Pagi harinya Nadira bangun lebih awal dari biasanya.
Ia turun ke dapur dengan rambut yang masih sedikit berantakan, dan masih mengenakan baju tidur yang panjang kesayangan nya. Aroma kopi sudah lebih dulu menyambutnya, Ayahnya berdiri di dekat meja, menuang minuman ke dalam dua cangkir.
"Dua cangkir." Nadira mengerutkan kening.
“Pa,” katanya sambil duduk. “Biasanya Papa minum kopi sendiri.” ucapnya pada sang Ayah.
Raka tidak langsung menoleh. “Hari ini tidak.” jawab Raka tenang.
Nara muncul dari arah lorong, mengenakan kemeja putih dan celana bahan, rambutnya diikat rendah. Wajahnya tenang, tapi langkahnya sedikit ragu.
“Oh,” Nadira tersenyum. “Pagi, Na.” sapanya saat melihat Nara.
“Pagi,” jawab Nara dan tersenyum hangat pada Nadira.
Nara ikut duduk dan bergabung dengan status yang berbeda, suami rahasia dan Nadira bukan hanya sebagai sahabatnya tapi sekaligus juga anak tiri rahasianya.
Mereka duduk bertiga di meja yang sama sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya semenjak pernikahan itu terjadi, keheningan terasa canggung bagi Nara.
Nadira mengamati mereka dengan cara bergantian. Cara ayahnya mendorong cangkir ke arah Nara tanpa berkata apa pun dan cara Nara menerimanya hanya dengan anggukan kecil.
Hal-hal kecil yang tidak seharusnya ia perhatikan.
“Kamu masih tinggal di sini?” tanya Nadira, nadanya terdengar santai.
“Iya,” jawab Nara. “Sementara waktu.” ucapnya lagi.
“Kenapa?” tanya Nadira lagi.
Nara melirik Raka sekilas. “Ada urusan, Dir.” sahut Nara.
“Urusan apa?” Nadira tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Mulai tumbuh sedikit rasa curiga.
Raka menyela, “Nadira.”
“Apa?” Nadira menoleh ke ayahnya. “Aku cuma tanya.” ucap Nadira protes pada Ayahnya.
Raka kembali diam, malas rasanya harus ribut dengan putri kesayangannya itu
Dan Nara terlihat menunduk, sesekali ia mengaduk tehnya. “Masalah keluarga.” ucap Nara lirih.
Itu tidak sepenuhnya bohong.
Nadira terdiam kemudian ia mengangguk, tapi kecurigaannya tidak sepenuhnya padam.
Hari itu, Nadira memperhatikan lebih banyak hal.
Cara ayahnya pulang lebih cepat, cara Nara tahu letak barang-barang di dapur dan cara mereka yang tidak saling menyentuh, tapi juga tidak sepenuhnya merasa asing.
Saat sore harinya, Nadira menarik Nara ke taman kecil yang berada di belakang rumah.
"Ada apa, Dir, kenapa kamu tarik aku?" Tanya Nara.
“Kamu kelihatan capek, Nar.” kata Nadira sambil duduk di bangku kayu.
“Kan sudah biasa aku seperti ini, Dir,” jawab Nara diiringi tawa kecil.
“Kamu berubah,” kata Nadira pelan dan menatap sahabatnya itu.
Nara menoleh. “Berubah gimana, berubah jadi bidadari?” ucapnya bercanda dan diiringi dengan tawa kecil.
Tapi Nadira tak menganggapnya itu candaan, ia masih dalam mode serius.
“Lebih banyak diam.” Nadira memandangnya. “Dan kamu nggak pernah cerita lagi sama aku.” ucap Nadira merasa kecewa.
Nara tersenyum tipis. “Mungkin aku cuma lagi banyak mikir, Nad.” ucapnya tenang.
Nadira mengangguk, tapi jelas ia merasa belum puas.
"Tapi biasanya kamu selalu cerita ke aku, apa ada yang kamu sembunyiinn dari aku Nar?" Tanya Nadira menatap lekat sahabat nya itu.
Malamnya, saat hujan turun deras, listrik kembali padam. Nadira tertawa dari ruang tengah, mengeluh sambil menyalakan senter ponsel.
“Kenapa rumah Papa sering banget mati lampu sih.” protesnya pada sang Ayah.
"Ya, Papa mana tau kan memang dari sananya mana bisa Papa melarangnya, mungkin ntah lagi ada perbaikan atau apa, kan kita gak tau juga, Nak!" Jelas Raka pada Nadira.
Nadira membuang muka, merasa kesal karena mati lampu.
Di sana terlihat Nara berdiri di dekat tangga, ia hendak naik, tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Raka berdiri dengan jarak yang terlalu dekat, dan tanpa sengaja lengan mereka bersentuhan, tidak lama hanya sebentar dan tidak ada di rencanakan.
Tapi cukup untuk membuat Nara menarik napas tajam.
Raka menjauh seketika. “Maaf gak sengaja.” bisiknya pada Nara.
Nadira memandang mereka, alisnya terangkat. “Kenapa kalian kayak orang asing?” tanyanya penuh curiga.
Nara tertawa kecil. “Memangnya kenapa?” tanya Nara balek.
Sang Ayah hanya terdiam, mendengarkan celotehan dari istri rahasianya dan juga anaknya.
“Kalau orang asing biasanya nggak minta maaf kalau senggol,” kata Nadira.
Ucapan itu terdengar bercanda, tapi cukup menusuk bagi Nara.
Malam itu, Nadira mengetuk pintu kamar Nara.
“Na? Kamu uda tidur? boleh aku masuk?” tanya Nadira di balik pintu kamar Nara.
“Boleh, masuk aja Dir, aku belum tidur.” sahut Nara dari dalam.
Saat Nadira masuk ke dalam, Nara memperhatikan wajah sahabatnya yang tampak tak seperti biasa, terlihat wajahnya yang lebih murung.
"Kenapa tu wajah, kok gak ada cantik-cantiknya!" Ucap Nara yang bercanda.
Nadira mencelos tak menanggapi candaan Nara.
Nadira langsung duduk di tepi ranjang. “Kamu masih temanku, kan?” tanyanya langsung yang terdengar lirih.
Pertanyaan itu membuat d**a Nara terasa sesak.
“Iya lah,” jawabnya cepat. “Kamu kenapa nanya gitu sih, Dir?” kekeh Nara.
“Entahlah.” Nadira memandang lantai. “Aku cuma ngerasa seperti ada jarak di antara kita dan aku ngerasa kamu seperti gak anggap aku temanmu lagi.” lirih Nadira.
Nara meraih tangan Nadira. “Aku nggak ke mana-mana, Nadira, aku masih Nara yang dulu dan aku juga masih temanmu.” ucap Nara dadanya terasa sesak mengatakannya.
Nadira menatap tangan mereka yang saling menggenggam, lalu mengangguk.
"Terimakasih, aku cuma merasa seperti ada yang berbeda di antara kita, itu aja." Ucapnya pada Nara.
Kini gantian Nara yang hanya mengangguk, dan mereka berdua saling berpelukan, kemudian Nadira pamit keluar, tak mau berlama-lama karena mengingat waktu sudah malam.
Namun saat ia keluar dari kamar itu, Nadira berhenti sejenak di lorong.
Pintu ruang kerja ayahnya terbuka sedikit, di sana ia melihat sang Ayah berdiri sendirian, menatap foto lama di tangannya yaitu foto keluarga kecil mereka saat sebelum ibunya pergi meninggalkan mereka.
Kini Nadira juga menyadari sesuatu, Ayahnya juga berubah.
Pada keesokan harinya, Nadira membuka laptopnya, mengetik sesuatu yang tidak seharusnya ia cari.
“Raka Mahendra Atmaja status pernikahan.”
Tidak ada hasil, ini terlalu bersih, justru itu yang membuatnya semakin curiga.
Sementara itu, Nara duduk di kamarnya, menatap layar ponsel. Pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
"Kita harus bicara." (R)
Nara menutup mata dan mengehla napas, kemudian ia membalas.
"Iya." Balas Nara singkat.
Ia tahu, kecurigaan Nadira bukan sesuatu yang bisa dihentikan hanya dengan cara yang diam, dan semakin lama rahasia ini di simpan, semakin besar juga kebohongan lain yang akan di buat.