Hari pertama di rumah itu terasa asing bagi Nara.
Ia terbangun bukan oleh suara kipas berdecit atau teriakan anak kos lain yang berebut kamar mandi, melainkan oleh keheningan, rasa yang terlalu sunyi bahkan jam dinding pun berdetak pelan, seolah takut mengganggu.
Nara duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang, sprei berwarna putih bersih, ranjang yang terasa nyaman dan udara kamar yang sejuk. Semua terlalu rapi, tidak ada tumpukan buku, juga tidak ada pakaian yang tergantung dengan sembarangan.
Ia merindukan kekacauan kecilnya saat di kosan.
Setelah mandi dan berganti pakaian yang sederhana, Nara turun ke lantai bawah dengan langkah ragu, ia melirik dapurnya yang luas, dan juga modern.
Di meja makan, ada secarik kertas.
"Sarapan jam tujuh, kalau kamu belum siap bertemu, tidak apa-apa." (R)
Nara membaca ulang tulisan tangan itu. Tegas dan ringkas seperti pemiliknya.
Ia menyiapkan teh sendiri, lalu duduk di ujung meja. Saat jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh, Raka muncul dari arah ruang kerja, ia mengenakan kemeja abu-abu, dengan lengan yang tergulung, dan rambut yang sudah rapi.
“Pagi,” katanya.
“Pagi,” jawab Nara pelan.
Mereka duduk saling berhadapan, dipisahkan oleh meja panjang yang terasa seperti batas yang tak kasatmata.
“Kita perlu bicara soal beberapa hal,” kata Raka sambil menuang kopi.
Nara mengangguk. “Soal aturan?” tanya Nara.
“Ya.” jawab Raka.
Raka meletakkan cangkirnya. “Pertama, soal rumah ini, kamu bebas menggunakan ruangan mana pun, kecuali ruang kerja tanpa izin dariku.” jelasnya.
“Oke.” ucap Nara.
“Kedua, soal orang luar, tidak ada tamu tanpa sepengetahuan kita berdua.” lanjut Raka.
Nara mengangguk lagi karena masih masuk akal baginya.
“Ketiga,” Raka berhenti sejenak. “Kita tidak perlu berpura-pura berlebihan.” ucapnya.
“Maksudnya?” ucap Nara tak mengerti.
“Tidak ada sentuhan di depan umum, tidak ada panggilan sayang, kita hanya bersikap normal seperti biasanya.” jawab Raka.
"Normal." Kata itu terasa aneh bagi Nara.
“Dan Nadira?” tanya Nara hati-hati.
Raka mengangkat wajahnya. “Itu yang paling penting.” lirihnya.
Nara menegakkan punggungnya.
“Nadira tidak tahu apa pun,” lanjut Raka. “Baginya, kamu tetap temannya, tidak lebih.” kata Raka akhirnya.
Nara menelan ludah. “Kalau dia sering ke sini?” tanyanya gelisah.
“Kita akan atur jadwal, kamu tidak harus selalu ada disini.” jawab Raka.
“Dan kalau dia mulai curiga?” tanya Nara lagi.
“Dia tidak akan curiga,” jawab Raka yakin. “Atau setidaknya, belum merasakan kecurigaan itu.” lanjutnya lagi.
Nara mengangguk tak lagi bertanya.
Hening di antara mereka.
Nara mengaduk tehnya dengan pelan. “Kalau suatu hari dia tahu?” tanya Nara lagi.
Raka tidak langsung menjawab. “Itu risiko yang akan kita hadapi nanti.” ujar Raka.
Jawaban yang terasa menggantung.
Setelah sarapan, Raka bersiap pergi kerja, sebelum keluar, ia berhenti di dekat tangga.
“Satu hal lagi,” katanya. “Kamu tidak wajib mengurus rumah, ada asisten, kamu jangan merasa ini kewajibanmu.” ucapnya.
Nara mengangguk dan pintu tertutup karena Raka telah berangkat kerja.
Dan rumah itu kembali sunyi.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme baru. Nara tetap kuliah seperti biasa, ia tetap bertemu Nadira di kampus, tertawa seperti biasa, menyembunyikan sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan.
Setiap kali Nadira bercerita tentang ayahnya, Nara hanya tersenyum.
“Kamu tahu nggak, Ra,” kata Nadira suatu siang, “ayahku belakangan ini sering pulang lebih cepat.” ceritanya pada Nara.
Nara menegang. “Oh ya?” ucap Nara pura-pura berekspresi.
“Iya, kayak yang aneh sih, Biasanya dia yang dingin gitu.” ucapnya.
Nara menunduk, pura-pura sibuk dengan minumannya dan ia tak menanggapinya dengan yang berlebiha.
Malam-malam di rumah Raka berlangsung dengan sunyi. Mereka makan terpisah atau sekadar berpapasan di lorong rumah, tidak ada obrolan yang panjang layaknya suami istri pada umumnya, dan tidak ada pertanyaan personal.
Tapi justru di situlah batas mulai kabur.
Suatu malam, listrik padam karena hujan turun dengan deras. Nara turun ke ruang tengah dengan senter daei ponsel. Raka sudah ada di sana, berdiri di dekat jendela.
“Kamu takut?” tanyanya tanpa menoleh.
“Iya, sedikit,” jawab Nara jujur.
Raka menyalakan lilin, cahaya kuning memantul di wajahnya, membuatnya terlihat lebih lembut.
“Kamu boleh duduk di sini,” katanya.
Mereka duduk berjauhan, di pisahkan jarak yang aman, namun dalam gelap dan sunyi, jarak itu terasa menyempit.
“Kalau kamu menyesal,” kata Raka tiba-tiba, “katakan saja.” ucapnya.
Nara menoleh. “Kalau kamu?” tanya Nara balik.
Raka menggeleng. “Aku sudah menyesal sebelum melangkah.” gumamnya.
Jawaban itu membuat Nara terdiam.
Beberapa hari kemudian, Nadira datang tanpa pemberitahuan.
Nara sedang di dapur ketika suara pintu terbuka terdengar.
“Pa!” suara Nadira ceria.
Nara membeku dan Raka muncul dari ruang kerja, jelas terkejut, tapi cepat menguasai diri.
“Nadira?” sapanya.
“Aku mau nginep!” kata gadis itu sambil masuk lebih jauh, lalu matanya jatuh pada Nara.
“Nara?” Nadira tersenyum lebar. “Kamu di sini?” tanyanya.
Nara memaksakan senyum. “Iya, lagi bantu-bantu.” jawab Nara cepat.
Raka juga menyela dengan cepat, “Nara sementara akan tinggal di sini, ada urusan.” ucap sang Papa.
“Oh?” Nadira menatap mereka bergantian. “Kok nggak bilang?” tanyanya penuh selidik.
“Dadakan, Nak,” jawab Raka singkat.
Nadira tidak bertanya lebih jauh, tapi Nara bisa merasakan tatapannya yang penuh rasa ingin tahu.
Malam itu, Nara berbaring kaku di kamar. Ia mendengar tawa Nadira dari bawah. Suara yang biasa membuatnya nyaman, kini justru membuat dadanya sesak.
Pintu kamarnya diketuk pelan.
Raka berdiri di sana. “Maaf.” ucapnya.
Nara mengangguk. “Aku tahu ini bisa terjadi.” ucapnya pada Raka.
“Kita harus lebih hati-hati.” kata Raka.
“Iya.” jawab Nara.
Raka ragu sejenak sebelum berkata, “Kalau kamu mau pindah sementara,”
“Tidak,” potong Nara. “Aku yang harus belajar untuk menyesuaikan.” ucap Nara tegas.
Raka menatapnya lama. “Kamu tidak seharusnya menanggung ini sendirian.” kata Raka.
“Tapi aku yang memilih,” jawab Nara.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Raka menyadari aturan-aturan yang mereka buat tidak cukup kuat untuk menahan sesuatu yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Dan Nara mulai mengerti hidup serumah bukan soal ruang atau jarak, melainkan soal perasaan yang pelan-pelan mencari celah.