Kertas perjanjian itu tergeletak di atas meja kayu yang panjang di ruang kerja Raka.
Di sana sudah ada Nara yang hadir.
Kertas itu putih dan rapi, bahkan terlalu rapi untuk sesuatu yang akan mengubah hidup seseorang.
Nara duduk di seberang Raka, punggung nya tegak tapi bahunya terasa tegang. Ruangan itu luas, di penuhi dengan rak buku dan jendela besar yang menghadap kota yang indah, tidak ada foto keluarga yang terletak di ruangan itu juga tidak ada hiasan yang berlebihan, segalanya terasa dingin seperti pemiliknya yang dingin. Nara merasa kagum dengan ruangan itu yang setara dengan kamar kos nya.
Dengan pertimbangan yang sangat matang, Nara menerima tawaran menjadi istri rahasia Raka.
“Silahkan kamu baca perlahan,” kata Raka. “Tidak ada yang perlu kamu kejar, kamu baca dan pahami setiap point-point nya.” jelas Raka yang menyerahkan surat perjanjian itu pada Nara.
Nara mengangguk, jemarinya mulai menyentuh kertas itu dengan ragu dan ia membaca dengan perlahan sesuai dengan arahan yang diberikan Raka.
"Perjanjian Pernikahan Sementara."
Judulnya saja sudah cukup membuat dadanya terasa berat.
Ia mulai membaca, tidak ada kalimat manis, tidak ada janji yang bahagia hanya ada janji semua kebutuhan Nara yang akan dipenuhi oleh Raka, sesuai dengan ucapannya di saat awal ia menawari pernikahan itu pada Nara. Semuanya tertulis dengan jelas, hampir kejam dalam ketenangannya.
Pernikahan bersifat sah secara hukum, tidak di publikasikan ke pihak mana pun tanpa persetujuan kedua belah pihak, tempat tinggal, biaya hidup, dan pendidikan di tanggung sepenuhnya oleh pihak suami, pihak istri berhak mengakhiri perjanjian kapan saja tanpa ada tuntutan, dan istri berhak pergi kapan pun jika merasa ia sudah tidak sanggup lagi, tidak ada kewajiban menjalani hubungan suami-istri selama pihak istri belum siap.
Nara berhenti di kalimat point terakhir.
“Ini, serius?” tanyanya pelan sambil menunjuk kearah kalimat yang akhir itu.
Raka mengangguk. “Ya, aku tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuanmu, tidak ada paksaan.” jelas Raka menatap Nara.
Nada suaranya datar, tapi justru itu yang membuatnya terasa jujur.
Nara melanjutkan membaca isi perjanjian itu, ada pasal tentang privasi, tentang keselamatan, bahkan tentang pendampingan hukum jika suatu hari ia di butuhkan.
Terlalu sempurna untuk sesuatu yang dimulai dari kebohongan.
“Kamu sudah menyiapkan ini lama,” kata Nara tanpa menatap.
“Ya.” jawab Raka jujur.
“Artinya saya bukan orang pertama yang kamu pertimbangkan?” tanya Nara.
Raka tidak menyangkal. “Ya, bukan.” jawab Raka jujur.
Jawaban itu menyakitkan bagi Nara, entah kenapa. Padahal Nara tahu, ia tidak seharusnya berharap apa pun pada calon suami rahasianya.
Ia meletakkan kertas itu perlahan. “Kalau saya tanda tangan, hidup saya akan berubah total.” gumamnya.
“Dan kalau kamu tidak menandatangi itu,” kata Raka tenang, “hidupmu akan tetap seperti sekarang ini.” lanjut Raka lagi.
Kalimat itu tidak terdengar merendahkan talu hanya kenyataan.
Nara menelan ludah. “Kamu tidak takut saya akan menyesal?” jawab Nara hati-hati.
“Aku lebih takut kamu bertahan di hidup yang terus menyakitimu,” jawab Raka enteng.
Nara mendongak, untuk sesaat, ia lupa bahwa pria di depannya adalah Ayah dari sahabat nya. Yang ia lihat hanya seorang pria dewasa dengan mata yang lelah, mata seseorang yang terlalu lama memikul beban itu dengan sendirian.
“Kalau saya setuju,” kata Nara, suaranya bergetar tipis, “saya minta satu hal.” lanjut Nara lagi.
Raka mengangguk. “Katakan saja apa yang mau kamu minta.” ujar Raka.
“Jangan membuat saya merasa kecil, jangan membuat saya merasa seperti barang yang di sembunyikan.” ucap Nara menatap Raka.
Raka menatapnya lama, lalu berdiri.
Ia berjalan mengitari meja, dan berhenti tepat di depan Nara, dengan jarak yang tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Nara menahan napas dengan jantung yang berdetak tak karuan.
“Aku tidak akan menyembunyikanmu karena malu,” katanya dengan suara rendah. “Aku menyembunyikan mu karena ingin melindungimu, Nara.” bisik Raka tepat di telinga Nara.
Membuat Nara sedikit merasa takut.
Itu bukan jawaban yang sepenuhnya meyakinkan, tapi cukup jujur untuk saat ini.
Nara memejamkan mata mengingat kehidupan nya yang serba kesulitan, sehingga ia harus kerja paruh waktu untuk bisa memenuhi hidupnya.
Bayangan kos sempit, kalender dengan lingkaran merah, pesan Bu Marni, kuliah yang terancam dan ada masa depan yang menggantung, yang entah seperti apa kehidupannya bahkan ia sendiri pun tidak bisa menjamin kehidupan yang layak untuk dirinya sendiri karena semenjak orangtua nya meninggal ia sudah menanggung beban itu dengan sendirian dengan hidup yang pas-pasan bahkan makan pun dengan seadanya, bersyukur dia di pertemukan dengan Bu Marni yang memiliki kos-kosan walaupun dia cerewet tapi ia tetap perduli dan dia bersyukur di pertemankan oleh Nadira seorang gadis yang ceria yang tentunya juga selalu perduli padanya.
Ia membuka mata kembali.
“Kalau saya tanda tangan,” katanya pelan, “kapan akan di mulai pernikahan ini?” tanya Nara memastikan.
Raka mendorong map kecil ke arahnya. Di dalamnya, ada satu lembar lagi.
“Besok, akan kita mulai semuanya.” jawab Raka.
Nara tertawa lirih. “Cepat sekali.” kata Nara yang menoleh ke arah Raka.
“Karena semakin lama kamu menunggu, akan semakin besar kemungkinan kamu bisa mundur lagi, jadi lebih baik semuanya akan di percepat.” jawab Raka jujur.
Tanpa ada yang harus di pertimbangkan lagi, kemudian Nara mengambil pulpen, ia hendak melakukan tanda tangan, terlihat tangannya gemetar saat ujung pena menyentuh kertas.
Dengan satu tarikan napas, dan satu nama Nara melakukan nya.
Nara Cahyani.
Tinta hitam itu menempel rapi di kertas putih, tertulis dengan jelas di atas materai yang sudah tertempel di atas tanta tangan Nara.
Saat itu, tidak ada tepuk tangan karena seperti merasa menang, tidak ada air mata karena kesedihan dan tidak ada pelukan untuk saling menguatkan. Hanya ada dua orang yang duduk saling berhadapan, menyadari bahwa mereka baru saja mengikat diri pada sesuatu yang tidak bisa untuk mereka lepaskan dengan mudah begitu saja karena semua sudah tertulis di atas pernjanjian tertulis itu.
Raka menutup map itu perlahan.
“Mulai sekarang,” katanya, “hidupmu akan berbeda.” lanjut Raka lagi.
Nara mengangguk.
Ia belum tahu apakah berbeda berarti lebih baik dari yang sebelumny, yang ia tahu, jalan untuk kembali sudah semakin jauh.