pesanan mereka datang. "Silahkan Mba, Mas, jika ada tambahan bisa langsung datang ketempat pemesanan." Ucap pelayan itu ramah. "Ya, terimakasih." Raka yang menyahut. Nara hanya tersenyum manis aja ke arah pelayan itu. "Kamu bisa sambil makan, mumpung masih panas." Ucapnya perhatian. Nara tak bergeming, malah dia mengajukan pertanyaan yang sama, yang sempat tertunda karena makanannya datang. "Apa itu untuk citra?" tanya Nara ulang. “Ya, sebagian.” jawab Raka yang tidak menyangkal itu. “Sebagian lagi untuk Nadira.” ucap Raka lagi. Nara terdiam, terlihat Nara memilin ujung bajunya. “Nadira mulai tumbuh dewasa,” kata Raka. “Aku tidak ingin dia tumbuh di tengah gosip dan tekanan yang tidak perlu ia rasakan.” lanjut Raka. “Lalu saya?” tanya Nara. “Posisi saya apa di semua rencana ini?” tanya Nara lagi yang masih belum mengerti. "Kalau begitu kenapa harus di rahasiakan? Tanyanya lagi. Raka menatapnya lama dengan tatapan yang berbeda dari biasanya, tapi kali ini terlihat lebih dalam dan lebih berat. “Kamu akan aman, kamu tenang aja,” katanya akhirnya. “Tidak akan ada yang menyakitimu, tidak dariku dan tidak dari siapa pun, aku bisa menjamin itu semua.” ujarnya. "Ada beberapa hal yang tidak bisa ku jelaskan." Lanjutnya. Nara tertawa kecil, terdengar getir. “Itu janji yang besar, Pak.” ucapnya lirih. “Aku tidak memberi janji yang tidak bisa ku tepati.” ucap Raka menatap Nara. Sunyi kembali di antara mereka, diam dalam pikiran mereka masing-masing. “Kenapa tidak menikah seperti pada umumnya?” tanya Nara lagi. “Kenapa harus rahasia?” ucap Nara. Raka menatap keluar jendela. Hujan turun lebih deras dengan tiba-tiba. “Karena waktu,” katanya pelan. “Dan karena orang-orang yang tidak siap untuk menerima konsekuensi yang ada.” jelas Raka lagi. Nara mengerti maksudnya apa atau setidaknya sebagian. “Apa yang akan terjadi kalau rahasia ini akan terbongkar? Karena bangkai yang akan di simpan selama apa pun pasti akan tercium bau nya,” ucap Nara menohok dan dengan berani ia menatap Raka. Raka kembali menatapnya. Kali ini, tak ada upaya untuk menyembunyikan sesuatu. “Aku yang akan menanggung itu semua jika itu memang akan terjadi,” katanya. “Aku akan pastikan bukan kamu yang ikut menanggungnya, semua atas tanggung jawab dariku, kamu jangan khawatir.” jelas Raka pada Nara. Kalimat itu membuat d**a Nara terasa sesak. "Makanlah dulu, mumpung masih panas." Ucapnya penuh perhatian. Dengan gerakan perlahan dan pasti, Nara mulai melahap makanan yang sudah tersaji di atas meja. Tanpa sadar, ia menunduk dan mengamati jemarinya sendiri. “Saya tidak ingin hidup dengan kebohongan.” ucap Nara terdengar lirih. “Kamu hanya menyembunyikan,” jawab Raka. “Bukan berbohong.” sambung Raka. Perbedaan itu tipis tapi jelas terasa nyata. “Kita buat perjanjian tertulis di atas materai dan aku bawa saksi pengacaraku sendiri,” lanjut Raka. “Batasan yang jelas dan waktu yang jelas, kamu bebas pergi kapan pun kamu mau, aku tidak akan menahanmu.” jelas Raka lagi. “Kapan pun saya mau?” tanya Nara memastikan. “Ya, kapan pun kamu merasa mau dan merasa sudah tidak sanggup, kamu berhak memilih untuk pergi.” kata Raka. Nara mengangkat wajahnya. “Dan kalau saya terlanjur merasa tumbuh benih-benih cinta?” tanya Nara dengan kemungkinan besar yang akan bisa terjadi pada mereka. Raka terdiam, menimbang perkataan Nara yang ia merasa ada benarnya. Dan untuk pertama kalinya, ekspresinya terlihat goyah. “Kita akan jaga agar itu tidak terjadi,” katanya akhirnya, meskipun ia tak yakin dengan ucapan nya barusan. Namun Nara tahu kalimat itu lebih seperti harapan, bukan kepastian. Pada malam itu, saat mereka berpisah di depan kafe, Raka berkata satu hal yang terus terngiang di kepala Nara sepanjang perjalanan pulang. “Aku tidak memilihmu karena kamu lemah,” katanya. “Aku memilihmu karena kamu kuat, meski hidupmu berat, aku bisa melihat semua itu pada dirimu, maka dari itu tekad ku sudah bulat menawarkannya padamu.” ucapnya pada Nara. Saat sampai di kos, dan di kamar kosnya terlihat Nara duduk lama di depan cermin, memandang pantulan dirinya. Ia melihat seorang gadis muda dengan mata lelah dan masa depan yang belum pasti akan kemana arah dan tujuannya. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada bayangannya sendiri, "kalau aku menolak, apakah aku benar-benar menyelamatkan diriku, dari kehidupanku ini?" Gumamnya sendiri. Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban yang pasti pada malam itu. Namun satu hal sudah jelas, langkah untuk memilih mundur terasa semakin sulit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN