Pagi itu, Nara bangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena alarm yang membangunkan nya, melainkan karena rasa sesak yang menempel di dadanya sejak mata masih terpejam. Ia menatap langit-langit kamar kosnya yang sudah terlalu lama ia kenal setiap retak halus di sudut, bercak lembap dekat lampu, dan kipas angin tua yang berdecit dengan pelan, sudah banyak kenangan yang ia lalui di kamar kos milik Bu Marni itu, kini ia meninggalkannya dan memilih kehidupannya yang baru dengan menyandang sebagai istri rahasia dari seorang yang terhormat.
Hari ini, ia duduk perlahan di tepi ranjang, kaki menapak lantai yang dingin, tidak ada gaun putih, tidak ada bunga, tidak ada siapa pun yang akan mengantarnya, yang ada hanya tas kecil yang berisi pakaian Nara secukupnya dan satu map cokelat berisi dokumen penting.
Bu Marni mengetuk pintu saat Nara baru selesai mengenakan kemeja putih polos dan celana panjang hitam.
“Nara?” suaranya terdengar ragu.
“Iya, Bu.” sahut Nara.
Pintu terbuka sedikit, Bu Marni berdiri dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Kamu mau pergi pagi-pagi begini?” tanyanya pada Nara dan menatap Nara dari atas sampai bawah.
Nara mengangguk. “Ada urusan penting, Bu.” jawab Nara seadanya.
Bu Marni memandang tas di tangan Nara. “Urusan apa, Ra?” tanyanya penuh selidik.
Nara tersenyum kecil, senyum yang terasa kaku. “Urusan hidup.” ujarnya.
Bu Marni tidak bertanya lagi, ia hanya menghela napas dan berkata pelan, “Hati-hati di jalan.” ucap Bu Marni akhirnya.
Nara mengangguk, lalu melangkah keluar. Pintu kos tertutup di belakangnya dengan bunyi pelan, seolah ikut menyimpan rahasia.
Mobil Raka sudah menunggu di seberang jalan, tidak ada sopir yang membawa mobil Raka, Raka sendiri yang mengendarainya, lalu ia membuka pintu belakang untuk meletakkan koper Nara.
“Kamu sudah siap?” tanyanya pada Nara.
Nara mengangguk, meski ia sendiri tidak yakin apa arti kata siap hari ini.
Perjalanan berlangsung hening, kota masih belum sepenuhnya ramai. Jalanan yang masih lengang karena banya yang belum memulai aktifitas, langit masih kelabu, dan udara dingin menempel di kulit.
Nara memandang keluar jendela, ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia merasa sebegini tenang sekaligus takut.
“Kita akan ke KUA kecil di pinggir kota,” kata Raka akhirnya. “Disana tidak ramai.” ujar Raka.
Nara menoleh. “Apa tidak ada saksi?” tanya Nara.
“Ada,” jawab Raka. “Petugas dan wali sesuai hukum dan tidak lebih.” bisiknya.
Nara mengangguk, ia tidak tahu harus merasa lega atau sedih.
Bangunan KUA itu terlihat sederhana, cat hijaunya sudah pudar, halaman depannya sepi, tidak ada dekorasi dan tidak ada tamu.
Hanya ada dua orang yang berdiri di depan pintu, membawa hidup masing-masing.
Di ruang akad, Nara duduk dengan tangan terlipat di pangkuan, jemarinya terasa dingin. Napasnya terasa berat.
Raka duduk di seberangnya, wajahnya tetap tenang, sampai Nara bertanya-tanya apakah pria itu benar-benar sadar bahwa hari ini ia menikah.
"Apa kalian sudah siap?" Tanya Pak penghulu menatap bergantian pada kedua calon pengantin itu.
Dan keduanya mengangguk dengan mantap.
"Baik, kita mulai sekarang ya." Ucapnya lagi pada kedua mempelai.
Prosesi berjalan cepat, kata-kata resmi meluncur satu per satu, terdengar asing namun berat. Saat nama Nara disebut sebagai calon istri, dadanya bergetar.
Ijab kabul terucap dengan lantang dan jelas dari Raka.
Sah.
Satu kata itu jatuh seperti palu.
Nara tidak menangis, ia hanya menunduk, berusaha memahami kenyataan bahwa statusnya telah berubah menjadi istri meskipun pernikahan mereka harus di rahasiakan status nya sebagai istri tetap melekat pada dirinya, tanpa sorak, tanpa ada pelukan, dan tanpa ada doa panjang dari keluarga.
Ketika semuanya selesai, petugas menyerahkan buku nikah dengan senyum sopan.
“Selamat ya,” katanya pada pengantin baru itu.
Kata itu terasa aneh saat di dengar.
Di luar gedung, Raka berhenti sejenak sebelum membuka pintu mobil.
“Kalau kamu ingin berhenti sekarang,” katanya pelan, “kita masih bisa membatalkan nya secara pribadi dan tidak ada yang tahu.” ucap Raka pada Nara.
Nara menatap buku nikah di tangannya, namanya yang sudah tertulis dengan jelas di sana, sejajar dengan nama Raka Mahendra Atmaja.
“Ini sudah terlambat,” jawabnya lirih.
Raka mengangguk, lalu membuka pintu.
Mereka pulang dan Raka sudah menyiapkan rumah untuk Nara.
Rumah Raka berada di kawasan yang tenang, tempat yang jelas bahwa itu rumah mahal. Gerbang besi hitam terbuka perlahan saat mobil masuk.
Nara melangkah turun dengan perasaan asing, ini akan menjadi tempat tinggalnya mulai hari ini.
“Kamarmu berada di lantai dua,” kata Raka sambil berjalan lebih dulu. “Kamu bebas untuk mengaturnya.” lanjutnya lagi.
Nara mengikuti dan menarik kopernya sendiri.
Kamarnya yang luas, rapi, dan dingin, jendela besar yang menghadap ke taman kecil, lemari kosong, tidak ada sentuhan personal.
“Kalau kamu butuh apa pun,” kata Raka, berhenti di pintu, “bilang ke Arman atau langsung ke aku juga bisa.” ucapnya.
Nara mengangguk.
Saat Raka hendak pergi, Nara berkata, “Pak Raka.”
Ia menoleh, menunggu kata apa lagi yang akan di ucapkan pada istri barunya itu.
“Kita harus bagaimana sekarang?” tanyanya menunduk.
Raka terdiam sejenak. “Kita hidup seperti biasa, dengan batasan yang ada.” jawabnya.
“Batasan yang seperti apa?” tanya Nara.
“Kamu istriku secara hukum, Nara,” katanya tenang. “Tapi kamu tetap Nara, kamu punya ruang untuk dirimu sendiri.” jelasnya lagi.
Nara menelan ludah. “Dan soal perasaan?” tanyanya hati-hati.
Raka tidak langsung menjawab.
“Kita tidak membicarakan itu dulu,” katanya akhirnya.
Malam datang dengan pelan.
Nara duduk di ranjang, masih mengenakan pakaian yang sama, ponselnya bergetar berkali-kali pesan dari Nadira yang menanyakan kenapa ia tidak masuk kampus hari ini.
Nara mematikan layar, dan ia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Di lantai bawah, Raka berdiri di dapur, menuang segelas air. Tangannya berhenti sejenak saat ia menyadari rumah itu tidak lagi kosong. Nara terlihat lebih segar.
Ada satu kamar terisi, dan ada satu nama baru di hidupnya.
Ia tidak tahu apakah keputusan ini akan menyelamatkan atau menghancurkan mereka berdua, yang jelas, malam itu mereka tidur di bawah atap yang sama sebagai suami dan istri yang tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap dan rahasia mereka baru saja di mulai.